EMPAT PILAR PIIL PESENGGIRI DALAM SISTEM KEKELUARGAAN DAN KEPENYIMBANGAN ADAT LAMPUNG

Oleh
Abdul Syani

Masyarakat Lampung menganut falsafah hidup Piil Pesenggiri dan bermoral tinggi yang didukung identitas pribadi Juluk Adek, prilaku/sikap nemui nyimah, nengah nyappur, dan Sakai Sambayan. Falsafah hidup ini merupakan acuan masyarakat Lampung untuk selalu bersikap terbuka dan memiliki rasa solidaritas yang tinggi. baik dengan sesama kelompok maupun dengan masyarakat lainnya. Dalam praktek pergaulan kemasyarakatan sehari-hari keadaan ini senantiasa didukung oleh eksistensi aksara dan bahasa Lampung sebagai alat komunikasi yang relatif effektif, karena didasari oleh nilai-nilai moral dan keimanan yang cukup tinggi, khususnya agama Islam.

Falsafah hidup Piil Pesenggiri yang didukung oleh 4 (empat) pilar penopang yang kokoh tersebut merupakan pedoman warga masyarakat untuk berbuat dan bertindak secara realitas dan dinamis. Dampak lain dari falsafah hidup tersebut secara umum dapat senantiasa mendorong masyarakat Lampung menjadi lebih kritis dalam berencana penuh dengan pertimbangan dalam rangka usaha untuk tetap berjuang terus demi kemajuan.

Selanjutnya matra nemui nyimah dan nengah nyappur pada realisasinya berkembang menjadi suatu sifat mudah menerima warga baru dan melupakan peristiwa/kondisi yang kurang baik/kurang mengembangkan. Sedangkan matra nengah nyappur merupakan embrio dari sifat manusia yang mudah memaafkan antar sesama.

Masyarakat Lampung adalah masyarakat genealogis yang menganut sistem kekeluargaan patrilinial. Masyarakat genealogis artinya di mana anggota masyarakatnya merasa seasal seketurunan atas dasar ikatan darah. Sistem kekeluargaan yang bersifat patrilinial menggambarkan bahwa peranan laki-laki (suami) lebih menonjol jika dibandingkan dengan perempuan (isteri) karena ia berfungsi sebagai penerus keturunan.

Dalam menata kekeluargaan, masyarakat Lampung berlandaskan pada ikatan darah dan, atau hubungan darah sangat kuat. Dikatakan sangat kuat karena seorang harus/dituntut untuk mengetahui susunan kekeluargaan minimal 3 garis keatas (vertikal) dan demikian pula kesamping atau horizontal. Ikatan darah artinya ego menarik garis keturunannya berdasarkan kelangsungan garis keatas kebawah secara vertikal, sedangkan hubungan darah disebabkan adanya hubungan perkawinan.

Contoh: Seorang harus tahu siapa kakak dan neneknya serta tunjuk (buyutnya), sedangkan secara horizontal ia harus tahu siapa saudara ibunya (kelamo) laki-laki dan perempuan (kenulang) dan seterusnya 2 garis keatas

Masyarakat Lampung memiliki struktur kekeluargaan yang relatif jelas gambarannya. Sebagai masyarakat adat yang bertingkatan karena masyarakat yang sebagian masyarakat bertingkat maka masing-masing tingkatan jelas wewenangnya. Bila diperhatikan dari struktur adek yang digunakan pada diri pribadi seseorang. Hal ini terlihat pada sistem penataan adek yang digunakan oleh seseorang yaitu dengan urutan yang umum sebagai berikut:
(1) Suttan /Suntan/Settan
(2) Pangiran
(3) Rajo/Raja/Ratu
(4) Ngedeko/Dalam
(5) Radin

Struktur masyarakat adat ini memerlukan suatu lembaga Kepemimpinan yang disebut Kepunyimbangan. Lembaga Kepunyimbangan ini pada hakekatnya menunjukkan tingkat kewenangan seseorang dalam keluarga, kerabat dan masyarakat adantany, baik dalam suatu kebuayan, kelompok dan masyarakat adat lainnya.

Lembaga Kepemimpinan masyarakat adat Lampung disebut lembaga Kepunyimbangan. Lembaga kepunyimbangan untuk berwenang menciptakan norma sosial, norma hukum sebagai pedoman bagi warga masyarakat adat untuk berperilaku dalam pergaulan sesama anggota maupun dengan masyarakat lainnya. Lembaga Kepunyimbangan ini sesuai dengan kewenangan yang melekat padanya, dengan memperhatikan prinsip kebersamaan dalam kehidupan bermusyawarah untuk mendapatkan mufakat yang kemudian menjadikannya keputusan yang harus ditaati oleh seluruh warga masyarakatnya. Keputusan musyawarah ini menciptakan dan menetapkan pala prilaku umum anggota masyarakat yang berbentuk norma yang berisikan kebolehan dan larangan (cepalo). Segala sesuatu keputusan berupa ketetapan/keputusan para punyimbang ini harus dilakukan dalam suatu rapat yang disebut perwatin adat, (musyawarah para punyimbang adat) sesuai dengan tingkatannya.

Memperhatikan uraian di atas, maka dapat kiranya maklumi bahwa punyimbang memiliki kewenangan yang cukup luas mengatur kehidupan dan penghidupan anggota masyarakat baik yang berkenaan dengan sesama anggota masyarakat baik yang berkenaan dengan lingkungan alam sekitarnya.

Secara sistematis tanggungjawab penyimbang dilaksanakan secara berjenjang yaitu masalah keluarga diselesaikan oleh keluarga dilaporkan kepada punyimbang sukunya, masalah yang menyangkut suku diselesaikan oleh para punyimbang suku dilaporkan kepada punyimbang kampung atau buwai yang ada di kampung yang bersangkutan. Gambaran ini menunjukkan bahwa tingkatan musyawarah itu dimulai dari musyawarah keluarga, suku dan kampung, pada akhirnya kebuwaian (yang sekarang disebut marga).

Masyarakat Lampung pada hakekatnya adalah msyarakat Relegius yang taat, artinya masyarakar yang hidup penuh dengan kedamaian dan keseimbangan antara dunia dan akhirat, jasmani dan rohani, disamping itu masyarakat Lampung selalu memelihara hubungan yang harmoni dengan lingkungan alam sekitarnya sebagai anugerah Allah Subhanataala.

Sebagai implementasi dalam kehidupan sehari-hari apabila terdapat perbedaan atau konflik dalam prilaku maka kaedah keagamaan (khususnya agama Islam) yang digunakan sebagai standar/ukuran perbuatan yang baik dan benar, disamping norma kebiasan.

Hubungan Perkawinan, hubungan perkawinan pada masyarakat Lampung pada dasarnya menganut prinsip eksogami, artinya perkawinan yang dilaksanakan antara dua insan yang berlainan clan (kelompok masyarakat Kampung sendiri). Artinya seseorang dapat melakukan hubungan perkawinan sekampung asalkan lain suku dalam kampung yang bersangkutan dapat pula berlainan kampung baik sekeluarga maupun tidak (dengan sekerabat lain). Yang sangat ideal perkawinan bagi anggota masyarakat Lampung adalah antara putar/putri yang status ibunya. Saudar kandung (kakak-beradik) atau lembaga kenubi. Artinya lembaga perkara tersebut memenuhi persyaratan eksogami dan masih ada hubungan darah, serta tidak menyalahi ketentuan/kaedah hukum agama Islam.

Selanjutnya masyarakat adat lampung menganut prinsip perkawinan antara sesama orang Lampung, pada dasarnya/prinsip tersebut mengandung makna bahwa untuk mempererat hubungan keluarga. Tentunya harus didukung dengan pemahaman prilaku dan tata cara adat Lampung, disamping mempermudah proses penyesuaian kehidupan berumah tangga. Hal ini yang menjadi dasar pertimbangan adalah agama, dimana ada keharusan beragama Islam. Agama Islam ini bagi masyarakat Lampung merupakan suatu rujukan yang bersifat absolut, dalam arti tidak dapat ditawar-tawar.

Prinsip perkawinan bagi masyarakat Lampung adalah perbuatan yang sangat sakral artinya perkawinan tersebut harus mendapat ridho Tuhan, direstui oleh ayah ibu dan keluarga. Konsekwensi dari prinsi ini maka perkawinan bagi masyarakat adat Lampung hanya dilakukan untuk satu kali seumur hidup, bila terjadi pemutusan perkawinan berarti perbuatan tersebut menjadi pelanggaran dan yang bersangkutan bersamaan dengan keluarga besarnya terkena sanksi adat.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>