SD KELAS 1

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

2013

SD KELAS I

 

MATERI PELATIHAN GURU

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diterbitkan oleh:

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan

dan Penjaminan Mutu Pendidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

2013

 

 

Copyright © 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

SAMBUTAN

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

 

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt, Kurikulum 2013 secara terbatas mulai dilaksanakan tahun 2013 pada sekolah-sekolah yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan secara selektif. Kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya untuk merespon berbagai tantangan tantangan internal dan eksternal.

Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan. Pengembangan kurikulum menjadi amat penting sejalan dengan kontinuitas kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya serta perubahan masyarakat pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan.  Aneka kemajuan dan perubahan itu melahirkan tantangan internal dan eksternal yang di bidang pendidikan pendidikan. Karena itu, implementasi Kurikulum 2013 merupakan langkah strategis dalam menghadapi globalisasi dan tuntutan masyarakat Indonesia masa depan.

Pengembangan Kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip utama. Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian. Aplikasi yang taat asas dari prinsip-prinsip ini menjadi sangat esensial dalam mewujudkan keberhasilan implementasi Kurikulum 2013.

Mudah-mudahan  implementasi Kurikulum 2013 ini bisa berjalan dengan baik. Akhirnya, kepada semua pihak yang telah mendedikasikan dirinya dalam mempersiapkan Kurikulum 2013, saya mengucapkan banyak terima kasih. Semoga bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa Indonesia.

 

 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

 

 

Muhammad  Nuh

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Modul Bahan Ajar Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Modul bahan ajar ini merupakan bahan ajar wajib dalam rangka pelatihan calon instruktur, guru inti, dan guru  untuk memahami Kurikulum 2013 dan kemudian dalam proses pembelajaran di sekolah.

Kurikulum 2013 ini diberlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 2013-2014 melalui pelaksanaan terbatas, khususnya bagi sekolah-sekolah yang sudah siap melaksanakannya. Pada Tahun Ajaran 2013/2014, Kurikulum 2013 dilaksanakan secara terbatas untuk Kelas I dan IV Sekolah Dasar/Madrasah Ibtida’iyah (SD/MI), Kelas VII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Kelas X Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA/MAK). Pada Tahun Ajaran 2015/2016 diharapkan Kurikulum 2013 telah dilaksanakan di seluruh kelas I sampai dengan Kelas XII.

Menjelang implementasi Kurikulum 2013, penyiapan tenaga guru dan tenaga kependidikan lainnya sebagai pelaksana kurikulum di lapangan perlu dilakukan.  Sehubungan dengan itu,  Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP), telah menyiapkan strategi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas.

Pada tahun 2013 pelatihan akan dilakukan bagi pengawas SD/SMP/SMA/SMK, kepala sekolah SD/SMP/SMA/SMK, dan guru Kelas I dan IV SD, guru Kelas VII SMP untuk 9 mata pelajaran, dan guru Kelas X SMA/SMK untuk 3 mata pelajaran.  Guna menjamin kualitas pelatihan tersebut, maka BPSDMPK dan PMP telah menyiapkan 14 Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, sesuai dengan kelas, mata pelajaran, dan jenjang pendidikan. Modul ini diharapkan dapat membantu semua pihak menjalankan tugas dalam Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013.

Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas partisipasi aktif kepada pejabat dan staf di jajaran BPSDMPK dan PMP, dosen perguruan tinggi, konsultan, widyaiswara, pengawas, kepala sekolah, dan guru yang terlibat di dalam penyusunan modul-modul tersebut di atas.

 

Jakarta, Juni 2013

Kepala Badan PSDMPK-PMP

 

 

Syawal Gultom

NIP. 19620203 198703 1 002

DAFTAR ISI

SAMBUTAN

iii

KATA PENGANTAR

iv

DAFTAR ISI

v

BAGIAN I PENDAHULUAN

1

A.

Tujuan Umum Pelatihan

2

B.

Indikator Umum Ketercapaian Tujuan

2

C.

Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai

3

D.

Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan

3

E.

Tahapan, Nara Sumber, dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

3

F.

Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, untuk Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas

5

G.

Penilaian

5

H.

Panduan Narasumber dan Fasilitator

6

I.

Kode Etik Narasumber

7

J.

Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013

7

K.

Sistematika Modul

10

BAGIAN II SILABUS PELATIHAN

11

A.

Silabus Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset

13

B.

Silabus Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013

15

C.

Silabus Materi Pelatihan 2: Elemen Perubahan Kurikulum 2013

20

D.

Silabus Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran

27

E.

Silabus Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing

31

BAGIAN II MATERI PELATIHAN

35

A

Materi Pelatihan 0 Perubahan Mindset

35

B.

Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013

60

1.1  Rasional

64

1.2  Elemen Perubahan Kurikulum

94

1.3  SKL, KI, dan KD

100

1.4  Strategi Implementasi Kurikulum 2013

169

B.

Materi Pelatihan 2 : Analisis Materi Ajar

174

2.1Konsep Pendekatan Scientific

179

2.2Konsep Penilaian Autentik

201

2.3Analisis Buku Guru dan Siswa

247

C.

Materi Pelatihan 3 : Model Rancangan Pembelajaran

257

3.1  Penyusunan RPP

260

3.2  Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar

288

D.

Materi Pelatihan 4 : Praktik Pembelajaran Terbimbing

292

4.1  Simulasi Pembelajaran

296

4.2  Peer Teaching

305

 

 

  1. Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset
  2. Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013

1.1      Rasional

1.2       Elemen Perubahan

1.3      SKL, KI, KD

1.4      Strategi Implementasi

  1. Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar

2.1    Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu

2.2    Konsep Pendekatan Scientific

2.3    Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar

2.4    Analisis Buku Guru dan Buku SIswa

  1. Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran

1.1      Penyusunan RPP

1.2      Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar

  1. Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing

4.1    Simulasi Pembelajaran

4.2    Peer Teaching

  1. Pendampingan

BAGIAN 3:

MATERI PELATIHAN

BAGIAN 2:

SILABUS

  1. Silabus Perubahan Mindset
  2. Silabus Konsep Kurikulum 2013
  3. Silabus Analisis Materi Ajar
  4. Silabus Model Rancangan Pembelajaran
  5. Silabus Praktik Pembelajaran Terbimbing

BAGIAN 1:

PENDAHULUAN

  1. Tujuan Umum Pelatihan
  2. Indikator Umum KetercapaianTujuan
  3. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai
  4. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan
  5. Tahapan, Narasumber, dan Peserta Pelatihan
  6. Struktur Pelatihan
  7. Penilaian
  8. Panduan Narasumber dan Fasilitator
  9. Kode Etik Narasumber
  10. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan
  11. Sistematika Materi Pelatihan

GAMBARAN STRUKTUR MATERI PELATIHAN GURU IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

 

 

 

 

 

 

BAGIAN I

PENDAHULUAN

  

 

BAGIAN I

PENDAHULUAN

 

Modul Pelatihan ini disiapkan untuk digunakan para Narasumber Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 sesuai dengan kelas, mata pelajaran dan jenjang pendidikan.    Narasumber yang dimaksudkan adalah Narasumber Nasional, Instruktur Nasional, Guru Inti, Kepala Sekolah Inti, dan Pengawas Sekolah Inti.

Modul ini memberi panduan bagi para pengguna mengenai (1) Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013; (2) Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013; (3) Panduan Narasumber; (4) Panduan Penilaian; (5) Bahan/Materi Pelatihan untuk masing-masing Mata Pelatihan. Bahan/Materi Pelatihan yang dimaksud meliputi hand-out, lembar kerja/worksheet, bahan tayang baik dalam bentuk slide power point maupun rekaman video.

Sesuai dengan Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP) telah menetapkan jenjang atau tahapan pelatihan, sasaran pelatihan, dan struktur pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 untuk tahun kalender 2013.

 

  1. A.     Tujuan Umum Pelatihan

Tujuan Umum Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut.

  1. Guru mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian Kurikulum  2013.
  2. Kepala sekolah mampu mengerahkan sumber daya yang dimiliki dalam rangka menjamin keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013.
  3. Pengawas sekolah mampu memberikan bantuan teknis  secara benar kepada sekolah dalam mengatasi hambatan selama implementasi Kurikulum 2013.

 

  1. B.      Indikator Umum Ketercapaian Tujuan

Hasil monitoring dan evaluasi implementasi Kurikulum 2013 pada akhir Tahun Ajaran 2013/2014, menunjukkan di bawah ini.

  1. Tujuh puluh persen (70%) guru kelas I, IV, VII, X mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian Kurikulum  2013.
  2. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 tidak mengalami hambatan biaya, sarana, sumber daya manusia, dan kebijakan sekolah.
  3. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 mendapatkan bantuan secara benar dari pengawas sekolah selama implementasi Kurikulum 2013.
  4. C.      Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai

Berdasarkan Indikator Ketercapaian Tujuan, maka berikut ini kompetensi inti yang harus dicapai peserta setelah mengikuti pelatihan.

  1. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013.
  2. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013.
  3. Memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kurikulum 2013 (rasional, elemen perubahan, SKL, KI dan KD, serta strategi implementasi).
  4. Memiliki keterampilan menganalisis keterkaitan antara Standar Kompetensi Kelulusan (SKL), Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), Buku Guru, dan Buku Siswa.
  5. Memiliki keterampilan menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada Kurikulum 2013.
  6. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan pendekatan Scientific secara benar.
  7. Memiliki keterampilan melaksanakan penilaian autentik dengan benar.
  8. Memiliki keterampilan berkomunikasi lisan dan tulis dengan runtut, benar, dan santun.

 

  1. D.     Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan

Setelah selesai mengikuti pelatihan, guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah mampu mewujudkan hasil kerja secara kolektif berikut ini.

  1. Analisis SKL, KI, KD untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya, selama 1 semester.
  2. Analisis buku siswa dan buku guru untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya, selama 1 semester.
  3. Contoh RPP untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya, selama 1 semester.
  4. Contoh instrumen penilaian untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya, selama 1 semester.

 

  1. E.      Tahapan, Narasumber, dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Sasaran akhir dari pelatihan ini adalah guru, kepala sekolah dan pengawas.  Mengingat jumlah sasaran akhir pelatihan sangat besar dan sebaran sasaran akhir pelatihan sangat luas, maka pelatihan ini menerapkan strategi pelatihan bertahap atau berjenjang.  Tahapan atau jenjang pelatihan, narasumber yang akan bertugas, serta sasaran peserta dapat dijelaskan pada  diagram berikut ini.

 

 

 

Narasumber: Narasumber Nasional

Narasumber: Instruktur Nasional

Narasumber: Instruktur Nasional

Narasumber: Instruktur Nasional

Peserta: Instruktur Nasional

Peserta: Guru Inti

Narasumber: Guru Inti

Narasumber: Kepala Sekolah Inti

Narasumber: Pengawas Inti

Peserta: Guru Kelas/Mapel/BK

Peserta: Kepala Sekolah

Peserta: Pengawas

Peserta: Kepala Sekolah Inti

Peserta: Pengawas Inti

PELATIHAN INSTRUKTUR  NASIONAL

PELATIHAN GURU INTI

PELATIHAN KEPALA SEKOLAH INTI

PELATIHAN PENGAWAS INTI

PELATIHAN GURU KELAS/MAPEL

PELATIHAN KEPALA SEKOLAH

PELATIHAN PENGAWAS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diagram 1. Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

 

Tahapan pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 dapat dilihat pada diagram 1 di atas.  Diagram tersebut menunjukan terdapat 3 tahap pelatihan yaitu:Pelatihan Tingkat Nasional, Tingkat Provinsi, dan Tingkat Kabupaten/Kota.  Secara keseluruhan terdapat 7 jenis pelatihan, yakni: Pelatihan Instruktur Nasional, Pelatihan Guru Inti, Pelatihan Kepala Sekolah Inti, Pelatihan Pengawas Inti, Pelatihan Guru Kelas/ Mapel, Pelatihan Kepala sekolah, dan Pelatihan Pengawas.

 

  1. F.       Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, untuk Guru, Kepala Sekolah, dan PengawasSekolah

Tabel 1: Struktur Pelatihan Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah

No

MateriPelatihan

SD/MI

SMP/MTs

SMA/SMK/MA

Kelas I

Kelas IV

IPA

IPS

Lainnya

0.

PERUBAHAN MINDSET

2

2

2

2

2

2

1.

KONSEP KURIKULUM 2013

4

4

4

4

4

4

1.1

Rasional

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

1.2

Elemen Perubahan

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

1.3

SKL, KI dan KD

2

2

2

2

2

2

1.4

Strategi Implementasi

1

1

1

1

1

1

 

2.

ANALISIS MATERI AJAR

12

12

12

12

12

12

2.1

Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu

2

2

Konsep Pembelajaran IPA Terpadu

2

Konsep Pembelajaran IPS Terpadu

2

2.2

Konsep Pendekatan Scientific

2

2

2

2

2

2

2.3

Model Pembelajaran

2

2

2

2

2.4

Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar

2

2

2

2

2

2

2.5

Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian, Kecukupan, dan Kedalaman Materi)

6

6

4

4

6

6

 

3.

MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN

8

8

8

8

8

8

3.1

Penyusunan RPP

5

5

5

5

5

5

3.2

Perancangan Penilaian Autentik

3

3

3

3

3

3

 

4.

PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING

22

22

22

22

22

22

4.1

Simulasi Pembelajaran

8

8

8

8

8

8

4.2

Peer Teaching

14

14

14

14

14

14

   

  PENDAMPINGAN

2

2

2

2

2

2

   

  TES AWAL DAN TES AKHIR

2

2

2

2

2

2

   

  TOTAL

52

52

52

52

52

52

  1. G.     Penilaian

Seusai pelatihan, panitia pelatihan akan mengumumkan hasil penilaian peserta.  Penilaian meliputi tiga ranah yaitu:

  1. sikap
  2. pengetahuan, dan
  3. keterampilan

Penilaian autentik diterapkan di dalam pelatihan ini.  Metode penilaian yang diterapkan di dalam penilaian ini meliputi:

  1. tes awal;
  2. tes akhir;
  3. portofolio; dan
  4. pengamatan.

 

Setiap calon instruktur nasional, guru inti, kepala sekolah inti, dan pengawas inti dinyatakan lulus apabila mencapai nilai 75 dan memiliki kewenangan untuk melatih.

 

  1. H.     Panduan Narasumber dan Fasilitator

Narasumber memainkan peran yang sangat penting untuk menjadikan suatu pelatihan yang menarik dan menyenangkan. Jumlah narasumber yang akan bertugas sebanyak 3 (tiga) orang selama proses pelatihan. Narasumber membagi tugas secara bersama-sama dengan prinsip keadilan. Ketika seorang narasumber bertugas memberikan materi pelatihan, maka narasumber lainnya berperan sebagai fasilitator yang membantu dalam menyiapkan perangkat pelatihan, memberikan penjelasan tambahan, dan melakukan penilaian kepada peserta.

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang narasumber adalah berikut ini.

  1. Memahami isi modul sesuai bidang yang ditugaskan.
  2. Melaksanakan pelatihan sesuai dengan modul dan mematuhi urutan dalam skenario pelatihan yang telah disusun.
  3. Memberikan contoh panutan bagi peserta, baik dalam hal disiplin, berperilaku, cara memberikan pertanyaan, cara memberikan umpan balik, memberikan motivasi, maupun penguasaan materi pelatihan.
  4. Memanggil nama peserta untuk mengurangi ketegangan.
  5. Mengurangi penjelasan definisi, menjawab pertanyaan, dan memberikan konfirmasi, tetapi wajib melibatkan peserta secara aktif dalam mencari, menggali data, menganalisis alternatif temuan, memecahkan masalah, mengambil keputusan atau simpulan.
  6. Memotivasi peserta untuk mengambil kesimpulan sendiri, menanyakan argumentasinya mengapa peserta mengambil simpulan itu, menguatkan dan menekankan simpulan itu.
  7. Memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta baik laki-laki maupun perempuanyang memiliki keterbatasan berbicara, yang minoritas, yang pendiam, yang tua, dan sebagainya.
  8. Mengaktifkan peserta untuk menjawab pertanyaan peserta lain.
  9. Menghindari hal-hal berikut ini.
    1. Menjawab pertanyaan yang tidak dipahami maksudnya.
    2. Menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabnya.
    3. Menjawab pertanyaan yang tidak perlu dijawab.
    4. Terpancing dalam perdebatan dengan peserta yang dapat mengakibatkan habisnya waktu.
    5. Berperan sebagai orang yang serba tahu.
    6. Mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab peserta sesering mungkin (jangan pertanyaan yang sulit dijawab atau terlalu mudah dijawab peserta).

 

Tugas Narasumber yang Berperan sebagai Fasilitator

  1. Menyiapkan alat, sumber, dan media belajar yang diperlukan.
  2. Membagi bahan pelatihan kepada peserta sesuai haknya.
  3. Melaksanakan penilaian terdiri atas: tes awal, tes akhir,, dan penilaian proses, yang meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  4. Mencatat kehadiran peserta sebagai bagian dari bahan penilaian.
  5. Menyerahkan laporan tertulis setiap selesai melakukan pelatihan.

 

  1. I.        Kode Etik Narasumber

Setiap fasilitator pelatihan wajib menyetujui dan menerapkan kode etik berikut ini.

  1. Menghormati kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan implementasi Kurikulum 2013.
  2. Mengacu pada prinsip-prinsip andragogi  dalam bersikap dan berperilaku.
  3. Menjaga kerahasiaan semua alat penilaian yang akan digunakan.
  4. Memberlakukan peserta secara adil dan tidak diskriminatif.
  5. Melakukan penilaian secara objektif.

 

  1. J.          Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013

Jenis bahan dan lembar kerja untuk masing-masing materi pelatihan dapat dilihat berikut ini. Beberapa dokumen pelatihan digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan sebagaimana tercermin dalam pengkodean bahan pelatihan.

 

 

Tabel 2. Daftar dan Pengkodean Materi Pelatihan

NO.

MATERI PELATIHAN

KODE

0.

PERUBAHAN MINDSET
Bahan Tayang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21

PPT-0.1

1.

KONSEP KURIKULUM 2013
Video Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud

V-1.1

Bahan Tayang

 

 

 

Rasional

PPT-1.1

Elemen Perubahan

PPT-1.2

SKL, KI, KD

PPT-1.3

Strategi Implementasi

PPT-1.4

Hand-Out Naskah Kurikulum 2013

HO-1.1/1.2/1.4

SKL, KI, dan KD

HO-1.3/2.1/ 2.4/3.1/3.2

Contoh Analisis Keterkaitan antara SKL, KI, dan KD

HO-1.3

 

Lembar Kerja/Rubrik Analisis Keterkaitan SKL, KI, KD

LK-1.3

2.

ANALISIS MATERI AJAR
Video Pembelajaran di SD Kelas I

V-2.1/4.1

Bahan Tayang Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu

PPT-2.1-1

Konsep Pendekatan Scientific

PPT-2.2-1

Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar

PPT-2.3

Analisis Buku Guru dan Siswa

PPT-2.4

Lembar Kerja/Rubrik

 

 

Analisis Buku Guru

LK-2.4-1

Analisis Buku Siswa

LK-2.4-2

Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Siswa

R-2.4

Hand-Out SKL, KI, dan KD

HO-1.3/2.1/ 2.4/3.1/3.2

Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu

HO-2.1-1

Implementasi Pembelajaran Tematik Terpadu

HO-2.1-2

Konsep Pendekatan Scientific

HO-2.2-1

Contoh Penerapan Pendekatan scientific dalam Pembelajaran di SD Kelas I

HO-2.2-2

Konsep Penilaian Autentik

HO-2.3

Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran di SD Kelas I

HO-2.3/3.2

Lembar Kerja/Rubrik

 

 

Analisis Buku Guru

LK-2.4-1

Analisis Buku Siswa

LK-2.4-2

Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Siswa

R-2.4

3.

MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN
Bahan Tayang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific

PPT-3.1-1

Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang Telah Dibuat

PPT-3.2

Hand-Out   SKL, KI, dan KD

HO-1.3/2.1/ 2.4/3.1/3.2

Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific

HO-3.1-1

Contoh RPP Tematik SD Kelas I

HO-3.1-2

Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran

HO-2.3/3.2

Lembar Kerja/Rubrik Telaah RPP

LK-3.1/3.2

Rubrik Penilaian Telaah RPP

R-3.1/3.2

4.

PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING
Video Video Pembelajaran

V-2.1/4.1

Bahan Tayang Strategi Pengamatan Tayangan Video

PPT-4.1

Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran Melalui Peer-Teaching

PPT-4.2-1

Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran

PPT-4.2-2

Lembar Kerja/Rubrik Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video

LK-4.1

Rubrik Penilaian Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video

R-4.1

Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran

LK-4.2

Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran

R-4.2

Keterangan:

V         :     Video

PPT     :     Powerpoint Presentation

HO      :     Hand-Out

LK        :     Lembar Kerja

R          :     Rubrik

 

Catatan Pengkodean:

  1. PPT-1.3 artinya bahan presentasi ini digunakan saat menyampaikan Materi Pelatihan 1 (Konsep Kurikulum), Submateri 3 (SKL,KI,KD)
  2. HO-1.3/2.1/2.4/3.1/3.2 artinya hand-out ini digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan yaitu sebagai berikut:

-       Materi Pelatihan 1, submateri 3;

-       Materi Pelatihan 2, submateri 1 dan 4;

-       Materi Pelatihan 3, submateri 1 dan 2.

 

  1. K.      Sistematika Modul

Modul pelatihan implementasi kurikulum ini dibagi dalam tiga bagian berikut ini.

Bagian I       :     Pendahuluan

Bagian II     :     Silabus Pelatihan

Bagian III    :     Materi Pelatihan

 


 

 

 

 

 

 

BAGIAN II

SILABUS


 

 

 

 

SILABUS

PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

 

JENJANG: SD/MI

KELAS: I (SATU)

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

TAHUN 2013

SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

 

MatERI Pelatihan:         0. PERUBAHAN MINDSET

Alokasi Waktu:             2 JP (@ 45 Menit)

Jenjang:                            sd/mi

KELAS:                                I (SATU)

 

No

SUBMateri Pelatihan

Kompetensi PESERTA PELATIHAN

Indikator

Kegiatan PELATIHAN

Penilaian

Bahan Pelatihan

Waktu (jp)

Aspek

Teknik

Bentuk Instrumen

Jenis

Deskripsi

0.1 Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21

 

  1. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013

 

  1. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013.
  2. Menunjukkan sikap menerima secara terbuka terhadap perubahan Kurikulum dalam rangka menghadapi tantangan Indonesia dalam Abad ke-21.
 

  1. Menunjukkan sikap menghargai perubahan kurikulum.

 

  1. Merespon secara positif terhadap cara baru dalam belajar.

 

  1. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan materi pelatihan perubahan mindset.

 

  1. Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21.

 

  1. Curah pendapat membandingkan antara berpikir berbasis kendala (constraint-based thinking) dengan berpikir berbasis kesempatan (opportunity-based thinking)

 

  1. Mendiskusikan cara baru dalam belajar.

 

  1. Mendiskusikan 6 pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan

 

  1. Tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill).

 

Sikap

Menerima, menghargai dan merespon positif perubahan Kurikulum da serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan materi pelatihan.

Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lembar Pengamatan Sikap

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bahan Tayang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21

(PPT-0.1)

 

 

 

 

 

2

 

 

SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

 

MatERI Pelatihan:         1. KONSEP KURIKULUM

Alokasi Waktu:             4 JP (@ 45 Menit)

Jenjang:                            sd/mi

KELAS:                                I (SATU)

No

SUBMateri Pelatihan

Kompetensi PESERTA PELATIHAN

Indikator

Kegiatan PELATIHAN

Penilaian

Bahan Pelatihan

Waktu (jp)

Aspek

Teknik

Bentuk Instrumen

Jenis

Deskripsi

1.1 Rasional Memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013.
  1. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan.

 

2. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan.

 

3. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP).

 

4. Mengidentifikasi kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal.

 

5. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum.

 

  1. Mengamati dan menyimak tayangan paparan tentang Kurikulum 2013 oleh Mendikbud.

 

  1. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang paparan rasional Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum di Indonesia.

 

  1. Menyimpulkan rasional Kurikulum 2013 yang mencakup permasalahan kurikulum 2006 (KTSP), kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal, serta alasan pengembangan kurikulum.

 

Sikap

Menerima latar belakang alasan perubahan Kurikulum 2013.

 

Pengetahuan

Memahami secara utuh rasional kurikulum 2013 .

 

Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

Tes Tertulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lembar Pengamatan Sikap

 

 

 

 

 

Tes Objektif  Pilihan Ganda

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Video

 

 

 

 

 

  1. Bahan Tayang

 

 

  1. Hand-out

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud

(V-1.1)

 

Rasional Kurikulum 2013

(PPT-1.1)

 

Naskah Kurikulum 2013

(HO-1.1/1.2/1.4)

 

 

 

 

 

 

 

0,5

1.2 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. 1. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL, SI, Standar Proses, dan Standar Penilaian.

 

2. Menjelaskan empat elemen perubahan  Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL, SI, Standar Proses, dan Standar Penilaian.

 

3. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan.

 

1. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang  empat elemen perubahan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum.

 

2. Menyimpulkan empat elemen perubahan Kurikulum 2013.

 

Sikap

Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013

 

Pengetahuan

Memahami elemen perubahan Kurikulum 2013 dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan.

Pengamatan

 

 

 

 

 

 

Tes Tertulis

Lembar Pengamatan Sikap

 

 

 

 

Tes Objektif Pilihan Ganda

  1. Bahan Tayang

 

 

 

  1. Hand-out
Elemen Perubahan Kurikulum 2013

(PPT-1.2)

 

Naskah Kurikulum 2013

(HO-1.1/1.2/1.4)

 

 

 

0,5

1.3 SKL, KI dan KD Memahami keterkaitan antara SKL, KI, dan KD pada Kurikulum 2013. 1. Bekerja sama dalam menganalisis keterkaitan SKL, KI, dan KD.

 

2. Menganalisis keterkaitan antara SKL, KI, dan KD.

  1. Menyimak paparan SKL, KI, dan KD.

 

  1. Memberi contoh analisis keterkaitan SKL, KI, dan KD.

 

  1. Menganalisis keterkaitan SKL, KI, dan KD melalui diskusi kelompok pada format yang sudah disediakan (Tiap kelompok menganalisis keterkaitan SKL, KI, dan KD yang akan dijadikan dasar dalam membuat RPP)

 

  1. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok.

 

  1. Menilai hasil kerja kelompok lain.

 

Sikap

Bekerja sama dalam kelompok dengan baik dan benar

 

Keterampilan

Terampil menganalisis keterkaitan SKL, KI, dan KD

 

 

Pengetahuan

Kemampuan memahami konsep SKL, KI, dan KD serta keterkaitan antara ketiga kompetensi tersebut.

Pengamatan

 

 

 

 

 

 

Penugasan

 

 

 

 

 

 

Tes Tertulis

 

 

 

Lembar Pengamatan Sikap

 

 

 

 

Rubrik penilaian hasil analisis keterkaitan SKL, KI dan KD (R-1.3)

 

Tes Objektif Pilihan Ganda

 

  1. Bahan Tayang

 

  1. Hand-Out

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Lembar Kerja
SKL, KI, dan KD

(PPT-1.3)

 

  1. SKL, KI, dan KD (HO-1.3/ 2.1/2.4/ 3.1/3.2)
  2. Contoh Analisis Keterkaitan antara SKl, KI, dan KD

(HO-1.3)

 

Analisis Keterkaitan SKL, KI, dan KD

(LK-1.3 )

 

2

1.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 Memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013. 1. Berkomunikasi dengan bahasa yang runtut dan komunikatif untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.

 

2. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.

 

 

  1. Diskusi kelas untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.

 

  1. Merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi kelas.

 

  1. Mengkomunikasikan hasil diskusi kelas.
Sikap

Berkomunikasi dengan bahasa yang santun, sistematis, dan komunikatif dalam meyampaikan ide-ide.

 

Pengetahuan

Memahami elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.

 

Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tes Tertulis

Lembar Pengamatan Sikap

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tes Objektif Pilihan Ganda

  1. Bahan Tayang

 

 

 

  1. Hand-out

 

 

 

 

 

Strategi Implementasi Kurikulum

(PPT-1.4)

 

Naskah Kurikulum 2013

(HO-1.1/1.2/1.4)

 

1

 

 

 

SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

 

MatERI Pelatihan:         2. analisis materi ajar

Alokasi Waktu:              12 JP (@ 45 Menit)

Jenjang:                            sd/mi

KELAS:                                I (SATU)

No

SUBMateri Pelatihan

Kompetensi PESERTA PELATIHAN

Indikator

Kegiatan PELATIHAN

Penilaian

Bahan Pelatihan

Waktu (jp)

Aspek

Teknik

Bentuk Instrumen

Jenis

Deskripsi

2.1 Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu Mendeskripsikan konsep pembelajaran Tematik Terpadu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Menerima konsep pembelajaran Tematik Terpadu dan menghargai pendapat orang lain.

 

  1. Menjelaskan konsep pembelajaran Tematik Terpadu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Menjelaskan pemetaan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran Tematik Terpadu.

 

  1. Menjelaskan keterkaitan antara jaringan tema, silabus, RKH, dan RPP.

 

  1. Mengamati tayangan video PBM tematik dan video PBM Tematik Terpadu.

 

 

 

  1. Membandingkan antara pembelajaran tematik dengan Tematik Terpadu melalui diskusi kelompok.

 

  1. Melakukan tanya jawab tentang konsep pembelajaran Tematik Terpadu.

 

  1. Menyimpulkan konsep pembelajaran Tematik Terpadu.

 

  1. Mendiskusikan hasil pemetaan KD dan indikator pembelajaran Tematik Terpadu.

 

 

 

  1. Mendiskusikan keterkaitan antara jaringan tema, silabus, RKH, dan RPP.
Sikap

Menerima konsep pembelajaran Tematik Terpadu dan menghargai pendapat orang lain.

 

Keterampilan

Terampil menganalisis keterkaitan antara jaringan tema, silabus, RKH, dan RPP.

 

 

Pengetahuan

Konsep pembelajaran Tematik Terpadu.

Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penugasan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tes Tertulis

Lembar Pengamatan Sikap

 

 

 

 

 

 

 

Rubrik  penilaian hasil analisis keterkaitan antara jaringan tema, silabus, RKH, dan  RPP (R-2.1)

 

Tes Objektif Pilihan  Ganda

 

 

  1. Video

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Bahan Tayang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Hand out

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Lembar Kerja

 

 

  1. Pembelajaran tematik di kelas I

(V-2.1)

  1. Pembelajaran Tematik Terpadudi kelas I

(V-2.1/4.1)

 

  1. Konsep pembelajaran Tematik Terpadu

(PPT-2.1-1)

  1. Implementasi pembelajaran Tematik Terpadu

(PPT-2.1-2)

 

  1. SKL, KI, dan KD (HO-1.3/ 2.1/2.4/ 3.1/3.2)
  2. Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu

(HO-2.1-1)

  1. Implementasi pembelajaran Tematik Terpadu

(HO-2.1-2)

 

Analisis keterkaitan antara jaringan tema, silabus, RKH, dan RPP

(LK-2.1)

2

2.2 Konsep Pendekatan Scientific Mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran Tematik Terpadu

 

  1. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain.

 

 

  1. Menjelaskan konsep pendekatan scientific

 

  1. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Tematik Terpadu.

 

  1. Mengkaji  pendekatan scientific mengacu pada tayangan video Tematik Terpadu melalui diskusi kelompok

 

 

 

 

 

 

  1. Mendiskusikan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Tematik Terpadu.
Sikap

Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain.

 

Pengetahuan

Konsep pendekatan scientific dan penerapan-nya dalam pembelajaran Tematik Terpadu.

 

 

Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

 

Tes tertulis

Lembar pengamatan sikap

 

 

 

 

 

 

Tes Objektif Pilihan Ganda

  1. Bahan Tayang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Hand out
    1. Konsep pendekatan scientific
(PPT-2.2-1)

  1. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Tematik Terpadu

(PPT-2.2-2)

 

  1. Pendekatan scientific

(HO-2.2-1)

  1. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Tematik Terpadu

(HO-2.2-2)

 

2

2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar

 

 

 

Mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar
  1. Menerima penerapan konsep penilaian autentik  di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain.

 

  1. Menjelaskan konsep  penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.

 

  1. Menyajikan kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk penilaian autentik.

 

 

  1. Mendiskusikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.

 

 

Sikap

Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain.

 

Pengetahuan

Konsep penilaian autentik pada pembelajaran Tematik Terpadu.

 

Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tes tertulis

Lembar pengamatan sikap

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tes Objektif Pilihan Ganda

  1. Bahan Tayang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Hand out

 

  1. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar

(PPT-2.3)

  1. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Tematik Terpadu

(PPT-2.3/3.2)

 

  1. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar

(HO-2.3)

  1. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Tematik Terpadu

(HO-2.3/3.2)

 

2

2.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian, Kecukupan, dan Kedalaman Materi)
  1. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL, KI, dan KD.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Menguasai secara utuh materi, struktur, dan pola pikir keilmuan materi pelajaran.

 

 

  1. Menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.
  2. Ketelitian dan keseriusan menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL, KI, dan KD.
 

  1. Mengidentifikasi kesesuaian  isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL, KI, dan KD.

 

 

 

 

  1. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa.

 

 

  1. Menganalisis kesesuaian proses, pendekatan belajar  Tematik Terpadu, serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku.

 

 

 

 

  1. Menjelaskan secara utuh materi, struktur, dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa.

 

 

  1. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.
  2. Peserta pelatihan menilai buku guru dan buku siswa.
 

  1. Diskusi kelompok membahas hasil penilaian buku guru dan buku siswa.

 

3. Mencermati format analisis buku guru dan buku siswa.

 

  1. Mendeskripsikan kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa secara kelompok.

 

  1. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan standar proses,  pendekatan Tematik Terpadu, dan standar penilaian yang diintegrasikan dalam buku melalui diskusi kelompok.

 

  1. Membaca isi materi, struktur, dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa melalui belajar mandiri.

 

  1. Membuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari secara berkelompok.

 

  1. Mempresentasi kan hasil analisis buku guru dan buku siswa (perwakilan kelompok).

 

  1. Menyimpulkan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.
Sikap

Teliti dan serius dalam bekerja baik secara mandiri maupun berkelompok.

 

Keterampilan

Terampil menganalisis buku guru dan siswa.

 

 

 

 

 

 

Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

 

Penugasan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lembar pengamatan sikap

 

 

 

 

 

 

Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Buku Siswa

(R-2.4)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Bahan Tayang

 

 

2. Hand-out

 

 

 

3. Lembar Kerja

 

 

 

 

 

Analisis buku guru dan buku siswa (PPT-2.4)

 

SKL, KI, dan KD (HO-1.3/ 2.1/ 2.4/ 3.1/3.2)

 

  1. Analisis Buku Guru

(LK-2.4-1)

  1. Analisis Buku Siswa

(LK-2.4-2)

 

6

 

 

SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

 

MatERI Pelatihan:         3. MODEL RANCANGAN Pembelajaran

Alokasi Waktu:             8 JP (@ 45 Menit)

Jenjang:                            sd/mi

KELAS:                                I (SATU)

No

SUBMateri Pelatihan

Kompetensi PESERTA PELATIHAN

Indikator

Kegiatan PELATIHAN

Penilaian

Bahan Pelatihan

Waktu (jp)

Aspek

Teknik

Bentuk Instrumen

Jenis

Deskripsi

3.1 Penyusunan RPP Menyusun RPP Tematik Terpadu yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, maupun intelektual

 

  1. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP.

 

  1. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP Tematik Terpadu.

 

 

 

 

 

  1. Menyusun RPP Tematik Terpadu yang sesuai dengan SKL, KI dan KD; Standar Proses; dan pendekatan scientific.

 

 

 

 

 

  1. Menelaah RPP Tematik Terpadu
  2. Peserta pelatihan menilai RPP yang dibawa oleh peserta lain.
 

  1. Mendiskusikan rambu-rambu penyusunan RPP Tematik Terpadu yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific.

 

  1. Menyusun RPP Tematik Terpadu yang sesuai dengan SKL, KI, dan KD; Standar Proses; dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester I) secara berkelompok.

 

  1. Mendiskusikan format telaah  RPP .

 

  1. Menelaah RPP yang disusun kelompok lain sesuai format telaah.

 

  1. Merevisi RPP berdasarkan hasil telaah.

 

  1. Mempresentasi kan hasil RPP yang sudah direvisi (sampel).

 

Sikap Tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP

 

Keterampilan

Menyusun RPP pembelajaran Tematik Terpadu dengan pendekatan scientific

 

Pengetahuan

RPP pembelajaran tematik yang menerapkan pendekatan scientific

Pengamatan

 

 

 

 

 

 

Penugasan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tes Tertulis

Lembar Pengamatan Sikap

 

 

 

 

Rubrik Penilaian Telaah RPP

(R-3.1/3.2)

 

 

 

 

 

 

Tes Objektif Pilihan Ganda

 

 

  1. Bahan

Tayang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Hand out

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Lembar Kerja
  2. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific
(PPT-3.1-1)

  1. Panduan tugas telaah RPP

(PPT-3.1-2)

 

  1. SKL, KI, dan KD (HO-1.3/ 2.1/2.4/ 3.1/3.2)
  2. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific

(HO-3.1-1)

  1. Contoh RPP Tematik Terpadu kelas I (HO-3.1-2)

 

Telaah  RPP

(LK-3.1/3.2)

5

3.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar
  1. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik.

 

 

  1. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.

 

 

 

  1. Menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Tematik Terpadu.

 

 

  1. Menelaah rancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP.

 

  1. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun.

 

  1. Mendiskusikan dan melakukan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes.

 

  1. Mendiskusikan tentang kaidah merancang penilaian autentik berbentuk tes dan nontes, termasuk portofolio.

 

  1. Kerja kelompok menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Tematik Terpadu.

 

  1. Menelaah rancangan penilaian autentik pada RPP yang telah disusun.

 

 

  1. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun berdasarkan hasil telaah.

 

  1. Mempresentasi kan rancangan penilaian proses dan hasil belajar yang sudah direvisi (sampel).

 

Sikap Tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik.

 

KeterampilanMerancang penilaian autentik pada pembelajaran Tematik Terpadu.

 

Pengetahuan

Penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Tematik Terpadu.

Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

 

Penugasan

 

 

 

 

 

 

 

Tes Tertulis

Lembar Pengamatan Sikap

 

 

 

 

 

 

Rubrik Penilaian Telaah RPP

(R-3.1/3.2)

 

 

 

 

Tes Objektif Pilihan Ganda

 

 

  1. Bahan Tayang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Hand out

 

 

 

 

 

 

 

  1. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Tematik Terpadu

(PPT-2.3/3.2)

  1. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP yang telah dibuat

(PPT-3.2)

 

  1. SKL, KI, dan KD (HO-1.3/ 2.1/2.4/ 3.1/3.2)
  2. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Tematik Terpadu

(HO-2.3/3.2)

3

 

 

 

 

 

 

SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

 

MatERI Pelatihan:         4. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING

Alokasi Waktu:              22 JP (@ 45 Menit)

Jenjang:                            sd/mi

KELAS:                                I (SATU)

 

No

SUBMateri Pelatihan

Kompetensi PESERTA PELATIHAN

Indikator

Kegiatan PELATIHAN

Penilaian

Bahan Pelatihan

Waktu (jp)

Aspek

Teknik

Bentuk Instrumen

Jenis

Deskripsi

4.1 Simulasi Pembelajaran Mengkaji pelaksanaan pembelajaran Tematik Terpadu yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, maupun, intelektual

 

  1. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran.

 

  1. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran.

 

 

 

 

 

  1. Menyimpulkan alur pembelajaran Tematik Terpadu yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik.

 

  1. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching.

 

  1. Mengamati tayangan video pembelajaran Tematik Terpadu.

 

 

  1. Melalui diskusi, menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik.

 

  1. Menyimpulkan alur pembelajaran Tematik Terpadu yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik.

 

  1. Merevisi  RPP sesuai dengan hasil analisis    tayangan    video pembelajaran.

 

  1. Mempresentasi kan contoh RPP untuk kegiatan peer teaching.

 

Sikap

Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran

 

Keterampilan

Menganalisis pembelajaran pada  tayangan video.

 

 

 

Pengetahuan

Prinsip-prinsip pendekatan scientific dan penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Tematik Terpadu.

Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

Penugasan

 

 

 

 

 

 

 

 

Tes Tertulis

Lembar Pengamatan Sikap

 

 

 

 

 

Rubrik Penilaian Analisis pembelajaran pada tayangan video

(R-4.1)

 

Tes Objektif Pilihan Ganda

 

 

  1. Video

 

 

 

 

  1. Bahan Tayang

 

 

 

 

  1. Lembar Kerja

 

Pembelajaran Tematik Terpadu di kelas I

(V-2.1/4.1)

 

Strategi pengamatan video  pembelajaran

(PPT-4.1)

 

Analisis pembelajaran pada tayangan video

(LK-4.1)

 

 

8

 

4.2 Peer Teaching Melaksanakan pembelajaran Tematik Terpadu yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, maupun, intelektual.
  1. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching.

 

 

 

  1. Melaksanakan peer teaching pembelajaran Tematik Terpadu yang menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain.
  2. Menginformasi kan panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching.
 

  1. Menjelaskan garis besar instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran

 

  1. Mempersiapkan pelaksanaan peer teaching berdasarkan RPP yang telah disusun.

 

  1. Mempraktikkan pembelajaran Tematik Terpadu melalui peer teaching secara individual.

 

  1. Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran

 

  1. Melakukan refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching.

 

Sikap

Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching

 

Keterampilan

Melaksana-kan pembelajaran Tematik Terpadu yang menerapkan pendekatan scientific.

 

Pengetahuan

Prinsip-prinsip pendekatan scientific dalam pembelajaran Tematik Terpadu

Pengamatan

 

 

 

 

 

 

Penugasan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tes Tertulis

Lembar Pengamatan Sikap

 

 

 

 

Rubrik penilaian pelaksanaan pembelajaran

(R-4.2)

 

 

 

 

 

 

Tes Objektif Pilihan Ganda

 

 

  1. Bahan

Tayang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Lembar Kerja
  2. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching
(PPT-4.2-1)

  1. Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran

(PPT-4.2-2)

 

Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran

(LK-4.2)

 

14

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN III

MATERI PELATIHAN

  1. 0.     PERUBAHAN MINDSET
  2. 1.     KONSEP KURIKULUM 2013
  3. 2.     ANALISIS MATERI AJAR
  4. 3.     MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN
  5. 4.     PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING

 

 

 

 


 

SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN

MatERI PELATIHAN:             perubahan mindset

Alokasi Waktu:                 2 JP (@ 45 Menit)

Jenjang:                                sd/mi

KELAS:                                     i

TAHAPAN KEGIATAN

DESKRIPSI KEGIATAN

 

WAKTU

PERSIAPAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran, seperti LCD Projector, Laptop, File, Active Speaker, dan Laser Pointer, atau media pembelajaran lainnnya.  
KEGIATAN PENDAHULUAN Pengkondisian Peserta 15 Menit
Perkenalan
Fasilitator menjelaskan nama, tujuan, kompetensi, indikator, alokasi waktu, dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset
Fasilitator memotivasi peserta, mengajak berdinamika agar saling mengenal, serius, semangat, dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung.
KEGIATAN INTI

 

Perubahan Mindset 60 Menit
Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (mengapa kita harus berubah). 15 Menit
Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based). 15 menit
Mendiskusikan cara baru dalam belajar. 10 Menit
Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang lima tantangan pendidikan tinggi. 20 Menit
KEGIATAN PENUTUP

 

Membuat rangkuman materi pelatihan Perubahan Mindset 15 Menit
Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.
Fasilitator mengingatkankan peserta agar membaca referensi yang relevan.
Fasilitator menutup pembelajaran

 

 

 

 

Materi Pelatihan :   0.1 Perubahan Mindset

 

Langkah Kegiatan Inti

 

Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab

Curah Pendapat

Diskusi

Diskusi Dilanjutkan Tanya Jawab

30 Menit

15 Menit

10 Menit

35 Menit

 

 

Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab

Perkenalan, fasilitator menjelaskan nama, tujuan, kompetensi, indikator, alokasi waktu, dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. Fasilitator memotivasi peserta, mengajak berdinamika agar saling mengenal, serius, semangat, dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. Tanya jawab tentang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (mengapa kita harus berubah).

 

Curah Pendapat

Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based).

 

Diskusi

Diskusi cara baru dalam belajar

 

Diskusi, Tanya Jawab, dan Penutup

Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi, diakhiri membuat rangkuman, refleksi, dan umpan balik.

 

 


 


 

 

 

 

 

 

 

MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM 2013

1.1       Rasional

1.2       Elemen Perubahan

1.3       SKL, KI, dan KD

1.4       Strategi Implementasi

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM

 

  1. A.        KOMPETENSI

Peserta pelatihan dapat:

  1. memahami secara utuh rasional dan elemen perubahan Kurikulum 2013;
  2. memahami keterkaitan antara SKL, KI, dan KD pada Kurikulum 2013; dan
    1. memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013.

 

  1. B.        LINGKUP MATERI
    1. Rasional
    2. Elemen Perubahan Kurikulum 2013
    3. Standar Nasional Pendidikan
      1. Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
      2. Standar Isi yang berisi Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD)
      3. Standar Proses
      4. Standar Penilaian
      5. Strategi Implementasi Kurikulum 2013

 

  1. C.        INDIKATOR
  2. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan.
  3. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan.
  4. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP).
  5. Mengidentifikasi kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal.
  6. 5.       Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum.
  7. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL, SI, Standar Proses, dan Standar Penilaian.
  8. Menjelaskan empat elemen perubahan  Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL, SI, Standar Proses, dan Standar Penilaian.
  9. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan.
  10. Menganalisis keterkaitan SKL, KI, dan KD dalam bentuk kerja sama dengan yang lain.
  11. Menganalisis keterkaitan antara SKL, KI, dan KD.
  12. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013 dengan bahasa yang runtut dan komunikatif.
  13. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.

 

  1. D.        PERANGKAT PELATIHAN
    1. Video Rasional Kurikulum 2013 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
    2. Bahan Tayang
      1. Rasional
      2. Elemen Perubahan Kurikulum 2013
      3. Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi (Kompetensi Inti (KI), dan Kompetensi Dasar (KD)
      4. Strategi Implementasi Kurikulum 2013
      5. Lembar Kerja Analisis SKL, KI, dan KD
      6. Hand-out
        1. Contoh Keterkaitan SKL, KI, KD
        2. Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Kompetensi Inti (KI), dan Kompetensi Dasar (KD)
        3. ATK


 

SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN

MatERI PELATIHAN:             1. KONSEP KURIKULUM

Alokasi Waktu:                 4 JP (@ 45 Menit)

Jenjang:                                sd/mi

KELAS:                                     i

TAHAPAN KEGIATAN

DESKRIPSI KEGIATAN

 

WAKTU

PERSIAPAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran, seperti LCD Projector, Laptop, File, Active Speaker, dan Laser Pointer, atau media pembelajaran lainnnya.  
KEGIATAN PENDAHULUAN Pengkondisian Peserta 15 Menit
Perkenalan
Fasilitator menjelaskan nama, tujuan, kompetensi, indikator, alokasi waktu, dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Konsep Kurikulum.
Fasilitator memotivasi peserta, mengajak berdinamika agar saling mengenal, serius, semangat, dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung.
KEGIATAN INTI

 

1.1 Rasional 25 Menit
Penayangan Video Mendikbud tentang Paparan Kurikulum 2013 dengan menggunakan V-1.1 10 Menit
Pemaparan oleh fasilitator tentang Rasional Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1.1 10 Menit
Tanya jawab tentang Rasional Kurikulum 2013 yang mencakup: permasalahan kurikulum 2006 (KTSP), kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dan kondisi ideal, serta alasan pengembangan kurikulum dilanjutkan dengan menyimpulkan. 5 Menit
1.2 Elemen Perubahan Kurikulum 20 Menit
Pemaparan oleh fasilitator tentang Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup SKL, SI, Standar Proses, dan Standar Penilaian dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan dengan menggunakan PPT-1.2 10 Menit
Tanya jawab tentang Elemen Perubahan Kurikulum, kemudian fasilitator menyimpulkannya. 10 Menit
ICE BREAKER 5 Menit
1.3 SKL, KI, dan KD 60 Menit
Pemaparan oleh fasilitator tentang SKL, KI, dan KD dengan menggunakan PPT-1.3 10 Menit
Memberi contoh analisis keterkaitan antara SKL, KI, dan KD dengan menggunakan HO-1.3 5 Menit
Kerja kelompok untuk menganalisis keterkaitan SKL, KI, dan KD yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK-1.3 30 Menit
Presentasi hasil kerja kelompok, sementara kelompok lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok. 15 Menit
1.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 40 Menit
Pemaparan oleh fasilitator tentang Strategi Implementasi Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1.4 10 Menit
Diskusi kelas tentang Elemen-elemen Penting Strategi Implementasi Kurikulum 2013, kemudian merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi. 20 Menit
Mengkomunikasikan hasil diskusi kelompok. 10 Menit
KEGIATAN PENUTUP

 

Membuat rangkuman materi pelatihan Konsep Kurikulum. 15 Menit
Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.
Fasilitator mengingatkankan peserta agar membaca referensi yang relevan.
Fasilitator menutup pembelajaran

 

 

 

 

 

 

Submateri Pelatihan :   1.1 Rasional Kurikulum 2013

 

Langkah Kegiatan Inti

 

Penayangan Video Mendiknas

Pemaparan Rasional Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1.1

Tanya Jawab

10 Menit

10 Menit

5 Menit

 

 

Penayangan Video

Video tentang Rasionalisasi Kurikulum 2013 yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan kebudayaan selama 10 menit.

Aktivitas selama penayangan video: peserta diminta mencatat butir-butir penting yang disampaikan Mendikbud dalam video tersebut.

 

Tanya Jawab

Pertanyaan tentang Rasional Kurikulum 2013 yang mencakup:

  1. permasalahan kurikulum 2006 (KTSP),
  2. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dan kondisi ideal,
  3. alasan pengembangan kurikulum dilanjutkan dengan menyimpulkan.

 

 


 

 


 

HO-1.1/1.2/1.4

I. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013

 

A.   LATAR BELAKANG PERLUNYA PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013

Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan, yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang zaman.

Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah satu unsur yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Kurikulum sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 1 Ayat (19) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.

 

B.    RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013

Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal.

  1. 1.    Tantangan Internal

Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar pengelolaan, standar biaya, standar sarana prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar isi, standar proses, standar penilaian, dan standar kompetensi lulusan. Tantangan internal lainnya terkait dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif.

Terkait dengan tantangan internal pertama, berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mengupayakan agar penyelenggaraan pendidikan dapat mencapai ke delapan standar yang telah ditetapkan. (Gambar 1).

 

Gambar 1

Terkait dengan perkembangan penduduk, SDM usia produktif yang melimpah apabila memiliki kompetensi dan keterampilan akan menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya. Namun apabila tidak memiliki kompetensi dan keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar SDM usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi SDM yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban (Gambar 2).

 

Gambar 2

  1. 2.    Tantangan Eksternal

Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan, kompetensi yang diperlukan di masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogi, serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka.

 

Gambar 3

  1. 3.    Penyempurnaan Pola Pikir

Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan hanya akan dapat terwujud apabila terjadi pergeseran atau perubahan pola pikir. Pergeseran itu meliputi proses pembelajaran sebagai berikut:

  1. Dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa.
  2. Dari satu arah menuju interaktif.
  3. Dari isolasi menuju lingkungan jejaring.
  4. Dari pasif menuju aktif-menyelidiki.
  5. Dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata.
  6. Dari pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis tim.
  7. Dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan.
  8. Dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru.
  9. Dari alat tunggal menuju alat multimedia.
  10. Dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif.
  11. Dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan.
  12. Dari usaha sadar tunggal menuju jamak.
  13. Dari satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak.
  14. Dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan.
  15. Dari pemikiran faktual menuju kritis.
  16. Dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan.

Sejalan dengan itu, perlu dilakukan penyempurnaan pola pikir dan penggunaan pendekatan baru dalam perumusan Standar Kompetensi Lulusan. Perumusan SKL di dalam KBK 2004 dan KTSP 2006 yang diturunkan dari SI harus diubah menjadi perumusan yang diturunkan dari kebutuhan. Pendekatan dalam penyusunan SKL pada KBK 2004 dan KTSP 2006 dapat dilihat di Gambar 4 dan penyempurnaan pola pikir perumusan kurikulum dapat dilihat di Tabel 1.

 

Tabel 1

  1. 4.    Penguatan Tata Kelola Kurikulum

Pada Kurikulum 2013, penyusunan kurikulum dimulai dengan menetapkan standar kompetensi lulusan berdasarkan kesiapan peserta didik, tujuan pendidikan nasional, dan kebutuhan. Setelah kompetensi ditetapkan kemudian ditentukan kurikulumnya yang terdiri dari kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum. Satuan pendidikan dan guru tidak diberikan kewenangan menyusun silabus, tapi disusun pada tingkat nasional. Guru lebih diberikan kesempatan mengembangkan proses pembelajaran tanpa harus dibebani dengan tugas-tugas penyusunan silabus yang memakan waktu yang banyak dan memerlukan penguasaan teknis penyusunan yang sangat memberatkan guru. Perbandingan kerangka kerja penyusunan kurikulum dapat dilihat pada Gambar 5.

 

Gambar 5

Hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dilakukan Balitbang pada tahun 2010 juga menunjukkan bahwa secara umum total waktu pembelajaran yang dialokasikan oleh banyak guru untuk beberapa mata pelajaran di SD, SMP, dan SMA lebih kecil dari total waktu pembelajaran yang dialokasikan menurut Standar Isi. Di samping itu, dikaitkan dengan kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan KTSP, ada kemungkinan waktu yang dialokasikan dalam Standar Isi tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. Hasil monitoring dan evaluasi ini juga menunjukkan bahwa banyak kompetensi yang perumusannya sulit dipahami guru, dan kalau diajarkan kepada siswa sulit dicapai oleh siswa. Rumusan kompetensi juga sulit dijabarkan ke dalam indikator dengan akibat sulit dijabarkan ke pembelajaran, sulit dijabarkan ke penilaian, sulit diajarkan karena terlalu kompleks, dan sulit diajarkan karena keterbatasan sarana, media, dan sumber belajar.

Untuk menjamin ketercapaian kompetensi sesuai dengan yang telah ditetapkan dan untuk memudahkan pemantauan dan supervisi pelaksanaan pengajaran, perlu diambil langkah penguatan tata kelola antara lain dengan menyiapkan pada tingkat pusat buku pegangan pembelajaran yang terdiri dari buku pegangan siswa dan buku pegangan guru. Karena guru merupakan faktor yang sangat penting di dalam pelaksanaan kurikulum, maka sangat penting untuk menyiapkan guru supaya memahami pemanfaatan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat mereka manfaatkan. Untuk menjamin keterlaksanaan implementasi kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran, juga perlu diperkuat peran pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah.

  1. 5.    Pendalaman dan Perluasan Materi

Berdasarkan analisis hasil PISA 2009, ditemukan bahwa dari 6 (enam) level kemampuan yang dirumuskan di dalam studi PISA, hampir semua peserta didik Indonesia hanya mampu menguasai pelajaran sampai level 3 (tiga) saja, sementara negara lain yang terlibat di dalam studi ini banyak yang mencapai level 4 (empat), 5 (lima), dan 6 (enam). Dengan keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sama, interpretasi yang dapat disimpulkan dari hasil studi ini, hanya satu, yaitu yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman (Gambar 6).

 

Gambar 6

Analisis hasil TIMSS tahun 2007 dan 2011 di bidang matematika dan IPA untuk peserta didik kelas 2 SMP juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. Untuk bidang matematika, lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah, sementara misalnya di Taiwan hampir 50% peserta didiknya mampu mencapai level tinggi dan advance. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau yang distandarkan di tingkat internasional (Gambar 7).

 

Gambar 7

Untuk bidang IPA, pencapaian peserta didik kelas 2 SMP juga tidak jauh berbeda dengan pencapaian yang mereka peroleh untuk bidang matematika. Hasil studi pada tahun 2007 dan 2011 menunjukkan bahwa lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah, sementara hampir 40% peserta didik Taiwan mampu mencapai level tinggi dan lanjut (advanced). Dengan keyakinan bahwa semua anak dilahirkan sama, kesimpulan yang dapat diambil dari studi ini adalah bahwa apa yang diajarkan kepada peserta didik di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau distandarkan di tingkat internasional. (Gambar 8).

 

Gambar 8

Hasil studi internasional untuk reading dan literacy (PIRLS) yang ditujukan untuk kelas IV SD juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil studi untuk tingkat SMP seperti yang dipaparkan terdahulu. Dalam hal membaca, lebih dari 95% peserta didik Indonesia di SD kelas IV juga hanya mampu mencapai level menengah, sementara lebih dari 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Hal ini juga menunjukkan bahwa apa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan dan distandarkan pada tingkat internasional (Gambar 9).

Gambar 9

Hasil analisis lebih jauh untuk studi TIMSS dan PIRLS menunjukkan bahwa soal-soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dibagi menjadi empat kategori, yaitu:

-       low mengukur kemampuan sampai level knowing

-       intermediate mengukur kemampuan sampai level applying

-       high mengukur kemampuan sampai level reasoning

-       advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information.

Tabel 2

Analisis lebih jauh untuk membandingkan kurikulum IPA SMP kelas VIII yang ada di Indonesia dengan materi yang terdapat di TIMSS menunjukkan bahwa terdapat beberapa topik yang sebenarnya belum diajarkan di kelas VIII SMP (Tabel 2). Hal yang sama juga terdapat di kurikulum matematika kelas VIII SMP di mana juga terdapat beberapa topik yang belum diajarkan di kelas XIII. Lebih parahnya lagi, malah terdapat beberapa topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini, sehingga menyulitkan bagi peserta didik kelas VIII SMP menjawab pertanyaan yang terdapat di dalam TIMSS (Tabel 3).

 

Tabel 3

Hal yang sama juga terjadi di kurikulum matematika kelas IV SD pada studi internasional di mana juga terdapat topik yang belum diajarkan pada kelas IV dan topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini, seperti bisa dilihat pada Tabel 4.

 

Tabel 4

Dalam kaitan itu, perlu dilakukan langkah penguatan materi dengan mengevaluasi ulang ruang lingkup materi yang terdapat di dalam kurikulum dengan cara meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi peserta didik, mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan internasional. Di samping itu juga perlu dievaluasi ulang tingkat kedalaman materi sesuai dengan tuntutan perbandingan internasional dan menyusun kompetensi dasar yang sesuai dengan materi yang dibutuhkan.


 II. TUJUAN KURIKULUM

 

Tujuan Pendidikan nasional sebagaimana telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Secara singkatnya, undang-undang tersebut berharap pendidikan dapat membuat peserta didk menjadi kompeten dalam bidangnya. Di mana kompeten tersebut, sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang telah disampaikan di atas, harus mencakup kompetensi dalam ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan pasal 35 undang-undang tersebut.

Sejalan dengan arahan undang-undang tersebut, telah pula ditetapkan visi pendidikan tahun 2025 yaitu menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Cerdas yang dimaksud disini adalah cerdas komprehensif, yaitu cerdas spiritual dan cerdas sosial/emosional dalam ranah sikap, cerdas intelektual dalam ranah pengetahuan, serta cerdas kinestetis dalam ranah keterampilan.

Dengan demikian Kurikulum 2013 adalah dirancang dengan tujuan untuk mempersiapkan insan Indonesia supaya memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warganegara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara  dan peradaban dunia. Kurikulum adalah instrumen pendidikan untuk dapat membawa insan Indonesia memiliki kompetensi sikap, pengetahuan, dan  keterampilan sehingga dapat menjadi pribadi dan warga negara yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif


III. KERANGKA DASAR KURIKULUM 2013

Kerangka dasar adalah pedoman yang digunakan untuk mengembangkan dokumen kurikulum, implementasi kurikulum, dan evaluasi kurikulum. Kerangka Dasar juga digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan kurikulum tingkat nasional, daerah, dan KTSP.

A.      LANDASAN KURIKULUM 2013

Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan kurikulum baru, landasan filosofis, dan landasan empirik. Landasan yuridis merupakan ketentuan hukum yang dijadikan dasar untuk pengembangan kurikulum dan yang mengharuskan adanya pengembangan kurikulum baru. Landasan filosofis adalah landasan yang mengarahkan kurikulum kepada manusia apa yang akan dihasilkan kurikulum. Landasan teoritik memberikan dasar-dasar teoritik pengembangan  kurikulum sebagai dokumen dan proses. Landasan empirik memberikan arahan berdasarkan pelaksanaan kurikulum yang sedang berlaku di lapangan.

  1. 1.    Landasan Yuridis

Landasan yuridis kurikulum adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor  22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Lebih lanjut, pengembangan Kurikulum 2013 diamanatkan oleh Rencana Pendidikan Pendidikan Menengah Nasional (RJPMN). Landasan yuridis pengembangan Kurikulum 2013 lainnya adalah  Instruksi Presiden Republik Indonesia tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter, Pembelajaran  Aktif dan Pendidikan Kewirausahaan.

  1. 2.    Landasan Filosofis

Secara singkat kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa kini dan masa akan datang bangsa, yang dikembangkan dari warisan nilai dan pretasi bangsa di masa lalu, serta kemudian diwariskan serta dikembangkan untuk kehidupan masa depan. Ketiga dimensi kehidupan bangsa, masa lalu-masa sekarang-masa yang akan datang, menjadi landasan filosofis pengembangan kurikulum. Pewarisan nilai dan pretasi bangsa di masa lampau memberikan dasar bagi kehidupan bangsa dan individu sebagai anggota masyarakat, modal yang digunakan dan dikembangkan untuk membangun kualitas kehidupan bangsa dan individu yang diperlukan bagi kehidupan masa kini, dan  keberlanjutan kehidupan bangsa dan warganegara di amsa mendatang. Dengan tiga dimensi kehidupan tersebut kurikulum selalu menempatkan peserta didik dalam lingkungan sosial-budayanya, mengembangkan kehidupan individu peserta didik sebagai warganegara yang tidak kehilangan kepribadian dan kualitas untuk kehidupan masa kini yang lebih baik, dan membangun kehidupan masa depan yang lebih baik lagi.

  1. 3.    Landasan Empiris

Pada saat ini perekonomian Indonesia terus tumbuh di tengah bayang-bayang resesi dunia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 2005 sampai dengan 2008 berturut-turut  5,7%, 5,5%, 6,3%, 2008: 6,4% (www.presidenri.go.id/index.php/indikator). Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara – negara ASEAN sebesar 6,5 – 6,9 % (Agus D.W. Martowardojo, dalam Rapat Paripurna DPR, 31/05/2012).  Momentum pertumbuhan ekonomi ini harus terus dijaga dan ditingkatkan. Generasi muda berjiwa wirausaha yang tangguh, kreatif, ulet, jujur, dan  mandiri, sangat diperlukan untuk memantapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. Generasi seperti ini seharusnya tidak muncul karena hasil seleksi alam, namun karena hasil gemblengan pada tiap jenjang satuan pendidikan dengan kurikulum sebagai pengarahnya.

Sebagai negara bangsa yang besar dari segi geografis, suku bangsa, potensi ekonomi, dan beragamnya kemajuan pembangunan dari satu daerah ke daerah lain, sekecil apapun ancaman disintegrasi bangsa masih tetap ada. Maka, kurikulum harus mampu membentuk manusia Indonesia yang mampu menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat untuk memajukan jatidiri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan kebutuhan untuk berintegrasi sebagai satu entitas bangsa Indonesia.

Dewasa ini, kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. Kecenderungan ini juga menimpa generasi muda, misalnya pada kasus-kasus perkelahian massal. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut berhulu dari kurikulum, namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan peserta didik di ruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum perlu direorientasi dan direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan ini.

Berbagai elemen masyarakat telah memberikan kritikan, komentar, dan saran berkaitan dengan beban belajar siswa, khususnya siswa sekolah dasar. Beban belajar ini bahkan secara kasatmata terwujud pada beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah. Beban belajar ini salah satunya berhulu dari banyaknya matapelajaran yang ada di tingkat sekolah dasar. Maka, kurikulum pada tingkat sekolah dasar perlu diarahkan kepada peningkatan 3 (tiga) kemampuan dasar, yakni baca, tulis, dan hitung, dan pembentukan karakter.

Berbagai kasus yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang, manipulasi, termasuk masih adanya kecurangan di dalam Ujian Nasional menunjukkan mendesaknya upaya menumbuhkan budaya jujur dan antikorupsi melalui kegiatan pembelajaran di dalam satuan pendidikan. Maka, kurikulum harus mampu memandu upaya karakterisasi nilai-nilai kejujuran pada peserta didik.

Pada saat ini, upaya pemenuhan kebutuhan manusia telah secara nyata mempengaruhi secara negatif lingkungan alam. Pencemaran, semakin berkurangnya sumber air bersih adanya potensi rawan pangan pada berbagai beahan dunia, dan pemanasan global merupakan tantangan yang harus dihadapi generasi muda di masa kini dan di masa yang akan datang. Kurikulum seharusnya juga diarahkan untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan alam dan menumbuhkan kemampuan untuk merumuskan pemecahan masalah secara kreatif terhadap isu-isu lingkungan dan ketahanan pangan.

Dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai, mutu pendidikan Indonesia harus terus ditingkatkan. Hasil riset PISA (Program for International Student Assessment), studi yang memfokuskan pada literasi bacaan, matematika, dan IPAmenunjukkan peringkat Indonesia baru bisa menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara. Hasil Riset TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) menunjukkan siswa Indonesia berada pada rangking amat rendah dalam kemampuan (1) memahami informasi yang komplek, (2) teori, analisis dan pemecahan masalah, (3) pemakaian alat, prosedur dan pemecahan masalah dan (4) melakukan investigasi. Hasil-hasil ini menunjukkan perlu ada perubahan orientasi kurikulum, dengan tidak membebani peserta didik dengan konten namun pada aspek kemampuan esensial yang diperlukan semua warga negara untuk berperanserta dalam membangun negaranya pada abad 21.

  1. 4.    Landasan Teoritik

Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar teori “pendidikan berdasarkan standar” (standard-based education), dan teori kurikulum berbasis kompetensi.

Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara untuk suatu jenjang pendidikan. Standar bukan  kurikulum  dan kurikulum dikembangkan agar peserta didik mampu mencapai kualitas standar nasional atau di atasnya. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan. Standar Kompetensi Lulusan mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan menjadi Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan yaitu SKL SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK.

Kompetensi adalah kemampuan sesorang untuk bersikap, menggunakan pengetahuan dan ketrampilan untuk melaksanakan suatu tugas di sekolah, masyarakat, dan lingkungan dimana yang bersangkutan berinteraksi.  Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik untuk mengembangkan sikap, ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun kemampuan yang dirumuskan dalam SKL. Hasil dari pengalaman belajar tersebut adalah hasil belajar peserta didik yang menggambarkan manusia dengan kualitas yang dinyatakan dalam SKL.

 

B.    KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013

Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi adalah outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Keberhasilan kurikulum dartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik.

Kompetensi untuk Kurikulum 2013 dirancang sebagai berikut:

  1. Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran.
  2. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan ketrampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Inti adalah kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang diorganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif.
  3. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI, dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK.
  4. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar di jenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah pada kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi).
  5. Kompetensi Inti  menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti.
  6. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).
  7. Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD/MI) atau satu kelas dan satu mata pelajaran (SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK). Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut.
  8. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD yang untuk mata pelajaran dan kelas tersebut.

 

C.    PROSES PEMBELAJARAN

Proses pembelajaran Kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran intra-kurikuler dan pembelajaran ekstra-kurikuler.

  1. Pembelajaran intra kurikuler didasarkan pada prinsip berikut:
  2. Proses pembelajaran intra-kurikuler adalah proses pembelajaran yang berkenaan dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan di kelas, sekolah, dan masyarakat.
  3. Proses pembelajaran di SD/MI berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS, SMA/MA, dan SMK/MAK berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan guru.
  4. Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif untuk menguasai Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti  pada tingkat yang memuaskan (excepted).
  5. Proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten kompetensi yaitu pengetahuan yang merupakan  konten yang bersifat mastery dan diajarkan secara langsung (direct teaching), ketrampilan kognitif dan psikomotorik adalah konten yang bersifat developmental yang dapat dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching), sedangkan sikap adalah konten developmental dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang tidak langsung (indirect teaching).
  6. Pembelajaran kompetensi untuk konten yang bersifat developmentaldilaksanakan berkesinambungan antara satu pertemuan dengan pertemuan lainnya,  dan saling memperkuat antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.
  7. Proses pembelajaran tidak langsung (indirect) terjadi pada setiap kegiatan belajar yang terjadi di kelas, sekolah, rumah dan masyarakat. Proses pembelajaran tidak langsung bukan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam proses pembelajaran tidak langsung harus tercantum dalam silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru.
  8. Proses pembelajaran dikembangkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif melalui kegiatan mengamati (melihat, membaca, mendengar, menyimak), menanya (lisan, tulis), menganalis (menghubungkan, menentukan keterkaitan, membangun cerita/konsep), mengkomunikasi-kan (lisan, tulis, gambar, grafik, tabel, chart, dan lain-lain).
  9. Pembelajaran remedial dilaksanakan untuk membantu peserta didik menguasai kompetensi yang masih kurang. Pembelajaran remedial dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kelemahan yang ditemukan berdasarkan analisis hasil tes, ulangan, dan tugas setiap peserta didik. Pembelajaran remedial dirancang untuk individu, kelompok atau kelas sesuai dengan hasil analisis jawaban peserta didik.
  10. Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi, bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan.
    1. Pembelajaran ekstrakurikuler

Pembelajaran ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara rutin setiap minggu. Kegiatan ekstra-kurikuler terdiri atas kegiatan wajib dan pilihan. Pramuka adalah kegiatan ekstrakurikuler wajib.

Kegiatan ekstrakurikuler wajib dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur pendukung kegiatan intrakurikuler.

 

D.   PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013

Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:

  1. Kurikulum bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran karena mata pelajaran hanya merupakan sumber materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi.
  2. Kurikulum didasarkan pada standar kompetensi lulusan yang ditetapkan untuk satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan selama 12 tahun.
  3. Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap, pengetahuan, ketrampilan berpikir, ketrampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran.
  4. Kurikulum didasarkan atas prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kompetensi Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi.
  5. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat.
  6. Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar.
  7. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan seni.
  8. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan.
  9. Kurikulum harus diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.

10. Kurikulum didasarkan kepada kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

11. Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki pencapaian kompetensi. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau sekelompok peserta didik. Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan proses memperbaiki kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki seorang atau sekelompok peserta didik.

 


 IV. STRUKTUR KURIKULUM

 

Struktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam bentuk mata pelajaran, posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum, distribusi konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun, beban belajar untuk mata pelajaran dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. Struktur kurikulum adalah juga merupakan aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam sistem belajar dan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran.  Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang digunakan untuk kurikulum yang akan datang adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran berdasarkan jam pelajaran per semester.

A.   STRUKTUR KURIKULUM SD/MI

Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester. Beban belajar di SD/MI kelas I, II, dan III masing-masing 30, 32, 34 sedangkan untuk kelas IV, V, dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. Jam belajar SD/MI adalah 35 menit.

Struktur Kurikulum SD/MI adalah sebagai berikut:

MATA PELAJARAN

ALOKASI WAKTU BELAJAR

PER MINGGU

I

II

III

IV

V

VI

Kelompok A    
1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

4

4

4

4

4

4

2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

5

6

6

4

4

4

3. Bahasa Indonesia

8

8

10

7

7

7

4. Matematika

5

6

6

6

6

6

5.  Ilmu Pengetahuan Alam

-

-

-

3

3

3

6.  Ilmu Pengetahuan Sosial

-

-

-

3

3

3

Kelompok B
1. Seni Budaya dan Prakarya

4

4

4

5

5

5

2. Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan

4

4

4

4

4

4

Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu

30

32

34

36

36

36

 

= Pembelajaran Tematik Integratif

Keterangan:

Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dapat Bahasa Daerah.

Integrasi Kompetensi Dasar IPA dan IPS didasarkan pada keterdekatan makna dari konten Kompetensi Dasar IPA dan IPS dengan konten Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang berlaku untuk kelas I, II, dan III. Sedangkan untuk kelas IV, V dan VI, Kompetensi Dasar IPA dan IPS berdiri sendiri dan kemudian diintegrasikan ke dalam tema-tema yang ada untuk kelas IV, V dan VI.

B.    STRUKTUR KURIKULUM SMP/MTS

Dalam struktur kurikulum SMP/MTs ada penambahan jam belajar per minggu dari semula 32, 32, dan 32 menjadi 38, 38 dan 38 untuk masing-masing kelas VII, VIII, dan IX. Sedangkan lama belajar untuk setiap jam belajar di SMP/MTs tetap yaitu 40 menit.

Struktur Kurikulum SMP/MTS adalah sebagai berikut:

MATA PELAJARAN

ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU

VII

VIII

IX

Kelompok A
1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

3

3

3

2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

3

3

3

3. Bahasa Indonesia

6

6

6

4. Matematika

5

5

5

5. Ilmu Pengetahuan Alam

5

5

5

6. Ilmu Pengetahuan Sosial

4

4

4

7. Bahasa Inggris

4

4

4

Kelompok B
1. Seni Budaya

3

3

3

2. Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan

3

3

3

3. Prakarya

2

2

2

Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu

38

38

38

Keterangan:

Mata pelajaran Seni Budaya dapat memuat Bahasa Daerah.

IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies, bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. Disamping itu, tujuan pendidikan IPS menekankan pada pengetahuan tentang bangsanya, semangat kebangsaan, patriotisme, serta aktivitas masyarakat di bidang ekonomi dalam ruang atau space wilayah NKRI. IPA juga ditujukan untuk pengenalan lingkungan biologi dan alam sekitarnya, serta pengenalan berbagai keunggulan wilayah nusantara.

Seni Budaya terdiri atas empat aspek, yakni seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni teater. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan dapat memilih aspek yang diajarkan sesuai dengan kemampuan (guru dan fasilitas) pada satuan pendidikan itu.

Prakarya terdiri atas empat aspek, yakni kerajinan, rekayasa, budidaya, dan pengolahan. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran prakarya paling sedikit dua aspek prakarya sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah pada satuan pendidikan itu.

C.    STRUKTUR KURIKULUM PENDIDIKAN MENENGAH (SMA/MA/SMK/MAK)

Struktur kurikulum SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas:

-       Kelompok mata pelajaran wajib yang diikuti oleh seluruh peserta didik

-       Kelompok mata pelajaran peminatan yang diikuti oleh peserta didik sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.

Adanya kelompok mata pelajaran wajib dan mata pelajaran peminatan dimaksudkan untuk menerapkan prinsip kesamaan antara SMA/MA dan SMK/MAK. Mata pelajaran wajib sebanyak 9 (sembilan) mata pelajaran dengan beban belajar 24 jam per minggu. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA terdiri atas 18 jam per minggu untuk kelas X, dan 20 jam per minggu untuk kelas XI dan XII. Kelompok mata pelajaran peminatan SMK/MAK masing-masing 24 jam per kelas. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA bersifat akademik, sedangkan untuk SMK/MAK bersifat vokasional. Struktur ini menempatkan prinsip bahwa peserta didik adalah subjek dalam belajar dan mereka memiliki hak untuk memilih sesuai dengan minatnya.

  1. Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah

Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah adalah sebagaimana yang tertera di dalam tabel berikut ini:

Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah kelompok mata pelajaran wajib:

MATA PELAJARAN

ALOKASI WAKTU BELAJAR

PER MINGGU

X

XI

XII

Kelompok A (Wajib)
1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

3

3

3

2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

2

2

2

3. Bahasa Indonesia

4

4

4

4. Matematika

4

4

4

5. Sejarah Indonesia

2

2

2

6. Bahasa Inggris

2

2

2

Kelompok B (Wajib)
7. Seni Budaya

2

2

2

8. Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan

3

3

3

9. Prakarya dan Kewirausahaan

2

2

2

Jumlah Jam Pelajaran Kelompok A dan B per minggu

24

24

24

Kelompok C (Peminatan)
Mata Pelajaran Peminatan Akademik (SMA/MA)

18

20

20

Jumlah Jam Pelajaran yang Harus Ditempuh per Minggu

42

44

44

 

Beban belajar di SMA/MA untuk Tahun X, XI, dan XII masing-masing 43 jam belajar per minggu. Satu jam belajar adalah 45 menit.

 

 

 

  1. Struktur Kurikulum SMA/MA

MATA PELAJARAN

Kelas

X

XI

XII

Kelompok A dan B (Wajib)

24

24

24

C. Kelompok Peminatan
Peminatan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam

I 1 Matematika

3

4

4

2 Biologi

3

4

4

3 Fisika

3

4

4

4 Kimia

3

4

4

Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

II 1 Geografi

3

4

4

2 Sejarah

3

4

4

3 Sosiologi

3

4

4

4 Ekonomi

3

4

4

Peminatan Ilmu-Ilmu Bahasa dan Budaya

III 1 Bahasa dan Sastra Indonesia

3

4

4

2 Bahasa dan Sastra Inggris

3

4

4

3 Bahasa dan Sastra Asing Lainnya

3

4

4

4 Antropologi

3

4

4

Mata Pelajaran Pilihan dan Pendalaman

Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat

6

4

4

Jumlah jam pelajaran yang tersedia per minggu

66

76

76

Jumlah jam pelajaran yang harus ditempuh per minggu

42

44

44

 

Kelompok Peminatan terdiri atas Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam, Peminatan Ilmu-ilmu Sosial, dan Peminatan Ilmu-ilmu Bahasa dan Budaya. Sejak kelas X peserta didik sudah harus memilih kelompok peminatan yang akan dimasuki. Pemilihan peminatan berdasarkan nilai rapor di SMP/MTsdan/atau nilai UN SMP/MTs dan/atau rekomendasi guru BK di SMP/MTs dan/atau hasil tes penempatan (placement test) ketika mendaftar di SMA/MA dan/atau tes bakat minat oleh psikolog dan/atau rekomendasi guru BK di SMA/MA. Pada akhir minggu ketiga semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya berdasarkan rekomendasi para guru dan ketersediaan tempat duduk. Untuk sekolah yang mampu menyediakan layanan khusus maka setelah akhir semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya. Untuk MA, selain ketiga peminatan tersebut ditambah dengan Kelompok Peminatan Keagamaan.

Semua mata pelajaran yang terdapat dalam suatu Kelompok Peminatan yang dipilih peserta didik harus diikuti. Setiap Kelompok Peminatan terdiri atas 4 (empat) mata pelajaran dan masing-masing mata pelajaran berdurasi 3 jampelajaran untuk kelas X, dan 4 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII.

Setiap peserta didik memiliki beban belajar per semester selama 42 jam pelajaran untuk kelas X dan 44 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. Beban belajar ini terdiri atas Kelompok Mata Pelajaran Wajib A dan B dengan durasi 24 jam pelajaran dan Kelompok Mata Pelajaran Peminatan dengan durasi 12 jam pelajaran untuk kelas X dan 16 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII.

Untuk Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat kelas X, jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 6 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut:

1)    Dua  mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam satu Kelompok Peminatan lainnya, dan/atau

2)    Satu mata pelajaran dari masing-masing  Kelompok Peminatan yang lainnya.

Sedangkan pada kelas XI dan XII, peserta didik mengambil Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat dengan jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 4 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut:

  1. Satu mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam Kelompok Peminatan lainnya, dan/atau
  2. Mata pelajaran Pendalaman Kelompok Peminatan yang dipilihnya.


 V. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KURIKULUM

A.   IMPLEMENTASI

  1. Pengembangan Kurikulum 2013 pada Satuan Pendidikan

Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan atas prinsip:

  1. bahwa sekolah adalah satu kesatuan lembaga pendidikan dan kurikulum adalah kurikulum satuan pendidikan, bukan daftar mata pelajaran
  2. Guru di satu satuan pendidikan adalah satu satuan pendidik (community of educators),   mengembangkan kurikulum secara bersama-sama.
  3. Pengembangan kurikulum di jenjang satuan pendidikan dipimpin langsung oleh kepala sekolah
  4. Pelaksanaan implementasi kurikulum di satuan pendidikan dievaluasi oleh kepala sekolah.

 

  1. Manajemen Implementasi
    1. Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara Pemerintah dengan pemerintah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota.
    2. Pemerintah bertangungjawab dalam mempersiapkan guru dan kepala sekolah untuk melaksanakan kurikulum.
    3. Pemerintah bertanggungjawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan kurikulum secara nasional.
    4. Pemerintah propinsi bertanggungjawab dalam melakukan supervisi dan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di propinsi terkait.
    5. Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam memberikan bantuan profesional kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum di kabupaten/kota terkait.

 

  1. Stategi Implementasi Kurikulum terdiri atas:
  2. Pelaksanaan kurikulum di seluruh sekolah dan jenjang pendidikan yaitu:

-       Juli 2013: Kelas I, IV terbatas pada sejumlah SD/MI (30%), dan seluruh VII (SMP/MTs), dan X (SMA/MA, SMK/MAK). Ini adalah tahun pertama implementasi dan dilakukan di seluruh wilayah NKRI. Untuk SD akan dipilih 30% SD dari setiap kabupaten/kota di setiap propinsi.

-       Juli 2014: Kelas I, II, IV, V, VII, VIII, X, dan XI: tahun 2014 adalah tahun kedua implementasi. Seperti tahun pertama maka SD akan dipilih sebanyak 30% sehingga secara keseluruhan implementasi kurikulum pada tahun kedua sudah mencakup 60% SD di seluruh wilayah NKRI. Pada tahun kedua ini, hanya kelas terakhir SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK yang belum melaksanakan kurikulum.

-       Juli 2015: seluruh kelas dan seluruh sekolah SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK telah melaksanakan sepenuhnya Kurikulum 2013.

  1. Pelatihan Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas, dari tahun 2013 – 2016. Pelatihan guru, kepala sekolah dan pengawas adalah untuk guru, kepala sekolah yang akan melaksanakan Kurikulum 2013 dan dilakukan sebelum Kurikulum 2013 diimplementasikan. Prinsip ini menjadi prinsip utama implementasi dimana guru, kepala sekolah dan pengawas di wilayah sekolah terkait yang akan mengimplemntasikan kurikulum adalah mereka yang sudah terlatih. Dengan demikian, ketika Kurikulum 2013 akan diimplementasikan pada tahun pembelajaran 2015-2016, seluruh guru, kepala sekolah dan pengawas di seluruh Indonesia sudah mendapatkan pelatihan untuk melaksanakan kurikulum.
  2. Pengembangan buku babon, dari tahun 2013 – 2016. Sejalan dengan strategi implementasi, penulisan dan percetakan serta distribusi buku babon akan seluruhnya selesai pada awal tahun terakhir implementasi kurikulum atau sebelumnya. Pada prinsipnya ketika implementasi Kurikulum 2013 memasuki tahun 2015-2016 seluruh buku babon sudah teredia di setiap sekolah.

Buku babon terdiri atas buku untuk peserta didik dan buku untuk guru. Isi buku babon guru adalah sama dengan buku babon peserta didik dengan tambahan strategi pembelajaran dan penilaian hasil belajar. Sedangkan pedoman pembelajaran dan penilaian hasil belajara secara rinci tercantum dalam buku pedoman pembelajaran dan penilaian.

  1. Pengembangan manajemen, kepemimpinan, sistem administrasi, dan pengembangan budaya sekolah (budaya kerja guru) terutama untuk SMA/MA dan SMK/MAK, dimulai dari bulan Januari – Desember 2013. Implementasi Kurikulum 2013 mensyaratkan penataan administrasi, manajemen, kepemimpinan dan budaya kerja guru yang baru. Oleh karena itu dalam persiapan implementasi Kurikulum 2013, pelatihan juga berkenaan dengan tata kerja baru para guru dan kepemimpinan kepala sekolah.Dengan penerapan pelatihan ini maka implementasi Kurikulum tidak hanya berkenaan dengan upaya realisasi ide dan rancangan kurikulum tetapi juga pembenahan pada pelaksanaan pendidikan di satuan pendidikan.
  2. Pendampingan dalam bentuk Monitoring dan Evaluasi untuk menemukan kesulitan dan masalah implementasi dan upaya penanggulangan: Juli 2013 – 2016. Strategi implementasi Kurikulum 2013 menghindari pelatihan yang dinamakan one-shot training sebagai strategi implementasi mengingat kelemahan strategi tersebut. Pleatihan yang dilakukan untuk para guru, kepala sekolah, dan pengawas akan diikuti dengan monitoring dan evaluasi sepanjang pelaksanaan paling tidak dari tahun pertama sampai tahun ketiga implementasi. Pada akhir tahun ketiga implementasi diharapkan permasalahan yang dihadapi para pelaksana sudah tidak lagi merupakan masalah mendasar dan kurikulum sudah dapat dilaksanakan sebagaimana seharusnya. Permasalahan lapangan yang muncul adalah yang dapat diselesaikan oleh kolaborasi guru, kepala sekolah dan pengawas di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota.

 

B.      EVALUASI KURIKULUM

Evaluasi Kurikulum dilaksanakan selama masa pengembangan ide (deliberation process), pengembangan desain dan dokumen kurikulum, dan selama masa implementasi kurikulum. Evaluasi dalam deliberation process menghasilkan penyempurnaan dalam Kompetensi Inti yang dijadikan organising element dalam mengikat Kompetensi dasar mata pelajaran.

Pelaksanaan evaluasi implementasi kurikulum dilaksanakan sebagai berikut:

  1. Sampai tahun pelajaran 2015-2016: untuk memperbaiki berbagai kesulitan pelaksanaan kurikulum.
  2. Sampai tahun pelajaran 2016 secara menyeluruh untuk menentukan efektivitas, kelayakan, kekuatan, dan kelemahan implementasi kurikulum.

 

Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum (implementasi kurikulum) diselenggarakan dengan tujuan untuk mengidentifikai masalah pelaksanaan kurikulum dan membantu kepala sekolah dan guru menyelesaikan masalah tersebut. Evaluasi dilakukan pada setiap satuan pendidikan dan dilaksanakan pada satuan pendidikan di wilayah kota/kabupaten secara rutin dan bergiliran.

Hasil evaluasi dilakukan sebagai bahan untuk memperbaiki kelemahan kurikulum agar lebih efektif lagi di masa yang akan datang.

 

 

 

 


 

Submateri Pelatihan: 1.2 Elemen Perubahan

 

Langkah Kegiatan Inti

 

Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1.2

Tanya Jawab

10 Menit

10 Menit

 

 

Pemaparan

Instruktur menyampaikan materi tentang Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup 4 standar, perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific approach,  bahasa sebagai carrier of knowledge, penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS, Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1.2

Tanya Jawab

Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup:

  1. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajar)
  2. Manfaat adanya perubahan kurikulum

Kemudian fasilitator menyimpulkannya.

 

 

 


Submateri pelatihan1.3.  SKL, KI, DAN KD

 

Langkah Kegiatan Inti

 

Pemaparan oleh Instruktur

Memberi Contoh Analisis Keterkaitan SKL, KI, KD

Kerja Kelompok

Presentasi Hasil Kelompok

10 Menit

5 Menit

30 Menit

15 Menit

 

Pemaparan

Instuktur memaparkan materi SKL, KI, dan KD dengan menggunakan PPT-1.3/2.1/2.5/3.1/3.2

Kerja Kelompok

Peserta dibagi menjadi 5 kelompok, setiap kelompok diberi tugas menganalisis keterkaitan SKL, KI, KD masing-masing mapel selama 1 tahun yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK 1.3. Masing-masing kelompok mengerjakan KD yang berbeda agar peserta mendapat bahan hasil analisis semua KI dan KD selama 1 tahun.

Kelompok 1: Agama Islam dan Budi Pekerti

Kelompok 2: Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Kelompok 3: Bahasa Indonesia

Kelompok 4: Matematika

Kelompok 5: Seni Budaya dan Prakarya

Presentasi Hasil Kerja Kelompok

Masing-masing kelompok memaparkan hasil kerja kelompok. Peserta yang akan memaparkan akan ditunjuk oleh Intruktur. Sementara kelompok lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok lainnya.

Memberi Contoh

Instruktur memberikan contoh analisis keterkaitan antara SKL, KI, dan KD dengan menggunakan HO-1.3

 

 

HO-1.3/2.1/2.4/3.1/3.2

 

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN

UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

BAB  I
PENDAHULUAN

 

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat 3 mengamanatkan bahwa “pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” Atas dasar amanah tersebut telah diberlakukan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dasar, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 2, berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab  (Pasal 3).

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut dan sesuai  dengan penjelasan Pasal 35 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, standar kompetensi lulusan dirumuskan sebagai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik yang harus dipenuhinya atau dicapainya dari suatu satuan pendidikan tertentu.

Kompetensi Lulusan pada setiap jenjang dikembangkan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan kompetensi abad 21, persaingan yang semakin mengglobal, dan kebutuhan lokal serta nasional Indonesia. Kompetensi Lulusan ini juga dikembangkan bersesuaian dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) sebagaimana dimanatkan Perpres No 8 Tahun 2012, tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Selain itu, Kompetensi Lulusan diturunkan berdasarkan amanat PP 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas PP 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Untuk memudahkan memahami komponen Kompetensi Lulusan dimaksud, berikut diuraikan deskripsi tentang :

  1. A.             Pengertian

Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,  keterampilan dan pengetahuan

  1. B.             Tujuan

Standar Kompetensi Lulusan digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.

  1. C.             Ruang lingkup

Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria kualifikasi kemampuan peserta didik yang diharapkan dapat dicapai setelah menyelesaikan masa belajarnya di satuan pendidikan.

  1. D.             Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui kesesuaian dan ketercapaian Standar Kompetensi Lulusan. Kesesuaian Standar Kompetensi Lulusan dimonitor dan dievaluasi secara berkala dan berkelanjutan terhadap kebutuhan lulusan pendidikan dan kebutuhan peserta didik, baik lokal, nasional, maupun global.

Ketercapaian Standar Kompetensi Lulusan dimonitor dan dievaluasi secara berkiala terhadap lulusan dari masing-masing satuan pendidikan. Evaluasi dilkukan terhadap kesesuaian sumber daya dan proses pembelajaran yang digunakan pada satuan pendidikan tertentu.

Hasil yang diperoleh dari monitoring dan evaluasi digunakan sebagai bahan masukan bagi penyempurnaan Standar Kompetensi Lulusan di masa yang akan datang.


BAB II
KOMPETENSI LULUSAN

 

A.        Kompetensi Lulusan SD/MI/SDLB*/Paket A

Lulusan SD/MI/SDLB*/Paket A memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilansebagai berikut.

 

SD/MI/SDLB*/Paket A

Dimensi

Kualifikasi Kemampuan

Sikap Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam di lingkungan rumah, sekolah, dan tempat bermain.
Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual dan konseptual berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,  teknologi, seni, dan budaya dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan,  dan peradaban terkait fenomena dan kejadian di lingkungan rumah, sekolah, dan tempat bermain
Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang produktif  dan kreatif dalam ranah konkret dan abstrak sesuai dengan yang  ditugaskan kepadanya.

 

B.        Kompetensi Lulusan SMP/MTs/SMPLB*/Paket B

Lulusan SMP/MTs/SMPLB*/Paket B memiliki sikap, pengetahuan, dan  keterampilan sebagai berikut.

 

SMP/MTs/SMPLB*/Paket B

Dimensi

Kualifikasi Kemampuan

Sikap Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap  orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi,seni, budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian yang tampak mata
Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif dalam ranah konkret dan abstrak sesuai dengan yang  dipelajari disekolah dan sumber lain sejenis

C.        Kompetensi Lulusan SMA/MA/SMK/MAK/SMALB*/Paket C

Lulusan SMA/MA/SMK/MAK/SMALB*/Paket C memiliki sikap, pengetahuan, dan  keterampilan sebagai berikut.

 

SMA/MA/SMK/MAK/SMALB*/Paket C

Dimensi

Kualifikasi Kemampuan

Sikap Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap  orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian
Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif dalam ranah konkret dan abstrak sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah dan sumber-sumber lain secara mandiri.

 


 

 

HO-1.3/2.1/2.4/3.1/3.2

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR

SEKOLAH DASAR (SD)/MADRASAH IBTIDAIYAH (MI) KELAS I

 

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR

  1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.

 

1.1    Terbiasa berdoa sebelum dan sesudah belajar sebagai bentuk pemahaman terhadap Q.S. Al-Fatihah

1.2    Meyakini adanya Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

1.3    Mensyukuri karunia dan pemberian sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Fatihah dan Q.S. Al-Ikhlas

1.4    Terbiasa bersuci sebelum beribadah

1.5    Terbiasa membaca Basmalah setiap memulai aktivitas

  1. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru.
1

2.1    Memiliki sikap jujur sebagai implementasi dari pemahaman sifat “shiddiq” Rasulullah SAW

2.2    Memiliki perilaku hormat dan patuh kepada orangtua dan guru sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Luqman (31): 14

2.3    Memiliki perilaku hormat kepada sesama anggota keluarga sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. An-Nisa (4): 36

2.4    Memiliki sikap pemaaf sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW

2.5    Memiliki sikap percaya diri sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Ikhlas

2.6    Memiliki sikap yang baik ketika berbicara sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Baqarah (2): 83

2.7    Memiliki perilaku rajin belajar sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-‟Alaq (96): 1-5

2.8    Memiliki perilaku bersih badan, pakaian, barang-barang, dan tempat sebagai implementasi pemahaman makna bersuci

  1. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah

 

2

3.1    Mengetahui huruf-huruf hijaiyyah dan harakatnya secara lengkap

3.2    Mengenal pesan-pesan yang terkandung di dalam Q.S Al Fatihah, Al Ikhlas dan Al ‟Alaq (96): 1-5

3.3    Mengenal makna Asmaul Husna: Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik

3.4    Mengenal makna dua kalimat syahadat sebagai bagian dari rukun Islam yang pertama

3.5    Mengenal makna do‟a sebelum dan sesudah belajar

3.6    Mengenal tata cara bersuci

3.7    Memahami shalat dan kegiatan agama yang dianutnya di sekitar rumahnya melalui pengamatan

3.8    Mengenal kisah keteladanan Nabi Adam a.s.

3.9    Mengenal kisah keteladanan Nabi Idris a.s.

3.10Mengenal kisah keteladanan Nabi Nuh a.s.

3.11Mengenal kisah keteladanan Nabi Hud a.s

3.12Mengetahui kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW

3.13Memahami perilaku hormat dan patuh kepada orangtua dan guru

3.14Memahami perilaku saling menghormati antarsesama anggota keluarga

4.   Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

 

4.1          Melafalkan huruf-huruf hijaiyyah dan harakatnya secara lengkap

4.2.1     Melafalkan Q.S. Al-Fatihah dan Q.S. Al-Ikhlas dan Al ‟Alaq (96): 1-5 dengan benar dan jelas

4.2.2     Menunjukkan hafalan Q.S. Al-Fatihah dan Q.S. Al-Ikhlas dengan benar dan jelas

4.3         Melafalkan Asmaul Husna: Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik

4.4         Melafalkan dua kalimat syahadat dengan benar dan jelas

4.5         Melafalkan doa sebelum dan sesudah belajar dengan benar dan jelas.

4.6         Mempraktikkan tata cara bersuci

4.7.1     Melaksanakan shalat dan kegiatan agama yang dianutnya di sekitar rumahnya melalui pengamatan

4.7.2     Mencontohkan kegiatan agama yang dianutnya di sekitar rumahnya

4.7.3     Menceritakan kisah keteladanan Nabi Adam a.s.

4.7.4     Menceritakan kisah keteladanan Nabi Idris a.s.

4.7.5     Menceritakan kisah keteladanan Nabi Nuh a.s.

4.7.6      Menceritakan kisah keteladanan Nabi Hud a.s

4.7.7     Menceritakan kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW

4.7.8     Mencontohkan perilaku hormat dan patuh kepada orangtua dan guru

4.7.9     Mencontohkan perilaku saling menghormati antarsesama anggota keluarga

 

 

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (PPKn)

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR

  1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
1.1       Menerima keberagaman karakteristik individu dalam kehidupan beragama sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa di lingkungan rumah dan sekolah

1.2       Menerima kebersamaan dalam keberagaman sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa di lingkungan rumah dan sekolah

  1. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru
2.1       Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri  dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru sebagai perwujudan nilai dan moral Pancasila

2.2       Menunjukkan perilaku patuh pada tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sekolah

2.3       Menunjukkan perilaku kebersamaan dalam keberagaman di rumah dan sekolah

  1. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, dan di sekolah.
3.1       Mengenal simbol-simbol sila Pancasila dalam lambang negara “Garuda Pancasila”

3.2       Mengenal tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sekolah

3.3       Mengenal keberagaman karateristik individu di rumah dan di sekolah

3.4       Mengenal arti bersatu dalam keberagaman di rumah dan sekolah

  1. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia
4.1       Mengamati dan menceritakan perilaku di sekitar rumah dan sekolah dan mengaitkannya dengan pengenalannya terhadap salah satu simbol sila Pancasila

4.2       Melaksanakan tata tertib di rumah dan sekolah

4.3       Mengamati dan menceriterakan kebersamaan dalam keberagaman di rumah dan sekolah

4.4       Mengamati dan menceriterakan keberagaman karateristik individu di rumah dan sekolah

 

BAHASA INDONESIA

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR

  1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
1.1         Menerima anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia yang dikenal sebagai bahasa persatuan dan sarana belajar di tengah keberagaman bahasa daerah

1.2         Menerima keberadaan Tuhan Yang Maha Esa atas penciptaan manusia dan bahasa yang beragam serta benda-benda di alam sekitar

  1. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru
2.1         Memiliki kepedulian dan rasa ingin tahu terhadap keberadaan wujud dan sifat benda melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah

2.2         Memiliki rasa percaya diri terhadap keberadaan tubuh melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah

2.3         Memiliki perilaku santun dan sikap kasih sayang melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah

2.4         Memiliki kedisiplinan dan tanggung jawab merawat tubuh agar sehat dan bugar melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah

2.5         Memiliki perilaku santun dan jujur dalam hal kegiatan dan bermain di lingkungan melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah

  1. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah
3.1         Mengenal teks deskriptif tentang anggota tubuh dan pancaindra, wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang dan malam dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman

3.2         Menegenal teks petunjuk/arahan tentang perawatan tubuh serta pemeliharaan kesehatan dan kebugaran tubuh dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman

3.3         Mengenal teks terima kasih tentang sikap kasih sayang dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman

3.4         Mengenal teks cerita diri/personal tentang keberadaan keluarga dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman

3.5         Mengenal teks diagram/label tentang anggota keluarga dan kerabat dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman

  1. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia
4.1         Mengamati dan menirukan teks deskriptif tentang anggota tubuh dan pancaindra, wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang dan malam secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian

4.2         Mempraktikkan teks arahan/petunjuk tentang merawat tubuh serta kesehatan dan kebugaran tubuh secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian

4.3         Menyampaikan teks terima kasih mengenai sikap kasih sayang secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian

4.4         Menyampaikan teks cerita diri/personal tentang keluarga secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis  yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian

4.5         Membuat teks diagram/label tentang anggota keluarga dan kerabat secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian

MATEMATIKA

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR

  1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
1.1    Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.

 

  1. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru
2.1    Menunjukkan sikap cermat dan teliti, tertib dan mengikuti aturan, peduli, disiplin waktu serta tidak mudah menyerah dalam mengerjakan tugas

2.2    Memiliki rasa ingin tahu dan ketertarikan pada matematika yang terbentuk melalui pengalaman belajar.

2.3    Memiliki sikap objektif dan menghargai pendapat dan karya teman sebaya dalam diskusi kelompok maupun aktivitas sehari-hari

  1. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah

 

1.1    Mengenal lambang bilangan dan mendeskripsikan kemunculan bilangan dengan bahasa yang sederhana

1.2    Mengenal bilangan asli sampai 99 dengan menggunakan benda-benda yang ada di sekitar rumah, sekolah, atau tempat bermain Mengenal dan memprediksi pola-pola bilangan sederhana menggunakan gambar-gambar/benda konkrit

1.3    Menunjukkan pemahaman tentang besaran dengan menghitung maju sampai 100 dan mundur dari 20

1.4    Mengenal bangun datar dan bangun ruang menggunakan benda-benda yang ada di sekitar rumah, sekolah, atau tempat bermain.

1.5    Menemukan bangun yang membentuk pola pengubinan sederhana

  1. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

 

3

4.1    Mengurai sebuah bilangan asli sampai dengan 99 sebagai hasil penjumlahan atau pengurangan dua buah bilangan asli lainnya dengan berbagai kemungkinan jawaban

4.2    Menggunakan benda konkrit untuk menelusuri pecahan dan jumlah uang

4.3    Mengemukakan kembali dengan kalimat sendiri dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan terkait dengan aktivitas sehari-hari serta memeriksa kebenarannya

4.4    Mendeskripsikan, mengembangkan, dan membuat pola yang berulang

4.5    Membentuk berbagai bangun datar dengan menggunakan papan berpaku atau media lainnya

4.6    Melakukan pengubinan dari bangun datar sederhana tertentu

4.7    Membentuk dan menggambar bangun baru dari bangun-bangun datar atau pola bangun datar yang sudah ada

4.8    Mengelompokkan teman sekelas berdasarkan tinggi badannya

4.9    Mengumpulkan dan mengelola data pokok kategorikal dan menyajikannya dalam grafik konkrit dan piktograf tanpa menggunakan urutan label pada sumbu horizontal

4.10Membaca dan mendeskripsikan data pokok yang ditampilkan pada grafik konkrit dan piktograf

 

 

SENI BUDAYA dan PRAKARYA

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR

  1. Menerima, dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
1.1         Merasakan keindahan alam sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaan Tuhan
  1. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru
2.1         Menunjukkan rasa percaya diri untuk berlatih mengekspresikan diri dalam mengolah karya seni

2.2         Menunjukkan rasa ingin tahu untuk mengenal alam di lingkungan sekitar sebagai sumber ide dalam berkarya seni

2.3         Menunjukkan perilaku disiplin, tanggung jawab dan kepedulian terhadap alam sekitar melalui berkarya seni

  1. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan sekolah
3.1         Mengenal cara dan hasil gambar ekspresi

3.2         Mengenal  pola irama lagu bervariasi menggunakan alat musik ritmis

3.3         Mengenal unsur-unsur gerak, bagian-bagian gerak anggota tubuh dan level gerak dalam menari

3.4         Mengamati berbagai bahan, alat serta fungsinya dalam membuat prakarya

3.5         Mengenal karya seni budaya benda dan bahasa daerah setempat

  1. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia
4.1      Menggambar ekspresi dengan mengolah garis, warna dan bentuk berdasarkan hasil pengamatan di lingkungan sekitar

4.2      Membuat karya seni rupa dengan memanfaatkan berbagai teknik cetak sederhana menggunakan bahan alam

4.3      Menggambar dengan memanfaatkan beragam media kering

4.4      Membentuk karya seni rupa dari bahan lunak

4.5      Menyanyikan lagu anak-anak dan memperagakan tepuk birama dengan gerak

4.6      Memainkan pola irama lagu bertanda birama dua dengan tepuk dan gerak

4.7      Menyanyikan lagu anak-anak dan berlatih memahami isi lagu

4.8      Memainkan pola irama lagu bertanda birama dua dan tiga dengan alat musik ritmis

4.9      Melakukan gerak kepala, tangan, kaki, dan badan berdasarkan pengamatan alam di lingkungan sekitar

4.10     Menirukan gerak alam di lingkungan sekitar melalui gerak kepala, tangan, kaki, dan badan berdasarkan rangsangan bunyi

4.11     Menirukan gerak alam di lingkungan sekitar dengan menggunakan level tinggi, sedang, dan rendah

4.12     Melakukan gerak alam di lingkungan sekitar dengan menggunakan level tinggi, sedang, dan rendah dengan iringan

4.13     Membuat karya kreatif dengan menggunakan bahan alam di lingkungan sekitar melalui kegiatan melipat, menggunting dan menempel

4.14     Membuat karya kreatif dengan mengolah bahan alam melalui kegiatan melipat, menggunting, dan menempel bentuk pola dan alur sederhana

4.15     Membuat karya kreatif fungsional dari bahan lunak buatan

4.16     Menyajikan jenis bahan makanan umbi-umbian dengan olahan sederhana

4.17     Menceritakan karya seni budaya benda dan bahasa daerah setempat

 

 

 

 

PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN (PENJASORKES)

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR

  1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
1.1         Menghargai tubuh dengan seluruh perangkat gerak dan kemampuannya sebagai anugrah Tuhan yang tidak ternilai
  1. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman , dan guru
2.1          Berperilaku sportif dalam bermain.

2.2          Bertanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar, serta dalam penggunaan sarana dan prasarana pembelajaran.

2.3          Menghargai perbedaan karakteristik individual dalam melakukan berbagai aktivitas fisik.

2.4          Menunjukkan kemauan bekerjasama dalam melakukan berbagai aktivitas fisik.

2.5          Toleransi dan mau berbagi dengan teman lain dalam penggunaan peralatan dan kesempatan.

2.6          Disiplin selama melakukan berbagai aktivitas fisik.

2.7          Menerima kekalahan dan kemenangan dalam permainan.

  1. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan sekolah
4.1          Mengetahui konsep gerak dasar lokomotor sesuai dengan dimensi anggota tubuh yang digunakan, arah, ruang gerak, hubungan, dan usaha, dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau tradisional.

4.2          Mengetahui konsep gerak dasar non-lokomotor sesuai dengan dimensi anggota tubuh yang digunakan, arah, ruang gerak, hubungan, dan usaha, dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau permainan tradisional.

4.3          Mengetahui konsep gerak dasar manipulatif sesuai dengan dimensi anggota tubuh yang digunakan, arah, ruang gerak, hubungan, dan usaha, dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau permainan tradisional.

4.4          Mengetahui konsep bergerak secara seimbang dan cepat dalam rangka pengembangan kebugaran jasmani melalui permainan sederhana dan atau tradisional.

4.5          Mengetahui konsep berbagai pola gerak dasar dominan statis (bertumpu dengan tangan dan lengan depan/belakang /samping, bergantung, sikap kapal terbang, dan berdiri dengan salah satu kaki), serta pola gerak dominan dinamis (menolak, mengayun, melayang di udara, berputar, dan mendarat) dalam aktivitas senam.

4.6          Mengetahui konsep penggunaan pola gerak dasar lokomotor dan non-lokomotor sesuai dengan irama (ketukan) tanpa/ dengan musik dalam aktivitas gerak rimtik.

4.7          Mengetahui perbedaan bergerak di air dan di darat dalam aktivitas air.

4.8          Mengetahui bagian-bagian tubuh sendiri, kegunaan, dan cara menjaga kebersihannya terutama badan, kuku, kulit, gigi, rambut, hidung, telinga, tangan dan kaki, serta menjaga kebersihan pakaian yang digunakan.

4.9          Mengetahui dampak jangka pendek selama dan setelah melakukan aktivitas fisik.

  1. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia
4.1          Mempraktikkan pola gerak dasar lokomotor sesuai dengan dimensi anggota tubuh yang digunakan, arah, ruang gerak, hubungan dan usaha, dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau tradisional.

4.2          Mempraktikkan pola gerak dasar non-lokomotor sesuai dengan dimensi anggota tubuh yang digunakan, arah, ruang gerak, hubungan, dan usaha,dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau tradisional.

4.3          Mempraktikkan pola gerak dasar manipulatif sesuai dengan dimensi anggota tubuh yang digunakan, arah, ruang gerak, hubungan, dan usaha, dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau permainan tradisional.

4.4          Mempraktikkan aktivitas pengembangan kebugaran jasmani untuk melatih keseimbangan dan kecepatan tubuh melalui permainan sederhanadan dan atau tradisional.

4.5          Mempraktikkan berbagai pola gerak dasar dominan statis (bertumpu dengan tangan dan lengan depan/belakang/ samping, bergantung, sikap kapal terbang, dan berdiri dengan salah satu kaki) dan pola gerak dominan dinamis (menolak, mengayu, melayang di udara, berputar, dan mendarat) dalam aktivitas senam.

4.6          Mempraktikkan penggunaan pola gerak dasar lokomotor dan non-lokomotor sesuai dengan irama (ketukan) tanpa/dengan musik dalam aktivitas gerak rimtik.

4.7          Mempraktikkan berbagai bentuk permainan pengenalan air dalam aktivitas air.*

4.8          Mempraktikkan cara memelihara dan menjaga kebersihan bagian-bagian tubuh sendiri terutama badan, kuku, kulit, gigi, rambut, hidung, telinga, tangan dan kaki, serta menjaga kebersihan pakaian yang digunakan.

4.9          Menceritakan dampak jangka pendek selama dan setelah melakukan aktivitas fisik.

 

 


 

LK – 1.3

 

LEMBAR KERJA

ANALISIS KETERKAITAN SKL, KI, dan KD

SD KELAS I

 

 

PETUNJUK KEGIATAN ANALISIS SKL, KI DAN KD

 

Kompetensi                       : Memahami keterkaitan antara SKL, KI dan KD pada Kurikulum 2013

Tujuan Kegiatan                               : Menganalisis keterkaitan SKL, KI dan KD

Kelompok Kerja                                :

 

  1. Bacalah substansi Standar Kompetensi Lulusan  (SKL) Tahun 2013!
  2. Baca dan komparasikan dengan SKL Tahun 2006 (Permendiknas Th 2006)!
  3. Bacalah KI dan KD semua mata pelajaran!
  4. Baca tema-tema 1 tahun yang telah tersedia!
  5. Bacalah lakukan kajian Indikator yang mengacu pada KD dan Tema!
  6. Pelajari aspek-aspek keterkaitan antara KI, KD, dan Indikator serta Tema yang tersedia (dalam format kajian)!
  7. Buatlah ceklist dari setiap Indikator dikorelasikan dengan Tema-Tema satu tahun (bisa secara kelompok dan atau Individu)!
  8. Lakukan keseluruhan mata pelajaran sampai seluruh KD terakomodasi!
  9. Setelah selesai masukkan hasil ceklist ke dalam format Jaringan KD & Indikator!

 

 

LK – 1.3

LEMBAR KERJA

ANALISIS KETERKAITAN SKL, KI, dan KD

SD KELAS I

 

TEMA (1 TAHUN)

SKL  2013

  1. Diriku
  2. Kegemaranku
  3. Kegiatanku
  4. Keluargaku
  5. Pengalamanku
  6. Lingkungan Bersih dan Sehat
  7. Benda, Binatan dan Tanaman di Sekitar
  8. Peristiwa alam

 

Memiliki [melalui menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, mengamalkan] perilaku yang mencerminkan sikap  orang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam , di sekitar rumah, sekolah, dan tempat bermain

Memiliki [melalui mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta] kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkrit  sesuai dengan yang  ditugaskan kepadanya.

Memiliki [melalui mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi] pengetahuan faktual dan konseptual dalam ilmu pengetahuan, teknologi,seni, budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian di lingkungan rumah, sekolah, dan tempat bermain.

 

SKL PERMENDIKNAS TH 2006

 

  1. Menjalankan agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak.
  2. Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
  3. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya.
  4. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan social ekonomi di lingkungan sekitarnya.
  5. Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif.
  6. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/pendidik.
  7. Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya.
  8. Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
  9. Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
  10. Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia.
  11. Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal.
  12. Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
  13. Berkomunikasi secara jelas dan santun.
  14. Bekerjasama dalam kelompok, tolong menolong dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya.
  15. Menunjukkan kemampuan mengamati gejala alam dan sosial di lingkungansekitar.
  16. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis.
  17. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara,  membaca, menulis, dan berhitung.

 

LEMBAR KERJA

ANALISIS KOMPETENSI  INTI, KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR SD/MI

KELAS: I

 

 

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR

TEMA

1

2

3

4

5

6

7

8

AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI  
  1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
1.1.  Terbiasa berdoa sebelum dan sesudah belajar sebagai bentuk pemahaman terhadap Q.S. Al-Fatihah
  • Mengulang bacaan do’a sebelum belajar
  • Mengulang bacaan do’a sesudah belajar
  • Menyatakan dalam sikap berdo’a sebelum belajar

1.2 Meyakini adanya Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Pengayang.            

   
1.3. Mensyukuri karunia dan pemberian sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Fatihah dan Q.S. Al-Ikhlas

1.4.  Bersuci sebelum beribadah

1.5.  Terbiasa membaca Basmalah setiap memulai aktivitas

                 
2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru. 2.1    Memiliki perilaku bersih badan, pakaian, barang-barang, dan tempat sebagai implementasi pemahaman makna bersuci

 

  • Menunjukkan perilaku hidup bersih badan
  • Memakai pakaian yang bersih dan rapih
  • Menunjukkan sikap/perilaku patuh kepada orang tua

 

2.2    Memiliki perilaku kasih sayang kepada sesama sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Fatihah dan  Al-Ikhlas                  
2.3       Memiliki perilaku hormat  dan patuh kepada orangtua, guru dan sesama anggota keluarga sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Fatihah dan Q.S. Al-Ikhlas                  
2.4      Memiliki perilaku rajin belajar sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-’Alaq ayat 1 s.d. 5                  
2.5      Memiliki sikap pemaaf sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW
  • Membiasakan diri selalu memaafkan teman dalam berinteraksi di sekolah
  • Membiasakan diri tidak suka marah kepada teman dalam berinteraksi dengan teman di sekolah dan di rumah

      .    
3. Memahami pengetahu an faktual dengan cara mengamati [mende ngar, melihat, memba ca] dan menanya ber dasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah 1.6    Mengenal pesan-pesan yang terkandung di dalam Q.S Al Fatihah, Al Ikhlas dan Al ‘Alaq ayat 1 s.d. 5                  
1.7    Mengenal keesaan Allah SWT berdasarkan pengamatan terhadap dirinya dan makhluk ciptaan-Nya yang dijumpai di sekitar rumah dan  sekolah                  
1.8    Mengenal makna Asmaul Husna: Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik                  
1.9      Mengenal makna dua kalimat syahadat sebagai bagian dari rukun Islam yang pertama                  
1.10   Mengenal makna do’a sebelum dan sesudah belajar                  
1.11   Mengenal tata cara bersuci                  
1.12   Mengenal shalat dan kegiatan agama yang dianutnya di sekitar rumahnya melalui pengamatan             .    
1.13   Mengenal kisah keteladanan Nabi Adam A.S             .    
1.14Mengenal kisah keteladanan Nabi Idris A.S                  
1.15   Mengenal kisah keteladanan Nabi Nuh A.S                  
1.16   Mengenal kisah keteladanan Nabi Hud A.S                  
1.17   Mengetahui kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW             .    
  1. Menyajikan pengeta huan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia
2.1      Melafalkan  huruf-huruf hijaiyyah dan harakatnya secara lengkap

2.2      Melafalkan Asmaul Husna: Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik

 

            .    
2.3  Melafalkan dua kalimat syahadat dengan benar dan jelas

2.4  Melafalkan Q.S. Al-Fatihah dan Q.S. Al-Ikhlas dengan benar dan jelas

                 
2.5  Melafalkan doa sebelum dan sesudah belajar dengan benar dan jelas.
  • Berdoa’a sebelum belajar dengan benar dan jelas
  • Berdo’a sesudah belajar dengan benar dan jelas

2.6  Menunjukkan hafalan Q.S. Al-Fatihah dan Q.S. Al-Ikhlas dengan benar dan jelas             .    
2.7  Menceritakan contoh perilaku kasih sayang sesama teman dalam kehidupan sehari-hari
  • Berperilaku kasih sayang dengan anggota keluarga
  • Menunjukkkan contoh perilaku kasih sayang dengan sesama teman di sekolah
  • Menunjukkkan contoh perlaku kasih sayang dengan sesama teman di rumah
  • Menceritakan bentuk kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari

 

     

  2.8    Mempraktekkan tata cara bersuci                  
2.9    Menceritakan kegiatan agama yang dianutnya di sekitar rumahnya                  
2.10  Menceritakan  kisah keteladanan Nabi Adam A.S             .    
2.11  Menceritakan kisah keteladanan Nabi Idris A.S

2.12  Menceritakan kisah keteladanan Nabi Nuh A.S

2.13  Menceritakan kisah keteladanan Nabi Hud a.s

2.14  Menceritakan kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW

            .    
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (PPKn)                
1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya 1.1.  Menerima keberagaman karakteristik individu dalam kehidupan beragama sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa di lingkungan rumah dan sekolah

 

  • Berperilaku baik (jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli/kasih sayang, dan percaya diri) dalam berinteraksi dengan guru

  • Menyampaikan permintaan maaf terhadap teman dengan tanpa melihat perbedaan fisik dan kebiasaan dam berinteraksi dengan teman di sekolah

 

   

  • Menunjukkan sikap menerima keberaganman karakteristik individu

 

   

  • memperhatikan lingkungan sekitar secara seksama

  • Menceritakan tentang perbedaan kemampuan yang dimiliki teman

 

 

  • merawat lingkungan sekitar secara sadar

 

 

1.2.  Menerima kebersamaan dalam keberagaman sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa di lingkungan rumah dan sekolah
  • Menunjukkan perilaku rukun dengan semua teman dalam berinteraksi di sekolah

  • Rukun  dengan semua teman
  • Menghindari   sikap tidak rukun

  • Menunjukkan sikap rukun dalam keluarga

  • Menunjukkan sikap mau berteman dengan siapa saja di sekolah

  1. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru
2.1.  Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri  dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru sebagai perwujudan nilai dan moral Pancasila

 

  • Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli,  kasih sayang, dan percaya diri  dalam  berinteraksi dengan teman

  • Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli,  kasih sayang, dan percaya diri  dalam  berinteraksi dengan guru.

  • Menunjukkan perilaku patuh pada tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

  • Menyebutkan tata tertib dan aturan yang berlaku di sekolah

  • Ber perilaku patuh di sekolah.

   

     
 
  • Menunjukkan perilaku patuh pada tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

   

 

   
 
  • Melaksanakan  tata tertib dan aturan yang berlaku di rumah.

   

 

   
 
  • Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, kasih sayang dan percaya diri  dalam  berinteraksi dengan keluarga.
   

     
 
  • Bersikap  baik (jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli/kasih sayang, dan percaya diri) dalam berinteraksi dengan teman
 

       
 
  • Menunjukkan perilaku percaya diri ketika mengerjakan tugas dari guru (pkn)
       

   
 
  • Menceritakan kegiatan yang dilakukan bersama keluarga pada saat merawat tanaman menggunakan bahasa yang santun
     

 

   
2.2.     Menunjukkan perilaku patuh pada tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sekolah
  • Memberikan contoh sikap perilaku patuh pada aturan/kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari – hari di rumah.
     

 

   
 
  • Memberikan contoh sikap perilaku patuh pada aturan/kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari – hari di sekolah.
   

 

   
   
  • Menunjukkan sikap dan prilaku patuh pada tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah.
   

   

   
   
  • Menunjukkan sikap perilaku patuh pada aturan atau kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di sekolah
       

   
   
  • Menunjukkan sikap perilaku patuh pada aturan yang berlaku dalam berolah raga  di rumah dan di sekolah
   

   
   
  • Menunjukkan perilaku hidup sehat  dalam berolah raga di rumah dan di sekolah.
       

   
   
  • Menunjukkan perilaku disiplin  dalam berolah raga di rumah dan di sekolah.
       

   
   
  • Menerapkan perilaku dsiplin dalam berolahragaa di sekolah
       

   
   
  • menjelaskan manfaat memiliki sikap peduli terhadap sesama (missal:memelihara binatang,merawat tanaman,merawat benda milik pribadi dll)
       

   
2.3.     Menunjukkan perilaku kebersamaan dalam keberagaman di rumah dan sekolah
  • Merasakan manfaat berteman dengan semua orang
     

 

   
  • Menunjukkan sikap berbesar hati menerima keberagaman yang berbeda dengan diri sendiri di sekolah.
     

 

   
  • Menunjukkan hidup bersatu dalam keberagaman melalui pengamatan di rumah
     

   
  • Menunjukkan sikap mau berteman dengan siapa saja di sekolah dan di rumah
         

   
  1. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, dan di sekolah.
3.1.     Mengenal simbol-simbol sila Pancasila dalam lambang negara “Garuda Pancasila”

 

  • Mengidentifikasi simbol-simbol Pancasila dalam lambang Negara “Garuda Pancasila”
   

 

.

 
  • Mendeskripsikan makna simbol-simbol Pancasila dalam lambang Negara “Garuda Pancasila”
   

 

 

 
  • Melaksanakan perilaku baik di rumah dan mengkaitkannya dengan pengenalannya terhadap salah satu simbol sila pancasila
   

 

 

 
3.2.     Mengenal tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sekolah

 

  • Menyebutkan jenis-jenis tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah.
     

 

   
  • Menyebutkan jenis-jenis tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di di sekolah.

 

     

 

   
 
  • Menyebutkan tata tertib dan aturan yang berlaku di sekolah

 

     

 

   
 
  • Menyebutkan contoh perilaku patuh di sekolah
     

 

   
 
  • Menyebutkan contoh perilaku patuh pada tata tertib di rumah.
     

 

   
 
  • Menyebutkan contoh perilaku patuh pada tata tertib di sekolah
     

 

   
 
  • Menyebutkan jenis-jenis makanan sehat dalam perawatan dan kesehatan tubuh
 

     

   
 
  • Menyebutkan tentang perawatan tubuh dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia  lisan
         

3.3.     Mengenal keberagaman karateristik individu di rumah dan di sekolah
  • Menunjukkan sikap berbesar hati menerima keberagaman yang berbeda dengan diri sendiri di rumah
       

 

 
  • Menunjukkan sikap menghargai kesukaan teman di dalam kelas
 

   

   

  • Menceritakan kesukaan diri sendiri terhadap mainan
   

 

 

 
  • Menceritakan kesukaan teman terhadap mainan sehari-hari
   

 

 

 
3.4.     Mengenal arti bersatu dalam keberagaman di rumah dan sekolah
  • Mengartikan bersatu dalam keberagaman melalui pengamatan di rumah
   

 

     
 
  • Menunjukkan sikap rukun dengan teman di kelas
   

 

     
  • Menunjukkan sikap saling membantu dalam membersihak lingkungan kelas
               
  • Menunjukkan sikap tidak memilih-milih teman dalam ber kelompok dan belajar bersama
   

 

     
  1. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia
4.1.  Mengamati dan menceritakan perilaku di sekitar rumah dan sekolah dan mengaitkannya dengan pengenalannya terhadap salah satu simbol sila Pancasila

 

  • Menjelaskan manfaat berteman dengan semua orang
   

.    
  • Menceritakan kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah
     

     
  • Menceritakan macam-macam hewan terkait dengan simbol sila-sila Pancasila
       

 

 
  • Menjelaskan nama-nama hewan yang sama dan sejenis terkait dengan simbol Garuda Pancasila
       

 

 
4.2.  Melaksanakan tata tertib di rumah dan sekolah
  • Memperhatikan  tata tertib yang di lingkungan sekitar secara seksama
 

         
 
  • Merawat  lingkungan sekitar secara sadar sebagai salah satu tugas dalam melaksanakan tata tertib di rumah dan di sekolah
         

  • Mengidentifikasi maca-macam tata tertib di kelas
   

 

     
  • Mengidentifikasi macam-macam tata tertib di sekolah
   

 

     
  • Melaksanakan sikap dan perilaku patuh pada  aturan/kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari di sekolah

       

4.3.  Mengamati dan menceriterakan kebersamaan dalam keberagaman di rumah dan sekolah

 

  • Menceritakan perilaku kebersamaan dalam keberagaman  dengan teman

       

 
  • Melaksanakan kebersamaan dalam keberagaman di  sekolah.

 

       
  • Mengidentifikasi contoh keberagaman di rumah

 

   

 
  • Mendeskripsikan keberagaman dalam memilih tujuan bermain dengan teman sekelas

 

   

 
4.4.  Mengamati dan menceriterakan keberagaman karateristik individu di rumah dan sekolah
  • Menjelaskan perilaku kebersamaan dalam keberagaman  dengan teman
 

     

  • Mengamati keberagaman karakteristik individu  dibandingkan dengan teman  di kelas dan di sekolah
     

 

  • Menceritakan kesukaan teman sebangku dalam kegiatan hari libur
   

     
  • Menceritakan pengalaman teman sebangku ketika melakukan kegiatan besar di sekolah
 

     

BAHASA INDONESIA  
  1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
1.1      Menerima anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia yang dikenal sebagai bahasa persatuan dan sarana belajar di tengah keberagaman bahasa daerah
  • Bersikap khusuk (menjaga keheningan) dalam mendengarkan doa

  • Mengambil sikap duduk atau berdiri dengan berdiam diri

  • Mencontoh kata-kata dalam doa yang didengar pada saat berdoa sendiri

  • Melafalkan kata-kata teks doa dengan jelas

  • Mengungkapkan perasaan syukur pada Tuhan atas anugerah keindahan

1.2      Menerima keberadaan Tuhan Yang Maha Esa atas penciptaan manusia dan bahasa yang beragam serta benda-benda di alam sekitar
  • Menunjukkan perilaku bersih lingkungan sebagai penerapan sikap
         

  • Menunjukkan kebiasan mengucapkan ucapan terima kasih
   

   
  • Menunjukkan sikap berbesar hati menerima keberagaman yang berbeda dengan diri sendiri di rumah
   

   
  • menampilkan sikap percaya pada penciptaan benda-benda di alam sekitar dan manusia yang beragam
         

  1. Memiliki perilaku ju jur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru
2.1      Memiliki kepedulian dan rasa ingin tahu terhadap keberadaan wujud dan sifat benda melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah

 

  • Menunjukkan kebiasaan mengucapkan salam sesuai dengan situasi dan kondisi
         

  • Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli,  kasih sayang, dan percaya diri  dalam  berinteraksi dengan teman.

  • Menyampaikan permintaan maf kepda anggota keluarga, teman dan guru
   

  .    
  • Menunjukkan sikap peduli dan tanggung jawab menjaga kebersihan diri agar sehat

2.2      Memiliki rasa percaya diri terhadap keberadaan tubuh melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah
  • Menunjukkan kebiasaan mengucapkan salam dan terima kasih dalam bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah dengan percaya diri
   

     
  • Menunjukkan sikap percaya diri dalam mengajukan pertanyaan kepada guru

  • Mengajukan pertanyaan dengan bahasa indonesia dan atau bahasa daerah yang benar

  • Berani mengajukan pertanyaan kepada guru

2.3      Memiliki perilaku santun dan sikap kasih sayang melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah
  • Menjelaskan perilaku kebersamaan dalam keberagaman di sekolah
   

.    
  • Menunjukkan perilaku santun dalam berbicara dengan teman di kelasnya dan atau di sekolah
   

     
  • Melaksanakan perilaku baik dalam berbicara dengan teman

  • Menunjukkan kebiasan mengucapkan ucapan terima kasih

  • Menunjukkan sikap santun dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman dan guru

2.4      Memiliki kedisiplinan dan tanggung jawab merawat tubuh agar sehat dan bugar melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah
  • Menyusun dan membaca nyaring teks prosedur lisan sederhana (3–4 kalimat) tentang cara merawat tubuh dengan bantuan media (gambar , diagram,  video, dan lainnya)
   

   

 
  • Membiasakan diri merawat tubuh dan pakaian selalu bersih
   

   

 
  • Menunjukkan sikap peduli menjaga lingkungan agar sehat
   

   

 
  • Menunjukkan sikap tanggung jawab menjaga lingkungan agar sehat
       

  • Menunjukkan sikap peduli  dan bertanggung jawab dalam merawat tubuh agar selalu sehat  dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah
         

2.5 Memiliki perilaku santun dan jujur dalam hal kegiatan dan bermain di lingkungan melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah
  • Melafalkan kata-kata teks doa dengan jelas

 
  • Menunjukkan perilaku santun dan jujur ketika bermain dengan menggunakan bahasa bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah

  • Menata benda-benda berbentuk bangun datar sesuai dengan kelompoknya (segitiga, persegi, segiempat, dan lingkaran) yang ada di sekitar ruang kelas.

 

 

     

  • Menata benda-benda berbentuk bangun ruang sesuai dengan kelompoknya (kubus, balok, bola dan tabung) yang ada di sekitar ruang kelas
 

     

 
  1. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah
3.1 Mengenal teks deskriptif tentang anggota tubuh dan pancaindra, wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang dan malam dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman

 

 

 

  • Menceritakan kegiatan sehari-hari dengan menggunakan bahasa yang santun
   

     
  • Mengidentifikasi jenis kegiatan yang dilakukan pada siang hari
   

 

 

  • Mengidentifikasi  jenis kegiatan yang dilakukan pada malam hari
   

 

 

  • Mendeskipsikan kejadian siang atau malam
   

 

 

  • Membaca nyaring teks deskripsi lisan sederhana (3-4 kalimat) yang berkaitan dengan tubuh, wujud benda, sifat benda, dan jumlah benda dengan bantuan media.

  • Menggunakan  konjungsi spasial dan penambahan sederhana dengan benar
   

 

 

  • Menuliskan teks tentang anggota tubuh menggunakan bahasa indonesia dan atau bahasa daerah
     

 

 
3.2      Mengenal teks petunjuk/arahan tentang perawatan tubuh serta pemeliharaan kesehatan dan kebugaran tubuh dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman
  • Melafalkan kata-kata teks doa dengan intonasi yang sesuai

 
  • Menyebutkan kapan harus mandi, makan, sikat gigi dan cuci tangan.

   

 

   
  • Menyebutkan kebutuhan tubuh agar tetap sehat, yaitu : main dan istirahat/tidur yang cukup, makan makanan bergizi, minum yang cukup, udara dan lingkungan bersih
     

   
  • Membedakan lingkungan sehat dan tidak sehat
     

   
  • Menyebutkan jenis-jenis makanan sehat dalam perawatan dan kesehatan tubuh
     

   
  • Menyebutkan tentang perawatan tubuh dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia  lisan
     

   
  • Menyebutkan tentang perawatan tubuh dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia  lisan
     

   
  • Menjodohkan gambar cara perawatan tubuh dengan bantuan guru

 

   

   
  • Membuat pertanyaan tentang perawatan tubuh dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan.
   

   
  • Memperagakan cara perawatan  tubuh dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan
   

   
  • Menyebutkan cara-cara pemeliharaan kebugaran tubuh dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia  lisan
   

   
  • Membuat pertanyaan tentang jenis-jenis olahraga dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia  lisan
   

   

   
  • Menceritakan cara-cara pemeliharaan kebungaran tubuh
     

   
  3.3      Mengenal teks terima kasih tentang sikap kasih sayang dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman
  • Menyusun secara sederhana (3–4 kalimat)  ucapan terima kasih dalam teks lisan dan tulis

  • Menggunakan kohesi dan kalimat sederhana (3–4 kata) dalam menyusun ucapan terima kasih dalam teks lisan dan tulis
               
  • Menyusun dan membaca nyaring teks cerita diri/personal lisan sederhana (3–4 kalimat) tentang keluarga dengan bantuan media (gambar dan video)

  • Menunjukkan kebiasaan mengucapkan salam dan terimakasih dalam bahasa indonesia dan/atau bahasa daerah

3.4      Mengenal teks cerita diri/personal tentang keberadaan keluarga dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman
  • Mengidentifikasi anggota tubuh dan pancaindara dengan bahasa Indonesia baku dan atau bahasa daerah yang sejenis

.    
  • Mendeskripsikan anggota tubuh dan pancaindra dengan bantuan guru

     
  • Menyusun teks cerita diri/personal tulis seder hana (3–4 kalimat) tentang keluarga dengan bantuan media (gambar, video, dan lainnya)

  • Menyusun kalimat teks pendek cerita diri/personal tentang keluarga dengan bantuan guru di kaitkan dengan bahasa daerah setempat

  • Menceritakan kegiatan anggota keluarga dengan bahasa Indonesia dan atau bahasa daerah
     

       
  • Menuliskan nama-nama dan pekerjaan anggota keluarganya dengan bantuan guru menggu nakan bahasa Indonesia dan atau bahasa daerah
     

     
  • Menuliskan pertistiwa yang dialami ketika melakukan perjalanan di hari libur sekolah
 

   

   

  • Menceritakan peristiwa yang dialami ketika terja di peristiwa alam (seperti hujan, angin, banjir dsb)
           

3.5      Mengenal teks diagram/label tentang anggota keluarga dan kerabat dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman
  • Mengidentifikasi nama-nama anggota keluarga dan kerabat dengan bantuan guru dengan bahasa Indonesia secara lisan
          .

  • Mengidentifikasi nama-nama anggota keluarga dan kerabat dengan bantuan guru dengan bahasa Indonesia secara tertulis
     

     
 
  • Menceritakan kegiatan sehari hari dengan menggunakan bahasa yang santun
   

     

  • membaca nyaring teks cerita diri/personal lisan sederhana (3–4 kalimat) tentang keluarga dengan bantuan media (gambar dan video)

  1. Menyajikan pengeta huan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam karya yang este tis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencer minkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia
4.1      Mengamati dan menirukan teks deskriptif tentang anggota tubuh dan pancaindra, wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang dan malam secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian
  • Menuliskan kalimat yang didiktekan guru dengan pemisahan kata yang tepat

  • Berposisi duduk secara benar untuk melakukan kegiatan menulis

  • Meletakkan bacaan dengan jarak mata yang benar

  • Memegang alat tulis dengan benar

  • Mengeja dan membaca teks bacaan dengan tepat

  • Mendeskripsikan  anggota tubuh dan pancaindra manusia
   

 

   
  • Membiasakan diri mengucapkan kata maaf kepada orang lain dalam berbagai kondisi
         

   
  • Menyusun  dan membaca nyaring teks deskripsi lisan sederhana (3-4 kalimat) yang berkaitan dengan tubuh,wujud benda,sifat benda,dan jumlah benda dengan bantuan media (gambar,diagram,dan video)

4.2      Mempraktikkan teks arahan/petunjuk tentang merawat tubuh serta kesehatan dan kebugaran tubuh secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian
  • Menyebutkan petunjuk merawat kesehatan tubuh secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan
   

 

   
  • Menceritakan cara merawat kesehatan tubuh  secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan
   

 

   
  • Menyebutkan  cara-cara  merawat kebugaran tubuh secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan
   

 

   
  • Membuat pertanyaan tentang jenis-jenis olahraga dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia  lisan
   

 

   
4.3      Menyampaikan teks terima kasih mengenai sikap kasih sayang secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian
  • Menyebutkan nama-nama tempat dalam cerita
 

   

   
  • Menceritakan urutan peristiwa yang dialami
 

   

 

  • Membiasakan diri untuk mengucapkan terima kasih

  • Menyebutkan kebutuhan tubuh agar tetap sehat, yaitu : main dan istirahat/tidur yang cukup, makan makanan bergizi, minum yang cukup, udara dan lingkungan bersih.
   

 

   
  • Membedakan lingkungan sehat dan tidak sehat
       

 
  • Menyampaikan permintaan maaf kepada anggota keluarga di rumah
   

 

   
  • Menyampaikan permintaan maaf kepada teman di sekolah Membiasakan diri mengucapkan kata  terima kasih kepada orang lain dalam berbagai kondisi

 

 

   
4.4      Menyampaikan teks cerita diri/personal tentang keluarga secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis  yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian
  • Memperkenalkan  diri sendiri kepada teman dengan menggunakan bahasa Indonesia dan atau bahasa daerah dengan benar
     

.    
  • Mengenalkan nama-nama  anggota keluarganya secara lisan  kepada temannya dengan menggunakan bahasa Indonesia dan atau bahasa daerah
   

 

     
  • Menceritakan  cita-cita yang ingin dicapai setelah besar nanti
 

 

     
  • Berani bercerita tentang kesukaan diri sendiri kepada guru dan teman dengan bahasa Indonesia dan atau bahasa daerah secara santun
     

     
  4.5      Membuat teks diagram/label tentang anggota keluarga dan kerabat secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian
  • Mendeskripsikan sederhana wujud, bagian(klasifikasi), dan fungsi benda,serta letak/tempat dan jumlah benda dengan tahapan yang benar dalam teks lisan dan tulisan
  • Membuat silsilah anggota keluarga dengan menuliskan nama-nama ayah, ibu dan adik dan atau kakaknya
     

.    
 
  • Menuliskan kegiatan/pekerjaan orang tua sehari-hari dengan kosakata bahasa Indonesia
     

     
  • Menuliskan alamat sekolah dengan menggunakan bahasa Indonesia yang benar
   

 

     
  • Menuliskan alamat rumahnya sendiri dengan menggunakan bahasa Indonesia yang benar
   

 

     
MATEMATIKA
  1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
1.1 Meerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.             .    
  1. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru
2.1.  Menunjukkan perilaku patuh pada aturan dalam melakukan penjumlahan dan pengurangan sesuai prosedur/aturan dengan memperhatikan nilai tempat puluhan dan satuan

 

  • Menuliskan penjumlahan dan pengurangan mengikuti prosedur/aturan sesuai dengan tempat puluhan dan satuan

         
  • Menuliskan lambang bilangan dengan benar sesuai dengan aturan penulisannya

         
  • Melakukan penjumlahan pengurangan

         
  • Menunjukkan perilaku  patuh pada aturan dalam melakukan penjumlahan dan pengurangan
 

       
  • Menuliskan angka sesuai dengan nilai tempat puluhan dan satuan
 

       
2.2.  Menunjukkan perilaku teliti dan perduli dengan menata benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan dimensi (bangun datar, bangun ruang), beratnya, atau urutan kelompok terkecil sampai terbesar
  • Menata  dengan rapi benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan kriteria lainnya (warna atau lainnya)
 

 

   
  • Mengidentifikasi nama-nama benda yang ada di sekitar ruang kelas berdasarkan dimensi bangun datar dan bangun ruang
   

   
  • Menata benda-benda berbentuk bangun datar sesuai dengan kelompoknya (segitiga, persegi, segiempat, dan lingkaran) yang ada di sekitar ruang kelas.
   

   
  • Menata benda-benda berbentuk bangun ruang sesuai dengan kelompoknya (kubus, balok, bola dan tabung) yang ada di sekitar ruang kelas
   

   
 
  • Mengidentifikasi benda-benda yang di sekitar lingkungan sekolah dan menempatkan sesuai dengan fungsinya
   

   
  • Mendeskripsikan benda-benda bangun datar dan bangun ruang sesuai fungsi dan kegunaannya
   

   
2.3    Menunjukkan perilaku tertib dan rapi saat berbaris berdasarkan urutan tinggi badan
  • Melakukan kegiatan baris berbaris sebelum masuk ruang kelas dengan rapi dan tertib berdasarkan urutan tinggi badan
     

   
  • Membedakan benda yang tinggi dengan yang panjang benda-benda yang ada di ruang kelas
     

   
2.4.  Menunjukkan perilaku disiplin tepat waktu dalam melakukan aktivitas di sekolah dengan memperhatikan tanda-tanda saat jam belajar dan jam istirahat
  • Melakukan kegiatan sekolah dengan rapi,
   

.√

   
  • Melaksanakan berbagai tugas sekolah tepat waktu
   

   
  • Bersikap disiplin dalam menggunakan waktu belajar, istirahat dan bermain di sekolah

  • Menggunakan waktu luang untuk melakukan kegiatan yang positif untuk belajar dan atau bermain

  • Melaksanakan berbagai tugas di luar sekoah dengan hasil yang baik dan menyelesaikan tepat waktu

  • Melakukan kegiatan sekolah dengan disiplin dan tanggung jawab pada waktu jam belajar dan jam istirahat

  • Menunjukkan dengan tepat jam masuk sekolah dan jam pulang sekolah

  • Datang ke sekolah tepat waktu sesuai dengan tata tertib sekolah

  • Melakukan kegiatan sesuai dengan waktu yang ditetapkan oleh sekolah terkait dengan jam masuk  kelas, jam istirahat dan jam pulang sekolah

  1. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah
3.1.  Mengenal bilangan asli sampai 99 dengan menggunakan benda-benda yang ada di sekitar rumah, sekolah, atau tempat bermain
  • Menyebutkan banyak benda dengan ciri tertentu dari sekumpulan benda (1-5)
  • Menyebutkan bilangan 1 s.d 10 dengan bahasa Indonesia lisan

    .    
  • Menyebutkan lambang bilangan
               
  • Mengitung bilangan asli dengan menggunakan gambar/benda kongrit secara lisan
   

     
  • Menjodohkan bilangan asli dengan gambar/benda kongrit.
     

   
  • Menghitung bilangan asli dengan menggunakan lagu “satu-satu
     

   
  • Menyebutkan bilangan asli sampai 25 dengan menggunakan gambar
               
  • Menjodohkan bilangan asli dengan gambar/benda kongrit.
     

     
  • Menghitung bilangan asli dengan menggunakan lagu “satu-satu
     

     
  • Mengitung bilangan asli dengan menggunakan gambar/benda kongrit secara lisan.
     

     
  • Menentukan urutan benda berdasarkan jumlahnya
     

   
  • Membilang dan menulis lambang bilangan secara urut (1-10)
     

   
  • Menentukan urutan benda dari sekumpulan benda dalam barisan (1-10)
     

   
3.2.  Mengenal bangun datar dan bangun ruang menggunakan benda-benda yang ada di sekitar rumah, sekolah, atau tempat bermain
  • Memilih jenis tas, wadah atau tempat yang digunakan untuk menaruh benda atau sekelompok benda sesuai dengan beratnya
         

  • Menggambar/melukis berbagai bangun datar segitiga
         

  • Menyebutkan kesamaan dan perbedaan berbagai benda berbentuk segitiga atau segiempat
         

3.3.  Membandingkan dengan memperkirakan lama suatu aktivitas berlangsung menggunakan istilah sehari-hari (lebih lama, lebih singkat)
  • Menata benda-benda berbentuk bangun datar sesuai dengan kelompoknya (segitiga, persegi, segiempat, dan lingkaran) yang ada di sekitar ruang kelas.
         

  • Menata benda-benda berbentuk bangun ruang sesuai dengan kelompoknya (kubus, balok, bola dan tabung) yang ada di sekitar ruang kelas
         

  • Menyebutkan waktu berlangsungnya aktifitas olahraga yang terjadi di rumah dan di sekolah melalui pengamatan
       

 
  • Membuat pertanyaan tentang lamanya suatu aktivitas terkait  tentang jenis-jenis olahraga
       

 
  • Menghitung waktu berlangsungnya aktifitas olahraga yang dilakukan di rumah dan di sekolah melalui pengamatan
       

 
  • Menyebutkan waktu berlangsungnya aktifitas olahraga yang terjadi di rumah dan di sekolah melalui pengamatan dengan dikaitkan lebih lama dan lebih singkat
       

 
3.4    Membandingkan dengan memperkirakan berat suatu benda menggunakan istilah sehari-hari (lebih berat, lebih ringan
  • Memilih benda-benda yang ada di sekitar dengan memperkirakan berat suatu benda dengan istilah lebih berat dan lebih ringan
         

  • Membandingkan benda-benda yang di sekitar dan menyimpulkan benda yang lebih berat dengan yang lebih ringan
         

  • Mengukur  suatu benda dan menuliskannya di buku catatannya jenis benda yang lebih berat dan yang lebih ringan
         

  • Mengajukan pertanyaan realistis kepada guru tentang benda-benda yang lebih berat dan yang lebih ringan
         

  • Memilih benda dengan menggunakan kartu-kartu bilangan yang berisi sekumpulan bilangan penjumlahan dan atau pengurangan terberat dan yang ringan
         

3.5.  Membandingkan dengan memperkirakan panjang suatu benda menggunakan istilah sehari-hari (lebih panjang, lebih pendek)
  • Memilih dua atau beberapa kartu bilangan dari sekumpulan kartu bilangan yang berisi istilah sehari-hari lebih panjang dan lebih pendek
         

  • Menentukan urutan benda sesuai dengan urutan yang logis
         

  • Menyusun sebarisan bilangan dengan kriteria atau aturan  sesuai ukurannya yang lebih panjang dan lebih pendek
         

  • Melakukan pengukuran benda-benda yang ada di sekitarnya dan membandingkannya sesuai dengan ukuran logis panjang, pendek, besar, kecil
       

  • Menuliskan di bukunya tentang benda-benda yang ada di rumahnya seauai dengan fungsi dan kegunaanya
   

     
3.6.  Mengenal dan memprediksi pola-pola bilangan sederhana menggunakan gambar-gambar/benda konkrit
  • Menyebutkan pola-pola bilangan sederhana dari gambar-gambar/ benda konkrit yang disajikan melalui pengamatan
 

  .    
  • Membuat pertanyaan mengenai  pola-pola bilangan sederhana dari gambar-gambar /benda konkrit yang disajikan
     

   
  • Memprediksi pola-pola bilangan sederhana dari gambar-gambar /benda konkrit yang disajikan
     

   
  • Menyebutkan pola dari sebarisan bangun datar sederhana dari benda-benda yang ada  di alam sekitar melalui pengamatan
       

 
  • Membuat pertanyaan mengenai pola dari sebarisan bangun datar sederhana dari benda-benda yang ada  di alam sekitar
       

 
  • Membuat pola dari sebarisan bangun datar sederhana dari benda-benda yang ada  di alam sekitar
       

 
  • Menata benda disekitar ruang kelas berdasarkan pola-pola bilangan sederhana dari gambar-gambar/ benda konkrit yang disajikan melalui pengamatan
         

  • Membuat pertanyaan mengenai  pola-pola bilangan sederhana dari gambar-gambar /benda konkrit yang disajikan
         

  • Memprediksi pola-pola bilangan sederhana dari gambar-gambar /benda konkrit yang disajikan
         

3.7.  Menemukan bangun yang membentuk pola pengubinan sederhana
  • Menentukan bangun datar yang membentuk pengubinan
         

  • Menggambar/melukis pengubinan dari bangun datar sederhana tertentu
         

  • Menentukan dan menjelaskan berbagai bangun datar yang dapat atau tidak dapat membentuk pengubinan
         

  • Menemukan bangun yang membentuk pola pengubinan sederhana
     

   
  • Menggambar/melukis pengubinan dari bangun datar sederhana tertentu
     

   
  • Menghitung jumlah ubin yang diperlukan untuk mengubin suatu bidang
     

   
  • Menggambar/ membentuk segi tiga dengan ciri tertentu (misal tinggi sama atau ciri lainnya) dengan menggunakan papan berpaku
     

   
3.8.  Menentukan pola dari sebarisan bangun datar sederhana menggunakan benda-benda yang ada  di alam sekitar
  • Mengidentifikasi dan menjelaskan berbagai bentuk bangun datar
     

   
  • Menentukan dan menjelaskan berbagai bentuk bangun datar
     

   
  • Mendeskripsikan berbagai bentuk bangun datar
         

  • Menjelaskan dan menceritakan benda-benda yang ada di sekitar  berbagai bentuk bangun datar dikaitkan dengan kegunannya
         

3.9.  Mengenal panjang, luas, massa, kapasitas, waktu, dan suhu

 

  • Melakukan pengurangan dua bilangan sampai 100 dengan kapasitas yang benar sesuai nilai tempatnya
         

  • Mengidentifikasi suatu benda berdasarkan luas, dan kapasitasnya
     

   
  • Menceritakan suhu di suatu ruang berdasarkan waktu
     

   
  • Menggunakan waktu luang untuk melakukan aktivitas positif untuk belajar atau bermain
  • Melaksanakan berbagai tugas di luar sekolah dengan hasil baik dan selesai tepat waktu
       

 
  • Menyimpulkan hasil pengamatan suatu kejadian terkait dengan suhu suatu keadaan yang terjadi di sekitarnya
       

 
3.10.  Menunjukkan pemahaman tentang besaran dengan menghitung maju sampai 100 dan mundur dari 20
  • Melakukan pengurangan dua bilangan sampai 100 dengan benar sesuai nilai tempatnya
       

 
  • Melaksanakan tugas berbagai tugas dari sekolah dengan tepat waktu tentang menghitung maju sampai 100 dan mundur 20
   

     
  • Menentukan pasangan bilangan dengan jumlah tertentu, sampai 20
   

     
  • Menentukan pasangan pengurangan bilangan dengan hasil tertentu, sampai 20
   

     
  • Memilih dua atau beberapa kartu bilangan dari sekumpulan kartu bilangan sehingga hasil penjumlahan/pengurangannya terbesar
     

   
  • Memilih dua atau beberapa kartu bilangan dari sekumpulan kartu bilangan sehingga hasil penjumlahan/pengurangannya terkecil
     

   
3.11.  Menentukan urutan berdasarkan panjang pendeknya benda, tinggi rendahnya tinggi badan, dan urutan kelompok berdasarkan jumlah anggotanya
  • Membuat kelompok berdasarkan tinggi badan
     

   
  • Menentukan urutan benda berdasarkan tinggi rendahnya tinggi badan
     

   
  • Menggambar/ membentuk segi tiga dengan ciri tertentu (misal tinggi sama atau ciri lainnya) dengan menggunakan papan berpaku
   

     
  • Menuliskan angka bilangan berdasarkan urutan kelompok banyaknya jumlah anggotanya
   

     
3.12.  Mengenal lambang bilangan dan mendeskripsikan kemunculan  bilangan dengan bahasa yang sederhana
  • Menulis lambang bilangan secara urut
   

.    
 
  • Membilang dan menulis lambang sesuai dengan urutan yang logis
       

 
  • Menyebutkan banyak benda sesuai dengan ciri tertentu dengan bahasa yang benar dan  logis
       

 
  • Mendeskripsikan lambang bilangan dengan bahasa sederhana
       

 
  • Menuliskan lambang bilangan sesuai dengan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari
       

  1. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
4.1.  Mengemukakan kembali dengan kalimat sendiri dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan terkait dengan aktivitas sehari-hari di rumah, sekolah, atau tempat bermain serta memeriksa kebenarannya
  • Menentukan unsur/apa yang diketahui dari masalah yang berkaitan dengan penjumlahan atau pengurangan
  • Menulis model/kalimat matematika dari masalah yang berkaitan dengan penjumlahan
  • Menentukan penyelesaian dari masalah yang berkaitan dengan penjumlahan atau pengurangan
     

 
  • Menggambar/melukis berbagai bangun datar sederhana
     

 
  • Menata  dengan rapi benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan beratnya
     

 
  • Menata  dengan rapi benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan urutan kelompoknya
   

     
  • Meletakkan benda dengan tepat ke dalam kelompok benda sehingga rapi
   

     
4.2.  Membentuk berbagai bangun datar dengan menggunakan papan berpaku atau media lainnya
  • Menggambar/ membentuk berbagai segi banyak dengan menggunakan papan berpaku
   

     
  • Menyebutkan kesamaan dan perbedaan berbagai benda berbentuk segitiga atau segi empat
   

     
  • Menggambar/ membentuk segitiga atau segi empat dengan menggunakan alat sederhana yang memiliki ciri tertentu (misal tinggi sama atau ciri lainnya)
       

 
  • Menyebutkan ciri-ciri dari benda berbentuk segitiga atau segi empat
       

 
  • Menyebutkan kesamaan dan perbedaan berbagai benda berbentuk kubus atau balok
       

 
  • Menyebutkan ciri-ciri dari benda berbentuk kotak, bulat, dan tabung
       

 
4.3.  Menyatakan suatu bilangan asli sebagai hasil penjumlahan atau pengurangan dua buah bilangan asli lainnya dengan berbagai kemungkinan jawaban
  • Menyebut/membaca penjumlahan dua bilangan
     

   
  • Melakukan penjumlahan dua bilangan sampai 100 dengan prosedur yang benar sesuai nilai tempatnya
         

  • Menentukan urutan benda dari sekumpulan benda dalam barisan
         

  • Menyebutkan banyak benda dengan ciri tertentu dari sekumpulan benda
         

  • Melakukan pengurangan dua bilangan sampai 100 dengan prosedur yang benar sesuai nilai tempatnya
         

  • Melakukan penjumlahan  dan pengurangan dua buah bilangan asli
       

 
  • Melakukan penjumlahan dan pengurangan yang melibatkan tiga bilangan atau lebih sampai 100 dengan prosedur yang benar sesuai nilai tempatnya
       

 
4.4.  Melakukan pengubinan dari bangun datar sederhana tertentu

 

  • Melakukan pengubinan dari bangun datar sederhana dengan bantuan guru
       

 
  • Mengubin dan mewarnai bidang datar dengan bangun datar sederhana
       

 
  • Menghitung jumlah ubin yang diperlukan untuk mengubin suatu bidang tertentu
       

 
  • Menentukan dan menjelaskan berbagai bangun datar yang dapat atau tidak dapat membentuk pengubinan
         

  • Menggambar/melukis pengubinan dari bangun datar sederhana tertentu
         

4.5.  Membentuk dan menggambar bangun baru dari bangun-bangun datar atau pola bangun datar yang sudah ada

 

  • Menggambar/melukis berbagai bangun datar sederhana
         

  • Menggambar/ membentuk segitiga atau segi empat dengan menggunakan alat sederhana yang memiliki ciri tertentu (misal tinggi sama atau ciri lainnya)
         

  • Membentuk danmenggambar bangun baru dari bangun datar dengan pola yang sudah ditentukan oleh guru
     

   
 
  • Menggambar / membentuk segiempat dengan ciri tertentu (misal tinggi sama atau ciri lainnya) dengan menggunakan papan berpaku
       

 
 
  • Menyusun sebarisan bilangan dengan kriteria atau aturan yang diberikan
         

  • Menjelaskan hasil pengamatan dari pola sebarisan bilangan
         

  • Menempatkan bilangan yang tepat pada sebarisan bilangan sesuai dengan polanya
         

4.6.     Membaca dan mendeskripsikan data pokok yang ditampilkan pada grafik konkrit dan piktograf
  • Mendeskripsikan data pokok pada grafik dan piktograf
               
4.7.     Mengumpulkan dan mengelola data pokok kategorikal dan menampilkan data menggunakan grafik konkrit dan piktograf tanpa menggunakan urutan label pada sumbu horizontal
  • Mengelola data pokok kategorikal menggunakan grafik dan piktograf
               
4.8.     Mengurai sebuah bilangan asli sampai dengan 99 sebagai hasil penjumlahan atau pengurangan dua buah bilangan asli lainnya dengan berbagai kemungkinan jawaban
  • Menuliskan bentuk penjumlahan atau pengurangan dari kegiatan /kejadian sehari/hari yang berkaitan dengan penjumlahan atau pengurangan angka 1-99.
         

  • Melakukan penjumlahan dua bilangan sampai 100 dengan prosedur yang benar sesuai nilai tempatnya Melengkapi pola-pola bilangan sederhana menggunakan gambar/benda konkrit
         

  4.9.     Mengelompokkan teman sekelas berdasarkan tinggi badannya
  • Meletakkan benda dengan tepat ke dalam kelompok benda sehingga rapi berdasarkan tinggi benda
     

   
  • Melakukan aktivitas kelompok berdasarkan tinggi badan anggota kelompoknya
     

   
4.10. Mendeskripsikan, mengembang kan, dan membuat pola yang berulang
  • Menjelaskan hasil pengamatan dari pola dari benda-benda di lingkungan sekitar
     

   
4.11. Menggunakan benda konkrit untuk menelusuri pecahan dan jumlah uang
  • Menentukan nilai tempat puluhan dan satuan dari bilangan dua angka dengan menggunakan benda konkrit
       

 
SENI BUDAYA dan PRAKARYA                
  1. Menerima, dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
1.1    Merasakan keindahan alam sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaan Tuhan
  • Memiliki kepekaan terhadap keindahan alam hasil ciptaan Tuhan
 

         
  • Mengungkapkan perasaan syukur pada Tuhan atas anugerah keindahan alam
 

   

   
  • Memiliki kepekaan terhadap keindahan alam hasil ciptaan Tuhan
 

   

   
  1. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru
2.1.  Menunjukkan rasa percaya diri untuk berlatih mengekspresikan diri dalam mengolah karya seni
  • Menjelaskan keindahan-keindahan alam dan karya seni sebagai anugerah Tuhan
 

   

   
  • Memutuskan karya yang akan dibuat atau      ditampilkan
 

   

   
2.2.  Menunjukkan rasa ingin tahu untuk mengenal alam di lingkung an sekitar sebagai sumber ide dalam berkarya seni
  • memperhatikan lingkungan sekitar secara seksama
     

   
  • merawat lingkungan sekitar secara sadar
         

  • Memanfaatkan lingkungan alam sekitar sebagai sumber ide dalam menyanyikan lagu dan mewarnai gambar.
         

  • Memanfaatkan lingkungan alam sekitar sebagai sumber ide dalam menyanyikan lagu dan mewarnai gambar.
         

  • Memanfaatkan lingkungan alam sekitar sebagai sumber ide dalam menyanyikan lagu dan mewarnai gambar.
         

  • Memanfaatkan lingkungan alam sekitar sebagai sumber ide dalam menyanyikan lagu dan mewarnai gambar.
         

  • Memperagakan gerak dengan percaya diri
   

   
2.3.  Menunjukkan perilaku disiplin, tanggung jawab dan kepedulian terhadap alam sekitar melalui berkarya seni
  • menunjukkan kepedulian pada alam lingkungan sekitar dengan berkarya
  • Menggambar dengan mengolah garis, warna dan bentuk berdasarkan hasil pengamatan di lingkungan sekolah
         

  1. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan sekolah
3.1.  Mengenal cara dan hasil gambar ekspresi
  • Menunjukkan warna pokok (sbdp)
  • Mengikuti aturan dalam berkarya
   

   
3.2.  Mengenal  pola irama lagu bervariasi menggunakan alat musik ritmis

 

  • Mengenal judul lagu dan iringannya
  • Menyanyikan lagu dengan semangat
  • Menyanyikan lagu anak-anak sambil bertepuk sesuai irama ((SBDP)
  • Mengenal cara menggunakan media  gambar yang benar
   

   
  • Menyanyikan lagu wajib sambil bertepuk sesuai birama dan aksen
   

   
  • Memainkan pola irama lagu dengan alat musik ritmis
   

   
  • Menunjukan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar
   

   
3.3    Mengenal unsur-unsur gerak, bagian-bagian gerak anggota tubuh dan level gerak dalam menari

 

  • Melakukan berbagai gerak sesuai level gerak pada tari
  • Mempraktikan gerak melangkah ke berbagai arah berirama
  • Mempraktikan gerak melenggok ke berbagai arah berirama
         

         

         

3.4    Mengamati berbagai bahan, alat serta fungsinya dalam membuat prakarya            

   
3.5    Mengenal karya seni budaya benda dan bahasa daerah setempat
  • Menyebutkan contoh  karya seni budaya benda dan bahasa di lingkungan rumah
   

   
  1. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia
4.1.  Menggambar ekspresi dengan mengolah garis, warna dan bentuk  berdasarkan hasil pengamatan di lingkungan sekitar
  • Menampilkan karya sendiri tentang ekspresi diri
   

     
  • Melengkapi gambar dengan mengolah garis, warna dan bentuk berdasarkan hasil pengamatan di lingkungan sekolah
 

       
  • Membedakan warna pokok dan warna sekunder
   

     
  • Mewarnai dengan warna pokok
   

     
  • Mewarnai dengan warna sekunder
   

     
4.2.  Membuat karya seni rupa dengan memanfaatkan berba gai teknik cetak sederhana menggunakan bahan alam
  • Membuat gambar cetak dengan teknik cap menggunakan bahan alam

 

     

   
4.3.  Menggambar dengan memanfa atkan beragam media kering
  • Menggambar sesuai tema yang ditentukan
     

   
  • Mengenal cara menggunakan media  gambar yang benar
     

   
  • Membuat gambar cetak dengan teknik cap menggunakan bahan alam
     

   
4.4.  Membentuk karya seni rupa dari bahan lunak
  • Membentuk benda kegemaran dari bahan lunak

 

         

  4.5.  Menyanyikan lagu anak-anak dan memperagakan tepuk birama dengan gerak
  • Menyanyikan lagu anak-anak dengan nada yang tepat.
   

  • Memainkan pola irama lagu dengan bertepuk

  • Menyanyikan lagu anak-anak sambil bertepuk sesuai irama

4.6.  Memainkan pola irama lagu bertanda birama dua dengan tepuk dan gerak
  • Menyanyikan lagu anak-anak sambil bertepuk sesuai irama
          .    
4.7.  Menyanyikan lagu anak-anak dan berlatih memahami isi lagu                  
4.8.  Memainkan pola irama lagu bertanda birama dua dan tiga dengan alat musik ritmis             .    
4.9.  Melakukan gerak kepala, tangan, kaki, dan badan berdasarkan pengamatan alam di lingkungan sekitar
  • Menyajikan rangkaian gerak alam sekitar

 

         

  • Menunjukkan gerakkan kepala, tangan, kaki dan badan sesuai irama hasil pengamatan di lingkungan sekitar
   

     
  • Menyebutkan berbagai gerak anggota tubuh

 

 

       
  • Melakukan berbagai gerak sesuai level gerak pada tari
     

   
4.10.  Menirukan gerak alam di lingkungan sekitar melalui gerak kepala, tangan, kaki, dan badan berdasarkan rangsangan bunyi
  • Menirukan suara  dan gerak  binatang dan alam  di lingkungan sekitar sesuai rangsangan bunyi
       

 
 
  • menunjukkan kepedulian pada alam lingkungan sekitar dengan berkarya
       

 
4.11.  Menirukan gerak alam di lingkungan sekitar dengan menggunakan level tinggi, sedang, dan rendah             .    
4.12.  Melakukan gerak alam di lingkungan sekitar dengan menggunakan level tinggi, sedang, dan rendah dengan iringan                  
4.13.  Membuat karya kreatif dengan menggunakan bahan alam di lingkungan sekitar melalui kegiatan melipat, menggunting dan menempel
  • Membuat gambar cetak dengan teknik cap menggunakan bahan alam.
          .

4.14.  Membuat karya kreatif dengan mengolah bahan alam melalui kegiatan melipat, menggunting, dan menempel bentuk pola dan alur sederhana
  • Membuat benda sehari-hari dari bahan lunak buatan
           

4.15.  Membuat karya kreatif fungsional dari bahan lunak buatan             .    
4.16.  Menyajikan jenis bahan makanan umbi-umbian dengan olahan sederhana                  
4.17.  Menceritakan karya seni budaya benda dan bahasa daerah setempat                  
PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN (PENJASORKES)                
  1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
1.1. Menghargai tubuh dengan seluruh perangkat gerak dan kemampuannya sebagai anugrah Tuhan yang tidak ternilai
  • Menunjukkan perilaku bersyukur  dan menghargai setiap gerak dan aktivitasnya merupakan anugerah dari Tuhan
 

  .    
  1. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman , dan guru
2.1    Menunjukkan perilaku percaya diri dalam melakukan berbagai aktivitas fisik dalam bentuk permainan
  • Menunjukkan  perilaku percaya diri dalam melakukan aktivitas fisik dalam bentuk permainan.
   

   
  • Mampu menampilkan unjuk kerja gerak tanpa ragu

 

     

   
  • Mampu melakukan aktivitas yang ditugaskan tanpa rasa takut
       

 
  • Menunjukkan kerjasama, percaya diri  selama mempraktikkan aktivitas gerak  dasar non-lokomotor
     

   
2.2    Menunjukkan perilaku santun kepada teman dan guru selama pembelajaran penjas
  • Bersikap santun kepada  guru dan teman selama pembelajaran

  • Melakukan aktivitas yang ditugaskan oleh guru dengan patuh dan bersikap santun

  • Mengikuti  instruksi guru dengan benar

  • Menunjukkan  kerjasama dengan teman ketika mengikuti instruksi guru

  • Membedakan  gerakan menendang, melempar, dan menangkap
         

  1. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan sekolah
3.1      Mengetahui bagian-bagian tubuh manusia dan kegunaannya
  • Mengidentifikasi bagian-bagian tubuh manusia
         

   
Mendeskripsikan kegunaan bagian-bagian tubuh manusia          

   
3.2      Mengetahui dampak jangka pendek melakukan aktivitas fisik

 

  • Menyebutkan contoh dampak melakukan aktivitas fisik di rumah
           

 
  • Menyebutkan contoh aktivitas olahraga di rumah dan di rumah
               
  • Melakukan permainan sederhana
               
  • Menyebutkan contoh aktivitas olahraga di rumah dan di sekolah
               
  • Melakukan kebugaran di sekolah dengan tangkas dan cepat
               
  • Memperagakan prilaku budaya hidup sehat (PMR atau UKS)
               
3.3      Memahami pengertian pola gerak dasar seperti gerak lokomotor, non-lokomotor dan manipulatif

 

  • mempraktikan gerakan pada pola gerak dasar dengan cara mengangkat kedua tangan di atas kepala.
               
  • Membedakan gerakan jalan, lari, dan melompat
               
  • Membedakan gerakan membungkuk, membalik, dan meliuk
               
  • Menunjukkan kerjasama, percaya diri  selama mempraktikkan aktivitas gerak  dasar non-lokomotor
               
3.4      Mengetahui cara menjaga  kebersihan diri yang meliputi kebersihan badan, kuku, kulit, gigi, rambut, hidung, telinga, tangan dan kaki  serta pakaian

 

 

 

  • Melakukan perawatan kebersihan badan: rambut, tangan, dan kaki
          .    
  • Menyebutkan alasan mengapa harus mandi, potong kuku, sikat gigi.
               
  • Melakukan perawatan kebersihan badan dan lingkungan sekitar
               
  • Menceritakan cara merawat badan/diri sendiri agar tetap bersih dan sehat
               
  • Melakukan praktik menggosok gigi, potong kuku
               
  1. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia
4.1      Mempraktikkan pola gerak dasar lokomotor yang dilandasi konsep gerak (seperti konsep: tubuh, ruang, hubungan, dan usaha) dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau tradisional

 

  • Mempraktikan gerak melangkah ke berbagai arah berirama
          .    
  • Mempraktikkan gerak ke kanan dan ke kiri dengan iringan lagu anak
               
  • Memperagakan gerak cepat dengan aba-aba guru
               
  • Memperagakan gerak keseimbangan di tempat
               
  • Memperagakan gerak keseimbangan berjalan
               
  • Memperagakan gerak cepat dengan aba-aba teman
               
  • Memperagakan gerak dasar melemparkan benda
               
  • Memperagakan gerak dasar menangkap benda
               
4.2      Mempraktikkan pola gerak dasar non-lokomotor yang dilandasi konsep gerak dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau permainan tradisional

 

                 
4.3      Mempraktikkan pola gerak dasar manipulatif yang dilandasi konsep gerak dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau permainan tradisional
  • menunjukan kerjasama percayadiri selama melakukan aktivitas gerak dasar manipulatif

 

          .    
4.4      Mempraktikkan aktivitas jasmani untuk keseimbangan dan kelincahan tubuh melalui permainan sederhana
  • Menyebutkan contoh-contoh permainan sederhana yang dilakukan di sekolah.
               
  • Melakukan aktivitas jasmani untuk kesimbang an tubuh melalui macam-macam permainan
               
4.5      Mempraktikkan  berbagai pola gerak dominan dalam senam (seperti menolak, mendarat, lokomotor, berputar, dan mengayun) dan  berbagai pola gerak dominan posisi statis (misalnya; tumpu lengan depan/belakang/samping, bergantung , sikap kapal terbang, berdiri dengan salah satu kaki)             .    
  4.6      Mempraktikkan pola gerak dasar senam sederhana menggunakan pola lokomotor dan non-lokomotor yang dilandasi konsep gerak mengikuti irama (ketukan) tanpa/dengan musik                  
  4.7      Mempraktikkan berbagai bentuk permainan pengenalan air                  

 

SILABUS  KELAS: 1

TEMA: LINGKUNGANKU BERSIH DAN SEHAT

Kompetensi Dasar

Indikator

Kegiatan Pembelajaran dan Penilaian

Alokasi waktu

Sumber belajar

PPKn

  • Menunjukkan perilaku baik (jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli/kasih sayang, dan percaya diri) dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru, sebagai perwujudan nilai dan moral Pancasila. (KI-2,KD-1)

 

 

 

 

  • Memiliki sikap dan perilaku patuh pada tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sekolah. (KI-2,KD-2)
 

  • Menyebutkan perilaku baik (jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli/kasih sayang, dan percaya diri) dalam berinteraksi dengan keluarga
  • Menyebutkan perilaku baik (jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli/kasih sayang, dan percaya diri) dalam berinteraksi dengan teman.
  • Menyebutkan perilaku baik (jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli/kasih sayang, dan percaya diri) dalam berinteraksi dengan guru

 

  • Memberikan contoh sikap perilaku patuh pada aturan/kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari – hari di rumah.

 

  • Memberikan contoh sikap perilaku patuh pada aturan/kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari – hari di sekolah.
Kegiatan pembelajaran pada tema ini akan ditempuh dalam 4 minggu

 

●  MINGGU PERTAMA

 

  1. Membiasakan berdoa sebelum dan sesudah belajar sesuai dengan agama yang dianutnya

 

  1. Mendengarkan doa yang ucapkan oleh guru dan mengikutinya

 

  1. Menyanyikan lagu ”Lihat Kebunku”
  2. Menceritakan isi lagu “Lihat Kebunku”
  3. Mendengarkan  cerita tentang keadaan lingkungan di sekitar rumah atau sekolah
  4. Membiasakan berperilaku terpuji seperti perilaku yang ada dalam lagu tersebut
  5. Menyebutkan perilaku-perilaku terpuji yang lain yang perlu dilakukan peserta didik agar lingkungan hidupnya menjadi bersih
  6. Menyebutkan kegiatan di rumah dan di sekolah yang menyebabkan lingkungan menjadi sehat
  7. Mengamati lingkungan yang sehat dan tidak sehat di dan menceritakan hasil pengamatannya dengan mengisi data yang telah disiapkan guru
  8. Menjelaskan ciri-ciri lingkungan sehat dengan kata dan intonasi yang baik
  9. Mengamati diri sendiri atau teman dan menunjukkan bagian tubuh, yaitu kepala, badan dan kaki.
  10. Mengamati kepala dan menyebutkan bagian tubuh yang terdapat di kepala, yaitu rambut, telinga, mata, hidung, lidah dan gigi.
  11. Tanya jawab tentang kegunaan rambut, telinga, mata, hidung, lidah dan gigi serta cara merawatnya.
  12. Memperagakan cara menggosok gigi yang benar.
  13. Mengamati gambar/film yang menunjukkan lingkungan sehat (taman yang asri, kebun teh, persawahan, dsb)  dan lingkungan tidak sehat (tumpukan sampah, air kotor, jalanan yang macet penuh asap kendaraan, dsb)  lalu anak diminta menunjukkan lingkungan sehat dan tidak sehat serta alasan.
  14. Menggali pengalaman anak tentang apa yang dirasakan ketika berada di lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat.
  15. Menceritakan benda-benda di sekitar ruang kelas meliputi: letaknya, warna, dan bentuknya
  16. Mengemukakan cara/bagaimana mengatur benda-benda agar tertata rapi
  17. Mengatur dengan rapi secara berkelompok melalui berbagi tugas menata benda-benda berdasarkan ukuran
  18. Mengatur dengan rapi secara berkelompok melalui berbagi tugas menata benda-benda berdasarkan berat
  19. Berjalan mundur di atas garis lurus dengan langkah pendek
  20. Berlomba dengan bola yang digulirkan teman

 

  1. Bermain mengayun lengan kanan, kiri depan dan belakang menggunakan syal lengan teman di depannya dengan percaya diri

 

  1. Mengajak siswa mengamati alam sekitar dan mendiskusikan tentang bagaimana melakukan perawatan terhadap ciptaan Tuhan
  2. Melakukan ibadah dan doa syukur kepada Tuhan

PENILAIAN

1. Lisan

2. Unjuk kerja

3. Pengamatan

4. Tertulis

 

 

● MINGGU KEDUA

 

  1. Membiasakan berdoa sebelum dan sesudah belajar sesuai dengan agama yang dianutnya

 

  1. Mendengarkan doa yang ucapkan oleh guru dan mengikutinya

 

  1. Mengamati diri sendiri atau teman dan menunjukkan bagian tubuh, yaitu kepala, badan dan kaki.
  2. Mengamati kepala dan menyebutkan bagian tubuh yang terdapat di kepala, yaitu rambut, telinga, mata, hidung, lidah dan gigi.
  3. Tanya jawab tentang kegunaan rambut, telinga, mata, hidung, lidah dan gigi serta cara merawatnya.
  4. Tanya jawab mengenai bagaimana menjaga kebersihan rambut, telinga, mata, hidung, mulut dan gigi.
  5. Memperagakan cara menggosok gigi yang benar.
  6. Memperagakan cara mencuci tangan yang bersih
  7. Tanya jawab mengenai tujuan mencuci tangan dan melaksanakan gerakan cuci tangan sebelum makan
  8. Mengamati benda-benda di lingkungan sekitar dan menyebutkan bentuknya (bulat, segitiga, tabung, kubus, kotak, balok, dsb).
  9. Menjiplak gambar benda yang berbentuk (bulat, segitiga, tabung, kubus, kotak, balok, dsb)
  10. Mengamati benda-benda di lingkungan sekitar dan mengolongkan ke dalam benda padat, cair dan gas.
  11. Mengamati ciri-ciri benda padat dan benda cair serta menceritakannya kepada teman
  12. Mengamati perubahan wujud benda padat menjadi benda cair (es mencair), benda cair menjadi gas (air mendidih) dan benda cair menjadi benda padat (es membeku) serta menceritakannya kepada teman.

 

  1. Mendengarkan cerita yang dibacakan guru/membacarkan cerita secara bergantian di depan kelas
  2. Menentukan sifat-sifat tokoh
  3. Menentukan tempat dalam cerita
  4. Mendiskusikan urutan/jalan cerita yang telah dibacakan
  5. Mengamati benda-benda di lingkungan sekitar dan menyebutkan bentuknya (bulat, segitiga, tabung, kubus, kotak, balok, dsb).
  6. Menjiplak gambar benda yang berbentuk (bulat, segitiga, tabung, kubus, kotak, balok, dsb)
  7. Menceritakan benda-benda di sekitar ruang kelas meliputi: letaknya, warna, dan bentuknya
  8. Mengemukakan cara/ bagaimana merawat benda-benda bersih dan rapih
  9. Mengatur dengan rapi secara berkelompok melalui berbagi tugas menata benda-benda berdasarkan ukuran
  10. Mengatur dengan rapi secara berkelompok melalui berbagi tugas menata benda-benda berdasarkan berat
  11. Menangkap bola/benda yang dilambungkan sendiri
  12. Melemparkan bola/benda sejauhnya menggunakan tangan kanan dan tangan kiri  dengan percaya diri
  13. Mengenal berbagai bahan alam  dilingkungan sekitar yang dapat dimanfaatkan untuk berkarya
  14. Melakukan kegiatan lipat, gunting dan tempel dalam membuat karya
  15.  Membuat karya kreatif dengan memanfaatkan bahan alam dilingkungan sekitar

 

PENILAIAN

 1. Lisan

2. Unjuk kerja

3. Pengamatan

4. Tertulis

 

 

MINGGU KETIGA

  1. Membiasakan berdoa sebelum dan sesudah belajar sesuai dengan agama yang dianutnya

 

  1. Mendengarkan doa yang diucapkan oleh guru dan mengikutinya
  2. Mengamati benda-benda di lingkungan sekitar dan mengolongkan ke dalam benda padat, cair dan gas.
  3. Mengamati ciri-ciri benda padat dan benda cair serta menceritakannya kepada teman
  4. Mengamati perubahan wujud benda padat menjadi benda cair (es mencair), benda cair menjadi gas (air mendidih) dan benda cair menjadi benda padat (es membeku) serta menceritakannya kepada teman.
  5. Mengamati letak rumah dari sisi kiri, kanan, depan dan belakang
  6. Menggambar hasil pengamatan tentang  letak rumah
  7. Bercerita dengan kalimat sederhana posisi rumah yang berbatasan dengan tetangga, jalan, warung, kantor atau rumah ibadat.
  8. Mengamati batas-batas sekolah dari sisi kiri, kanan, depan dan belakang
  9. Bercerita dengan kalimat sederhana letak sekolah dan batas-batasnya
  10. Mengamati lingkungan sekolah dengan cara berjalan dan melakukan pengamatan secara berkelompok
  11. Menceritakan tentang  masalah kebersihan dan kesehatan yang ada di sekitar lingkungan sekolah
  12. Tanya jawab mengenai cara menanggulanginya dan memberikan saran-saran
  13. Mengidentifikasi benda-benda yang ada di sekitarnya dan perbedaanya dengan mahluk hidup
  14. Mendiskusikan mengenai cara menjaga lingkungan kelas, misalnya dengan melakukan cara-cara membersihkannya atau cara menatanya kembali agar lebih sedap dipandang.
  15. Melakukan penataan barang-barang yang ada di sekitar ruang kelas
  16. Melaporkan atau menceritakan hasil penataan benda-benda di sekitar ruang kelas
  17. Menimbang benda secara manual benda-benda dan membandingkan antara yang berat dan ringan di sekitarnya
  18. Melakukan  penimbangan berat benda dengan timbangan atau neraca secara kelompok dilanjutkan secara individu
  19. Memperagakan gerak jalan, lari, dan diam berdasarkan aba-aba
  20. Memperagakan gerak berguling ke kiri/ke kanan dari posisi tidur telentang
  21. Melagukan pola irama rata dengan tempo tetap
  22. Melagukan pola irama rata dengan tempo tidak tetap
  23. Memainkan alat musik ritmis sederhana secara kelompok dan bersama
  24. Menebak judul lagu yang dinyanyikan guru

PENILAIAN

 1. Lisan

2. Unjuk kerja

3. Pengamatan

4. Tertulis

 

MINGGU KEEMPAT

  1. Membiasakan berdoa sebelum dan sesudah belajar sesuai dengan agama yang dianutnya

 

  1. Mendengarkan doa yang ucapkan oleh guru dan mengikutinya
  2. Mengamati gambar/film yang menunjukkan lingkungan sehat (taman yang asri, kebun teh, persawahan, dsb)  dan lingkungan tidak sehat (tumpukan sampah, air kotor, jalanan yang macet penuh asap kendaraan, dsb)  lalu anak diminta menunjukkan lingkungan sehat dan tidak sehat serta alasan.

 

  1. Menggali pengalaman anak tentang apa yang dirasakan ketika berada di lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat.

 

  1. Membiasakan membaca dengan sikap yang benar jarak bacaan
  2. Membiasakan membaca dengan jarak bacaan, letak teks, cahaya yang cukup dan sikap duduk yang benar
  3. Membiasakan menulis dengan sikap yang benar
  4. Membiasakan menulis dengan jarak mata, letak buku, pegangan alat tulis, cahaya yang cukup dan sikap duduk yang benar
  5. Menulis kalimat sederhana berkenaan dengan Lingkungan Bersih yang dibacakan guru dengan huruf lepas tegak dan . pemisahan kata yang tepat
  6. Menaksir berat suatu benda secara individual dan kelompok dan membuktikan dengan timbangan yang benar
  7. Menentukan tempat/wadah yang dapat ditempatkan suatu benda satuan maupun sekumpulan benda dengan wadah yang sesuai
  8. Meletakkan benda-benda secara berurutan dari yang paling berat ke yang ringan atau sebaliknya.
  9. Menggambar bangun-bangun datar dengan pola yang teratur
  10. Menata bangun-bangun datar yang digambar sesuai urutan segi tiga dan segi empat
  11. Melaporkan hasil susunan bangun datar yang telah disusun
  12. Meletakkan bangun datar pada tempat/ bingkai yang sesuai denga polanya
  13. Menyimpulkan hasil pengamatan pola bangun datar secara berkelompok
  14. Memperagakan gerak bertumpu dengan menggunakan kedua tangan dengan percaya diri
  15. Memperagakan gerak mengayun lengan atas –bawah, kanan –kiri sambil membilang
  16. Memperagakan gerak berjalan, melenggok, dan mengayun tungkai dalam kelompok besar dengan menunjukkan kerja sama.

 

  1. Melakukan kegiatan melipat dan menggunting dalam membuat karya seni
  2. Membuat karya kreatif dari bahan alam melalui mencetak dengan tema Lingkungan Bersih

PENILAIAN

1. Lisan

2. Unjuk kerja

3. Pengamatan

4. Tertulis

 

 

 

35 menit x 30 JP x 4 minggu

  1. Diri anak
  2. Lingkungan keluarga
  3. Lingkungan sekolah
  4. Buku Tematik

Kelas I

  1. Buku Pengembangan Diri Anak
  2. Video/slide/gambar tentang teknik cetak sederhana dan bentuk pola dan alur sederhana gunting, lipat dan tempel
  3. Gambar/contoh langsung karya cetak  dengan berbagai bahan alam dan bentuk
  4. Gambar/contoh langsung hasil karya gunting, lipat dan tempel dengan berbagai bentuk pola dan alaur sederhana
  5. Buku kirigami (seni mengunting)
  • Mengetahui tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sekolah (KI-3, KD-2)
  • Menyebutkan contoh – contoh aturan/kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari – hari di rumah.
 

  • Menyebutkan contoh – contoh tata tertib yang berlaku dalam kehidupan sehari – hari di sekolah
 
  1. Buku Pengembangan Diri Anak
BAHASA INDONESIA

  • Membacakan doa dengan pengucapan yang baik (KI-1,KD-3)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Mendengarkan cerita dan puisi tentang perilaku terpuji (perhatian pada sesama makhluk hidup dan lingkungannya) (KI-1, KD-4)
    • Bersikap khusuk (menjaga keheningan) dalam mendengarkan doa
    • Mengambil sikap duduk atau berdiri dengan berdiam diri
    • Mencontoh kata-kata dalam doa yang didengar pada saat berdoa sendiri
    • Melafalkan kata-kata teks doa dengan jelas
      • Melafalkan kata-kata teks doa dengan intonasi yang sesuai
 

  • Mengenali perilaku terpuji dari cerita yang dibacakan
  • Mengenali perilaku terpuji dari puisi yang dibacakan
   
  • Menunjukkan perilaku pola hidup sehat (perawatan tubuh, pemenuhan gizi, lingkungan yang sehat, main dan istirahat yang cukup) dan menyayangi makhluk hidup (KI-2, KD-3)
    • Menyebutkan bagian-bagian tubuh (kepala,   badan, dan kaki)
    • Menyebutkan bagian tubuh yang terdapat di kepala (rambut, telinga, hidung, lidah, kulit dan gigi) dan kegunaannya
    • Membiasakan merawat tubuh secara teratur dan benar, misalnya: mandi, menggosok gigi, membersihkan hidung, menggunting kuku, dan cuci tangan sebelum makan.
    • Menyebutkan kapan harus mandi, makan, sikat gigi dan cuci tangan.
    • Menyebutkan kebutuhan tubuh agar tetap sehat, yaitu : main dan istirahat/tidur yang cukup, makan makanan bergizi, minum yang cukup, udara dan lingkungan bersih.
    • Membedakan lingkungan sehat dan tidak sehat
   
  • Mengenali melalui pengamatan terhadap objek, bentuk benda, wujud benda, serta perubahan benda yang berada di sekitar rumah, jalan, dan sekolah (KI-3, KD-1)
  • Memahami isi cerita melalui mendengarkan cerita yang dibacakan orang lain  dengan penuh perhatian dan mengajukan pertanyaan (KI-3, KD-2)

 

  • Menyebutkan contoh benda berbentuk bulat, segitiga, tabung, kubus, kotak, dan balok.
  • Menyebutkan contoh benda padat dan benda cair yang ada di lingkungan sekitar.
  • Membedakan benda padat dan benda cair berdasarkan ciri-cirinya
  • Mencari contoh benda padat yang dapat berubah wujud menjadi benda cair dan sebaliknya.

 

 

 

  • Menyebutkan nama-nama tokoh dalam cerita
  • Menyebutkan nama-nama tempat dalam cerita
  • Menyebutkan urutan peristiwa
  • Mengajukan pertanyaan berkenaan dengan sifat-sifat tokoh

 

 

   
  • Berkomunikasi secara lisan dengan orang lain dengan menggunakan informasi tentang data diri, bagian tubuh  dan kebutuhan tubuh, lingkungan dan pola hidup sehat,   lingkungan sekitar , buah, tanaman, dan masakan (KI-4, KD-1)
  • Menceritakan hasil pengamatan di rumah, jalan, sekolah dengan kalimat sederhana (KI-4, KD-2)
  • Mengamati tentang diri, makhluk hidup dan benda di sekitar dan menceritakan kepada orang lain (KI-4, KD-5)
  • Menulis kalimat pendek (2–4 kata) yang didiktekan guru dengan huruf  lepas (KI-4, KD-7)
  • Menerapkan cara membaca (permulaan) dengan cara yang benar (cara duduk, jarak mata dan buku, cara memegang buku, cara membalik halaman buku, memilih tempat dengan cahaya yang  terang) (KI-4, KD-8)
  • Menerapkan cara menulis (permulaan) dengan benar (cara duduk, cara memegang pensil, cara meletakkan buku, jarak mata dan buku, dan memilih tempat dengan cahaya yang terang) (KI-4, KD-9)
    • Menyebutkan nama diri
      • Menyebutkan bagian-bagian tubuh (kepala,   badan, dan kaki)
      • Menyebutkan bagian tubuh yang terdapat di kepala (rambut, telinga, hidung, lidah, kulit dan gigi) dan kegunaannya
      • Membiasakan merawat tubuh secara teratur dan benar, misalnya: mandi, menggosok gigi, membersihkan hidung, menggunting kuku, dan cuci tangan sebelum makan.
      • Menyebutkan kapan harus mandi, makan, sikat gigi dan cuci tangan.
      • Menyebutkan kebutuhan tubuh agar tetap sehat, yaitu : main dan istirahat/tidur yang cukup, makan makanan bergizi, minum yang cukup, udara dan lingkungan bersih.
      • Membedakan lingkungan sehat dan tidak sehat
      • Menceritakan posisi batas rumah (tetangga/ jalan,/kantor, dll)
        • Menceritakan dengan kalimat sederhana hasil pengamatan  tentang letak sekolah
        • Menyebutkan bagian-bagian tubuh dirinya
        • Menyebutkan bagian-bagian tubuh hewan dan tumbuhan yang utama
        • Menceritakan bagian-bagian tubuh  dirinya dan makhluk hidup dengan bahasa sederhana dan sopan
        • Menceritakan benda-benda yang terdapat di sekitarnya dengan bahasa yang sederhana dan sopan
 

  • Menulis dengan tepat kalimat yang didengar dari guru dengan huruf lepas tegak
  • Menuliskan kalimat yang didiktekan guru dengan pemisahan kata yang tepat

 

  • Berposisi duduk secara benar
    • Meletakkan bacaan dengan jarak mata yang benar
    • Memegang teks bacaan dengan tepat
    • Membalik halaman buku dengan benar
    • Memilih tempat membaca dengan cahaya yang terang

 

 

  • Berposisi duduk secara benar
  • Meletakkan buku dengan jarak mata yang benar
  • Memegang alat tulis dengan tepat
  • Memilih tempat menulis dengan cahaya yang terang
  • Menulis huruf lepas
  • Merangkai huruf menjadi kata

 

 

 

 

   
MATEMATIKA

  • § Menunjukkan perilaku rapi dengan menata benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan dimensi (bangun datar, bangun ruang), beratnya, atau urutan kelompok terkecil sampai terbesar
  • § menata dengan rapi benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan ukurannya
  • § menata dengan rapi benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan beratnya
  • § menata dengan rapi benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan urutan kelompoknya
  • § Meletakkan benda dengan tepat ke dalam kelompok benda sehingga rapi
  • § menata dengan rapi benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan ukuran bentuk permukaannya
  • § menata dengan rapi benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan kriteria lainnya (warna atau lainnya)
   
  • § Membandingkan dengan memperkirakan berat suatu benda  menggunakan istilah sehari-hari (lebih berat, lebih ringan)
  • § Memberi contoh benda yang lebih berat atau lebih ringan dari benda lain dengan membandingkannya secara manual (memegang) atau menggunakan alat
  • § Mengukur berat benda dengan satuan tak baku menggunakan timbangan, jungkat jungkit, atau neraca
  • § Memilih jenis tas, wadah atau tempat yang digunakan untuk menaruh benda atau sekelompok benda sesuai dengan beratnya
   
  • § Menentukan pola dari sebarisan bangun datar sederhana
  • § Menyusun sebarisan bangun datar sederhana dengan kriteria atau aturan yang diberikan
  • § Menjelaskan hasil pengamatan dari pola sebarisan bangun datar sederhana
  • § Menempatkan bangun datar yang tepat pada sebarisan bangun datar sederhana sesuai dengan polanya
  • § Menjelaskan hasil pengamatan dari pola dari benda-benda di lingkungan sekitar
   
  • PENJAS ORKES
     
  • Mempraktikkan pola gerak dasar lokomotor yang dilandasi konsep gerak  (konsep : tubuh, ruang, hubungan, dan usaha) dalam berbagai bentuk   permainan sederhana dan atau tradisional

 

  • Menunjukkan kerjasama, percaya diri  selama mempraktikkan aktivitas gerak kebugaran
   
  • Mempraktikkan pola gerak dasar non-lokomotor  yang dilandasi konsep gerak dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau permainan tradisional
 

  • Memperagakan gerak dasar mengayun

 

   
  • Mempraktikkan pola gerak dasar manipulatif yang dilandasi konsep gerak dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau permainan tradisional

 

  • Memperagakan gerak dasar melemparkan benda

 

   
  • Mempraktikkan  berbagai pola gerak dominan dalam senam (mendarat, gerak berpindah, ayunan, putaran, tolakan, layangan dan ketinggian)

 

  • Mempraktikkan gerak melompat,  melayang di urada dan mendarat dengan ke dua kaki

 

   
  • Mempraktikkan pola gerak dasar  senam ritmik sederhana menggunakan pola lokomotor dan non-lokomotor yang dilandasi konsep gerak  mengikuti irama (ketukan) tanpa/dengan musik
    • Mempraktikan gerak melangkah ke berbagai arah berirama
     
  • SENI BUDAYA
     
  • Merasakan keindahan alam dan karya seni sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan (KI-1,KD-1)
  • Memiliki kepekaan terhadap keindahan alam hasil ciptaan Tuhan
 

  • Menjelaskan keindahan-keindahan alam dan karya seni sebagai anugerah Tuhan
   
  • Menunjukkan percaya diri untuk mengekspresikan diri dalam berkarya, bernyanyi, dan menari (KI-2,KD-1)
  • Mengenal tanggung jawab dan peduli terhadap alam lingkungan sekitar melalui berkarya (KI-2,KD-4)
  • menampilkan karyanya sendiri didepan temannya
  • mengungkapkan pendapat  di depan kelompok
  • memutuskan karya apa yang akan dibuatnya
  • memperhatikan lingkungan sekitar secara seksama
  • merawat lingkungan sekitar secara sadar
  • menunjukkan kepedulian pada alam lingkungan sekitar dengan berkarya
menunjukkan sikap tanggung jawab pada alam lingkungan sekitar dengan berkarya    
  • Mengenal pola irama lagu bervariasi dengan alat musik ritmis (KI-3,KD-2)
  • Mengamati berbagai bahan, alat, serta fungsi dalam membuat karya (KI-3,KD-4)
  • Menyebutkan pola irama rata
  • Membedakan pola irama rata
  • Menyebutkan alat-alat musik ritmis sederhana
  • Mengenal judul lagu dan iringannya
  • Mengidentifikasi bahan alam yang sesuai untuk kegiatan lipat gunting-tempel
  • Membedakan berbagai bahan alam, alat serta fungsi dalam membuat karya
  •  Membuat rancangan gambar pembuatan karya kreatif
   
  • Memainkan pola irama  lagu bertanda birama dua dengan tepuk dan gerak (KI-4,KD-6)
    • Membentuk karya seni dari bahan lunak (KI-4, KD-4)
     

 


 


Submateri Pelatihan 1.4: Strategi Implementasi Kurikulum 2013

 

Langkah Kegiatan Inti

 

Pemaparan oleh Instruktur

Diskusi Kelas

Merangkum Hasil Diskusi Kelas

Refleksi dan umpan balik untuk seluruh materi pelatihan

10 Menit

20 Menit

10 Menit

15 Menit

 

 

Pemaparan

Paparan oleh fasilitator tentang Strategi Implementasi Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1.4

 

Diskusi Kelas

Mendiskusikan elemen penting dalam implementasi kurikulum 2013, meliputi berikut ini.

  1. Peran guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan guru BK.
  2. Dukungan manajemen sekolah atau kultur sekolah dalam mensukseskan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013.
  3. Dukungan dinas pendidikan kabupaten/kota dan organisasi profesi dalam implementasi kurikulum 2013.

 

Membuat Rangkuman

Instruktur merangkum semua materi pelatihan Konsep Kurikulum yang telah disampaikan selama 4 JP sebagai kegiatan penutup.

 


 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

MATERI PELATIHAN 2ANALISIS MATERI AJAR

2.1      Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu

2.2      Konsep Pendekatan Scientific

2.3                  Konsep Penilaian Autentik

2.4      Analisis Buku Guru dan Siswa

 

 

  

 

 

BAGIAN III

 

 

 


  1. E.          

MATERI PELATIHAN 2ANALISIS MATERI AJAR

 

  1. A.        KOMPETENSI

Peserta pelatihan dapat:

  1. mendeskripsikan konsep pembelajaran tematik terpadu;
  2. mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran tematik terpadu;
  3. mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar;
  4. menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL, KI, dan KD;
  5. menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi;
  6. menguasai secara utuh materi, struktur, dan pola pikir keilmuan materi pelajaran;
  7. menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ilmu lain serta kehidupan sehari-hari; dan
    1. memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.

 

  1. B.        LINGKUP MATERI
    1. Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu
    2. Konsep Pendekatan Scientific
    3. Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran
      1. Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian,Kecukupan, dan Kedalaman Materi)

 

  1. C.        INDIKATOR
    1. Menerima konsep pembelajaran tematik terpadu dan menghargai pendapat orang lain.
    2. Menjelaskan konsep pembelajaran tematik terpadu.
    3. Menjelaskan pemetaan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran tematik terpadu.
    4. Menjelaskan keterkaitan antara jaringan tema, silabus, RKH, dan RPP.
    5. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain.
    6. Menjelaskan konsep pendekatan scientific.
    7. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran tematik terpadu.
    8. Menerima penerapan konsep penilaian autentik  di sekolah/madrasah dan menghargai pendapat orang lain.
    9. Menjelaskan konsep  penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.
    10. Menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL, KI, dan KD secara teliti dan serius.
    11. Mengidentifikasi kesesuaian  isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL, KI, dan KD.
    12. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa.
    13. Menganalisis kesesuaian proses, pendekatan belajar, serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku.
    14. Menjelaskan secara utuh materi, struktur, dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa.
    15. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.
      1. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.

 

  1. D.        PERANGKAT PELATIHAN
    1. Video Pembelajaran Tematik Terpadu
    2. Bahan Tayang
      1. Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu
      2. Implementasi Pembelajaran Tematik Terpadu
      3. Konsep Pendekatan Scientific
      4. Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Tematik Terpadu
      5. Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar
      6. Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Tematik Terpadu
      7. Analisis Buku Guru dan Buku Siswa
      8. Lembar Kerja
      9. Bahan Bacaan
        1. Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu
        2. Implementasi Pembelajaran Tematik Terpadu
        3. Konsep Pendekatan Scientific
        4. Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran
        5. Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar
        6. Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Tematik Terpadu
        7. ATK

 


 

SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN

MatERI PELATIHAN: 2. analisis materi ajar

Alokasi Waktu:      12 JP (@ 45 Menit)

Jenjang:                    sd/mi

KELAS:                         i

TAHAPAN

KEGIATAN

DESKRIPSI KEGIATAN

WAKTU

 

PERSIAPAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran, seperti LCD Projector, Laptop, File, Active Speaker, dan Laser Pointer, atau media pembelajaran lainnnya.  
KEGIATAN PENDAHULUAN Pengkondisian Peserta 15 Menit
Perkenalan
Fasilitator menjelaskan nama, tujuan, kompetensi, indikator, alokasi waktu, dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Analisis Materi Ajar.
Fasilitator memotivasi peserta agar serius, antusias, teliti, dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung.
KEGIATAN INTI 2.1 Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu 90 Menit
Penayangan Video Pembelajaran Tematik di kelas 1 dengan menggunakan V-2.1 dan Video PembelajaranTematik Terpadu di kelas 1 dengan menggunakan V-2.1/4.1 20 Menit
Diskusi Kelompok untuk membandingkan pembelajaran tematik dengan tematik terpadu yang mengacu pada tayangan video, dilanjutkan dengan paparan materi oleh fasilitator tentang Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.1-1 dan Implementasi Pembelajaran Tematik Terpadu dengan menggunakan PPT-2.1-2. 25 Menit
Tanya jawab tentang konsep pembelajaran tematik terpadu dilanjutkan dengan menyimpulkan. 5 Menit
Diskusi hasil pemetaan KD dan indikator pembelajaran tematik terpadu. 15 Menit
Kerja kelompok tentang keterkaitan antara jaringan tema, silabus, RKH, dan RPP dengan menggunakan LK-2.1 20 Menit
ICE BREAKER 5 Menit
2.2 Konsep Pendekatan Scientific 90 Menit
Diskusi kelompok untuk mengkaji pendekatan scientific yang mengacu pada tayangan video tematik terpadu dilanjutkan dengan paparan materi oleh fasilitator tentang Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2.2.1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Tematik Terpadu dengan menggunakan PPT-2.2-2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi. 45 Menit
Diskusi kelompok tentang pendekatan scientific dengan menggunakan HO-2.2-1 dan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran tematik terpadu dengan mengacu pada HO-2.2. 45 Menit
2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran 90 Menit
Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk penilaian autentik. 15 Menit
Diskusi tentang konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 50 menit
Paparan materi tentang Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.3 dan Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Tematik Terpadu dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.3/3.2. 20 Menit
ICE BREAKER 5 Menit
2.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian,

     Kecukupan, dan Kedalaman Materi).

240 Menit
Menilai buku dilakukan oleh peserta dengan bimbingan fasilitator dilihat dari aspek kesesuaian, kecukupan, dan kedalaman materi. 20 Menit
Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan pemaparan materi analisis buku guru dan buku siswa dengan menggunakan PPT-2.4  yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. 80 Menit
Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar kerja yang telah disiapkan. 10 Menit
Kerja kelompok untuk menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL, KI, dan KD dengan menggunakan LK-2.4-1 dan LK -2.4-2. 40 Menit
ICE BREAKER 5 Menit
Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses, pendekatan belajar tematik terpadu, serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. 20 Menit
Kerja kelompok untuk membuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. 30 Menit
Presentasi hasil kerja kelompok. 20 Menit
Menyimpulkan materi analisis buku oleh fasilitator. 15 Menit
KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Analisis materi Ajar. 15 Menit

 

Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.
Fasilitator mengingatkankan peserta agar membaca referensi yang relevan.
Fasilitator menutup pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Submateri Pelatihan:   2.1 Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu

 

Langkah Kegiatan Inti

 

Penayangan Video

Diskusi Kelompok membanding-kan kedua video diselingi dengan paparan materi

Tanya Jawab dan kesimpulan

Diskusi Hasil Pemetaan KD dan Indikator

Kerja Kelompok Keterkaitan Tema, silabus, RKH, RPP

20 Menit

25 Menit

5 Menit

15 Menit

20 Menit

 

Penayangan Video

Penayangan Video Pembelajaran Tematik dan Video Pembelajaran Tematik Terpadu selama masing-masing 10 menit.

 

Tugas Selama Penayangan Video

  1. Memperhatikan dengan cermat tayangan video.
  2. Mencatat secara singkat butir-butir penting proses pembelajaran tematik dan tematik terpadu.

 

Diskusi Kelompok Tentang Tayangan Video

  1. Menganalisis masing-masing video pembelajaran tematik dan tematik terpadu.
  2. Membandingkan pembelajaran tematik dengan tematik terpadu sesuai dengan apa yang diamati dalam tayangan video
  3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya sambil kelompok lain memberikan tanggapan

 

Tanya Jawab

Tanya jawab tentang konsep pembelajaran tematik terpadu dilanjutkan dengan menyimpulkan.

 

Diskusi Kelompok

Diskusi kelompok tentang hasil pemetaan KD dan indikator pembelajaran tematik terpadu.

 

Kerja kelompok

Kerja kelompok tentang keterkaitan antara jaringan tema, silabus, RKH, dan RPP dengan menggunakan LK-2.1

 

Penyimpulan Hasil Diskusi Kelompok

Instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok dengan memberikan pemahaman lebih lanjut tentang tematik terpadu dan implementasi pembelajaran tematik terpadu.

 


 

HO-2.1-1

KONSEP PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU

DI SEKOLAH DASAR

 

  1. A.        Pengantar

Proses pembelajaran untuk jenjang Sekolah Dasar atau yang sederajat menggunakan pendekatan pendekatan tematik.  Model pembelajaran tematik terpadu (PTP) atau integrated thematic instruction (ITI) dikembangkan pertama kali pada awal tahun 1970-an.  Belakangan PTP diyakini sebagai salah satu model pembelajaran yang efektif (highly effective teaching model), karena mampu mewadahi dan menyentuh secara terpadu dimensi emosi, fisik, dan akademik di dalam kelas atau di lingkungan sekolah.  Model PTP ini pun sudah terbukti secara empirik berhasil memacu percepatan dan meningkatkan kapasitas memori peserta didik (enhance learning and increase long-term memory capabilities of learners) untuk waktu yang panjang.

Pembelajaran tematik terpadu yang sering juga disebut sebagai pembelajaran tematik terintegrasi (integrated thematic instruction, ITI) aslinya dikonseptualisasikan tahun 1970-an.  Pendekatan pembelajaran ini awalnya dikembangkan untuk anak-anak berbakat dan bertalenta (gifted and talented), anak-anak yang cerdas, program perluasan belajar, dan peserta didik yang belajar cepat.

Premis utama PTP bahwa peserta didik memerlukan peluang-peluang tambahan (additional opportunities) untuk menggunakan talentanya, menyediakan waktu bersama yang lain untuk secara cepat mengkonseptualisasi dan mensintesis.  Pada sisi lain, model PTP relevan untuk mengakomodasi perbedaan-perbedaan kualitatif lingkungan belajar.  Model PTP diharapkan mampu menginspirasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar.

Model PTP memiliki perbedaan kualitatif (qualitatively different) dengan model pembelajaran lain, karena sifatnya memandu peserta didik mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher levels of thinking) atau keterampilan berpikir dengan mengoptimasi kecerdasan ganda (multiple thinking skills), sebuah proses inovatif bagi pengembangnan dimensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

 

  1. B.        Elemen-elemen Terkait dalam PTP

Implemementasi PTP menuntut kemampuan guru dalam mentransformasikan materi pembelajaran di kelas. Karena itu guru harus memahami materi apa yang diajarkan dan bagaimana mengaplikasikannya dalam lingkungan belajar di kelas. Oleh karena Model PTP ini bersifat ramah otak, guru harus mampu mengidentifikasi elemen-elemen lingkungan yang mungkin relevan dan dapat dioptimasi ketika berinteraksi dengan peserta didik selama proses pembelajaran. Ada sepuluh elemen yang terkait dengan hal ini dan perlu ditingkatkan oleh guru.

  1. Mereduksi tingkat kealpaan atau bernilai tambah berpikir reflektif.
  2. Memberkaya sensori pengalaman di bidang sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
  3. Menyajikan isi atau substansi pembelajaran yang bermakna.
  4. Lingkungan yang memperkaya pembelajaran.
  5. Bergerak memacu pembelajaran (Movement to Enhance Learning).
  6. Membuka pilihan-pilihan
  7. Optimasi waktu secara tepat
  8. Kolaborasi
  9. Umpan balik segera
  10. Ketuntasan atau aplikasi

 

  1. C.        Manfaat Pendekatan Tematik Terpadu
    1. Suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan. Suasana kelas memungkinkan semua orang yang ada di dalamnya memiliki rasa mau menanggung resiko bersama. Misalnya, menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak semestinya atau tidak benar tanpa harus menyinggung perasaan peserta didik. Prosedur-prosedur kerja keseharian, memastikan bahwa semua jadwal terprediksi, dan menjamin peserta didik merasa aman selama berada di kelas maupun  di luar kelas.  Keterampilan hidup dikenali, didiskusikan dan dipraktikkan oleh peserta didik dengan interaksi yang tepat dan dengan perasaan yang menyenangkan dalam komunitas ruang kelas.
    2. Menggunakan kelompok untuk bekerjasama, berkolaborasi, belajar berkelompok, dan memecahan konflik sehingga mendodong peserta didik untuk memecahkan masalah sosial dengan saling menghargai.
    3. Mengoptimasi lingkungan belajar sebagai kunci dalam menciptakan kelas yang ramah otak (brain-friendly classroom).  Aktivitas belajar melibatkan subjek belajar secara langsung, mengoptimasi semua sumber belajar, dan memberi peluang peserta didik untuk mengesplorasi materi secara lebih luas.
    4. Peserta didik secara cepat dan tepat waktu mampu memproses informasi. Proses itu tidak hanya menyentuh dimensi kuantitas, namun juga kualitas dalam mengeksplorasi konsep-konsep baru dan membantu peserta didik siap mengembangkan pengetahuan.
    5. Proses pembelajaran di kelas memungkinkan peserta didik berada dalam format ramah otak.
    6. Materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru dapat diaplikasikan langsung oleh peserta didik dalam konteks kehidupannya sehari-hari.
    7. Peserta didik yang relatif mengalami keterlambatan untuk menuntaskan program belajar memungkinkan mengejar ketertinggalanya dengan dibantu oleh guru melalui pemberian bimbingan khusus dan penerapan prinsip belajar tuntas.
    8. Program pembelajaran yang bersifat ramah otak memungkinkan guru untuk mewujudkan ketuntasan belajar dengan menerapkan variasi cara penilaian.

 

D.        Tahap-tahap Pembelajaran Tematik  Terpadu

  1. Menentukan tema.

Tema dapat ditetapkan oleh pengambil kebijakan, guru, atau ditetapkan bersama dengan peserta didik.

  1. Mengintegrasikan tema dengan kurikulum.

Pada tahap ini guru harus mampu mendesain tema pembelajaran dengan cara terintegrasi sejalan dengan tuntutan kurikulum, dengan mengedepankan dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

  1. Mendesain rencana pembelajaran.

Tahapan ini mencakup pengorganisasian sumber belajar, bahan ajar, media belajar, termasuk kegiatan ekstrakurikuler yang bertujuan untuk menunjukkan suatu tema pembelajaran terjadi dalam kehidupan nyata. Misalnya, pembelajaran di kelas yang didasarkan atau diperkaya hasil karya wisata, kunjungan ke museum, dan lain-lain.

  1. Melaksanakan Aktivitas Pembelajaran.

Tahapan ini memberi peluang peserta didik untuk mampu berpartisipasi dan memahami berbagi persepektif dari suatu tema.  Hal ini memberi peluang bagi guru dan peserta didik melakukan eksplorasi suatu pokok bahasan.

 

  1. E.     Prinsip-prinsip Pembelajaran Tematik Terpadu
    1. Tema hendaknya tidak terlalu luas dan dapat dengan mudah digunakan untuk memadukan banyak bidang studi, mata pelajaran, atau disiplin ilmu.
    2. Tema yang dipilih dapat memberikan bekal bagi peserta didik untuk belajar lebih lanjut.
    3. Tema disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik.
    4. Tema harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak,
    5. Tema harus mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi dalam rentang waktu belajar
    6. Tema yang dipilih sesuai dengan kurikulum yang berlaku
    7. Tema yang dipilih sesuai dengan ketersediaan sumber belajar.

 

G. Model-model Pembelajaran Tematik Terpadu

Pembelajaran Tematik Terpadu dapat diimplementasikan dengan beragam model. Menurut Robin Fogarty  (1991) ada sepuluh model PTP, seperti disajikan berikut ini.

  1. Model penggalan (fragmented model). Model ini diimplementasikan dengan pemaduan yang terbatas pada satu mata pelajaran. Misalnya, mata pelajaran bahasa Indonesia materi pembelajaran tentang menyimak, berbicara, membaca dan menulis dapat dipadukan dalam materi pembelajaran ketrampilan berbahasa.
  2. Model keterhubungan (connected model). Model ini diimplementasikan berbasis pada anggapan bahwa beberapa substansi pembelajaran berinduk pada mata pelajaran tertentu.  Butir-butir pembelajaran seperti: kosakata, struktur, membaca, dan mengarang misalnya dapat dipayungkan pada mata pelajaran bahasa dan sastra.
  3. Model sarang (nested model). Model ini diimplementasikan dengan memadukan berbagai bentuk penguasaan konsep ketrampilan melalui sebuah kegiatan pembelajaran. Misalnya, pada jam-jam tertentu guru memfokuskan kegiatan pembelajaran pada pemahaman bentuk kata, makna kata,dan ungkapan dengan saran pembuahan ketrampilan dalam mengembangkan daya imajinasi, daya berfikir logis, menentukan ciri bentuk dan makna kata-kata dalam puisi, membuat ungkapan dan menulis puisi.
  4. Model Urutan/Rangkaian (sequenced model). Model ini memadukan topik-topik antarmata pelajaran yang berbeda secara pararel. Isi  cerita dalam roman sejarah, misalnya: topik pembahasannya secara pararel atau dalam jam yang sama dapat dipadukan dengan ikhwal sejarah perjuangan bangsa karakteristik kehidupan sosial masyarakat pada periode tertentu maupun topik yang menyangkut perubahan makna kata.
  5. Model berbagi (shared/participative model). Model ini merupakan pemaduan pembelajaran akibat munculnya tumbang-tindih (overlapping concept) atau ide pada dua mata pelajaran atau lebih. Buir-butir pembelajaran tetang kewarganegaraan dalam PKn misalnya, dapat bertumpang tindih dengan butir pembelajaran Tata Negara, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan sebagainya.
  6. Model jaring laba-laba (webbed model). Model ini berangkat dari pendekatan tematis sebagai acuan dasar bahan dan kegiatan pembelajaran. Tema yang dibuat dapat mengikat kegiatan  pembelajaran, baik dalam mata pelajaran tertentu maupun antar mata pelajaran.
  7. Model galur (threaded model). Model ini memadukan bentuk-bentuk ketrampilan. Misalnya: melakukan prediksi dan estimasi dalam matematika, ramalan terhadap kejadian-kejadian, antisipasi terhadap cerita, dsb. Bentuk model  ini terfokus pada meta kurikulum.
  8. Model celupan (immersed model). Model ini dirancang untuk membantu peserta didik dalam menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan dihubungkan dengan medan pemakaiannya. Kegiatan pembelajaran diarahkan untuk mewadahi tukar pengalaman dan pemanfaatan pengalaman masing-masing.
  9. Model jejaring (networked model). Model ini merupakan model pemaduan pembelajaran yang mengandaikan kemungkinan perubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk ketrampilan baru setelah peserta didik mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, maupun konteks yang berbeda.
    1. Model terpadu (integrated model). Model ini merupakan pemaduan sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda, tetapi esensinya sama dalam sebuah topik tertentu. Topik evidensi yang semula terdapat dalam pelajaran matematika, bahasa Indonesia, IPA,  dan IPS agar tidak membuat muatan kurikulum berlebihan, cukup diletakkan dalam mata pelajaran tertentu, misalnya IPA.

 

 

HO-2.1-2

 

 

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU

DENGAN PENDEKATAN SCIENTIFIC

 

  1. A.      Pendahuluan  

Inovasi pendidikan di bidang kurikulum diharapkan secara periodik dapat dilakukan untuk kepentingan mengubah dan memperbaiki cara belajar dan membelajarkan materi kepada peserta didik. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, dengan mengedepankan peserta didik aktif.

Pembelajaran dimaksud diharapkan yang memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik  dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.

Kualitas pendidikan sangatlah bergantung pada kesadaran, pengertian, komitmen, dan  partisipasi serta  dedikasi dari para pendidik dan tenaga kependidikan, terutama  guru sebagai ujung tombak yang secara langsung menghadapi peserta didik. Apabila guru dapat menciptakan proses pembelajaran  yang dapat mengubah hasil belajar peserta didik, dan dapat meningkatkan motivasi belajar, yang dapat meningkatkan rasa percaya diri peserta didik, dapat meningkatkan harga diri dengan menerapkan berbagai strategi dan model pembelajaran, maka visi dan misi guru sebagai pembelajar boleh dikatakan berhasil.

Proses pembelajaran merupakan fenomena yang kompleks. Guru lebih banyak berhubungan dengan pola pikir peserta didik di mana setiap peserta didik – siapa pun, dimana pun – memiliki setumpuk kata, pikiran, tindakan yang dapat mengubah lingkungan baik di keluarga, di sekolah maupun di masyarakat.

Mulai tahun ajaran baru 2013 pola pembelajaran segera disosialisasikan bagi guru kelas I sampai dengan kelas VI, menggunakan Pembelajaran Tematik Terpadu. Di lapangan begitu beragam nuansa tematik ini sejak digulirkan di kalangan guru, dan sekolah, sepertinya terjadi suatu “kerancuan”, dan  perbedaan pemahaman. Guru banyak yang berpikir dan bertanya-tanya, apakah selama ini cara pembelajaran yang dirasakanya sudah menghasilkan lulusan peserta didik “berprestasi”, dan sudah mencetak  serta menghasilkan dokter, insinyur, birokrat dianggap kurang berhasil?. Sehingga ada ungkapan bahwa “saya sudah mengajar puluhan tahun, dan saya sudah mempunyai alumni yang berhasil menjadi pejabat, menjadi dokter, menjadi insinyur dan sebagainya dianggap tidak berhasil?. Pemikiran-pemikiran semacam ini akan menjadi penghambat bagi bergulirnya sebuah inovasi dalam bidang pendidikan.

Pembelajaran dengan menggunakan berbagai pendekatan, strategi dan metode diharapkan dapat memberi kemungkinan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik  dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.

Pembelajaran yang diciptakan baik di kelas maupun di luar kelas  diharapkan dapat dikondisikan dalam suasana hubungan peserta didik  dan guru yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan). Terlebih bagi peserta didik sekolah dasar yang masih berada di Kelas 1, 2 dan 3, yang masih memerlukan bimbingan, dan perhatian, sebagaimana pelayanan para orang tua yang dengan kasih sayang membimbing mereka. Sedangkan di Kelas 4, 5, dan 6 mulai ditingkatkan pemahaman peserta didik untuk lebih memahami hidup dan kehidupan di lingkungan sekitar dengan menciptakan pola berpikir rasional. Mencari jawaban mengapa harus belajar membaca dan menulis? Mengapa harus belajar matematika, mengapa harus berinterakti dan saling berkomunikasi dengan teman dan sebagainya. Dengan pembelajaran tematik Terpadu diharapkan  dapat menjawab ke semuanya itu dengan catatan guru dan peserta didik memiliki komitmen dan selalu berpikir positif bahwa pola pembelajaran yang dilakukan adalah menuju ketercapaian kompetensi sebagaimana yang dituangkan di dalam standar kelulusan.

Pelaksanaan pembelajaran seyogyanya dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang. Jadi  guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan). Sebuah model pembelajaran diharapkan dapat dipergunakan sebagai wawasan untuk disesuaikan dengan kondisi peserta didik di masing-masing sekolah.

Peserta didik perlu dipersiapkan baik secara internal maupun eksternal, baik  ketika di dalam kelas maupun di luar kelas. Terlebih bagi peserta didik yang masih berada di sekolah dasar  tentu saja tidak dapat disamakan pelayannya dengan peserta didik yang ada di kelas menengah. Namun demikian baik peserta didik di kelas 1 sampai dengan kelas 6 di kondisikan menggunakan pendekatan tematik Terpadu dengan tema sebagai pemersatunya.

 

  1. B.      Pengertian pembelajaran Tematik Terpadu

Pembelajaran Tematik Terpadu dilaksanakan dengan menggunakan prinsip pembelajaran terpadu. Pembelajaran terpadu menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran yang memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali tatap muka, untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik. Karena peserta didik dalam memahami berbagai konsep yang mereka pelajari selalu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dikuasainya.

Pelaksanaan pembelajaran Tematik Terpadu berawal dari tema yang telah dipilih/dikembangkan oleh guru yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Jika dibandingkan dengan pembelajaran konvensional pembelajaran tematik ini tampak lebih menekankan pada Tema sebagai pemersatu berbagai mata pelajaran yang lebih diutamakan pada makna belajar, dan  keterkaitan berbagai konsep mata pelajaran. Keterlibatan  peserta didik dalam belajar lebih diprioritaskan dan pembelajaran yang bertujuan mengaktifkan peserta didik,  memberikan pengalaman langsung serta tidak tampak adanya pemisahan antar mata pelajaran satu dengan lainnya.

 

  1. C.      Fungsi dan Tujuan

Pembelajaran tematik terpadu berfungsi untuk memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam memahami dan mendalami konsep materi yang tergabung dalam tema serta dapat menambah semangat belajar, karena materi yang dipelajari merupakan materi yang nyata (kontekstual) dan bermakna bagi peserta didik.

Tujuan pembelajaran  tematik terpadu adalah:

  1. mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topik tertentu
  2. Mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi mata pelajaran dalam tema yang sama
  3. Memiliki pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan
  4. Mengembangkan kompetensi berbahasa lebih baik dengan mengkaitkan berbagai mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik
  5. Lebih bergairah belajar karena mereka dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, seperti: bercerita, bertanya, menulis sekaligus mempelajari pelajaran yang lain.
  6. Lebih  merasakan manfaat dan makna belajar karena materi yang disajikan dalam konteks tema yang jelas
  7. Guru  dapat menghemat waktu, karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 pertemuan bahkan lebih dan atau pengayaan.
  8. Budi pekerti dan moral peserta didik dapat ditumbuh kembangkan dengan mengangkat sejumlah nilai budi pekerti sesuai dengan situasi dan kondisi.

 

 

  1. D.      Ciri-ciri Pembelajaran Tematik Terpadu

1.   Berpusat pada anak

  1. Memberikan pengalaman langsung pada anak
  2. Pemisahan antara mata pelajaran tidak begitu jelas (menyatu dalam satu pemahaman dalam kegiatan)
  3. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam satu proses pembelajaran (saling terkait antara mata pelajaran yang satu dengan lainnya)
  4. Bersifat luwes (keterpaduan berbagai mata pelajaran)
  5. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak (melalui penilaian proses dan hasil belajarnya)

 

  1. E.       Kekuatan Tema dalam Proses Pembelajaran

Anak pada usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret, mulai menunjukkan perilaku yang mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, mulai berpikir secara operasional,

mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat. Oleh karena itu pembelajaran yang tepat adalah dengan mengaitkan konsep materi pelajarn dalam satu kesatuan yang dipusat pada tema adalah yang paling sesuai. Dan kegiatan pembelajaran akan bermakna jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman, bersifat individual dan kontekstual, anak mengalami langsung yang dipelajarinya, hal ini akan diperoleh melalui pembelajaran tematik. Pembelajaran yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat  memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Dari penjelasan diatas maka pembelajaran tematik memiliki beberapa kekuatan dan keuntungan antara lain:

  1. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak
  2. Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan anak
  3. Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna
  4. mengembangkan keterampilan berpikir anak sesuai dengan permasalah an yang dihadapi
  5. Menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerja sama
  6. Memiliki sikap toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain, dalam arti respek terhadap gagasan orang lain.
    1. Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalah an yang sering ditemui dalam lingkungan anak.

 

  1. F.       Peran Tema dalam Proses Pembelajaran

Tema berperan sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran, dengan memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus. Adapun mata pelajaran yang dipadukan adalah mata pelajaran Agama (Akhlak Mulia/Budi Pekerti/ tata krama), PPKn dan Kepribadian, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (terdiri atas: Bahasa Indonesia, IPS, IPA, Matematika,), Estetika (Seni Budaya-Keterampilan) dan Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan.

Di dalam struktur Kurikulum Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah disebutkan bahwa untuk peserta didik kelas 1, sampai dengan kelas 6  penyajian pembelajarannya menggunakan pendekatan tematik. Penyajian pembelajaran dengan alokasi waktu komulatif 30 JP per minggu.

Pembuatan tema diharapkan memperhatikan kondisi peserta didik, lingkungan sekitar dan kompetensi guru dengan prosentase penyajian disesuaikan dengan aloasi waktu yang tersedia. Guru dalam penyajian diharapkan tidak terkonsentrasi pada salah satu mata pelajaran, melainkan harus tetap memperhatikan prosentase penyajianya. Namun demikian penjadwalan dalam hal ini tidak terbagi secara kaku melainkan diatur secara luwes.

Mata Pelajaran Agama yang disajikan secara terpadu adalah yang sifatnya budi pekerti luhur, akhlak mulia dan tata krama serta bagaimana bersopan santun dalam pergaulan di dalam keluarga dan masyarakat, keterkaitan dengan pendidikan karakter bangsa. Sedangkan untuk materi-materi yang sifatnya aqidah dan khusus keagamaannya sisajikan oleh guru agama sendiri.

Demikian juga untuk Pendidikan Jasmani dan kesehatan, yang sifatnya gerakan ringan yang dapat disajikan di dalam kelas, bisa dilakukan oleh guru kelas. Sedangkan yang sifatnya gerakan olah raga yang memerlukan fisik, gerakan bebas, tetap dilakukan oleh guru olah raga dan dilaksanakan di luar kelas/ lapangan olah raga.

Pembelajaran tematik diawali dengan pembuatan tema selama satu tahun, kemudian dengan tema-tema yang telah dibuat tersebut, guru menganalisis semua standar kompetensi lulusan yang diturunkan ke dalam kompetensi inti dan selanjutnya mengalir ke kompetensi dasar dan membuat indikator dari masing-masing mata pelajaran yang ada di setiap kelas. Setelah itu dibuat hubungan antara KD dan indikator dengan tema yang telah disiapkan selama satu tahun.  Berikutnya dari pemetaan hubungan tersebut dilanjutkan dengan membuat jaringan KD & indikator dari setiap tema yang telah dibuat. Setelah jadi semua jaringan selama satu tahun dilanjutkan dengan menyusun silabus tematik dan yang terakhir menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik.

 

  1. G.     Model Pembelajaran Tematik Terpadu

Model  pembelajaran tematik  integratif melalui beberapa tahapan yaitu  pertama guru harus mengacu pada tema sebagai pemersatu berbagai mata pelajaran untuk satu tahun. Kedua guru melakukan analisis standar kompetensi lulusan, kompetensi inti, kompetensi dasar dan membuat indikator dengan tetap memperhatikan muatan materi dari Standar Isi, ketiga membuat hubungan antara kompetensi dasar, indikator dengan tema, keempat membuat jaringan KD, indikator, kelima  menyusun silabus tematik dan keenam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran tematik dengan mengkondisikan pembelajaran yang menggunakan pendekatan scientific. Untuk lebih jelasnya akan dibahas di bawah ini.

1.    Kriteria Pemilihan Tema

Beberapa tema telah disiapkan menyertai dokumen Kurikulum 2013, namun demikian penulisan daftar tema dimaksud bukanlah urutan penyajajian Guru diharapkan dapat dengan cerdas dan tepat melakukan pemilihan tema mana yang akan dibelajarkan terlebih dahulu, seyogyanya penetapan tema sesuai dengan kondisi daerah, sekolah, peserta didik, dan guru di wilayahnya. Penentuan dan pemilihan  tema yang akan dikembangkan di sekolah dasar  dapat mempertimbangkan kriteria pembuatan tema sebagai berikut :

  1. Tema tidak terlalu luas namun dapat dengan mudah dipergunakan untuk memadukan banyak mata pelajaran
  2. Tema bermakna, artinya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi peserta didik untuk belajar selanjutnya
  3. Harus sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis anak
  4. Tema yang dikembangkan harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak di sekolah
  5. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar
  6. Mempertimbangkan dilanjutkan kan kurikulum yang berlaku dan harapan masyarakat terhadap hasil belajar peserta didik
  7. Mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar

 

2.    Tahapan Berpikir Pembelajaran Tematik Adalah Struktur Kurikulum

Struktur Kurikulum 2013 merupakan acuan dalam merancang pembelajaran yang akan  menjdi landasan penetapan prosentase penyajian pembelajaran. Di Kelas I sampai dengan Kelas VI membelajarkan materi dengan tema sebagai pemersatunya, tidak parsial per mata pelajaran. penetapan alokasi waktu dimaksudkan agar guru dapat mempertimbangan batasan pembahasan, supaya tidak lagi fokus atau berlama-lama pada salah satu mata pelajaran saja. Meskipun telah dituangkan alokasi waktu di dalam struktur masing-masing mata pelajaran, namun tetap menjadi satu kesatuan per minggu komulatif  30 JP untuk Kelas I, berarti per hari 5 JP. Untuk Kelas II komulatif satu  minggu 32 JP maka per hari ada yang 5 JP, ada yang 6 JP. Kelas III komulatif satu  minggu 34 JP, maka per hari ada yang 5 JP, ada yang 6 JP. Sedangkan Kelas IV sampai dengan Kelas VI komulatif satu minggu 36 JP, jadi rata-rata per harinya 6 JP, bagi sekolah reguler.  Struktur Kurikulum sebagai di berikut:


 

Struktur Kurikulum SD/MI

 

MATA PELAJARAN

ALOKASI WAKTU BELAJAR

PER MINGGU

I

II

III

IV

V

VI

Kelompok A    
1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

4

4

4

4

4

4

2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

5

6

6

4

4

4

3. Bahasa Indonesia

8

8

10

7

7

7

4. Matematika

5

6

6

6

6

6

5. Ilmu Pengetahuan Alam

-

-

-

3

3

3

6. Ilmu Pengetahuan Sosial

-

-

-

3

3

3

Kelompok B
1. Seni Budaya dan Prakarya

(termasuk muatan lokal)*

4

4

4

5

5

5

2. Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan

(termasuk muatan lokal)

4

4

4

4

4

4

Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu

30

32

34

36

36

36

 

3.    Beban Belajar

Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester. Beban belajar di SD/MI kelas I, II, dan III masing-masing 30, 32, 34 sedangkan untuk kelas IV, V, dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. Jam belajar SD/MI adalah 35 menit.

Dengan adanya tambahan jam belajar ini dan pengurangan jumlah Kompetensi Dasar, guru memiliki keleluasaan waktu untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi peserta didik aktif. Proses pembelajaran peserta didik aktif memerlukan waktu yang lebih panjang dari proses pembelajaran penyampaian informasi karena peserta didik perlu latihan untuk mengamati, menanya, mengasosiasi, dan berkomunikasi. Proses pembelajaran yang dikembangkan menghendaki kesabaran guru dalam mendidik peserta didik sehingga mereka menjadi tahu, mampu dan mau belajar dan menerapkan apa yang sudah mereka pelajari di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitarnya. Selain itu bertambahnya jam belajar memungkinkan guru melakukan penilaian proses dan hasil belajar. Sekolah mendapat  kesempatan mengkondisikan beban belajar sesuai hasil kesepakatan warga sekolah, Kepala Sekolah, Guru, dan Komite Sekolah.

 

4.    Tahapan  Pembelajaran Tematik Terpadu

Langkah Guru yang akan membelajarkan materi dengan menggunakan pendekatan tematik  integratif antara lain:

  1. Memilih/Menetapkan  Tema

Dibawah ini adalah  Tema untuk peserta didik Sekolah Dasar kelas I s.d 6

Tema-Tema di Sekolah Dasar

KELAS I

KELAS IV

  1. Diriku
  2. Kegemaranku
  3. Kegiatanku
  4. Keluargaku
  5. Pengalamanku
  6. Lingkungan Bersih dan Sehat
  7. Benda, Binatan dan Tanaman di Sekitar
  8. Peristiwa alam

 

  1. Indahnya Kebersamaan
  2. Selalu Berhemat Energi
  3. Peduli Makhluk Hidup
  4. Berbagai Pekerjaan.
  5. Menghargai Jasa Pahlawan
  6. Indahnya Negeriku
  7. Cita-citaku
  8. Daerah Tempat Tinggalku
  9. Makanan Sehat dan Bergizi

 

  1. Melakukan Analisis SKL, KI,  Kompetensi Dasar,  Membuat  Indikator,

Dalam melakukan Analisis Kurikulum (SKL, KI dan KD serta membuat Indikator) dengan cara membaca semua Standar Kompetensi Lulusan dan Kompetensi Inti, dan Kompetensi Dasar dari semua mata pelajaran.

Setelah memiliki sejumlah Tema untuk satu tahun, barulah dapat dilanjutkan dengan menganalisis Standar Kompetensi Lulusan dan Kompetensi Inti serta Kompetensi Dasar (SKL, KI dan KD) yang ada dari berbagai mata pelajaran (Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PPKn, Matematika, Seni-Budaya dan Keterampilan, Olah Raga dan Kesehatan serta Agama yang sifatnya Tata Krama, Budi Pekerti dan Akhlak Mulia). Kemudian masing-masing Kompetensi Dasar dibuatkan Indikatornya dengan mengikuti kriteria pembuatan Indikator.

  1. Melakukan Pemetaan Kompetensi Dasar, Indikator dengan Tema

Kompetensi Dasar dari semua mata pelajaran telah disediakan dalam Kurikulum 2013, demikian juga sejumlah Tema untuk proses pembelajaran selama satu tahun untuk Kelas 1 sampai dengan Kelas 6 telah disediakan pula. Namun demikian guru masih perlu membuat Indikator dan melakukan kegitan pemetaan Kompetensi Dasar dan Indikator tersebut dikaitkan degan Tema yang tersedia dimasukkan ke dalam format pemetaan agar lebih memudahkan proses penyajian pembelajaran, Indikator mana saja yang dapat disajikan secara terpadu dengan cara memberikan cek ( √ ).

  1. Membuat Jaringan Kompetensi Dasar

Kegiatan berikutnya setelah dilakukan pemetaan Kompetensi Dasar, Indikator dengan Tema dalam satu Tahun dan telah terpetakan Indikator mana saja yang akan disajikan dalam setiap Tema, maka sebaiknya dilanjtkan dengan membuat Jaringan KD dan Indikator dengan cara menurunkan hasil cek dari pemetaan ke dalam format Jaringan KD & Indikator.

  1. Menyusun Silabus Tematik Terpadu

Setelah dibuat  Jaringan KD & Indikator, langkah Guru selanjutnya adalah menyusun Silabus Tematik untuk lebih memudahkan Guru dalam melihat seluruh desain pembelajaran untuk setiap Tema sampai tuntas tersajikan di dalam proses pembelajaran. Di Dalam Silabus Tematik ini memberikan gambaran secara menyeluruh Tema yang telah dipilh akan disajikan berapa minggu dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan dalam penyajian Tema tersebut. Silabus Tematik Terpadu memuat komponen sebagaimana panduan dari Standar Proses yang meliputi 1) Kompetensi Dasar mana saja yang sudah terpilih (dari Jaringan KD), 2) Indikator (dibuat oleh Guru, juga diturunkan dari Jaringan) 3) Kegiatan Pembelajaran yang memuat perencanaan penyajian untuk berapa minggu Tema tersebut akan di belajarkan, 4) Penilaian proses dan hasil belajar (diwajibkan memuat penilaian dari aspek sikap, keterampilan dan pegetahuan) selama  proses pembelajaran berlangsung 5) Alokasi  waktu ditulis secara utuh komlatif satu minggu berapa jam pertemuan (misalnya 30 JP x 35 menit) x 4 minggu) 6) Sumber dan Media.

  1. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik Terpadu

Langkah terakhir dari sebuah perencanaan adalah dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Terpadu.  Di dalam RPP Tematik Terpadu ini diharapkan dapat tergambar proses penyajian secara utuh dengan memuat berbagai konsep mata pelajaran yang disatukan dalam Tema. Di dalam RPP Tematik Terpadu ini peserta didik diajak belajar memahami konsep kehidupan secara utuh. Penulisan identitas tidak mengemukakan mata pelajaran, melainkan langsung ditulis Tema apa yang akan dibelajarkan.

Penyusunan RPP Tematik Terpadu  sebagaimana dalam penyusunan silabus seyogyanya mengacu pada komponen penyusunan RPP dari Standar Proses yang meliputi: Identitas: Satuan Pendidikan, Tema, Kelas, Semester, Alokasi Waktu. 1) Kompetensi Inti: merupakan jabarn dari SKL  ada 4 Kompetensi Inti yang harus ditulis semuanya, karena merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dicapai. 2) Kompetensi Dasar hasil penyempurnaan Standar Isi  dari Kurikulum 2013 semua mata pelajaran yang telah  dipilih dan tertulis di Jaringan KD & Indikator 3)  Indikator dari semua mata pelajaran yang telah dibuat dan di tuangkan di Pemetaan 4) Tujuan Pembelajaran yang diharapkan dicapai dari keterpaduan berbagai mata pelajaran 5) Materi Pembelajaran  meliputi berbagai mata pelajaran 6) Pendekatan dan Metode pembelajaran 7) Langkah Pembelajaran memuat kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti (memuat langkah pembelajaran Tematik Terpadu memadukan berbaai mata pelajaran yang diatukan dalam Tema, tersaji secara sistematis dan sistemik  dalam tuangan Eksplorasi, Elaborasi dan Konfirmasi, serta menggambarkan pendekatan Scientific dan diakhiri dengan  Kegiaan Penutup 8) Sumber dan Media yang memuat semua sumber dan media pembelajaran yang dipergunakan dalm pembelajaran 9) Penilaian, meliuti proses dan hasil belajar seyogyanya dilampirkan instrumen dan rubrik penilaiannya, baik untuk kepentingan proses dan ketercapaian hasil belajar siswa.

 

  1. H.     Pendekatan Scientific

Pembelajaran Tematik Terpadu menggunakan salah satu model pembelajaran terpadu  menurut  Robin Fogarty  (1991) Model jaring laba-laba (webbed model). Model ini berangkat dari pendekatan tematis sebagai acuan dasar bahan dan kegiatan pembelajaran. Tema yang dibuat dapat mengikat kegiatan  pembelajaran, baik dalam mata pelajaran tertentu maupun antarmata pelajaran.

Sedangkan proses pembelajaran menggunaan pendekatan Pendekatan scientific hal ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami  berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber  observasi, bukan diberi tahu.

Kondisi pembelajaran pada saat ini diharapkan diarahkan agar peserta didik mampu merumuskan masalah (dengan banyak menanya), bukan hanya menyelesaikan masalah  dengan menjawab saja. Pembelajaran diharapkan diarahkan untuk melatih berpikir analitis (peserta didik diajarkan bagaimana mengambil keputusan) bukan berpikir mekanistis (rutin dengan hanya mendengarkan dan menghapal semata)

Penjelasan Prof Sudarwan tentang pendekatan scientific bahwa Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah. Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini.

  1. Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
  2. Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
  3. Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran.
  4. Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari substansi atau materi pembelajaran.
  5. Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran.
  6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggung jawabkan.
  7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.

 

Pembelajaran yang  menekankan pada pentingnya kolaborasi dan kerjasama diantara peserta didik dalam menyelesaikan setiap permalahan dalam pembelajaran. Oleh karena itu guru sedapat mungkin menciptakan pembelajaran selain dengan tetap mengacu pada Standar Proses dimana pembelajarannya diciptakan  suasana yang memuat Ekplorasi, Elaborasi dan Konfirmasi, juga dengan mengedepankan kondisi peserta didik yang berperilaku ilmiah dengan bersama-sama diajak mengamati, menanya, menalar, merumuskan, menyimpulkan dan mengkomunikasi. Sehingga peserta didik akan dapat dengan benar menguasai materi yang dipelajari dengan baik.


 

Submateri Pelatihan 2.2: Konsep Pendekatan Scientific

 

Langkah Kegiatan Inti

Diskusi Kelompok Pendekatan Scientific

Diskusi Kelompok Contoh-contoh Pendekatan Scientific dan Penerapan-nya

45 Menit

45 Menit

 

Diskusi Kelompok

  1. Mengkaji pendekatan scientific yang mengacu pada tayangan video.
  2. Mengidentifikasi konsep pendekatan scientific yang disampaikan pada tayangan video.
  3. Membuat urutan aktivitas pada pendekatan scientific.

Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok

  1. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya, kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya.
  2. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok.
  3. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok.

Paparan Materi

Fasilitator menyampaikan Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2.2.1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2.2-2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi.

Diskusi Kelompok

Diskusi kelompok tentang contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran, tugas diskusi kelompok sebagai berikut.

  1. Membuat contoh pembelajaran salah satu KD dengan menggunakan pendekatan scientific.
  2. KD yang ditetapkan adalah KD semester 1.

Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok

  1. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya, kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya.
  2. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok.
  3. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok.

 


 

 

HO – 2.2-1

PENDEKATAN ILMIAH DALAM PEMBELAJARAN

 

  1. A.     Esensi Pendekatan Ilmiah

Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah.  Karena itu Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran.  Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya, penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum.

Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya.  Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur  dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.  Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi, dan menguji hipotesis.

 

  1. B.       Pendekatan Ilmiah dan Non-ilmiah dalam Pembelajaran

Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradidional. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional, retensi informasi dari guru sebesar 10 persen setelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen.

 

Proses pembelajaran  dengan berbasis pendekatan ilmiah harus dipandu dengan kaida-kaidah pendekatan ilmiah. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah. Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini.

  • Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
  • Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
  • Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran.
  • Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau materi pembelajaran.
  • Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran.
  • Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggung -jawabkan.
  • Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana, jelas, dan menarik sistem penyajiannya.

Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai non-ilmiah yang meliputi intuisi, akal sehat, prasangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis.

  • Intuisi.

Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. Intuisi juga bermakna kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh seseorang atas dasar pengalaman dan kecakapannya. Istilah ini sering juga dipahami sebagai penilaian terhadap sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara cepat dan berjalan dengan sendirinya. Kemampuan intuitif itu biasanya didapat secara cepat tanpa melalui proses panjang dan tanpa disadari. Namun demikian, intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik.

  • Akal sehat.

Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran, karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang benar. Namun demikian, jika guru dan peserta didik hanya semata-mata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkan mereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran.

 

  • Prasangka. Sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan seseorang (guru, peserta didik, dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya. Ketika akal sehat terlalu kuat didomplengi kepentingan pelakunya, seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting, jika diolah secara baik. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya, jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik.
  • Penemuan coba-coba. Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna.  Namun demikian, keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan cara coba-coba selalu bersifat tidak terkontrol, tidak memiliki kepastian, dan tidak bersistematika baku.  Tentu saja, tindakan coba-coba itu ada manfaatnya bahkan mampu mendorong kreatifitas.  Karena itu, kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan, harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan, sampai dengan menemukan kepastian jawaban. Misalnya, seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop, tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya, hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang  seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala.
  • Berpikir kritis. Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang, khususnya mereka yang normal hingga jenius. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang. Tentu saja hasil pemikirannya itu tidak semuanya benar, karena bukan berdasarkan hasil esperimen yang valid dan reliabel, karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata.

 

  1. C.      Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah

Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. Ranah keterampilan  menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang  ‘apa’.  Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik  (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.

Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi  tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural.  Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari  nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Pendekatan ilmiah pembelajaran disajikan berikut ini.

  1. 1.      Mengamati

Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan  tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran.

Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.

Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini:

  • Menentukan objek apa yang akan diobservasi
  • Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi
  • Menentukan  secara jelas  data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder
  • Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi
  • Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar
  • Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi , seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.

Kegiatan observasi  dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung. Dalam kaitan ini, guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi tersebut.

  • Observasi biasa (common observation). Pada observasi biasa untuk kepentingan pembelajaran, peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). Di sini peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati.
  • Observasi terkendali (controlled observation).  Seperti halnya observasi biasa, pada observasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran, peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati. Merepa juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati. Namun demikian, berbeda dengan observasi biasa, pada observasi terkendali pelaku atau objek  yang diamati ditempatkan pada ruang atau situasi yang dikhususkan. Karena itu, pada pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen  atas diri pelaku atau objek yang diobservasi.
  • Observasi partisipatif (participant observation). Pada observasi partisipatif, peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang diamati. Sejatinya, observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi.  Observasi semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku, komunitas, atau objek yang diamati. Di bidang pengajaran bahasa, misalnya, dengan menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan “bermukim” langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu pula untuk  mempelajari bahasa atau dialek setempat, termasuk melibakan diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka.

 

Selama proses pembelajaran, peserta didik dapat melakukan observasi dengan dua cara pelibatan diri.  Kedua cara pelibatan dimaksud  yaitu observasi berstruktur dan observasi tidak berstruktur, seperti dijelaskan berikut ini.

  • Observasi  berstruktur.  Pada observasi berstruktur dalam rangka proses pembelajaran, fenomena subjek, objek, atau situasi apa yang ingin diobservasi oleh peserta didik telah direncanakan oleh secara sistematis di bawah bimbingan guru.
  • Observasi tidak berstruktur. Pada observasi yang tidak berstruktur dalam rangka proses pembelajaran, tidak ditentukan secara baku atau rijid mengenai apa yang harus diobservasi oleh peserta didik. Dalam kerangka ini, peserta didik membuat catatan, rekaman, atau mengingat dalam memori secara spontan atas subjek, objektif, atau situasi yang diobservasi.

 

Praktik observasi dalam pembelajaran hanya akan efektif jika peserta didik dan guru melengkapi diri dengan dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat lain, seperti: (1) tape recorder, untuk merekam pembicaraan; (1) kamera, untuk merekam objek atau kegiatan secara visual; (2) film atau video, untuk merekam kegiatan objek atau secara audio-visual; dan (3) alat-alat lain sesuai dengan keperluan.

Secara lebih luas, alat atau instrumen yang digunakan dalam melakukan observasi, dapat berupa daftar cek (checklist), skala rentang (rating scale), catatan anekdotal (anecdotal record), catatan berkala, dan alat mekanikal (mechanical device). Daftar cek dapat berupa suatu daftar yang berisikan nama-nama subjek, objek, atau faktor- faktor yang akan diobservasi. Skala rentang , berupa alat untuk mencatat gejala atau fenomena menurut tingkatannya. Catatan anekdotal berupa catatan yang dibuat oleh peserta didik dan guru mengenai kelakuan-kelakuan luar biasa yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi.  Alat mekanikal berupa alat mekanik yang dapat dipakai untuk memotret atau merekam peristiwa-peristiwa tertentu yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi.

Prinsip-rinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran disajikan berikut ini.

  • Cermat, objektif, dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk kepentingan pembelajaran.
  • Banyak atau sedikit serta homogenitas atau hiterogenitas subjek, objek, atau situasi yang diobservasi. Makin banyak dan hiterogen subjek, objek, atau situasi yang diobservasi, makin sulit kegiatan obervasi itu  dilakukan. Sebelum obsevasi dilaksanakan, guru dan peserta didik sebaiknya menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan.
  • Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat, direkam, dan sejenisnya,  serta bagaimana membuat catatan atas perolehan observasi.

 

  1. 2.      Menanya

Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.

Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyara, pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. Bentuk pertanyaan, misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat yang efektif? Bentuk pernyataan, misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimat efektif!

  1. a.      Fungsi bertanya
  • Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian  peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran.
  • Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.
  • Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya.
  • Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.
  • Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
  • Mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir,  dan menarik  simpulan.
  • Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
  • Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.
  • Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.

 

  1. b.      Kriteria pertanyaan yang baik
  • Singkat dan jelas.

Contoh:  (1) Seberapa jauh pemahaman Anda mengenai faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? (2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? Pertanyaan kedua lebih singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan pertama.

  • Menginspirasi jawaban.

Contoh: Membangun semangat kerukunan umat beragama itu sangat penting pada bangsa yang multiagama. Jika suatu bangsa gagal membangun semangat kerukukan beragama, akan muncul aneka persoalan sosial kemasyarakatan. Coba jelaskan dampak sosial apa saja yang muncul, jika suatu bangsa gagal membangun kerukunan umat beragama? Dua kalimat yang mengawali pertanyaan di muka merupakan contoh yang diberikan guru untuk menginspirasi jawaban peserta menjawab pertanyaan.

 

  • Memiliki fokus.

Contoh: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kemiskinan? Untuk pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing peserta didik diminta memunculkan satu jawaban. Peserta didik pertama hingga kelima misalnya menjawab: kebodohan, kemalasan, tidak memiliki modal usaha, kelangkaan sumber daya alam, dan keterisolasian geografis. Jika masih tersedia alternatif jawaban lain, peserta didik yang keenam dan seterusnya, bisa dimintai jawaban. Pertanyaan  yang luas seperti di atas dapat dipersempit, misalnya: Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan? Pertanyaan seperti ini dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara perorangan.

 

  • Bersifat probing atau divergen.

Contoh: (1) Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar, apakah peserta didik harus rajin belajar? (2) Mengapa peserta didik yang sangat malas belajar cenderung menjadi putus sekolah? Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh  peserta didik dengan Ya atau Tidak. Sebaliknya, pertanyaan kedua menuntut jawaban yang bervariasi urutan jawaban dan penjelasannya, yang kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama.

 

  • Bersifat validatif atau penguatan.

Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada peserta didik  yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama. Jawaban atas pertanyaan itu  dimaksudkan untuk memvalidasi atau melakukan penguatan atas jawaban peserta didik sebelumnya. Ketika beberapa orang peserta didik telah memberikan jawaban yang sama, sebaiknya guru menghentikan pertanyaan itu atau meminta mereka memunculkan jawaban yang lain yang berbeda, namun sifatnya menguatkan.

Contoh:

  • Guru: “mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan”?
  • Peserta didik I: “karena orang yang malas lebih banyak diam ketimbang bekerja.”
  • Guru: “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?”
  • Peserta didik II: “karena lebih banyak diam ketimbang bekerja, orang yang malas tidak produktif”
  • Guru  : “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?”
  • Peserta didik III: “orang malas tidak bertindak aktif, sehingga kehilangan waktu terlalu banyak untuk bekerja, karena itu dia tidak produktif.”

 

 

 

  • Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang.

Untuk menjawab pertanyaan dari guru, peserta didik memerlukan waktu yang cukup untuk memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan kata-kata. Karena itu, setelah mengajukan pertanyaan, guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum meminta atau menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan itu.

Jika dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa menjawah dengan baik, sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya. Misalnya: (1) Apa faktor picu utama Belanda menjajah Indonesia?; (2) Apa motif utama Belanda menjajah Indonesia? Jika dengan pertanyaan pertama guru belum memperoleh jawaban yang memuaskan, ada baiknya dia mengubah pertanyaan seperti pertanyaan kedua.

 

  • Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif.

Pertanyaan guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang makin meningkat, sesuai dengan tuntunan tingkat kognitifnya. Guru mengemas atau mengubah pertanyaan yang menuntut jawaban dengan tingkat kognitif rendah ke makin tinggi, seperti dari sekadar mengingat fakta ke pertanyaan yang menggugah kemampuan kognitif  yang lebih tinggi, seperti pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kata-kata kunci pertanyaan ini, seperti: apa, mengapa, bagaimana, dan seterusnya.

 

  • Merangsang proses interaksi.

Pertanyaan guru yang baik mendorong munculnya interaksi dan suasana menyenangkan pada diri peserta didik. Dalam kaitan ini, setelah menyampaikan pertanyaan, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik mendiskusikan jawabannya. Setelah itu, guru memberi kesempatan kepada seorang atau beberapa orang peserta didik diminta menyampaikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Pola bertanya seperti ini memposisikan guru sebagai wahana pemantul.

 

  1. c.       Tingkatan Pertanyaan

Pertanyaan guru yang baik dan benar menginspirasi peserta didik untuk memberikan jawaban yang baik dan benar pula. Guru harus memahami kualitas pertanyaan, sehingga menggambarkan tingkatan kognitif seperti apa yang akan disentuh, mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi. Bobot pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi disajikan berikut ini.

 

 

Tingkatan Subtingkatan Kata-kata kunci pertanyaan
Kognitif yang lebih rendah
  • Pengetahuan (knowledge)
    • Apa…
    • Siapa…
    • Kapan…
    • Di mana…
    • Sebutkan…
    • Jodohkan atau pasangkan…
    • Persamaan kata…
    • Golongkan…
    • Berilah nama…
    • Dll.
    • Pemahaman (comprehension)
      • Terangkahlah…
      • Bedakanlah…
      • Terjemahkanlah…
      • Simpulkan…
      • Bandingkan…
      • Ubahlah…
      • Berikanlah interpretasi…
      • Penerapan (application
        • Gunakanlah…
        • Tunjukkanlah…
        • Buatlah…
        • Demonstrasikanlah…
        • Carilah hubungan…
        • Tulislah contoh…
        • Siapkanlah…
        • Klasifikasikanlah…
Kognitif yang lebih tinggi
  • Analisis (analysis)

 

  • Analisislah…
  • Kemukakan bukti-bukti…
  • Mengapa…
  • Identifikasikan…
  • Tunjukkanlah sebabnya…
  • Berilah alasan-alasan…
  • Sintesis (synthesis)
    • Ramalkanlah…
    • Bentuk…
    • Ciptakanlah…
    • Susunlah…
 
    • Rancanglah…
    • Tulislah…
    • Bagaimana kita dapat memecahkan…
    • Apa yang terjadi seaindainya…
    • Bagaimana kita dapat memperbaiki…
    • Kembangkan…
 
  • Evaluasi (evaluation)
    • Berilah pendapat…
    • Alternatif mana yang lebih baik…
    • Setujukah anda…
    • Kritiklah…
    • Berilah alasan…
    • Nilailah…
    • Bandingkan…
    • Bedakanlah…
  1. Menalar
  1. a.      Esensi Menalar

Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.  Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat.

Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. Dari persepektif psikologi, asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan  antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu.

Menurut teori asosiasi, proses pembelajaran pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. Pola ineraksi itu dilakukan melalui stimulus dan respons (S-R).  Teori ini dikembangan kerdasarkan hasil eksperimen Thorndike, yang kemudian dikenal dengan teori asosiasi. Jadi, prinsip dasar proses pembelajaran yang dianut oleh Thorndike adalah asosiasi, yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon (S-R). Menurut Thorndike, proses pembelajaran, lebih khusus lagi proses belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau inkremental/bertahap, bukan secara tiba-tiba. Thorndike mengemukakan berapa hukum dalam proses pembelajaran.

  • Hukum efek (The Law of Effect), di mana intensitas hubungan antara stimulus (S) dan respon (R) selama proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh konsekuensi dari hubungan yang terjadi. Jika akibat dari hubungan S-R itu dirasa menyenangkan, maka perilaku peserta didik akan mengalami penguatan. Sebaliknya, jika akibat hubungan S-R dirasa tidak menyenangkan, maka perilaku peserta didik akan melemah. Menurut Thorndike, efek dari reward (akibat yang menyenangkan) jauh lebih besar dalam memperkuat perilaku peserta didik dibandingkan efek punishment (akibat yang tidak menyenangkan) dalam memperlemah perilakunya. Ini bermakna bahwa reward akan meningkatkan perilaku peserta didik, tetapi punishment belum tentu akan mengurangi atau menghilangkan perilakunya.

 

  • Hukum latihan (The Law of Exercise). Awalnya, hukum ini terdiri dari dua jenis, yang setelah tahun 1930 dinyatakan dicabut oleh Thorndike. Karena dia menyadari bahwa latihan saja tidak dapat memperkuat atau membentuk perilaku. Pertama, Law of Use yaitu hubungan antara S-R akan semakin kuat jika sering digunakan atau berulang-ulang. Kedua, Law of Disuse, yaitu hubungan antara S-R akan semakin melemah jika tidak dilatih atau dilakukan berulang-ulang. Menurut Thorndike, perilaku dapat dibentuk dengan menggunakan penguatan (reinforcement). Memang, latihan berulang tetap dapat diberikan, tetapi yang terpenting adalah individu menyadari konsekuensi perilakunya.

 

  • Hukum kesiapan (The Law of Readiness). Menurut Thorndike, pada prinsipnya apakah sesuatu itu akan menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk dipelajari tergantung pada kesiapan belajar individunya. Dalam proses pembelajaran, hal ini bermakna bahwa jika peserta dalam keadaan siap dan belajar dilakukan, maka mereka akan merasa puas. Sebaliknya, jika pesert didik dalam keadaan tidak siap dan belajar terpaksa dilakukan, maka mereka akan merasa tidak puas bahkan mengalami frustrasi. Prinsip-prinsip dasar dari Thorndike kemudian diperluas oleh B.F. Skinner dalam Operant Conditioning atau pelaziman/pengkondisian operan. Pelaziman operan adalah bentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.

 

Merujuk pada teori S-R, proses pembelajaran akan makin efektif jika peserta didik makin giat belajar. Dengan begitu, berarti makin tinggi pula kemampuannya dalam menghubungkan S dengan R. Kaidah dasar yang digunakan dalam teori S-R adalah:

  • Kesiapan (readiness). Kesiapan  diidentifikasi berkaitan langsung dengan motivasi peserta didik. Kesiapan itu harus ada pada diri guru dan peserta didik. Guru harus benar-benar siap mengajar dan peserta didik benar-benar siap menerima pelajaran dari gurunya. Sejalan dengan itu, segala sumber daya pembelajaran pun perlu disiapkan secara baik dan saksama.
  • Latihan (exercise). Latihan merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara berulang oleh peserta didik. Pengulangan ini memungkinkan hubungan antara S dengan R makin intensif dan ekstensif.
  • Pengaruh (effect). Hubungan yang intensif dan berulang-ulang antara S dengan R akan meningkatkan kualitas ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik sebagai hasil belajarnya. Manfaat hasil belajar yang diperoleh oleh peserta didik dirasakan langsung oleh mereka dalam dalam dunia kehidupannya.

 

Kaidah atau prinsip “pengaruh” dalam pembelajaran berkaitan dengan kemamouan guru menciptakan suasana, memberi penghargaan, celaan, hukuman, dan ganjaran. Teori S – S ini memang terkesan robotik. Karenanya, teori ini terkesan mengenyampingkan peranan minat, kreativitas, dan apirasi peserta didik.

  • Oleh karena tidak semua perilaku belajar atau pembelajaran dapat dijelaskan dengan pelaziman sebagaimana dikembangkan oleh  Ivan Pavlov, teori asosiasi biasanya menambahkan teori belajar sosial (social learning) yang dikembangkan oleh Bandura. Menurut Bandura, belajar terjadi karena proses peniruan (imitation). Kemampuan peserta didik dalam meniru respons menjadi pengungkit utama aktivitas belajarnya. Ada empat konsep dasar teori belajar sosial (social learning theory) dari Bandura.
  • Pertama, pemodelan (modelling), dimana peserta didik belajar dengan cara meniru perilaku orang lain (guru, teman, anggota masyarakat, dan lain-lain) dan pengalaman vicarious yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain itu.
  • Kedua, fase belajar, meliputi fase memberi perhatian terhadap model (attentional), mengendapkan hasil memperhatikan model dalam pikiran pebelajar (retention), menampilkan ulang perilaku model oleh pebelajar (reproduction), dan motivasi (motivation) ketika peserta didik berkeinginan mengulang-ulang perilaku model yang mendatangkan konsekuensi-konsekuensi positif dari lingkungan.
  • Ketiga, belajar vicarious, dimana peserta didik belajar dengan melihat apakah orang lain diberi ganjaran atau hukuman selama terlibat dalam perilaku-perilaku tertentu.
  • Keempat, pengaturan-diri (self-regulation), dimana peserta didik mengamati, mempertimbangkan, memberi ganjaran atau hukuman terhadap perilakunya sendiri.

Teori asosiasi ini sangat efektif menjadi landasan menanamkan sikap ilmiah dan motivasi pada peserta didik berkenaan dengan nilai-nilai instrinsik dari pembelajaran partisipatif. Dengan cara ini peserta didik akan melakukan peniruan terhadap apa yang nyata diobservasinya dari kinerja guru dan temannya di kelas.

Bagaimana aplikasinya dalam proses pembelajaran? Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan dengan cara berikut ini.

  • Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntutan kurikulum.
  • Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai contoh-contoh, baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi.
  • Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis, dimulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi).
  • Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati
  • Seriap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki
  • Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman.
  • Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik.
  • Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan.
  1. b.      Cara menalar

Seperti telah dijelaskan di muka, terdapat dua cara menalar, yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari fenomena atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Jadi, menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara individual atau spesifik menjadi simpulan yang bersifat umum. Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik.

Contoh:

  • Singa binatang berdaun telinga, berkembangbiak dengan cara melahirkan
  • Harimau binatang berdaun telinga, berkembangbiak dengan cara melahirkan
  • Ikan Paus binatang berdaun telinga berkembangbiak dengan melahirkan
  • Simpulan: Semua binatang yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan

Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataan-pernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Pola penalaran deduktif dikenal dengan pola silogisme. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Ada tiga jenis silogisme, yaitu silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme alternatif. Pada penalaran deduktif tedapat premis, sebagai proposisi menarik simpulan. Penarikan simpulan dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu  langsung dan tidak langsung. Simpulan secara langsung ditarik dari satu premis, sedangkan simpulan tidak langsung ditarik dari dua premis.

Contoh :

  • Kamera adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi
  • Telepon genggam adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperas.
  • Simpulan: semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi.

 

  1. 4.      Analogi dalam Pembelajaran

Selama proses pembelajaran, guru dan pesert didik sering kali menemukan fenomena yang bersifat analog atau memiliki persamaan. Dengan demikian, guru dan peserta didik adakalamua menalar secara analogis. Analogi adalah suatu proses penalaran dalam pembelajaran dengan cara membandingkan sifat esensial yang mempunyai kesamaan atau persamaan.

Berpikir analogis sangat penting dalam pembelajaran, karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. Seperti halnya penalaran, analogi terdiri dari dua jenis, yaitu analogi induktif dan analogi deduktif. Kedua analogi itu dijelaskan berikut ini.

Analogi induktif disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena atau gejala. Atas dasar persamaan dua gejala atau fenomena itu ditarik simpulan bahwa apa yang ada pada fenomena atau gejala pertama terjadi juga pada fenomena atau gejala kedua. Analogi induktif merupakan suatu ‘metode menalar’ yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu simpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua fenomena atau gejala khusus yang diperbandingkan.

Contoh:

Peserta didik Pulan merupakan pebelajar yang tekun. Dia lulus seleksi Olimpiade Sains Tingkat Nasional tahun ini. Dengan demikian, tahun ini juga, Peserta didik Pulan akan mengikuti kompetisi  pada Olimpiade Sains Tingkat Internasional. Untuk itu dia harus belajar lebih tekun lagi.

Analogi deklaratif merupakan suatu ‘metode menalar’ untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu fenomena atau gejala yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Analogi deklaratif ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru, fenomena, atau gejala menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah dketahui secara nyata dan dipercayai.

Contoh:

Kegiatan kepeserta didikan akan berjalan baik jika terjadi sinergitas kerja antara kepala sekolah, guru, staf tatalaksana, pengurus organisasi peserta didik intra sekolah, dan peserta didik. Seperti halnya kegiatan belajar, untuk mewujudkan hasil yang baik diperlukan sinergitas antara ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

 

  1. 5.      Hubungan Antarfenonena

Seperti halnya penalaran dan analogi, kemampuan menghubungkan antarfenomena atau gejala sangat penting dalam proses pembelajaran, karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. Di sinilah esensi bahwa guru dan peserta didik dituntut mampu memaknai hubungan antarfenonena atau gejala, khususnya hubungan sebab-akibat.

Hubungan sebab-akibat diambil dengan menghubungkan satu atau beberapa fakta yang satu dengan datu atau beberapa fakta yang lain. Suatu simpulan yang menjadi sebab dari satu atau beberapa fakta itu atau dapat juga menjadi akibat dari satu atau beberapa fakta tersebut.

Penalaran sebab-akibat ini masuk dalam ranah penalaran induktif, yang disebut dengan penalaran induktif sebab-akibat. Penalaran induksi sebab akibat terdiri dri tiga jenis.

  • Hubungan sebab–akibat. Pada penalaran hubungan sebab-akibat, hal-hal yang menjadi sebab dikemukakan terlebih dahulu, kemudian ditarik simpulan yang berupa akibat.

Contoh:

Bekerja keras, belajar tekun, berdoa, dan tidak putus asa adalah faktor pengungkit yang  bisa membuat kita mencapai puncak kesuksesan.

  • Hubungan akibat–sebab. Pada penalaran hubungan akibat-sebab, hal-hal yang menjadi akibat dikemukakan terlebih dahulu, selanjutnya ditarik simpulan yang merupakan penyebabnya.

Contoh :

Akhir-ahir ini sangat marak kenakalan remaja, angka putus sekolah, penyalahgunaan Nakoba di kalangan generasi muda, perkelahian antarpeserta didik, yang disebabkan oleh pengabaian orang tua dan ketidaan keteladanan tokoh masyarakat, sehingga mengalami dekandensi moral secara massal.

  • Hubungan sebab–akibat 1 – akibat 2. Pada penalaran hubungan sbab-akibat 1 –akibat 2, suatu  penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat yang pertama menjadi penyebab, sehingga menimbulkan akibat kedua. Akibat kedua menjadi penyebab sehingga menimbulkan akibat ketiga, dan seterusnya.

Contoh:

Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, hidupnya terisolasi. Keterisolasian itu menyebabkan mereka kehilangan akses untuk melakukan aktivitas ekonomi, sehingga muncullah kemiskinan keluarga yang akut. Kemiskinan keluarga yang akut menyebabkan anak-anak mereka tidak berkesempatan menempuh pendidikan yang baik. Dampak lanjutannya, bukan tidak mungkin terjadi kemiskinan yang terus berlangsung secara siklikal.

 

  1. 6.      Mencoba

Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran IPA, misalnya, peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.

Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum; (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan; (3) mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya; (4) melakukan dan mengamati percobaan; (5) mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data; (6) menarik simpulan atas hasil percobaan; dan (7) membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan.

Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal.

Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga tahap, yaitu, persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Ketiga tahapan eksperimen atau mencoba dimaksud dijelaskan berikut ini.

  1. a.      Persiapan
  • Menentapkan tujuan eksperimen
  • Mempersiapkan alat atau bahan
  • Mempersiapkan tempat eksperimen sesuai dengan jumlah peserta didik serta alat atau bahan yang tersedia. Di sini guru perlu menimbang apakah peserta didik akan melaksanakan eksperimen atau mencoba secara serentak atau dibagi menjadi beberapa kelompok secara paralel atau bergiliran
  • Memertimbangkan masalah keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindari risiko yang mungkin timbul
  • Memberikan penjelasan mengenai apa yang harus diperhatikan dan tahapa-tahapan yang harus dilakukan peserta didik, termasuk hal-hal yang dilarang atau membahayakan.

 

  1. b.      Pelaksanaan

 

  • Selama proses eksperimen atau mencoba, guru ikut membimbing dan mengamati proses percobaan. Di sini guru harus memberikan dorongan dan bantuan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik agar kegiatan itu berhasil dengan baik.
  • Selama proses eksperimen atau mencoba, guru hendaknya memperhatikan situasi secara keseluruhan, termasuk membantu mengatasi dan memecahkan masalah-masalah yang akan menghambat kegiatan pembelajaran.

 

  1. c.       Tindak lanjut
  • Peserta didik mengumpulkan laporan hasil eksperimen kepada guru
  • Guru memeriksa hasil eksperimen peserta didik
  • Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik atas hasil eksperimen.
  • Guru dan peserta didik mendiskusikan masalah-masalah yang ditemukan selama eksperimen.
  • Guru dan peserta didik memeriksa dan menyimpan kembali segala bahan dan alat yang digunakan

 

  1. D.     Jejaring Pembelajaran atau Pembelajaran Kolaboratif

Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kolaboratif? Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama.

Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar, sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif. Jika  pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi, maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang lain atau guru. Dalam situasi kolaboratif itu, peserta didik berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman, sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan belajar secara bersama-sama.

Hasil penelitian Vygotsky membuktikan bahwa ketika peserta didik diberi tugas untuk dirinya sediri, mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika bekerjasama atau berkolaborasi dengan temannya. Vigotsky merupakan salah satu pengagas teori konstruktivisme sosial. Pakar ini sangat terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” atau ZPD. Istilah ”Proximal” yang digunakan di sini bisa bermakna “next“. Menurut Vygotsky,  setiap manusia (dalam konteks ini disebut peserta didik) mempunyai potensi tertentu. Potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan cara menerapkan ketuntasan belajar (mastery learning). Akan  tetapi di antara potensi dan aktualisasi peserta didik itu terdapat terdapat wilayah abu-abu.  Guru memiliki berkewajiban menjadikan wilayah “abu-abu” yang ada pada peserta didik itu dapat teraktualisasi dengan cara belajar kelompok.

Seperti termuat dalam gambar, Vygostsky mengemukakan tiga wilayah  yang tergamit dalam ZPD yang disebut dengan “cannot yet do”,can do with help“, dan “can do alone“.  ZPD merupakan wilayah  “can do with help” yang sifatnya tidak permanen, jika proses pembelajaran mampu menarik pebelajar dari zona tersebut dengan cara kolaborasi atau pembelajaran kolaboratif.

Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif. Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peserta didik. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses pembelajaran. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif.

  1. 1.      Guru dan peserta didik saling berbagi informasi.

Dengan pembelajaran kolaboratif,  peserta didik memiliki ruang gerak untuk menilai  dan membina ilmu pengetahuan, pengalaman personal, bahasa komunikasi, strategi dan konsep pembelajaran sesuai dengan teori, serta menautkan kondisi sosiobudaya dengan situasi pembelajaran. Di sini, peran guru lebih banyak sebagai pembimbing dan manajer belajar ketimbang memberi instruksi dan mengawasi secara rijid.

Contoh:

Jika guru mengajarkan topik “hidup bersama secara damai.” Peserta didik yang mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan topik tersebut berpeluang menyatakan sesuatu pada sesi pembelajaran, berbagi idea, dan memberi garis-garis besar  arus komunikasi antar peserta didik. Jika peserta didikmemahami dan melihat fenomena nyata kehidupan bersama yang damai itu, pengalaman dan pengetahuannya dihargai dan dapat dibagikan dalam jaringan pembelajaran mereka.  Mereka pun akan termotivasi untuk melihat dan mendengar. Di sini peserta didik juga dapat merumuskan kaitan antara proses pembelajaran yang sedang dilakukan dengan dunia sebenarnya.

 

  1. 2.      Berbagi tugas dan kewenangan.

Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif, guru berbagi tugas dan kewenangan dengan peserta didik, khususnya untuk hal-hal tertentu. Cara ini memungkinan peserta didik menimba pengalaman mereka sendiri,  berbagi strategi dan informasi, menghormati antarsesa, mendoorong tumbuhnya ide-ide cerdas, terlibat dalam pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka mengambil peran secara terbuka dan bermakna.

  • Guru sebagai mediator.

Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif, guru berperan sebagai mediator atau perantara. Guru berperan membantu menghubungkan informasi  baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka mengalami kebutuan dan bersedia menunjukkan cara bagaimana mereka memiliki kesungguhan untuk belajar.

  • Kelompok peserta didik yang heterogen.

Sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didk yang tumbuh dan berkembang sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di kelas.  Pada kelas kolaboratif peserta didik dapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan mereka, berbagi informasi, serta mendengar atau membahas sumbangan informasi dari peserta didik lainnya. Dengan cara seperti ini akan muncul “keseragaman” di dalam heterogenitas peserta didik.

Contoh Pembelajaran Kolaboratif

Guru ingin mengajarkan tentang konsep, penggolongan sifat, fakta, atau mengulangi informasi tentang objek. Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort).  Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini.

  • Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
  • Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama.
  • Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekanhya.
  • Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik, buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.

 

  1. 3.      Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif

Banyak merode yang dipakai dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Beberapa di antaranya dijelaskan berikut ini.

  • JP = Jigsaw Proscedure.

Pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik sebagai anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda mengenai suatu pokok bahasan. Agar masing-masing peserta didik anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasari   pada rata-rata skor tes kelompok.

  • STAD = Student Team Achievement Divisions.

Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok bertindak saling membelajarkan. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya. Penilaian didasar­i pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok peserta didik.

  • CI = Complex Instruction.

Titik tekan metode ini  adalam pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika, dan ilmu pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua peserta didik sebagai anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para peserta didik yang sangat heterogen. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok.

  • TAI = Team Accelerated Instruction.

Metode ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap peserta didik sebagai anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap peserta didik mengerjakan soal-soal berikutnya. Namun jika seorang peserta didik belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasari pada hasil belajar individual maupun kelompok.

  • CLS = Cooperative Learning Stuctures.

Pada penerapan metode pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua peserta didik (berpasangan). Seorang peserta didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran.

  • LT = Learning Together

Pada metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.

  • TGT = Teams-Games-Tournament.

Pada metode ini, setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik.

  • GI = Group Investigation.

Pada metode ini semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok.

  • AC = Academic-Constructive Controversy.

Pada metode ini setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.

  • CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition.

Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. Metode pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para peserta didik saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.

 

 

HO – 2.2-2

 

CONTOH PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC

DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU

 

  1. A.   Pengantar

Memasuki Tahun 2013 akan segera diberlakukan pembelajaran  Tematik Terpadu bagi peserta didik mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI. Pembelajaran dimaksud adalah dengan menggunakan Tema  yang akan menjadi pemersatu berbagai mata pelajaran.

Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.  Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud  meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi  tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari  nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Pendekatan ilmiah pembelajaran antara lain meliputi  langkah-langkah pokok

  1. Mengamati
  2. Menanya
  3. Menalar
  4. Mencoba
  5. Mengolah
  6. Menyajikan
  7. Menyimpulkan dan
  8. Mengkomunikasikan

Langkah-langkah tersebut tidak selalu dilalui secara berurutan,  terlebih pada pembelajaran Tematik Terpadu, dimana pembelajarannya menggunakan Tema sebagai pemersatu. Sementara setiap mata pelajaran memiliki karakteristik keilmuan yang antara satu dengan lainnya tidak sama. Oleh karena itu agar pembelajaran bermakna perlu diberikan contoh-contoh agar dapat lebih memperjelas penyajian pembelajaran dengan pendekatan scientific.

  1. B.    Pendekatan ilmiah dalam Pembelajaran Tematik Terpadu

Sebagaimana  telah disebutkan sebelumnya bahwa pembelajaran Tematik Terpadu merupakan suatu penyajian pembelajaran yang menyatukan beberapa mata pelajaran dengan Tema sebagai pemersatunya. Sementara karakteristik  keilmuan dari setiap materi pelajaran tidaklah sama maka khusus untuk penyajian pembelajaran dapat disajikan langkah dalam pendekatan ilmiah sebagai berikut:

  1. 1.    Mengamati

Dalam penyajian pembelajaran, guru dan peserta didik (Kelas I Sekolah Dasar) perlu memahami apa yang hendak dicatat, melalui kegiatan pengamatan. Mengingat peserta didik masih dalam jenjang Sekolah Dasar, maka pengamatan akan lebih banyak menggunakan media gambar, alat peraga yang sedapat mungkin bersifat kontekstual. Berikut contoh  Tema Kegiatanku. Peserta didik diajak mengamati gambar, kemudian mereka diajak mengidentifikasi, tentang ciri-ciri rumah. Apakah termasuk rumah yang bersih, dan apa syaratnya atau kriterianya rumah yang sehat. Dengan mengamati gambar, peserta didik akan dapat secara langsung dapat menceritakan kondisi sebagaimana yang di tuntut dalam kompetensi dasar dan indikator, dan mata pelajaran apa saja yang dapat dipadukan dengan media yang tersedia. Kegiatan apa  yang harus dilakukan dengan kondisi rumah yag diamati.

  1. 2.    Menanya

Peserta didik yang masih duduk di kelas I Sekolah Dasar tidak mudah diajak bertanya jawab apabila tidak  dihadapkan dengan media yang menarik. Guru yang efektif seyogyanya mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.

Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyata, pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal.  Dengan media gambar peserta didik diajak bertanya jawab kegiatan apa saja yang harus dilakukan peserta didik agar rumah dan lingkungannya menjadi  bersih dan sehat  sekaligus membedakan rumah yang bersih dan yang tidak bersih. (Eksplorasi)

Bentuk pertanyaan, misalnya: Apakah ciri-ciri rumah yang sehat?

 

 

 

Pada saat siswa mengamati dan menjawab pertanyaan guru, maka sudah memadukan dan mengakomodasi mata pelajaran Bahasa Indonesia, (untuk aspek mendengarkan, dan berbicaranya, membaca gambar serta menulis hasil identifikasi ciri-ciri rumah bersih dan sehat). Bagi  peserta didik yang masih duduk di kelas I Sekolah Dasar yang belum lancar membaca tulisan akan diganti dengan membaca gambar. Sedangkan konten yang  yang sedang dibahas merupakan substansi dari mata pelajaran Bahasa Indonesia/di dalamnya memuat IPA. Lebih lanjut dapat dipadukan dengan mata pelajaran  Matematika tentang bangun datar dan bangun ruang.

  1. 3.    Menalar

Apabila dikaitkan dengan contoh yang disajikan diatas, maka Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 adalah untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.  Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penalaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat.

Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. Dari perspektif psikologi, asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan  antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu. (Eksplorasi dan Elaborasi)

Contoh untuk kegiatan menalar ini bisa dengan gambar-gambar sebagai berikut:

 

No

Gambar

Kegiatan di rumah

Kegiatan di sekolah

Kegiatan di lingkungan masyarakat

1.

 

 

 

 

Ö

   

2.

 

 

 

 

 

 

 

   

3.

 

 

 

 

 

 

 

   

4.

 

 

 

 

 

 

   

5.

 

 

 

 

 

 

 

   

 

Peserta didik akan mengamati dan mengerjakan tugas dari guru dengan cara memberikan tanda cek ( √ )

  1. 4.    Mencoba

Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, (Kelas I SD/MI) misalnya, peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA yang ada di dalam Bahasa Indonesia dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.

Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum; (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan; (3) mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya; (4) melakukan dan mengamati percobaan; (5) mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data; (6) menarik simpulan atas hasil percobaan; dan (7) membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. (Eksplorasi dan elaborasi)

Contoh:

Peserta didik bisa diajak berdiri di tengah lapangan untuk mencoba dan mempraktekkan apakah bayang-bayang tubuh manusia bisa berjalan?

Dan pada pukul berapa bayang-bayang manusia menyatu dengan tubuh manusia?

 

  1. 5.    Mengolah

Pada tahapan mengolah ini peserta didik  sedapat mungkin dikondisikan belajar secara kolaboratif. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar, sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif. Jika  pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi, maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang lain atau guru. Dalam situasi kolaboratif itu, peserta didik berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman, sehingga memungkinkan peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tuntutan belajar secara bersama-sama.  Peserta didik secara bersama-sama, saling bekerjasama, saling membantu mengerjakan hasil tugas terkait dengan materi yang sedang dipelajari (Kegiatan Elaborasi).

 

 

 

 

Hasil tugas  dikerjakan bersama dalam satu kelompok untuk kemudian dipresentasikan atau dilaporkan kepada guru

  1. 6.    Menyimpulkan

Kegiatan menyimpulkan merupakan kelanjutan dari kegiatan  mengolah, bisa dilakukan bersama-sama dalam satu kesatuan kelompok, atau bisa juga dengan dikerjakan sendiri setelah mendengarkan hasil kegiatan mengolah informasi.

 

  1. 7.    Menyajikan

Hasil tugas yang telah dikerjakan bersama-sama secara kolaboratif dapat disajikan dalam bentuk laporan tertulis dan dapat dijadikan sebagai salah satu bahan untuk portofolio kelompok dan atau individu. Yang sebelumnya di konsultasikan terlebih dulu kepada guru. Pada tahapan ini kendatipun tugas dikerjakan secara berkelompok, tetapi sebaiknya hasil pencatatan dilakukan oleh masing-masing individu. Sehingga portofolio yang di basukkan ke dalam file atau Map peserta didik terisi dari hasil pekerjaannya sendiri secara  individu.

 

 

  1. 8.    Mengkomunikasikan

Pada kegiatan akhir diharapkan peserta didik dapat mengkomunikasikan hasil pekerjaan yang telah disusun baik secara bersama-sama dalam kelompok dan atau secara individu dari hasil kesimpulan yang telah dibuat bersama. Kegiatan mengkomunikasikan ini dapat diberikan klarifikasi oleh guru agar supaya peserta didik akan mengetahui secara benar apakah jawaban yang telah dikerjakan sudah benar atau ada yang harus diperbaiki.  Hal ini dapat diarahkan pada kegiatan konfirmasi sebagaimana pada Standar Proses.

 

C.  Penutup

Pendekatan ilmiah atau scientific dalam pembelajaran Tematik Terpadu akan semakin bagus apabila dilakukan secara alami, mengalir begitu saja, kontekstual dan terkait dengan pengalaman hidup sehari-hari peserta didik.  Langkah-langkah dalam pendekatan ilmiah seperti dijelaskan di atas tentu saja harus dijiwai oleh perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan,  gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan sehari-hari yang pada muaranya akan berdampak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

 

Referensi:

Shelly Frei, (2008), Teaching Mathematics Today, Huntington Beach, CA 92649-1030: Shell Education

Sudarwan, Prof., (2013), Pendekatan-pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran, Makalah pada Workshop Kurikulum, Jakarta

http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/24488/title/The-Scientific-Approach/: diakses 16 Februari 2013

http://ariasusman.wordpress.com/2009/07/06/pendekatan-ilmiah/ : diakses 16 Februari 2013

 


 

Submateri Pelatihan 2.3: Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran

 

Langkah Kegiatan Inti

Kegiatan Interaktif

Diskusi Kelompok

Paparan Materi

15 Menit

50 Menit

20 Menit

 

 

Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk penilaian autentik.

 

Diskusi materi  Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar.

 

Paparan materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.3

 

Paparan materi Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.3/3.2.

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HO-2.3

 

KONSEP PENILAIAN AUTENTIK

 

  1. A.       Definsi dan Makna Asesmen Autentik

Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Istilah asesmen merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi. Istilah autentik merupakan sinonim dari  asli, nyata, valid, atau reliabel. Dalam kehidupan akademik keseharian, frasa asesmen autentik dan penilaian autentik sering dipertukarkan. Akan tetapi, frasa pengukuran atau pengujian autentik, tidak lazim digunakan.

Secara konseptual asesmen autentik lebih bermakna secara signifikan  dibandingkan dengan  tes pilihan ganda terstandar sekali pun. Ketika menerapkan asesmen autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.

Untuk mendapatkan pemahaman cukup komprehentif mengenai arti asesmen autentik, berikut ini dikemukakan beberapa definisi. Dalam American Librabry Association, asesmen autentik didefinisikan sebagai proses evaluasi untuk mengukur kinerja, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap peserta didik pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran.  Dalam Newton Public School, asesmen autentik diartikan sebagai penilaian atas produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman kehidupan nyata peserta didik.  Wiggins mendefinisikan asesmen autentik sebagai upaya pemberian tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktifitas-aktifitas pembelajaran, seperti meneliti, menulis, merevisi dan membahas artikel, memberikan analisa oral terhadap peristiwa, berkolaborasi dengan antarsesama melalui debat, dan sebagainya.

 

B. Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013

Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Karena, asesmen semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Asesmen autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. Karenanya, asesmen autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai.

Kata lain dari asesmen autentik adalah penilaian kinerja, portofolio, dan penilaian proyek.  Asesmen autentik adakalanya disebut  penilaian responsif, suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang miliki ciri-ciri khusus, mulai dari mereka yang mengalami kelainan tertentu, memiliki bakat dan minat khusus, hingga yang jenius. Asesmen autentik dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya, dengan orientasi utamanya pada proses atau hasil pembelajaran.

Asesmen autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunkan standar tes berbasis norma, pilihan ganda,  benar–salah, menjodohkan, atau membuat jawaban singkat. Tentu saja, pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran, karena memang lzim digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik. Asesmen autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, guru secara tim, atau guru bekerja sama dengan  peserta didik. Dalam asesmen autentik, seringkali pelibatan siswa sangat penting. Asumsinya, peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai.

Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. Pada asesmen autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian keilmuan, dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah.

Asesmen autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar, kegiatan siswa belajar, motivasi dan keterlibatan peserta didik, serta keterampilan belajar. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran, guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Dalam beberapa kasus, peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan.

Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya. Atas dasar itu, guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan.

 

  1. C.             Asesmen Autentik dan Belajar Autentik

Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang dilakukan oleh peserta didik dikaitkan dengan realitas di luar sekolah atau kehidupan pada umumnya. Asesmen semacam ini cenderung berfokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual bagi peserta didik, yang memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. Contoh asesmen autentik antara lain keterampilan kerja, kemampuan mengaplikasikan atau menunjukkan perolehan pengetahuan tertentu, simulasi dan bermain peran, portofolio, memilih kegiatan yang strategis, serta memamerkan dan menampilkan sesuatu.

Asesmen autentik mengharuskan pembelajaran yang autentik pula. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam kenyataannya di luar sekolah. Asesmen Autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian. Pertama, pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. Kedua, penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. Ketiga, analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap, keteampilan, dan pengetahuan yang ada.

Dengan demikian, asesmen autentik akan bermakna bagi guru untuk menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa dapat mencapai hasil akhir, meski dengan satuan waktu yang berbeda. Konstruksi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif. Keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan tugas sangat bermakna bagi perkembangan pribadi mereka.

Dalam pembelajaran autentik, peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan pendekatan scientific, memahahi aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam, serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang luar sekolah. Di sini,  guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari, memiliki parameter waktu yang fleksibel, dan bertanggungjawab untuk tetap pada tugas. Asesmen autentik pun mendorong peserta didik mengkonstruksi, mengorganisasikan, menganalisis, mensintesis, menafsirkan, menjelaskan, dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru.

Sejalan dengan deskripsi di atas, pada pembelajaran autentik, guru harus menjadi “guru autentik.” Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran, melainkan juga pada penilaian. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik, guru harus memenuhi kriteria tertentu seperti disajikan berikut ini.

  1. Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain pembelajaran.
  2. Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan.
  3. Menjadi pengasuh proses pembelajaran, melihat informasi baru, dan mengasimilasikan pemahaman peserta didik.
  4. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar tembok sekolah.

Asesmen autentik adalah komponen penting dari reformasi pendidikan sejak tahun 1990an. Wiggins (1993) menegaskan bahwa metode penilaian tradisional untuk mengukur prestasi, seperti tes pilihan ganda, benar/salah, menjodohkan, dan lain-lain telah gagal mengetahui kinerja peserta didik yang sesungguhnya. Tes semacam ini telah  gagal memperoleh gambaran yang utuh mengenai sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar sekolah atau masyarakat.

Asesmen hasil belajar yang tradisional bahkan cenderung mereduksi makna kurikulum, karena tidak menyentuh esensi nyata dari proses dan hasil belajar peserta didik. Ketika asesmen tradisional cenderung mereduksi makna kurikulum, tidak mampu menggambarkan kompetensi dasar, dan rendah daya prediksinya terhadap derajat sikap, keterampilan, dan kemampuan berpikir yang diartikulasikan dalam banyak mata pelajaran atau disiplin ilmu; ketika itu pula asesmen autentik memperoleh traksi yang cukup kuat. Memang, pendekatan apa pun yang dipakai dalam penilaian tetap tidak luput dari kelemahan dan kelebihan. Namun demikian, sudah saatnya guru profesional pada semua satuan pendidikan memandu gerakan memadukan potensi peserta didik, sekolah, dan lingkungannya melalui asesmen proses dan hasil belajar yang autentik.

Data asesmen autentik digunakan untuk berbagai tujuan seperti menentukan kelayakan akuntabilitas  implementasi kurikulum dan pembelajaran di kelas tertentu. Data asesmen autentik dapat dianalisis dengan metode kualitatif, kuanitatif, maupun kuantitatif. Analisis kualitatif dari asesmen otentif berupa narasi atau deskripsi atas capaian hasil belajar peserta didik, misalnya, mengenai keunggulan dan kelemahan, motivasi, keberanian berpendapat, dan sebagainya. Analisis kuantitatif dari data asesmen autentik menerapkan rubrik skor atau daftar cek (checklist) untuk menilai tanggapan relatif peserta didik relatif terhadap kriteria dalam kisaran terbatas dari empat atau lebih tingkat kemahiran (misalnya: sangat mahir, mahir, sebagian mahir, dan tidak mahir). Rubrik penilaian dapat berupa analitik atau holistik. Analisis holistik memberikan skor keseluruhan kinerja peserta didik, seperti menilai kompetisi Olimpiade Sains Nasional.

 

  1. D.        Jenis-jenis Asesmen Autentik

Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami secara jelas  tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu, guru harus bertanya pada diri sendiri, khususnya berkaitan dengan: (1) sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang akan dinilai; (2) fokus penilaian akan dilakukan, misalnya, berkaitan dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan; dan (3) tingkat pengetahuan apa yang akan dinilai, seperti  penalaran, memori, atau proses. Beberapa jenis asesmen autentik disajikan berikut ini.

 

  1. 1.              Penilaian Kinerja

Asesmen autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. Dengan menggunakan informasi ini, guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam bentuk laporan naratif mauun laporan kelas. Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja:

  1. Daftar cek (checklist). Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan.
  2. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Digunakan dengan cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. Dari laporan tersebut, guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan.
  3. Skala penilaian (rating scale). Biasanya digunakan dengan menggunakan skala numerik berikut predikatnya. Misalnya: 5 = baik sekali, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = kurang, 1 = kurang sekali.
  4. Memori atau ingatan (memory approach). Digunakan oleh guru dengan cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu, dengan tanpa membuat catatan. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum. Cara seperti tetap ada manfaatnya, namun tidak cukup dianjurkan.

Penilaian  kinerja memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus. Pertama, langkah-langkah kinerja harus dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau beberapa jenis kompetensi tertentu. Kedua, ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja yang dinilai. Ketiga, kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Keempat, fokus utama dari kinerja yang akan dinilai, khususnya indikator esensial yang akan diamati. Kelima, urutan dari kemampuan atau keerampilan peserta didik yang akan diamati.

Pengamatan atas kinerja peserta didik perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk  menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk menilai keterampilan berbahasa peserta didik, dari aspek keterampilan berbicara, misalnya,  guru dapat mengobservasinya pada konteks yang, seperti berpidato, berdiskusi, bercerita, dan wawancara. Dari sini akan diperoleh keutuhan mengenai keterampilan berbicara dimaksud. Untuk mengamati kinerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen, seperti penilaian sikap, observasi perilaku, pertanyaan langsung, atau pertanyaan pribadi.

Penilaian-diri (self assessment) termasuk dalam rumpun penilaian kinerja. Penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status,  proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor.

  • Penilaian ranah sikap. Misalnya, peserta didik diminta mengungkapkan curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
  • Penilaian ranah keterampilan. Misalnya,  peserta didik diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
  • Penilaian ranah pengetahuan.  Misalnya, peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan.

Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa manfaat positif. Pertama, menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. Kedua, peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. Ketiga, mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik  berperilaku jujur. Keempat, menumbuhkan semangat untuk maju secara personal.

 

  1. 2.       Penilaian Proyek

Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data. Dengan demikian, penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman, mengaplikasikan, penyelidikan, dan lain-lain.

Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran, peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Karena itu, pada setiap penilaian proyek, setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru.

  1. Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
  2. Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik.
  3. Orijinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik.

Penilaian proyek berfokus pada perencanaan, pengerjaan, dan produk proyek. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan. Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek, skala penilaian, atau narasi. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis.

Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik.  Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk, seperti makanan, pakaian, hasil karya seni (gambar, lukisan, patung, dan lain-lain), barang-barang terbuat dari kayu, kertas, kulit, keramik, karet, plastik, dan karya logam. Penilaian secara analitik merujuk pada semua kriteria  yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara keseluruhan atas produk yang dihasilkan.

 

  1. 3.       Penilaian Portofolio

Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.

Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik, hasil tes (bukan nilai), atau informasi lain yang releban dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dituntut oleh topik atau mata pelajaran tertentu.Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu. Penilaian terutama dilakukan oleh guru, meski dapat juga oleh peserta didik sendiri.

Memalui penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. Misalnya, hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi buku/ literatur, laporan penelitian, sinopsis, dan lain-lain. Atas dasar penilaian itu, guru dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran.

Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini.

  1. Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
  2. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.
  3. Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.
  4. Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.
  5. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
  6. Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.
  7. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.

 

  1. 4.       Penilaian Tertulis

Meski konsepsi asesmen autentik muncul dari ketidakpuasan terhadap tes tertulis yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya, penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap lazim dilakukan. Tes tertulis terdiri dari memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. Memilih jawaban dan mensuplai jawaban. Memilih jawaban terdiri dari   pilihan ganda, pilihan benar-salah, ya-tidak, menjodohkan, dan sebab-akibat. Mensuplai jawaban terdiri dari isian atau melengkapi,  jawaban singkat atau pendek, dan  uraian.

Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik.

Pada tes tertulis berbentuk esai, peserta didik berkesempatan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan teman-temannya, namun tetap terbuka memperoleh nilai yang sama. Misalnya, peserta didik tertentu melihat fenomena kemiskinan dari sisi pandang kebiasaan malas bekerja, rendahnya keterampilan, atau kelangkaan sumberdaya alam. Masing-masing sisi pandang ini akan melahirkan jawaban berbeda, namun tetap terbuka memiliki kebenarann yang sama, asalkan analisisnya benar. Tes tersulis berbentuk esai biasanya menuntut dua jenis pola jawaban, yaitu jawaban terbuka (extended-response) atau jawaban terbatas (restricted-response). Hal ini sangat tergantung pada bobot soal yang diberikan oleh guru. Tes semacam ini memberi kesempatan pada guru untuk dapat mengukur hasil belajar peserta didik pada tingkatan yang lebih tinggi atau kompleks.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Submateri Pelatihan 2.4: Analisis Buku Guru dan Buku Siswa

 

Langkah Kegiatan Inti

Menilai Buku

Diskusi Kelompok

Menyimpulkan Hasil

Kerja Kelompok

20 Menit

30 Menit

15 Menit

60 Menit

 

 

Menyimpulkan

Presentasi

Kerja Kelompok

Diskusi Kelompok

20 Menit

30 Menit

30 Menit

30 Menit

 

Menilai Buku

Peserta menilai buku dengan bimbingan fasilitator dilihat dari aspek kesesuaian, kecukupan, dan kedalaman materi.

Diskusi Kelompok

Peserta dibagi atas beberapa kelompok yang terdiri dari

Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan pemaparan materi Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2.4  yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.

Simpulan

Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar kerja yang telah disiapkan.

Kerja Kelompok

Kerja kelompok menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL, KI, dan KD dengan menggunakan LK-2.4-1 dan LK -2.4-2.

 

 

Diskusi Kelompok

Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses, pendekatan belajar, serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku.

Kerja Kelompok

Kerja kelompokmembuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.

Presentasi

Presentasi hasil kerja masing-masing kelompok.

Simpulan

Fasilitator menyimpulkan materi analisis buku.

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

LK–2.4-1

LEMBAR KERJA

ANALISIS BUKU GURU DAN BUKU SISWA

 

LK-2.4-2

PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU DAN BUKU SISWA 

Kompetensi

  1. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.
  2. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL, KI, dan KD.
  3. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi.

 

Tujuan

  1. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan SKL, KI dan KD.
  2. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik.
  3. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan konsep pendekatan scientific dan penilaian autentik.
  4. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis .

 

Panduan Kegiatan

  1. Bagilah peserta menjadi kelompok yang terdiri dari 3 orang. Tiap kelompok  menganalisis 3 sub tema.
  2. Pelajari format Analisis Buku Guru dan format Analisis Buku Siswa!
  3. Siapkan SKL, KI dan KD!
  4. Cermatilah buku guru dan buku siswa!
  5. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia!
  6. Berikan tanda centang (Ö) jika sudah sesuai dan tanda silang (x) jika belum sesuai!
  7. Berdasarkan hasil analisis, tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut:
    1. Jika sesuai dengan kebutuhan, buku bisa digunakan dalam pembelajaran.
    2. Jika kurang/tidak sesuai, Anda  disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku tersebut.

 

 

 

 

LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU

 

Judul buku         : ……………………………………………………………………………………….

Kelas                    : ……………………………………………………………………………………….

Jenjang               : ……………………………………………………………………………………….

Tema                   : ……………………………………………………………………………………….

Subtema            : ……………………………………………………………………………………….

 

NO.

ASPEK YANG DIANALISIS

HASIL ANALISIS

TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS

PB I

PB 2

PB 3

PB 4

PB 5

1.

Kesesuaian dengan SKL            

2.

Kesesuaian dengan KI            

3.

Kesesuaian dengan KD            

4.

Kecukupan materi ditinjau dari:

  1. cakupan  konsep/materi esensial; dan
  2. alokasi waktu.
           

5.

Kedalaman materi pengayaan ditinjau dari:

  1. Pola pikir keilmuan; dan
  2. Karakteristik siswa
           

6.

Informasi pembelajaran sesuai Standar Proses            

7.

Informasi keterpaduan: Penerapan model pembelajaran tematik terpadu            

8.

Informasi tentang penerapan pendekatan scientific            

9.

Instrumen penilaian autentik dan bahan remedial teaching            

 


 

LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA

 

Judul buku         : ……………………………………………………………………………………….

Kelas                    : ……………………………………………………………………………………….

Jenjang               : ……………………………………………………………………………………….

Tema                   : ……………………………………………………………………………………….

Subtema            : ……………………………………………………………………………………….

 

No.

Aspek yang Dianalisis

HASIL ANALISIS

TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS

PB I

PB 2

PB 3

PB 4

PB 5

1.

Kesesuaian dengan SKL            

2.

Kesesuaian dengan KI            

3.

Kesesuaian dengan KD            

4.

Kesesuaian materi dengan tema            

5.

Kecukupan materi ditinjau dari:

  1. cakupan  konsep/materi esensial; dan
  2. alokasi waktu.
           

6.

Kedalaman materi ditinjau dari:

  1. Pola pikir keilmuan; dan
  2. Karakteristik siswa
           

7.

Keterpaduan berbagai mata pelajaran            

8.

Penerapan Pendekatan Scientific            

9.

Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa            

10.

Kolom interaksi antara guru dengan orangtua            

 

 

R–2.4

RUBRIK

PENILAIAN HASIL ANALISIS BUKU

GURU DAN SISWA

 

Rubrik penilaian analisis buku guru dan buku siswa digunakan fasilitator untuk menilai hasil analisis peserta terhadap buku guru dan buku siswa sesuai dengan mata pelajaran yang diampu.

Langkah-langkah penilaian hasil analisis.

  1. Cermati format penilaian analisis buku guru atau buku siswa  serta  hasil analisis peserta  yang akan dinilai!
  2. Berikan nilai pada setiap aspek yang dianalisis sesuai dengan penilaian Anda terhadap  hasil analisis  peserta menggunakan rentang nilai sebagai berikut!

PERINGKAT

NILAI

KRITERIA

Amat Baik ( A)

 90 < A ≤ 100

Hasil analisis tepat, tindak lanjut logis dan bisa dilaksanakan

Baik  (B)

75 <  B < 90

Hasil analisis tepat, tindak lanjut kurang logis

Cukup (C)

 60 < C  <  75

Hasil analisis kurang tepat, tindak lanjut logis

Kurang (K)

<  60

Hasil analisis kurang tepat, tindak lanjut tidak logis

 

  1. Setelah selesai penilaian masing-masing komponen, jumlahkan nilai seluruh komponen    sehingga menghasilkan  nilai hasil analisis buku guru/siswa.

 

 


 

 

 

 

 

 

MATERI PELATIHAN 3 :  MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN

3.1.      Penyusunan RPP

3.2.      Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar

 

 

 


 

 

MATERI PELATIHAN 3:  MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN

 

  1. A.        KOMPETENSI

Peserta pelatihan dapat:

  1. menyusun RPP tematik terpadu yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, maupun intelektual; dan
    1. merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.

 

  1. B.        LINGKUP MATERI
    1. Penyusunan RPP
      1. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar

 

  1. C.        INDIKATOR
    1. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP.
    2. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP.
    3. Menyusun RPP tematik terpadu yang sesuai dengan SKL, KI dan KD; Standar Proses; dan pendekatan scientific.
    4. Menelaah RPP.
    5. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik.
    6. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.
    7. Menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran tematik terpadu.
    8. Menelaah rancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP.
      1. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun.

 

  1. D.        PERANGKAT PELATIHAN
    1. Bahan Tayang
    2. Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.
    3. Panduan tugas telaah RPP.
    4. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP.
      1. Lembar KerjaTelaah RPP
      2. ATK

SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN

MatERI PELATIHAN         :  3. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN

Alokasi Waktu             :  8 JP (@ 45 Menit)

Jenjang                           :  sd/mi

KELAS                                :  i

 

TAHAPAN KEGIATAN

DESKRIPSI KEGIATAN

 

WAKTU
PERSIAPAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran, seperti LCD Projector, Laptop, File, Active Speaker, dan Laser Pointer, atau media pembelajaran lainnnya.  
KEGIATAN PENDAHULUAN Pengkondisian Peserta 15 Menit
Perkenalan
Fasilitator menjelaskan nama, tujuan, kompetensi, indikator, alokasi waktu, dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran.
Fasilitator memotivasi peserta agar serius, antusias, teliti, dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung.
KEGIATAN INTI 3.1 Penyusunan RPP 205 Menit
Saling menilai RPP yang dibawa setiap peserta. 15  menit
Menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh fasilitator. 10 Menit
Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP tematik terpadu yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific, dilanjutkan dengan paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. 40 Menit
Kerja kelompok untuk menyusun RPP tematik terpadu yang sesuai dengan SKL, KI, dan KD; Standar Proses; dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1). 80 Menit
Diskusi format telaah RPP dengan mengacu pada bahan tayang PPT-3.1. 20 Menit
Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3.1/3.2. 35 menit
ICE BREAKER 5 Menit
3.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar 120 Menit
Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio, dilanjutkan dengan Pemaparan materi oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Tematik Terpadu dengan menggunakan PPT-2.3/3.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. 40 Menit
Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian  autentik pada pembelajaran tematik terpadu yang terdapat dalam HO-2.3/3.2. 30 Menit
Kerja kelompok untuk merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun. 25 Menit
Presentasi hasil kerja kelompok. 20 Menit
ICE BREAKER 5 Menit
KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. 15 Menit
Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.
Fasilitator mengingatkankan peserta agar membaca referensi yang relevan.
Fasilitator menutup pembelajaran

 

 

 

 

Submateri Pelatihan 3.1:  Penyusunan RPP

Langkah Kegiatan Inti

Tugas Individu: Saling Menilai RPP

Menyimpulkan Hasil Penilaian RPP

Diskusi

15 Menit

10 Menit

40 Menit

 

 

Kerja Kelompok

Diskusi

Kerja Kelompok

35 Menit

20 Menit

80 Menit

 

Aktivitas 1: Menilai RPP

Menilai RPP Peserta Lain

  1. Setiap peserta diwajibkan membawa dua set RPP yang telah digunakan dalam proses pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu.
  2. RPP tersebut dikumpulkan kepada panitia untuk kemudian dibagikan kembali ke peserta untuk dinilai oleh peserta lainnya dengan menggunakan acuan pengetahuan masing-masing peserta.
  3. Hasil penilaian dituliskan langsung pada halaman depan RPP.

Hasil penilaian dipresentasikan oleh peserta yang ditunjuk instruktur. Peserta lainnya menyampaikan hasil penilaian yang tidak sama dengan peserta lainnya. Instruktur mencatat hasil penilaian yang dilaporkan peserta.

Peserta menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh Instruktur.

Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific.

Paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3.1-1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.

 

Aktivitas 2: Kerja Kelompok

Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL, KI, dan KD; Standar Proses; dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1).

 

Diskusi format telaah RPP dengan mengacu pada bahan tayang PPT-3.1-2.

 

Aktivitas 3: Kerja Kelompok

Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3.1/3.2.

 

 

 

 

LK – 3.1/3.2

 

LEMBAR KERJA

PENELAAHAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Identitas RPP yang ditelaah: …………………………………

 

Berilah   tanda cek ( V) pada kolom skor (1, 2, 3 ) sesuai dengan kriteria yang tertera pada kolom tersebut!  Berikan catatan atau saran untuk perbaikan RPP sesuai penilaian Anda!

 

No.

Komponen

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Hasil Penelaahan dan Skor

Catatan

   

1

2

3

A Identitas Mata Pelajaran

Tidak Ada 

Kurang Lengkap 

Sudah

 Lengkap

 

1. Satuan pendidikan,kelas, semester, tema, sub tema jumlah pertemuan.

B.

Perumusan  Indikator

Tidak Sesuai

Sesuai Sebagian

Sesuai Seluruhnya

1.  Kesesuaian dengan SKL,KI dan KD.        
2.

Kesesuaian penggunaan kata kerja opera­sional dengan kompetensi yang diukur.

 

   
3.

Kesesuaian dengan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

   

C.

Perumusan Tujuan Pembelajaran

Tidak Sesuai

Sesuai Sebagian

Sesuai Seluruhnya

1. Kesesuaian  dengan  proses dan ha­sil belajar yang diharapkan dicapai.        
2. Kesesuaian dengan kompetensi dasar.        

D.

Pemilihan Materi Ajar

Tidak Sesuai

Sesuai Sebagian

Sesuai Seluruhnya

1. Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran        
2. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik.        
3. Kesesuaian  dengan alokasi waktu.        

E.

Pemilihan Sumber Belajar

Tidak Sesuai

Sesuai Sebagian

Sesuai Seluruhnya

1. Kesesuaian dengan KI dan KD.        
2.  Kesesuaian   dengan  materi pembelajaran dan pendekatan scientific.        
3. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik.        

F.

Pemilihan Media Belajar

Tidak Sesuai

Sesuai Sebagian

Sesuai Seluruhnya

 

1. Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran.        
2.  Kesesuaian   dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific.        
3. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik.        

G.

Model Pembelajaran

Tidak Sesuai

Sesuai Sebagian

Sesuai Seluruhnya

1. Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran.        
2. Kesesuaian dengan pendekatan Scientific.        

H.

Skenario  Pembelajaran

Tidak Sesuai

Sesuai Sebagian

Sesuai Seluruhnya

1. Menampilkan kegiatan   pendahuluan, inti, dan penutup dengan jelas.        
2. Kesesuaian kegiatan  dengan  pendekatan scientific.        
3. Kesesuaian penyajian dengan   sistematika materi.        
4. Kesesuaian alokasi waktu  dengan cakupan materi.        

I.

Penilaian

Tidak Sesuai

Sesuai Sebagian

Sesuai Seluruhnya

 

1. Kesesuaian dengan  teknik  dan bentuk penilaian autentik.        
2. Kesesuaian  dengan  dengan indikator pencapaian kompetensi.        
3. Kesesuaian kunci jawaban  dengan soal.        
4. Kesesuaian pedoman penskoran  dengan soal.        

Jumlah

 

 

Komentar terhadap RPP secara umum.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 
 

R-3.1/3.2

 

RUBRIK

PENILAIAN TELAAH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

 

Rubrik penilaian RPP digunakan fasilitator untuk menilai RPP peserta yang digunakan peerteaching. Selanjutnya nilai RPP dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta.

Langkah-langkah penilaian RPP sebagai berikut.

  1. Cermati format penilaian RPP dan RPP yang akan dinilai!
  2. Berikan nilai  setiap komponen RPP dengan cara membubuhkan tanda cek (√) pada kolom  pilihan skor  (1 ), (2) dan (3)  sesuai dengan penilaian Anda terhadap RPP tersebut!
  3. Berikan catatan khusus atau saran perbaikan  setiap komponen RPP jika diperlukan!
  4. Setelah selesai penilaian, jumlahkan skor seluruh komponen!
  5. Tentukan nilai RPP menggunakan rumus sbb:

 

 

 

PERINGKAT

NILAI

Amat Baik ( A)

 90 < A ≤ 100

Baik  (B)

75 < B < 90

Cukup (C)

 60 <  C  <  75

Kurang (K)

< 60

 

 

 

 

 

HO-3.1-SD

Contoh

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

 

Satuan pendidikan          :  SEKOLAH DASAR

Kelas / semester              :  1 / 2

Tema / topik                      :  Lingkungan bersih dan sehat

Petemuan ke                     :  1

Semester                            :  2   (dua)

Alokasi waktu                   :  1 Hari

 

 

  1. A.      KOMPETENSI INTI
    1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
    2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru
    3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah
    4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

 

  1. B.      KOMPETENSI DASAR

 AGAMA

1.1   Berdoa sebelum dan sesudah belajar, sebagai bentuk pemahaman terhadap Qur’an, Surat Alfatehah

2.1   Memiliki perilaku bersih badan, pakaian, barang-barang, dan tempat sebagai implementasi pemahaman makna bersuci

 

 PPKn

1.2   Menerima keberagaman karakteristik individu dalam kehidupan beragama sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa di lingkungan rumah dan sekolah

2.1   Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri  dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru sebagai perwujudan nilai dan moral Pancasila

3.3.. Mengenal tata tertib dan aturan yang  berlku dalm kehidupan sehari-hari di rumah dan di sekolah

4.2.. Melaksanakan tata tertib di rumah dan di sekolah

 

   BAHASA INDONESIA

1.1   Menerima anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia yang dikenal sebagai bahasa persatuan dan sarana belajar di tengah keberagaman bahasa daerah

2.3   Menunjukkan perilaku pola hidup sehat (perawatan tubuh, pemenuhan gizi, lingkungan yang sehat, main dan istirahat yang cukup) dan menyayangi makhluk hidup

2.4   Memiliki kedisiplinan dan tanggung jawab merawat tubuh agar sehat dan bugar melalui pemanfatan bahasa indonesia dan atau Bahasa Daerah

2.5 Memiliki perilaku santun dan jujur dalam hal kegiatan dan bermain di lingkungan melalui  pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah

2.3 Memahami isi cerita melalui mendengarkan cerita yang dibacakan orang lain  dengan penuh perhatian dan mengajukan pertanyaan

4.3   Menyampaikan teks terima kasih mengenai sikap kasih sayang secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian

 

     MATEMATIKA

2.1. Menunjukkan perilaku teliti dan perduli dengan menata benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan dimensi (bangun datar, bangun ruang), beratnya, atau urutan kelompok terkecil sampai terbesar

2.4.. Menunjukkan perilaku disiplin tepat waktu dalam melakukan aktivitas di sekolah dengan memperhatikan tanda-tanda saat jam belajar dan jam istirahat

3.2.. Mengenal bangun datar dan bangun ruang menggunakan benda-benda yang ada  di sekitar   ruah, sekolah, atau tempat bermain.

4.2.. Membentuk berbagai bangun ruang dengan menggunakan papan berpaku atau media lainnya

 

     PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN

2.2   Menunjukkan perilaku santun kepada teman dan guru selama pembelajaran penjas.

 

     SENI, BUDAYA, DAN PRAKARYA

1.1   Merasakan keindahan alam dan karya seni sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan

2.1   Menunjukkan percaya diri untuk mengekspresikan diri dalam berkarya, bernyanyi, dan menari

2.2   Menunjukkan rasa ingin tahu untuk mengenal alam di lingkungan sekitar sebagai sumber ide dalam berkarya seni

3.2   Mengenal pola irama lagu bervariasi dengan alat musik ritmis

 

 

  1. C.      INDIKATOR

 AGAMA

  1. Mengulang bacaan do’a sebelum belajar
  2. Mengulang bacaan do’a sesudah belajar
  3. Menyatakan dalam sikap berdo’a sebelum belajar
  4. Menunjukkan perilaku patuh kepada orang tua

 

 PPKn

  1. Menunjukkan perilaku baik (jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli/kasih sayang, dan percaya diri) dalam berinteraksi dengan guru
  2. Memberikan contoh sikap perilaku patuh pada aturan/kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari – hari di rumah.
  3. Memberikan contoh sikap perilaku patuh pada aturan/kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari – hari di sekolah.
  4. Melaksanakan tata tertib di sekolah

 

 

BAHASA INDONESIA

  1. Bersikap khusuk (menjaga keheningan) dalam mendengarkan doa
  2. Mengambil sikap duduk atau berdiri dengan berdiam diri
  3. Mencontoh kata-kata dalam doa yang didengar pada saat berdoa sendiri
  4. Melafalkan kata-kata teks doa dengan jelas
  5. Melafalkan kata-kata teks doa dengan intonasi yang sesuai
  6. Menyebutkan kapan harus mandi, makan, sikat gigi dan cuci tangan.
  7. Menyebutkan kebutuhan tubuh agar tetap sehat, yaitu : main dan istirahat/tidur yang cukup, makan makanan bergizi, minum yang cukup, udara dan lingkungan bersih.
  8. Membedakan lingkungan sehat dan tidak sehat
  9. Menyebutkan nama-nama tempat dalam cerita
  10. Menyebutkan urutan peristiwa
  11. Menyebutkan kebutuhan tubuh agar tetap sehat, yaitu : main dan istirahat/tidur yang cukup, makan makanan bergizi, minum yang cukup, udara dan lingkungan bersih.
  12. Membedakan lingkungan sehat dan tidak sehat
  13. Menuliskan kalimat yang didiktekan guru dengan pemisahan kata yang tepat
  14. Berposisi duduk secara benar
  15. Meletakkan bacaan dengan jarak mata yang benar
  16. Memegang teks bacaan dengan tepat

 

MATEMATIKA

  1. Menata  dengan rapi benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan kriteria lainnya (warna atau lainnya)
  2. Memilih jenis tas, wadah atau tempat yang digunakan untuk menaruh benda atau sekelompok benda sesuai dengan beratnya
  3. Menceritakan bentuk bangun ruang dan bangun datar

 

PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN

  1. Mempraktikan gerak melangkah ke berbagai arah berirama

 

mengenal makanan sehat (mmSENI BUDAYA, DAN PRAKARYA

  1. Memiliki kepekaan terhadap keindahan alam hasil ciptaan Tuhan
  2. Menjelaskan keindahan-keindahan alam dan karya seni sebagai anugerah Tuhan
  3. memperhatikan lingkungan sekitar secara seksama
  4. merawat lingkungan sekitar secara sadar
  5. menunjukkan kepedulian pada alam lingkungan sekitar dengan berkarya
  6. Mengenal judul lagu dan iringannya

 

  1. D.      TUJUAN
    1. Berperilaku baik (jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli/kasih sayang, dan percaya diri) dalam berinteraksi dengan guru
    2. Berperilaku patuh pada aturan/kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari – hari di sekolah.
    3. Melafalkan kata-kata teks doa dengan intonasi yang sesuai
    4. Menyebutkan kebutuhan tubuh agar tetap sehat, yaitu : main dan istirahat/tidur yang cukup, makan makanan bergizi, minum yang cukup, udara dan lingkungan bersih.
    5. Menuliskan kalimat yang didiktekan guru dengan pemisahan kata yang tepat
    6. Menata  dengan rapi benda-benda di lingkungan sekitar ruang kelas berdasarkan kriteria lainnya (warna atau lainnya)
    7. Mempraktikan gerak melangkah ke berbagai arah berirama
    8. Menjelaskan keindahan-keindahan alam tentang kebersihan lingkungan  sebagai anugerah Tuhan

 

 

  1. E.       MATERI

  AGAMA

  1. Bacaan do’a sebelum belajar
  2. Bacaan do’a sesudah belajar
  3. Sikap berdo’a sebelum belajar
  4. Perilaku patuh kepada orang tua

 

  PPKn

  1. Dengan mengamati kegiatan sehari-hari, siswa dapat  berperilaku baik (jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli/kasih sayang, dan percaya diri) dalam berinteraksi dengan guru
  2. Dengan mengamati contoh sikap perilaku patuh pada aturan/kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari  hari di rumah, siswa dapat berperilaku patuh di sekolah.
  3. Contoh sikap perilaku patuh pada aturan/kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari  hari di sekolah.
  4. Dengan mengamati kegiatan sehari-hari siswa dapat menceritakan pelaksanaan tata tertib di sekolah

 

  BAHASA INDONESIA

  1. Sikap khusuk (menjaga keheningan) dalam mendengarkan doa
  2. Sikap duduk atau berdiri dengan berdiam diri
  3. Mencontoh kata-kata dalam doa yang didengar pada saat berdoa sendiri
  4. Lafal teks doa dengan jelas
  5. Lafal &  kata-kata teks doa dengan intonasi yang sesuai
  6. Waktu mandi, makan, sikat gigi dan cuci tangan.
  7. kebutuhan tubuh agar tetap sehat, yaitu : main dan istirahat/tidur yang cukup, makan makanan bergizi, minum yang cukup, udara dan lingkungan bersih.
  8. lingkungan sehat dan tidak sehat
  9. Nama-nama tempat dalam cerita
  10. Urutan peristiwa
  11. Kebutuhan tubuh agar tetap sehat, yaitu : main dan istirahat/tidur yang cukup, makan makanan bergizi, minum yang cukup, udara dan lingkungan bersih.
  12. Lingkungan sehat dan tidak sehat
  13. Kalimat yang didiktekan guru dengan pemisahan kata yang tepat
  14. Posisi duduk secara benar
  15. Letak bacaan dengan jarak mata yang benar
  16. Teks bacaan dengan tepat

 

 

  MATEMATIKA

  1. Dengan mengamati cara penataan benda di sekitar, siswa dapat menata  dengan rapi benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan kriteria lainnya (warna atau lainnya)
  2. 2.       Dengan mengamati benda-benda di sekitar siswa dapat  memilih jenis tas, wadah atau tempat yang digunakan untuk menaruh benda atau sekelompok benda sesuai dengan beratnya
  3. 3.       Dengan mengamati benda siswa dapat menceritakan bentuk bangun ruang dan bangun datar

 

PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN

    1. Praktik gerak melangkah ke berbagai arah berirama

 

mengenal makanan sehat (mmSENI, BUDAYA, DAN DESAIN

  1. Kepekaan terhadap keindahan alam hasil ciptaan Tuhan
  2. Keindahan-keindahan alam dan karya seni sebagai anugerah Tuhan
  3. Lingkungan sekitar secara seksama
  4. Cara merawat lingkungan sekitar secara sadar
  5. Kepedulian pada alam lingkungan sekitar dengan berkarya
  6. Lagu  Lihat Kebunku

                                                                         

 

  1. F.         PENDEKATAN & METODE

Pendekatan              : Scientific

Strategi                       : Cooperative Learning

Teknik                         : Example Non Example

Metode                      : Penugasan, Tanya Jawab, Diskusi Dan Ceramah

 

 

  1. G.        KEGIATAN  PEMBELAJARAN

Kegiatan

Deskripsi Kegiatan

Alokasi

Waktu

Pendahuluan
  1. Mengajak semua siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing (untuk mengawali kegiatan pembelajaran)
  2. Melakukan komunikasi  tentang kehadiran siswa
  3. Mengajak berdinamika dengan tepuk kompak
  4. Mengajak Semua Siswa menyanyi  “SELAMAT PAGI GURU”
  5. Dilanjutkan dengan bertanya jawab tentang syair lagu, mengapa saling mengucap salam. Dan apa bedanya di kalau pagi
  6. Meminta informasi dari siswa mengenai kegiatan piket yang telah dilaksanakan pada pagi hari dan bertanya tentang hubungan antara kebersihan kelas dengan kenyamanan kegiatan pembelajaran.
  7. Menginformasikan Tema yang akan dibelajarkan yaitu tentang

“LINGKUNGAN BERSIH DAN SEHAT”

10 menit
Inti
  1. Menayangkan gambar tentang lingkungan  bersih dan sehat  dan lingkungan rumah yangtidak bersih /tidak sehat.  (eksplorasi, mengamati, menyimak, mendengar)

Gambar rumah sehat mencakup ciri-ciri:

  • Rumah kecil dengan ventilasi cukup
  • Ada teras rumah
  • Ada halaman cukup
  • Taman mungil yang asri
  • Tidak ada sampah yang bertebaran
  • Di pojok halaman ada peralatan untuk membersihkan halaman (ember tempat air untuk menyiram tanaman, sapu lidi dll)

Gambar rumah tidak sehat mencakup ciri-ciri:

  • Tidak memiliki ventilasi yang cukup
  • Tidak memiliki teras/berbatasan langsung dengan jalan raya
  • Tidak memikliki taman atau tanaman hijau
  • Tidak terdapat alat-alat kebersihan
  • Tidak terawat, kotor, dan banyak sampah bertebaran

Jawaban berkembang sesuai dengan lingkungan sehari-hari  hasil eksplorasi serta kemampuan  siswa

 

150 menit
 
  1. Bertanya jawab tentang ciri-ciri rumah  dan halaman yang sehat dan tidak sehat,  (eksplorasi, menyimak, menanya, menalar) al:
  • Mendengarkan jawaban siswa tentang rumah yang bersih sehat dan yang tidak bersih dan tidak sehat.
  • Memberikan kesempatan kepada siswa lain untuk menjawab.
  • Pemerataan siswa dalam menjawab (tidak di dominasi oleh salah satu siswa saja).
  • Memperhatikan siswa lain yang tidak berani memberikan jawaban.
  • Mendorong  keberanian  siswa dalam menjawab dan sikap siswa dalam memberikan klarifikasi  tentang benar dan tidaknya jawaban.

 

 
  1. Guru menugaskan siswa untuk membaca TEKS tentang RUMAHKU (membaca, mendengar)
  2. Diawali dengan memberi contoh cara membaca TEKS: jedanya, lafalnya, tanda bacanya, dan kata-kata yang dibaca (mengamati/ mendengar), semua siswa menirukan cara membaca dengan benar
  3. Selanjutnya menugaskan siswa secara bergantian untuk membaca TEKS
  • (penilaian proses : Memperhatikan cara siswa membaca (sekaligus menilai keberanian dan kebenaran dalam membaca)
  • Jika ada siswa yang salah dalam melafalkan bacaan langsung dibenarkan sebelum dilanjutkan kepada siswa yang lain
  1. Bertanya jawab tentang makna bacaan / Teks  ( menalar )
  2. Melalui pengamatan gambar rumah sehat siswa diminta membandingkan rumah yang bersih dan sehat dengan rumahnya sendiri-sendiri, (rumah yang bersih tidak harus besar). (eksplorasi dan elaborasi, menyimak dan menalar)

 

 
  1. Guru mengelompokan siswa berdasarkan teman satu bangku/2 orang (asumsi 1 kelas 32 siswa) dengan cara siswa mengambil nomor di meja guru. (nomor merupakan penanda dari kelompok)
  2. Siswa berkelompok sesuai dengan nomor yang dimiliki.
  3. Guru membagi gambar kepada masing-masing kelompok
  4. Masing-masing siswa diminta untuk mengidentifikasi gambar dan mencatat hasil identifikasi (benda-benda yang ada di lingkungan sekitar, yang besar dan yang kecil, yang bersih). (eksplorasi, elaborasi, menyimak, menalar, mengkomunikasikan)
  5. Siswa diminta untuk menceritakan hasil identifikasi kepada teman sebangku (mengkomunikasikan)
  6. Setelah tercapai kesepakatan dengan teman sebangku, diminta untuk mendiskusikan dengan kelompok pasangan yang lain (TPS)

 

 
  Penilaian proses:

  1. Guru berkeliling mengamati kerjasama anak dalam mengerjakan tugas.
  2. Menilai kerjasamanya, tanggung jawabnya, kedisiplinannya, ke aktifannya, mendominasi atau tidak dsb)
  3. Menilai dengan lembar pengamatan perilaku.

 

 
Gambar-gambar untuk Example non Example

Kelompok gambar kebersihan kelas

  • Gambar kegiatan menyapu kelas
  • Gambar kegiatan membersihkan debu
  • Gambar kegiatan menata buku
  • Membersihkan jendela kelas

Kelompok gambar kebersihan rumah

  • Gambar kegiatan menyapu rumah
  • Gambar kegiatan mengepel lantai
  • Gambar kegiatan menata tempat tidur
  • Gambar kegiatan  membersihkan/menyapu kebun

 

Kelompok  gambar kebersihan lingkungan/kerja bakti kampung

  • Gambar kegiatan membersihkan selokan
  • Gambar kegiatan membersihkan sampah di jalanan
  • Gambar kegiatan membuang sampah
  • Gambar kegiatan merawat tanaman peneduh

 

Keterangan:

Diharapkan diskusi akan berkembang pada pembahasan kebersihan lingkungan, ruang, kelas, rumah, sekolah akan berdampak pada kesehatan. Kegiatan membersihkan lingkungan merupakan cerminan dari kerukunan dan saling membantu, dan bekerjasama. Siswa yang sedang berdiskusi (berpikir berpasangan) akan berdampak pada kerjasama yang baik, dan hasilnya merupakan cerminan dari sikap bertanggung jawab.

 

 
 
  1. Semua kelompok mengamati, memikirkan dan menganalisis gambar dikaitkan dengan tema yang sedang dipelajari.
  2. Guru memanggil salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya (mengkomunikasikan dan konfirmasi),

Memberi kesempatan kelompok lain untuk mendengarkan dan memberikan pendapatnya

 

 
  1. Mengajak semua siswa berdiri dan menyanyikan lagu “banyak nyamuk dirumahku”  untuk mencairkan suasana dan kepenatan setelah belajar beberapa jam:
  • Guru mengamati sikap siswa dalam menyanyikan lagu
  • Memberi contoh sikap yang benar dalam menyanyi
  • Menilai siswa dalam menyanyikan lagu: (lafal syair lagunya, cara menyanyi, sikap menyanyi, semangatnya dsb)
  • Menggunakan format pengamatan

 

 
  1. Guru mengajak bertanya jawab tentang makna lagu.  Bahwa salah satu dampak dari rumah yang tidak sehat, adalah banyak nyamuk, rumah kotor, tidak sehat, mendatangkan penyakit. Dsb

 

 
  1. Menugaskan siswa untuk bercerita (berdasarkan gambar) (mengkomunikasikan)
 
       Guru Mengamati cara siswa dalam BERCERITA (penilaian proses)  
  1. Guru dan siswa bersama-sama siswa membuat kesimpulan tentang rumah yang bersih dan sehat
 
  1. Hasil kegiatan dan pekerjaan siswa ditempel di papan yang
 
  Dilanjutkan dengan menasehati siswa agar membiasakan hidup sehat  
Penutup
  1. Bersama-sama siswa membuat kesimpulan / rangkuman hasil belajar selama sehari
15 menit
  1. Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari (untuk mengetahui hasil ketercapaian materi)
  2. Melakukan penilaian hasil belajar
 
  1. Mengajak semua siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing (untuk mengawali kegiatan pembelajaran)

 

 
  • Mengamati sikap siswa dalam berdo’a (sikap duduknya, cara membacanya, cara melafalkannya dsb)
  • Apabila ada siswa yang kurang benar dan kurang sempurna dalam berdo’a, maka setelah selesai kegiatan berdo’a, langsung diberi nasehat agar besok kalau berdoa lebih disempurnakan

 

 

 

 

 

 

  1. H.                 SUMBER DAN  MEDIA
  • Diri anak
  • Lingkungan keluarga
  • Lingkungan sekolah
  • Buku Tematik Kelas I
  • Buku Pengembangan Diri Anak
  • Video/slide/gambar tentang teknik cetak sederhana dan bentuk pola dan alur sederhana gunting, lipat dan tempel
  • Gambar/contoh langsung karya cetak  dengan berbagai bahan alam dan bentuk
  • Gambar/contoh langsung hasil karya gunting, lipat dan tempel dengan berbagai bentuk pola dan alur sederhana
  • Buku kirigami (seni mengunting)
  • Buku Pengembangan Diri Anak

 

  1. I.          PENILAIAN

 

  1. Prosedur Penilaian
  1. a.       Penilain Proses

Menggunakan format pengamatan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran sejak dari kegiatan awal sampai dengan kegiatan akhir

 

  1. b.      Penilaian Hasil Belajar

Menggunakan instrumen penilaian hasil belajar dengan tes tulis dan lisan (terlampir)

 

  1. Instrumen Penilaian
  1. a.       Penilaian Proses

1)   Penilaian Kinerja

2)   Penilaian Produk

 

  1. b.      Penilaian Hasil Belajar
  • Pilihan ganda
  • Isian singkat
  • Esai atau uraian

 

 

Mengetahui                                                                                                       Guru Kelas 1

Kepala Sekolah,                                                                                              

 

 

 

 

…………………………………………….                                                           ………………………………………..                                                

NIP ………………………………………                                                            NIP  ………………………………….

 

 

 

 

 

PENILAIAN NON TES:

 

A.        Penilaian Kinerja

1.        Kinerja dalam Menyelesaikan Tugas Kelompok

 

No.

Nama Peserta Didik

Aspek

Jumlah

Nilai

Kerja sama

Keaktifan

Menghargai pendapat teman

Tanggung jawab

   

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan Skor:

1=Kurang

2=Cukup

3=Baik

4=Sangat Baik

 

Skor maksimal=16

 

Skor perolehan

Nilai     =                                             X  100

                            Skor Maksimal

 

 

 

2.        Penilaian Kinerja dalam menyelesaikan tugas Presentasi

 

No.

Nama Peserta Didik

A s p e k

Jumlah

Skor

Nilai

Komuni-kasi

Sistematika penyampaian

Penguasaan pengetahuan/Materi

Keberanian

Antusi-as

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan Skor :

Komunikasi:                                                                                                   Sistematika Penyampaian:

1 = Tidak dapat berkomunikasi                                                               1 = Tidak sistematis

2 = Komunikasi agak lancar, tetapi sulit dimengerti                       2 = Sistematis,uraian krng,tdk jelas

3 = Komunikasi lancar tetapi kurang jelas dimengerti                   3 = Sistematis, uraian cukup

4 = Komunikasi  sangat lancar, benar dan jelas                                4 = Sistematis, uraian luas, jelas

 

Wawasan:                                                                                                       Keberanian:

1 =  Tidak menunjukkan pengetahua/ materi                                  1 = Tidak ada keberanian

2 =  Sedikit  memiliki pengetahuan/materi                                        2 = Kurang berani

3 =  Memiliki pengetahuan/materi  tetapi kurang luas                 3 = Berani

4 =  Memeiliki pengetahuan/materi yang  luas                                4 = Sangat berani

 

Antusias:

1 = Tidak antusias

2 = Kurang antusias

3 = Antusias tetapi kurang kontrol

4 = Antusias dan terkontrol

 

Skor maksimal=20

 

Skor perolehan

Nilai     =                                                         X  100

                                        Skor Maksimal

                                       

 

B.        Penilaian Produk

1. PRODUK GAMBAR  BANGUN DATAR DAN BANGUN RUANG

No.

Nama Peserta Didik

A s p e k

Jumlah

Skor

Nilai

Ketepatan menentu kan benda dengan persegi

Ketepatan menggam-bar persegi

Banyaknya benda dan gambar yang dibuat

Kerapian

 

Keterangan Skor:

Aspek ke-1 dan ke-2

1=Kurang

2=Cukup

3=Baik

4=Sangat Baik

 

 

Aspek ke-3

1=Jika mengidentifikasi 3 -4

2=Jika mengidentifikasi ≥5

 

 

Skor maksimal=10

 

Skor perolehan

Nilai     =                                                         X  100

                                        Skor Maksimal

MEDIA: LINGKUNGAN BERSIH DAN SEHAT (Benda Yang Terkait Dengan Lingkungan Bersih Dan Sehat seperti: Tempat Sampah, Tempat Kapur, Tempat Pensil tempat penghapus, Papan Tulis dsb )

 

MENGENAL BENTUK  BANGUN DATAR DAN BANGUN RUANG

KERTAS BERWARNA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DINAMIKA

 

MACAM-MACAM TEPUK

LAMPIRAN DINAMIKA

TEPUK SATE

(TEPUK TANGAN  3X )

TUSUK-TUSUK

(TEPUK TANGAN  3X )

BAKAR-BAKAR

(TEPUK TANGAN  3X )

KIPAS-KIPAS

(TEPUK TANGAN  3X )

BERI KECAP

(TEPUK TANGAN  3X )

MAKAN ENAAAAK

 

TEPUK NYAMUK

(TEPUK TANGAN  3X )

GIGIT GIGIT

(TEPUK TANGAN  3X )

GATAL-GATAL

(TEPUK TANGAN  3X )

GARUK GARUK

(TEPUK TANGAN  3X )

ENAAAAK

 

 

GAMBAR LINGKUNGAN:

 

PINTU GERBANG SEKOLAH

Suasana Sekolah yang bersih akan mempengaruhi warga sekolah yang akan masuk ke sekolah.

Kebersihan seluruh lingkungan sekolah menjadi tanggung jawab semua warga sekolah. Baik guru, kepala sekolah, dan seluruh peserta didik yang ada di sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TEMPAT SAMPAH

Tempat sampah sebaiknya selalu di tempat dalam posisi yang benar supaya sampah tidak berserakan. Sampah kering dan sampah basah  sebaiknya dipisahkan dan tidak disatukan. Oleh karena itu perlu disiapkan tempat sampah  lebih dari satu.

Diusahakan ada tempat sampah yang menampung sampah kering dan sampah basah:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEBERSIHAN SEKOLAH

Kebersihan semua sudut ruang, halaman dan teras sekolah dapat dimanfaatkan untuk keperluan belajar peserta didik

Ruang dan halaman yang bersih akan menjadi pendukung peserta didik senang belajar di tempat-tempat terbuka. Dan suasana yang menyenangkan ini akan menambah semangan peserta didik dalam mengamati, menyimak, mempelajari materi-materi yang sedang dipelajari. Kondisi belajar, berkolaborasi dengan teman diciptakan untuk membiasakan peserta didik saling belajar dengan teman sejawatnya, tidak individu dan akan dapat menghargai orang lain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PESERTA DIDIK KELAS 1

Dalam gambar nampak peserta didik kelas 1 belajar bersama kelompoknya di halaman sekolah, dengan memanfaatkan fasilitas tempat duduk yang ada di sekolah dalam suasana yang nyaman, tidak dibatasi oleh dinding kelas atau tembok yang ada di dalam kelas. Suasana seperti ini melatih kebersamaan dalam berkolaborasi untuk memperoleh pemahaman materi sekaligus menanamkan  kebersamaan. Dan kebersihan di sekitar tempat belajar juga akan dapat mendukung kenyamanan belajar. Oleh karena itu lingkungan yang bersih dan sehat selalu diciptakan agar tercipta kondisi belajar yang menyenangkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Kurikulum 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2013

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Standar Nasional Pendidikan; (2013): Kerangka Dasar, Jakarta.

——————————————–, Badan Standar Nasional Pendidikan; (2013): Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar   Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah kelas 1 s.d 6 Jakarta.

——————————————–, Badan Standar Nasional Pendidikan; (2013): Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar   Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah kelas 1 s.d kelas 6 Jakarta.

——————————————–, Badan Standar Nasional Pendidikan; (2013): Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar   Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan Kepribadian untuk Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah kelas 1 s.d kelas 6 Jakarta.

——————————————–, Badan Standar Nasional Pendidikan; (2013): Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar   Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam untuk Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah kelas 1 s.d kelas 6 Jakarta.

——————————————–, Badan Standar Nasional Pendidikan; (2013): Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar   Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah kelas 1 s.d kelas 6 Jakarta.

——————————————–, Badan Standar Nasional Pendidikan; (2013): Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar   Mata Pelajaran Estetika /Seni dan Budaya untuk Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah kelas 1 s.d kelas 6 Jakarta.

——————————————–, Badan Standar Nasional Pendidikan; (2013): Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar   Mata Pelajaran Olah Raga, Jasmani dan Kesehatan untuk Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah kelas 1 s.d kelas 6 Jakarta.

——————————————–, Badan Standar Nasional Pendidikan; (2013): Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar   Mata Pelajaran Agama dan Aklak Mulia untuk Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah kelas 1 s.d kelas 6 Jakarta.

——————————————–, Badan Standar Nasional Pendidikan; (2013): Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar     Undang-Undang Republik Indonesia  Nomor 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional,  Jakarta.

Sriwilujeng, D. (2002): Refleksi dan Evaluasi; Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Umum. PPPG IPS dan PMP Malang

Sriwilujeng, D. (2006) : Kajian Tematik (Kelas 1,2, dan 3), Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga kependidikan PKn dan IPS Malang.

Haribawa, H. (2000): Penilaian Portofolio (Portofolio assesment), Depdiknas, Proyek perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP, Jakarta.

Somantri, M. N. (2001): Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS: Penerbit Rosda


 

Submateri Pelatiha :   3.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar

 

Langkah Kegiatan Inti

 

Diskusi dan Tanya jawab

Kerja Kelompok

Kerja Kelompok

Presentasi

Merangkum dan Refleksi

40 Menit

30 Menit

25 Menit

20 Menit

20 Menit

 

 

Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio, dilanjutkan dengan Pemaparan materi oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Tematik Integratif dengan menggunakan PPT-2.4/3.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.

Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran yang terdapat dalam HO-2.4/3.2.

Kerja kelompok untuk merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun.

Presentasi hasil kerja kelompok.

Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran.

Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.

Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.

Fasilitator menutup pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MATERI PELATIHAN 4 :  PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING

4.1           Simulasi Pembelajaran

4.2           Peer Teaching

 

 

 

 


MATERI PELATIHAN 4

PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING

 

  1. A.        KOMPETENSI

Peserta pelatihan dapat:

  1. mengkaji pelaksanaan pembelajaran tematik terpadu yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, maupun, intelektual; dan
  2. melaksanakan pembelajaran tematik terpadu yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, maupun, intelektual.

 

  1. B.        LINGKUP MATERI
    1. Simulasi Pembelajaran
    2. Peer Teaching

 

  1. C.        KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN
    1. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran.
    2. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran.
    3. Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik.
    4. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching.
    5. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching.
    6. Melaksanakan peer teaching pembelajaran tematik terpadu yang menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik.
    7. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain.

 

  1. D.        PERANGKAT PELATIHAN
    1. Bahan Tayang
      1. Strategi Pengamatan tayangan video.
      2. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran.
      3. Garis besar instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran.
      4. Lembar Kerja
        1. Analisis pembelajaran pada tayangan video.
        2. Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran.
        3. ATK

 

 

SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN

MatERI PELATIHAN: 4. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING

Alokasi Waktu:      22 JP (@ 45 Menit)

Jenjang:                    sd/mi

KELAS:                         i

TAHAPAN KEGIATAN

DESKRIPSI KEGIATAN

WAKTU

 

PERSIAPAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran, seperti LCD Projector, Laptop, File, Active Speaker, dan Laser Pointer, atau media pembelajaran lainnnya.  
KEGIATAN PENDAHULUAN Pengkondisian Peserta 15 Menit
Perkenalan
Fasilitator menjelaskan nama, tujuan, kompetensi, indikator, alokasi waktu, dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing.
Fasilitator memotivasi peserta, mengajak berdinamika agar saling mengenal, serius, semangat, dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung.
KEGIATAN INTI 4.1 Simulasi Pembelajaran 380 Menit
Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-4.1 oleh fasilitator. 20 Menit
Penayangan video pembelajaran tematik terpadu di kelas 1 dengan menggunakan V-2.1/4.1. 20 Menit
Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK  4.1. 60 Menit
Menyimpulkan alur pembelajaran tematik terpadu yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik. 30 Menit
Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. 135 Menit
Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching. 90 Menit
ICE BREAKER 10 Menit
4.2 Peer Teaching 580 Menit
Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT- 4.2-1. 20 Menit
Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4.2-2. 20 Menit
Persiapan peer teaching. 15 Menit
Praktik peer teaching pembelajaran tematik terpadu secara individual, untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator. 480 Menit
Menilai kegiatan peer teaching oleh fasilitator dengan menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran LK-4.2.
Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. 30 Menit
KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing. 15 Menit
Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.
Fasilitator mengingatkankan peserta agar membaca referensi yang relevan.
Fasilitator menutup pembelajaran.

 

 

 

 

 

Submateri Pelatihan : 4.1 Simulasi Pembelajaran

Langkah Kegiatan Inti

Paparan

Tayangan Video

Kerja Kelompok

20 Menit

20 Menit

60 Menit

Presentasi

Kerja Kelompok

Menyimpulkan

90 Menit

135 Menit

30 Menit

 

 

Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-4.1 oleh fasilitator.

Penayangan video pembelajaran tematik terpadu dengan menggunakan V-2.1/4.1.

Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK  4.1.

Menyimpulkan alur pembelajaran tematik terpadu yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik.

Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran.

Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LK – 4.1

LEMBAR KERJA

ANALISIS PEMBELAJARAN

DALAM TAYANGAN VIDEO PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU

 

 

1. Nama Peserta         : ……………………………………….

2. Asal Sekolah            : ……………………………………….

3. Tema                       : ……………………………………….

 

Aspek yang Diamati

Ya

Tidak

Catatan

Kegiatan Pendahuluan      
Melakukan apersepsi dan motivasi      
a Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam  mengawali kegiatan pembelajaran.      
b Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik dalam perjalanan menuju sekolah atau dengan tema  sebelumnya.      
c Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitan dengan tema yang  akan dibelajarkan.      
d Mengajak peserta didik berdinamika/melakukan sesuatu kegiatan yang terkait dengan materi.      
Kegiatan Inti      
Guru menguasai materi  dalam tema yang disajikan      
a. Kemampuan menyesuaikan materi dalam tema dengan tujuan pembelajaran.      
b. Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang diintegrasikan secara relevan dengan perkembangan Iptek dan kehidupan nyata .      
c. Menyajikan pembahasan materi pembelajaran dalam tema yang dibelajarkan dengan tepat.      
d.  Menyajikan materi dalam tema secara sistematis  dan gradual (dari yang mudah ke sulit, dari konkrit ke abstrak)      
Guru menerapkan strategi pembelajaran yang mendidik      
a.  Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.      
b. Melaksanakan pembelajaran secara runtut.      
c. Menguasai kelas dengan baik.      
d. Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual.      
e. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect).      
f. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan.      
Guru menerapkan pendekatan scientific      
a Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana.      
b Memancing peserta didik  untuk peserta didik bertanya.      
c Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengamati.      
d Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan menganalisis.      
f Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengkomunikasikan.      
  Guru melaksanakan penilaian autentik      
a Mengamati sikap dan perilaku peserta didik dalam mengikuti pelajaran.      
b Melakukan penilaian keterampilan peserta didik dalam melakukan aktifitas individu/kelompok.      
c Mendokumentasikan hasil pengamatan skap, perilaku dan keterampilan peserta didik.      
Guru memanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran      
a. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar  pembelajaran.      
b. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan  media pembelajaran.      
c. Menghasilkan pesan yang menarik.      
d. Melibatkan peserta didik dalam   pemanfaatan sumber belajar pembelajaran.      
e. Melibatkan peserta didik dalam   pemanfaatan   media pembelajaran.      
Guru memicu dan/atau memelihara keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran      
a.  Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru, peserta didik, sumber belajar.      
b. Merespon positif partisipasi peserta didik,      
c. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik,      
d. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif.      
e. Menumbuhkan keceriaan dan antusisme peserta didik dalam belajar.      
Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran      
a. Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar.      
b. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar.      
c. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai.      
  Penutup Pembelajaran
Guru mengakhiri pembelajaran dengan efektif      
a. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik.      
b.  Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan, atau kegiatan, atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan.      

 

 

 

 

R – 4.1

RUBRIK

PENILAIAN HASIL ANALISIS PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU

PADA TAYANGAN VIDEO

 

NAMA  PESERTA DIKLAT               :…………………………………………………………..

KELAS/                                                  :…………………………………………………………..

TANGGAL PENILAIAN                    :…………………………………………………………..

 

Aspek

Kriteria

RentanganNilai

Nilai

Peserta

Pengamatan Video

(15-30)

Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup dengan lengkap dan terinci yang disertai contoh kongkrit hasil pengamatan.

25 – 30

 
Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup dengan lengkap namun kurang terinci.

21 – 24

Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup namun tidak lengkap.

15 – 20

Lembar kerja analisis pembelajaran dalam Video

(15-30)

Mendeskripsikan setiap item pada lembar kerja analisis proses belajar mengajar sesuai dengan kompetensi dasar yang disajikan dalam tayangan video dengan jelas, lengkap dan benar.

25 – 30

 
Mendeskripsikan setiap item pada lembar kerja analisis proses belajar mengajar sesuai dengan kompetensi dasar yang disajikan dalam tayangan video dengan jelas.

21 – 24

Hanya menandai setiap item pada lembar kerja analisis proses belajar mengajar sesuai dengan kompetensi dasar yang disajikan dalam tayangan video.

15 – 20

Sikap selama mengamati

(5-15)

Menunjukkan sikap antusias, teliti, bersungguh-sungguh dengan penuh rasa ingin tahu yang disertai dengan pola berpikir analitik dalam mengamati dan berdiskusi.

12 – 15

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menunjukkan sikap antusias, teliti, bersungguh-sungguh dengan penuh rasa ingin tahu dan aktif dalam berdiskusi.

8 – 11

Menunjukkan sikap antusias, teliti, bersungguh-sungguh dengan penuh rasa ingin tahu saja.

5 – 7

Komentar dan Simpulan

 (10-25)

Memberikan komentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran  yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil dari tayangan video dan kesimpulan.

21 – 25

 
Memberikan komentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran  yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil dari tayangan video.

16 -20

Memberikan komentar sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran  yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran.

10 -15

JUMLAH

100

 

 

 

 

 

                                                                                                ………………, ……….……………. 2013

                                                                                                                                                      Fasilitator,

 

 

(………………………………………….)

 

 

 


 

Submateri  Pelatihan : 4.2 Peer Teaching

 

Langkah Kegiatan Inti

 

Paparan Panduan

Paparan Instrumen Penilaian

Persiapan

Peer Teaching

15 Menit

15 Menit

10 Menit

Refleksi

Praktik

Peer Teaching

40 Menit

560 Menit

 

 

Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT- 4.2-1.

Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4.2-2.

Persiapan peer teaching.

Praktik peer teaching pembelajaran secara individual, untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator.

Menilai kegiatan peer teaching oleh fasilitator dengan menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran LK-4.2.

Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LK – 4.2

LEMBAR KERJA

INSTRUMEN PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

  1. Nama Peserta    :    ………………………………………….
  2. Asal Sekolah        :    ………………………………………….
  3. Topik                   :    ………………………………………….

 

  Aspek yang Diamati Ya Tidak

Catatan

Kegiatan Pendahuluan      
Apersepsi dan Motivasi      

1

Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik atau pembelajaran sebelumnya.      

2

Mengajukan pertanyaan menantang.      

3

Menyampaikan manfaat materi pembelajaran.      

4

Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan tema.      
Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan      

 1

Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai  peserta didik.      

 2

Menyampaikan rencana kegiatan misalnya, individual, kerja kelompok, dan melakukan observasi.      
Kegiatan Inti      
Penguasaan Materi Pelajaran      

 1

Kemampuan menyesuaikan materi dengan tujuan pembelajaran.      

 2

Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan,  perkembangan Iptek , dan kehidupan nyata.      

 3

Menyajikan  pembahasan   materi pembelajaran dengan tepat.      

 4

Menyajikan materi secara sistematis  (mudah ke sulit, dari konkrit ke abstrak)      
Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik      

 1

Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.      

 2

Menfasilitasi kegiatan yang memuat komponen eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi.      

 3

Melaksanakan pembelajaran secara runtut.      

 4

Menguasai kelas.      

 5

Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual.      

 6

Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect).      

 7

Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan.      
Penerapan Pendekatan scientific      

 1

Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana.      

 2

Memancing peserta didik untuk  bertanya.      

 3

Memfasilitasi peserta didik untuk mencoba.      

 4

Memfasilitasi peserta didik untuk   mengamati.      

 5

Memfasilitasi peserta didik untuk   menganalisis.      

6

Memberikan pertanyaan peserta didik untuk  menalar (proses berpikir yang logis dan sistematis).      

7

 Menyajikan kegiatan peserta didik untuk  berkomunikasi.      
Penerapan Pembelajaran Tematik Terpadu      

1

Menyajikan pembelajaran sesuai tema.      

2

Menyajikan pembelajaran dengan memadukan berbagai mata pelajaran dalam satu PBM meliputi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya dan Prakarya, serta Penjasorkes.      

3

Menyajikan pembelajaran yang memuat komponen karakteristik terpadu.      

4

Menyajikan pembelajaran yang bernuansa aktif dan menyenangkan.      
Pemanfaatan Sumber Belajar/Media dalam Pembelajaran      

 1

Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar  pembelajaran.      

 2

Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan  media pembelajaran.      

 3

Menghasilkan pesan yang menarik.      

 4

Melibatkan peserta didik dalam   pemanfaatan sumber belajar pembelajaran.      

 5

Melibatkan peserta didik dalam   pemanfaatan   media pembelajaran.      
 Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran      

 1

Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru, peserta didik, sumber belajar.      

 2

Merespon positif partisipasi peserta didik.      

 3

Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik.      

 4

Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif.      

 5

Menumbuhkan keceriaan atau antusiasme peserta didik dalam belajar.      
Penggunaan Bahasa yang Benar dan Tepat dalam Pembelajaran      

 1

Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar.      

 2

Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar.      
Kegiatan Penutup 
Penutup pembelajaran       

 1

Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik.      

 2

Memberihan tes lisan atau tulisan .      

3

Mengumpulkan hasil kerja sebagai bahan portofolio.      

 4

Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan  kegiatan berikutnya dan tugas  pengayaan.      

Jumlah

     

 

 

 

 

 

R – 4.2

RUBRIK

PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran ini digunakan fasilitator untuk menilai kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran pada saat Peer Teaching. Selanjutnya nilai PeerTeaching dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta.

 

Langkah Kegiatan

  1. Berikan tanda cek (√) pada kolom  pilihan YA atau TIDAK sesuai dengan penilaian Anda terhadap penyajian guru pada saat pelaksanaan pembelajaran!
  2. Berikan catatan khusus atau saran perbaikan  pelaksanaan pembelajaran!
  3. Hitung jumlah nilai YA  dan TIDAK !
  4. Tentukan Nilai menggunakan rumus berikut ini!

 

Mata Pelajaran

Tematik

 

 

 

 

PERINGKAT

NILAI

Amat Baik ( A)

 90 < A ≤ 100

Baik  (B)

75 < B < 90

Cukup (C)

 60 <  C  <  75

Kurang (K)

< 60