korupsi lagi!…koruptor lagi!

Mungkin kalau kita survei
‘kata apa yang selalu terngiang di telinga dan atau
yang tertempel di kelopak mata anda saat ini?’
kemungkinan persentase jawaban terbanyak adalah
‘korupsi atau koruptor’.

Betapa tidak?.
setiap hari-tidak berlebihan kalau saya katakan setiap saat-mata dan telinga kita disodori berbagai berita, talkshow, ulasan, opini dan sebagainya baik di media cetak, televisi, maupun online.
Dari format yang serius hingga dalam format candaan. Dari narasumber pejabat tinggi, kalangan senayan, pegawai kantoran
hingga orang rendahan
yang mengupas korupsi dan aktor-aktornya…para koruptor

Kata Korupsi dan koruptor detik ini bukan mahluk asing bagi semua kalangan, dari perkotaan hingga nun pelosok perdesaan!.

Betapa tidak?.
Korupsi dan Koruptor-sang pelaku korupsi-adalah perusak sendi-sendi kehidupan bangsa dan ‘masyarakat’.
Memaknai korupsi, koruptor tak perlu ribet-ribet.
Secara sederhana, ‘masyarakat’ memaknai koruptor adalah mahluk jahat luar biasa dengan kelicikan dan kepintaran yang juga luar biasa. Mahluk yang tak pernah terpuaskan, mahluk yang tak pernah kenyang, mahluk yang memakan segala hal-dari beras, daging, beton, mobil, kertas, dan…(silahkan tambah sendiri). Sedangkan korupsi gampangnya adalah kerjaan dari para koruptor.

Kita pasti sepaham bahwa koruptor juga hidup di tengah-tengah kita. Sekaya dia-dari hasil korupsi pastinya-tentu hidupnya ada di tengah-tengah kita. Tapi, kenapa dia-yang menjadi tetangga kita, yang menjadi teman kita, yang menjadi pemimpin kita, bahkan menjadi keluarga kita-bisa-bisanya mem’babat habis’ hak kita.

Hebatnya! saat ini Koruptor sudah tak mengenal tempat. Tak ada sakralisasi tempat bagi koruptor. Dulu, yang kita anggap tempat sakral dan penjaga moral pun dibabat juga oleh koruptor. Anda pasti sudah dengar berbagai kasus di Kemenag dan Kemendikbud. Koruptor sudah menjarah Al-Qur’an untuk umat (kasus pengadaan Al-Qur’an), koruptor sudah memangkas hak siswa dan mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu (berbagai kasus di sekolah dan kampus).

yah…betapa tidak!.
koruptor memang mahluk tak ber-nurani!. Selagi bisa ‘tancap terus’, bodo amat dengan orang lain. Ibarat bunglon, koruptor sulit kita bedakan dengan yang lain di sekitar kita. Dengan berbagai bungkus, koruptor akan membuat kita kesulitan atau ‘sungkan’ untuk mengidentifikasi mereka itu dermawan atau ‘dermawan’, misalnya.
Koruptor memang mahluk terjahat, tapi dengan tipu dayanya, mereka bisa menjadi mahluk yang paling baik, paling peduli, paling dermawan, paling murah senyum, dan sok paling menderita!. Ya…ingat! semua paling tersebut adalah paling dalam tanda petik (‘paling’).

Koruptor…berjamaah!
kok bisa…
Yah…betapa tidak!
kebanyakan koruptor adalah orang-orang pandai. Lihat saja di gedung KPK. Siapa saja yang keluar masuk berjaket putih dengan tulisan “Tahanan KPK’. Mereka adalah S1, S2, atau ada yang S3. apakah mereka ‘bekerja’ sendiri?. Dengan posisi dan kepandaiannya sulit untuk dikatakan mereka ‘bermain’ sendiri, kata seorang pengamat dalam sebuah talkshow televisi. Yah….. jadinya ia berjamaah.

Aku akhiri…
betapa tidak!
paling tidak aku telah menuangkan uneg-uneg yang akhir-akhir ini baik siang, malam, dini hari, pagi hari, sore hari selalu memenuhi ruang hati dan pikiranku
korupsi lagi…koruptor lagi…..lagi-lagi korupsi….lagi-lagi koruptor!

aku tutup akhiran ini
dengan menarik nafas daaalam-dalam
sambil membayangkan
negeriku yang bebas korupsi dan koruptor
negeriku yang bergairah
negeriku yang makmur
negeriku yang berhasil menumpas korupsi
dengan menegakkan kejujuran

kapan?
wallaahu a’lam.

This entry was posted in renungan dan hikmah. Bookmark the permalink.