NILAI MATAKULIAH TERMODINAMIKA KELAS B

 

NILAI AKHIR MATA KULIAH TERMODINAMIKA SEMESTER GENAP 2012/2013
DOSEN : Dr. Abdurrahman, M.Si
No Nama NPM  N1 N2 N3 NUA NT NA HM
10% 20% 30% 30% 10%
1 Afifah Hidayati 1113022002 36 60 72 95 78 73.5 B+
2 Ahmad Hidayat 1113022004 26 30 46 30 78 39.2 E
3 Andrean Ardi 1113022006 34 40 60 77 78 60.3 C
4 Asih Sundari 1113022008 54 45 60 40 78 52.2 D
5 Deny Kurniawan 1113022010 71 45 45 70 78 58.4 C
6 Febriana Andita P 1113022016 39 60 85 80 78 73.2 B+
7 Gesti Retnosari 1113022018 59 50 76 90 78 73.5 B+
8 Hendri Prasetio 1113022020 27 20 33 45 78 37.9 E
9 I Wayan Adinata 1113022022 27 17 53 80 78 53.8 D
10 Ibnu Arifin 1113022024 58 53 84 80 78 73.4 B+
11 Intan N Sianturi 1113022026 58 50 81 95 78 76.4 A
12 Jivi Anggesta 1113022028 23 19 62 40 78 44.5 E
13 Lusi Wulandari 1113022030 63 72 83 95 78 81.9 A
14 Marlia Eka Fitriani 1113022032 47 45 78 65 78 64.4 C+
15 Muhammad Anshory 1113022034 80 65 84 95 78 82.5 A
16 Munirul Ikhwan 1113022036 71 45 85 95 78 77.9 A
17 Nike Yuni Winanti 1113022038 31 40 48 60 78 51.3 D
18 Nur Aini 1113022042 53 35 77 95 78 71.7 B+
19 Qurotu A’yun 1113022046 58 50 81 95 78 76.4 A
20 Rettya Aris Tissi 1113022048 62 70 60 95 78 74.5 B+
21 Rini Sintia 1113022050 49 50 81 95 78 75.5 B+
22 Rosita Wati 1113022052 70 75 88 95 78 84.7 A
23 Samsuryati 1113022054 68 29 80 80 78 68.4 B
24 Sofya Febriza 1113022056 30 50 78 80 78 68.2 B
25 Sonia Suci Mareta 1113022058 39 40 38 82 78 55.7 D
26 Sugeng Riyadi 1113022060 73 70 70 55 78 66.6 B
27 Tiara Indriani 1113022062 43 39 45 78 78 56.8 C
28 Tri Uci N 1113022064 40 34 75 90 78 68.1 B
29 Yeni Indayati 1113022066 43 43 85 90 78 73.2 B+
30 Yusuf Afandi 1113022068 70 80 84 95 78 84.5 A
31 Andika Prasetya 1113022069 58 30 67 40 78 51.7 D
Bandar Lampung
Dosen PJ
Dr. Abdurrahman, M.Si
* yang nilainya masih C+ s.d E Ujian Remedial akan dilaksanakan hari Jum’at, 5 Juli 2013 Pukul 13.30
Posted in Uncategorized | Comments Off on NILAI MATAKULIAH TERMODINAMIKA KELAS B

NILAI MATAKULIAH TERMODINAMIKA KELAS A

 

NILAI AKHIR MATA KULIAH TERMODINAMIKA  SEMESTER GENAP 2012/2013
DOSEN : Dr. Abdurrahman, M.Si*BAGI MAHASISWA YANG MASIH MEMILIKI NILAI C+ s.d E, UJIAN REMEDIAL AKAN DILAKSANAKAN PADA HARI JUM’AT, 5 JULI 2013 PUKUL 13.30 WIB
No Nama NPM  N1 N2 N3 NUA NT NA HM
10% 20% 30% 30% 10%
1 Angga Arbiyanto 1113022007 44 43 79 90 78 71.5 B+
2 Hendika Prasetyo Agusni 1113022019 64 18 55 70 78 55.3 D
3 Sondang Ni Ari Bulan 1113022057 57 43 55 95 78 67.1 B
4 Surya Darma 1113022061 53 18 41 85 78 54.5 D
5 Evi Nuryanti 1113022015 39 81 85 78 78 76.8 A
6 Husnun Azizah 1113022021 64 60 61 80 78 68.5 B
7 Erina Husnul Khotimah 1113022014 45 30 47 75 78 54.9 D
8 Sri Oktari 1113022059 33 47 65 80 78 64 C+
9 Ummu Madinah 1113022065 63 50 86 75 78 72.4 B+
10 Yulia Zahra 1113022067 95 85 85 75 78 82.3 A
11 Isti Khoiriyah 1113022027 61 34 81 90 78 72 B+
12 Rizki Mirantika 1113022051 43 24 80 95 78 69.4 B
13 Siti Khairunnisa 1113022055 48 22 78 90 78 67.4 B
14 Puspita Indah Rahayu 1113022045 44 43 83 70 78 66.7 B
15 Inayah Rahmawati 1113022025 43 32 83 65 78 62.9 C+
16 Ana Kurnia Sari 1113022005 77 48 85 95 78 79.1 A
17 Adelia Aris Setiawati 1113022001 43 25 73 75 78 61.5 C+
18 Agus Setiawan 1113022003 48 25 65 70 78 58.1 C
19 M. Farouq Husein 1113022037 29 28 83 45 78 54.7 D
20 Ni Wayan Desi Astiti 1113022037 43 50 76 85 78 70.4 B
21 Praba kurnia Dini Kalianda 1113022043 49 40 76 90 78 70.5 B
22 Desmaria Kristin S 1113022011 55 47 78 90 78 73.1 B+
23 Bertha Dwi Utami IP 1113022009 49 45 83 85 78 72.1 B+
24 Ibnu Ainun Najib 1113022023 54 29 52 70 78 55.6 D
25 Heru Sapto Nugroho 1113022036 60 44 70 75 78 66.1 B
26 widodo santoso 1113022064 54 35 66 75 78 62.5 C+
27 Nur Aziz Rahmat Putra 1113022041 84 31 83 75 78 69.8 B
28 David NS 0913022084 28 16 50 65 78 48.3 D
29 Dwi Gunawan 1113022038 44 26 65 50 78 51.9 D
30 Rudi Hartono 1113022053 46 44 70 95 78 70.7 B
31 Nofinta Nurulsari 1113022039 95 98 90 95 78 92.4 A
32 Rika Anggraini 1113022049 62 38 61 70 78 60.9 C
33 Tri lestari 1113022063 56 35 62 80 78 63 C+
34 Rara Novita 1113022047 42 27 59 75 78 57.6 C
35 Fretty Intan Normarita 1113022017 52 47 71 75 78 66.2 B
36 Muhammad Mashuri 1113022035 62 48 86 95 78 77.9 A
Posted in Uncategorized | Comments Off on NILAI MATAKULIAH TERMODINAMIKA KELAS A

Entropi

Posted in Uncategorized | Comments Off on

LATIHAN APLIKASI HUKUM II TERMODINAMIKA

Posted in Uncategorized | Comments Off on

Latihan 1 hukum 1 termodinamika

Suatu gas ideal dengan cv=3/2(nR) pada suhu 400 K dan tekanan 32 atm bervolume 4 liter. Gas berekspansi secara adiabatik hingga tekanan akhirnya tinggal 1 atm (proses a-b). Kemudian gas berkompressi secara isobarik hingga volumenya kembali menjadi semula (proses b-c) dan akhirnya gas kembali kekeadaan mula-mula secara isokhorik (proses c-d). Gambarkan proses siklus di atas dan lengkapi tabel berikut:

Proses V (m3) T(K) P(Pa) Q (J) U(J) W(J)
b
c
a-b
b-c
c-d

Posted in Uncategorized | Comments Off on Latihan 1 hukum 1 termodinamika

Belajar Sains-Fisika melalui Multiple Representations

Pada suatu kesempatan dalam perkuliahan Nobel, Richard Feynman menyatakan :” Bisa saja sesuatu itu menjadi sangat sederhana jika anda dapat menjelaskan hal tersebut secara utuh dalam berbagai cara tanpa segera menyadari bahwa anda sedang menjelaskan hal yang serupa” (Feynman R, 1965). Pernyataan Feynman sangatlah beralasan, karena kamampuan seseorang mereprsentasikan suatu objek atau fenomena dengan berbagai cara akan memudahkan orang tersebut memahami hal tersebut dengan baik. Ide ini konsisten dengan beberapa hasil studi yang dilakukan terhadap efektivitas representasi multimodal dalam pembelajaran físika, yang akan memberikan peluang siswa memahami konsep físika melalui berbagai cara yang mempengaruhi proses kognitif dalam dirinya.
Saat ini terdapat suatu perjanjian yang cukup meluas dalam penelitian pendidikan sains bahwa belajar sains memerlukan praktek multi representasi pembelajaran, termasuk proses berpikir, kebiasan berpikir, rasionalisasi dari pelaksanaan praktek pembelajaran tersebut. Untuk membangun pemahaman konsep siswa terhadap topik tertentu, dibutuhkan mode yang bervariasi agar siswa lebih berminat untuk bepikir dan bertindak dalam pembelajaran “Multiple” mengacu kepada perlakuan terhadap suatu konsep tertentu untuk diungkapkan dalam berbagai bentuk penyajian, termasuk di dalamnya bentuk verbal, grafik, dan mode numerik, yang terus diulang untuk menguasai konsep (Waldrip B, 2008).
Namun, ketidakmampuan siswa menggunakan pemahaman multimodel (multicara) memahami konsep fisika nampaknya telah menjadi halangan/batas pemahaman mereka mengusai konsep (Bernsen, 1993).
Secara khusus teknologi multimedia telah melibatkan siswa belajar melalui cara representasi berbeda, namun masih sering dijumpai berbagai miskonsepsi siswa (Schnotz & Lowe, 2003). Pembelajaran yang disajikan dengan melibatkan proses kognitif yang sama walaupun dengan media yang berbeda, maka akan menghasilkan keuntungan yang sama dalam belajar (Mayer, 2003).
Schnotz & Lowe (2003) membagi dua perangkat teknis untuk menghasilkan berbagai representasi, yaitu (1) semiotic atau format representasi seperti text, gambar, dan suara; (2) Sensori “mode” seperti visual dan auditori. Mayer (2003) belajar menggunakan multimodal memberikan peluang terjadinya pembentukan makna pada kerja memori sehingga siswa mengaitkan antara kata dan gambar. Format representasi yang beragam dalam pembelajaran fisika memberikan peluang yang cukup baik pada pemahaman konsep dan mengkomunikasikan konsep, serta bagaimana mereka bekerja dengan sistem fisika dan proses fisika (Meltzer, 2005).
Hasil penelitian menunjukan suatu kesapakatan bahwa representasi sangat penting bagi siswa dalam belajar fisika. Representasi membantu siswa pembentukan pengetahuan dan pemecahan masalah. Kita bisa mengatakan itu menggunakan berbagai representasi dengan kualitas tinggi dalam memecahkan satu masalah adalah satu kondisi cukup untuk sukses tetapi itu hal itu belum merupakan suatu kondisi yang diperlukan. Siswa menggunakan representasi untuk membantu mereka memahami situasi masalah serta untuk mengevaluasi hasilnya. Representasi selain verbal dalam suatu pernyataan masalah dapat mempunyai efek berbeda terhadap kinerja siswa dan pilihan mereka untuk mengunakan representasi Penemuan yang lain adalah bahwa kata-kata tertentu dalam pernyataan masalah memicu penggunaan representasi tertentu. Dua kecenderungan dikembangkan dari berbagai penelitian terakhir ini, yaitu bagaimana siswa menggunakan berbagai representasi ketika memecahkan permasalahan dan bagaimana format representasi yang berbeda mempengaruhi kinerja siswa dalam pemecahan masalah. (Rosengrant, 2007)
Penggunaan berbagai representasi yang baik dianggap sebagai kunci ke belajar ilmu fisika, dan ada dua motivasi ang patut dipertimbangkan untuk mempelajari bagaimana siswa menggunakan berbagai representasi ketika memecahkan permasalahan dan mempelajari bagaimana cara terbaik mengajar pemecahan masalah menggunakan berbagai representasi. Dua pendekatan pembelajaran berbasisi multimodal representasi berbeda diberikan pada kelas fisika di Universitas Colorado dan Rutgers.
Perkuliahan di Rutgers dilakukan seatu pendekatan pembelajaran langsung secara ketat, menekankan heuristik khusus dan strategi pemecahan masalah secara spesifik, pembelajaran dikembangkan berbasis inquiry, dosen menggunakan Learning Active Guide dalam perkuliahan dan resitasi menggunakan multi representasi . Sedangkan di CU menggunakan suatu pendekatan yang tidak terarah, pemodelan yang baik dalam pemecahan masalah tanpa suatu strategi pembelajaran yang spesifik, sedikit sekali menggunakan multi representasi secara eksplist, baik dalam kuliah maupun tugas-tugas. Berdadasarkan dua pendekatan pembelajaran tersebut ditemukan bahwa, dalam kedua perkuliahan, mahasiswa secara lelusa menggunakan berbagai representasi, dan bahwa penggunaan representasi yang lengkap dan benar sangat signifikans berhubungan dengan peningkatan kinerjanya.
Beberapa perbedaan mengagumkan dalam penggunaan format representasi yang terjadi adalah konsisten dengan pendekatan pembelajaran yang diberikan. Mahasiswa CU lebih suka menyelesaikan masalah yang lebih mudah dalam berbagai representasi sedangkan mahaisiswa Rutgers menyukai permasalah fisika tingkat tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan instruksional atau suatu kombinasi berbagai pendekatan sangat bermanfaat untuk membantu siswa belajar menggunakan berbagai representasi untuk pemecahan masalah dan pengembangan konsep (Kohl et.al, 2007).
N. Lasry & M.W. Aulls (2007) mengembangkan pembelajaran multimodal representasi berbasis masalah untuk melatih kemampuan representasi internal mahasiswa kelas mekanika. Dalam pembelajaran Kinematika 2D mereka melakukan perlakuan berbeda terhadap tiga kelompok mahasiswa. Kelompok pertama mereka sebut grup n-coding level tinggi (nCodHi) dengan menyajikan masalah secara lengkap dengan penyajian menggunakan multi repreentasi dengan teks yang kaya secara visua-spasial seperti gambar, diagram, sketsa, dan outline. Kelompok kedua disebut grup n-coding medium (nCodMed),kelompok ini menerima masalah yang diberikan dalam format teks seluruhnya namun isinya semirip mungkin disajikan dengan masalah pada kelompok pertama. Kemudian kelompok ketiga disebut n-coding level rendah (nCodL), mereka menerima permasalahan dalam bentuk format teks dengan representasi yang lebih sedikit atau boleh disebut tidak menggunakan multiple representasi. Peneliti juga mengggunakan kelas control yang belajar secara individual dengan materi yang sama (kinematika 2D) mengunakan pembelajaran tradisional terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan n-coding dengan pendekatan pembelajaran yang lebih kaya akan representasi akan meningkatkan keuntungan belajar (learning gains) dalam menyelesaikan persoalan fisika, membangkitkan pengetahuan koseptual yang lebih baik, dan lebih percaya diri dalam penguasaan konsep.
Penelitian Meltzer D.E (2005), yang memulai perkuliahan hukum Newton 3 dengan memberikan pre test dua soal sejenis tentang hukum 3 newton dengan format representasi yang berbeda, yang pertama disajikan dengan format representasi verbal dan yang kedua dengan format representasi diagram (diagram vektor). Hasilnya menunjukkan bahwa proporsi menjawab benar untuk format verbal jauh lebih besar dibandingkan dengan format diagram. Bentuk respon kesalahan menjawab dua format tersebut juga sangat jauh berbeda dan kesalahan keduanya berbeda sangat jauh. Setelah pembelajaran dilakukan secara biasa, mahasiswa diberikan kuis dengan tambahan soal representasi meliputi empat bentuk representasi yaitu verbal, diagram, simbol-matematis, dan grafik. Tingkat kesalahan mahasiswa dalam menjawab soal pada keempat representasi tersebut cenderung sama. Namun terdapat penemuan yang menarik bahwa mahasiswa perempuan mengalami tingkat kesalahan lebih tinggi dalam menjawab soal dengan format representasi grafik, dibandingkan dengan format representasi lainnya. Kemudian hasil lain menunjukkan bahwa mahasiwa perempuan mengalami tingkat kesalahan lebih tinggi dalam soal-soal dengan format representasi diagram dibandingkan dengan
Pengaruh mengkonstruksi lingkungan belajar terhadap keterampilan atau skill representasi mahasiswa telah juga diteliti oleh Patrick B. Kohl dan Noah D. Finkelstein (2006), dimana dosen menjadi model dalam pembelajaran fisika menggunakan multimodal representasi, kemudian juga mahasiswa melakukan hal yang sama dalam bentuk perkuliahan, resitasi laboratorium, kuis, dan pekerjaan rumah. Pembelajaran menyajikan lima format representasi, yaitu verbal, matematika, gambar, grafik, dan demonstrasi. Dengan membedakan proporsi pemberian format representasi dengan kelas control, menunjukkan bahwa mahasiswa dengan belajar fisika melalui sajian dan melakukan sendiri belajar dengan format yang lebih kaya, kemampuan atau skill dalam menyelesaikan ujian lebih baik dari mereka yang mendapatkan pengalaman belajar dengan sajian froamt representasi yang lebih sedikit.
Pembelajaran pendahuluan fisika kuantum untuk siswa SMA kelas 11 meliputi topik efek fotolistrik dan model atom Bohr telah dilakukan oleh Gunel et.al (2007). Pembelajaran didesain dengan melibatkan siswa dalam aktivitas multimodal representasi menulis. Satu kelompok siswa diberikan tugas membuat representasi dalam bentuk power point kedua topik materi dan satu kelompok lainnya dengan representasi yang sama dengan format membuat laporan rangkuman topik yang sama. Kemudian kelompok powerpoint mempresentasikan hasilnya di depan siswa kelas lebih rendah. Pada akhir pembelajaran kedua topic tersebut siswa diberikan post test,dan hasilnya menunjukkan bahwa secara signifikasn kelompok siswa yang memiliki pengalaman melakukan pembelajaran dengan format presentasi lebih baik dibandingkan dengan siswa yang membuat laporan
Multimodality mengacu pada pengintregasian topik-topik pembicaraan di bidang sains dari model-model yang berbeda untuk menyampaikan penjelasan-penjelasan dan penemuan-penemuan tentang sains (Prain & Waldrip, 2006). Konsep yang sama disampaikan ulang menggunakan bentuk yang berbeda atau ”multiple representation” dalam verbal, numerikal, visual atau model-model gerakan. Fokus pada pada pemikiran dan penyampaian multimodal mendorong murid-murid untuk mengkoordinasi penyampaian tentang pengetahuan sains mereka secara berbeda-beda.
Cara penyampaian yang berbeda mempunyai fungsi spesialisasi atau pencapaian yang berbeda. Sebagai contoh, penulisan (writing) cocok untuk menyampaikan even-even, sedangkan image lebih cocok untuk display (memamerkan), demikan juga aspek-aspek yang berbeda dari maksud dijelaskan dengan cara-cara yang berbeda dalam communicational ensemble (Jewitt & Kress, 2003), dan pengetahuan (knowledge) direkonfigurasi ketika di pindah dari cara yang satu ke cara yang lain dalam proses ”transduction”(Kress, Jewitt, Ogborn & Tsatsarelis, 2001).
Chin (2007) mengemukakan berbagai model representasi, format dan bentuk-bentuk representasi yang mungkin dalam tiap-tiap mode seperti : (1) Verbal/linguisti (terdiri dalam kata-kata) yang terdiri dari Oral (speech/ucapan/ceramah) dan Written or printed text (tulisan atau cetakan); (2) Visual/graphic (terdiri dari gambar dan image) yang terdiri dari yang bersifat statis (contoh, diagram, figur, gambar, tabel, grafik, cart, peta konsep, foto, model fisik) maupun dinamis (contoh, simulasi berbasis komputer, animasi, video); (3) Symbolik meliputi numerik (angka, persamaan matematik, formula/rumus perhitungan) dan yang lainnya (rumus kimia, persamaan); (4) Gestural (isyarat/gerakan, melibatkan gerakan lengan dan tangan); (5) Aksi (role-play/peragaan, drama, percobaan-percobaan langsung).
Secara naluriah manusia menyampaikan, menerima, dan menginterpretasikan maksud melalui berbagai cara penyampaian dan berbagai komunikasi. Baik dalam pembicaraan, bacaan maupun tulisan. Meskipun model linguistik yang berfokus pada oral dan teks tertulis sering dianggap sebagai kunci model komunikasi, model-model lain seperti visual, simbol, image tidak bergerak, animasi grafik, model-model fisik, isyarat dan gerakan juga mempunyai peran yang penting dalam proses belajar dan mengajar (Kress, 2003). Memahami suatu informasi dengan berbagai cara melibatkan proses berpikir kompleks. Siegler (dalam Santrock, 2004) mendeskrispiskan tiga karaketristik utama dari pendekatan pemroses informasi: proses berpikir, mekanisme pengubah, dan modifikasi diri. Terdapat empat mekanisme yang bekerja sama menciptakan perubahan dalam keterampilan kognitif seseorang yaitu : encoding (penyandian), otomatisasi, konstruksi strategi, dan generalisasi.
Encoding adalah proses memasukan informasi dari lingkungan luar ke dalam memori pikiran seseorang. Ada enam konsep yang berhubungan dengan encoding yaitu : atensi, pengulangan, pemrosesan mendalam, elaborasi, mengkonstruksi citra (imaji), dan penataan (organisasi). Pemrosesan informasi akan semakin menjadi otomatis melalui berbagai pengalaman. Melalui otomatisasi akan memunculkan penemuan prosedur baru untuk memproses informasi yang disebut fase konstruksi strategi dan agar mendapat manfaat penuh dari strategi baru ini, diperlukan generalisasi (Santrock, 2004).
Encoding dapat terjadi dalam beberapa mode (cara). Paivio (1991) mengusulkan Dual Coding Theory (DCT). Pendekatan DCT mencoba untuk memberikan beban yang sama kepada proses visual dan verbal. Penalaran dalam pendekatan ini dapat mengaktifkan sistem visual dan auditori secara independen walaupun kedua sistem terkoneksi. Indepedensi ini dengan sangat mudah didemosntrasikan melalui bertanya tentang suatu subyek untuk melakukan dua tugas secara simultan. Jika kedua tugas adalah auditori atau keduanya visual, suatu interferensi terjadi untuk mencegah penyelesaian simultan mereka. Dengan demikian, ketika satu encoding adalah visual dan lainnya adalah auditori, maka tugas simultan sangat mungkin untuk dilakukan. (Bersambung……).

Posted in Uncategorized | Comments Off on Belajar Sains-Fisika melalui Multiple Representations

Bahan Kuliah Statistika Dasar Prodi Seni 2012/2013

Ukuran Menyebar-kuliah ke 3

Posted in Uncategorized | Comments Off on Bahan Kuliah Statistika Dasar Prodi Seni 2012/2013

Presentasi 1 Fisika Kuantum

konsep dasar Fisika Kuantum 1

Posted in Uncategorized | Comments Off on Presentasi 1 Fisika Kuantum

Student Centre Learning for Building Character

Student Centre Learning (SCL) merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang melibatkan seluruh potensi siswa. Dalam implementasinya siswa merupakan pelaku utama proses pembelajaran baik yang melibatkan aktivitas berpikir (minds-0n) maupun fisik (hands-on).

Posted in Articles | Comments Off on Student Centre Learning for Building Character

Hallo Sahabat Fisika Indonesia!

Selamat Datang di Blog Edukasi.

Pendidikan Fisika Membangun Karakter Bangsa…

 

Posted in Uncategorized | 1 Comment