Hijrahlah agar Lebih Indah

 

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (TQS : At-Taubah : 36)

Sebuah momentum menghampiri umat muslim diseluruh pelosok dunia , bukan Idul Fitri ataupun Idul Adha, tapi adalah pergantian tahun. Tidak ada suara terompet yang memekan telinga ataupun suara petasan yang melengking tinggi tak bermakna yang biasa kita temukan memang,tapi justru itu adalah sebuah tindakan yang tepat dalam menghayati pergantian tahun baru hijriah.

Perenungan yang dalam sangat kita butuhkan baik secara jasmani dan rohani,tidak kita pungkiri jika selama satu tahun yang akan kita tinggalkan begitu banyak cerita yang telah kita buat , amarah,kebohongan,maksiat sudah tak terhitung berapa banyaknya. Apakah masih pantas kita merayakanya dengan berpesta pora? Apa yang kita pestakan? Kesuksesan menipu orang banyak kah atau kesuksesan bermaksiat kah? Astagfirullah…

Sudah seharusnya kita mencoba flashback dan menyadari semua kesalahan-kesalahan kita sehingga akan menjadi pelajaran berharga , tentu akan percuma saja jika kita punya pengalaman tapi tidak belajar dari pengalaman tersebut . Menyadari betapa kita adalah hamba yang amat sangat kecil dan amat sering berbuat kesalahan akan kembali menguatkan keimanan kita dan keyakinan jika ALLAH azza wajala yang memiliki kedudukan tertiggi lagi Maha Agung.

Sebelumnya harus kita ingat kembali sejarah dari tahun baru hijriah ini, dalam Ath-Thabaqat Al-Laits bin Sa’ad mengutip sebuah riwayat dari Aisyah r.a. adalah Rasulullah SAW bersuka-cita saat jumlah pengikutnya mencapai tujuh puluh orang karna itu artinya Allah telah membuatkan “tameng pertahanan”. Bukan sembarangan,mereka terdiri dari kaum profesional di bidang peperangan persenjataan dan pembelaan. Toh permusuhan dan penyiksaan kaum musyrik bertambah gencar dan berat. Bahkan tingkat siksaan dan celaan yg dirasakan sahabat belum pernah dialami sebelumnya. Mereka pun mengadu kepada Rasulullah saw. dan meminta izin untuk berhijrah.Pengaduan dan permintaan itu dijawab oleh Rasulullah saw. “Sesungguhnya aku pun telah diberi tahu bahwa tempat kalian adalah Yatsrib. Barangsiapa yg ingin keluar-hijrah- maka hendaklah ia keluar ke Yatsrib.” Para sahabat kemudian hijrah secara bergelombang dan tentu saja dengan sembunyi-sembunyi kecuali Umar bin al-Khattab r.a. Dengan tegas Umar bahkan bersuara lantang “Barangsiapa ingin ibunya kehilangan anaknya atau istrinya menjadi janda atau anaknya menjadi yatim piatu hendaklah ia menghadangku di balik lembah ini.”Sebuah tantangan yg antiklimaks karna tak satu pun orang kafir Quraisy yg berani menampakkan batang hidungnya.

Tibalah Rasulullah di Yatsrib setelah sebelumnya para sahabatnya lebih dulu sampai. Beliau disambut dengan penuh suka cita oleh sahabat Anshar. Yatsrib di kemudian hari diganti namanya menjadi Al-Madinah al-Munawwarah. Hijrah itu sekaligus menjadi tonggak awal dimulainya kalender Islam. Makna Hijrah Secara harfiah hijrah artinya berpindah. Secara istilah ia mengandung dua makna hijrah makani dan hijrah maknawi . Hijrah makani artinya hijrah secara fisik berpindah dari suatu tempat yg kurang baik menuju yg lebih baik dari negeri kafir menuju negeri Islam. Adapun hijrah maknawi artinya berpindah dari nilai yg kurang baik menuju nilai yg lebih baik dari kebatilan menuju kebenaran dari kekufuran menuju keislaman.

Sebenarnya awal tahun hijriah ini sangat tepat digunakan untuk ber-muhasabah (mengevaluasi diri). Dalam pandangan Islam, untuk mengevaluasi diri selama ini sudah ada tuntunannya dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah SWT:

 “Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (TQS Al-Ashr : 1-3)

Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR Ahmad)

Inti dari peringatan tahun baru adalah pada soal perubahan, maka ada baiknya momen pergantian tahun kita jadikan sebagai saat saat untuk merubah menjadi lebih baik. Itulah fungsi utama peringatan tahun baru. Ada 3 pesan perubahan dalam menyambut tahun baru , yaitu:

1. Hindari kebiasaan-kebiasaan lama / hal-hal yang tidak bermanfaat pada tahun yang lalu untuk tidak diulangi lagi di tahun baru ini secara konsistensi.

2. Mulai menata diri dan mulai memperbaiki kualitas ibadah kita kepada ALLAH SWT dan mulai memperbaiki hubungan kita dengan sesama.

3. Usahakan dengan niat yang ikhlas karena Allah agar tahun baru ini jauh lebih baik dari tahun kemarin dan membawa banyak manfaat bagi keluarga maupun masyarakat muslim lainnya.

Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah orang yang beruntung, Siapa yang hari ini keadaannya sama dengan kemarin maka dia rugi, Siapa yang keadaan hari ini lebih buruk dari kemarin, maka dia celaka” (HR Hakim).

Orang yang pasti beruntung adalah orang yang mencari kebenaran, orang yang mengamalkan kebenaran, orang yang mendakwahkan kebenaran dan orang yang sabar dalam menegakkan kebenaran. Mengatur waktu dengan baik agar tidak sia-sia adalah dengan mengetahui dan memetakan, mana yang wajib, sunah, haram, mana yang makruh, dan mana yang mubah.

Itu artinya perubahan waktu ini harusnya kita jadikan momentum (saat yang tepat) untuk mengevaluasi diri. Jangan malah hura-hura bergelimang kesenangan di malam tahun baru. Itu sebabnya, Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan tentang dua hal yang menjadikan manusia lupa diri.

Sabda Rasulullah SAW.: “Ada dua nikmat, di mana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari)

Sebab, kita tidak akan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita sudah meninggalkan dunia ini.

Firman Allah SWT : “Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi(TQS Ar Rum : 57)

Di tahun baru ini selayaknya, kita sebagai muslim yang taat, mengintrospeksi diri dengan semua apa-apa yang telah kita perbuat, memilih semua bentuk amalan yang baik untuk tetap kita pertahankan dan kita tingkatkan porsi amalan yang baik untuk kita kerjakan, serta meninggalakan semua perbuatan yang tidak bermanfaat, baik untuk diri kita ataupun orang di sekitar kita.

Berbicara tentang tahun baru hijriah tentu tidak bisa dileaskan dengan puasa sunah yaitu puasa pada hari ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam yang insyaAllah akan jatuh pada tanggal 24 November 2012,

Rasulullah SAW ketika tiba di Madinah, beliau mendapat Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka beliau bertanya (kepada mereka) : “Hari apakah ini yang kalian bershaum padanya?” Maka mereka menjawab : “Ini merupakan hari yang agung, yaitu pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun bersama kaumnya. Maka Musa bershaum pada hari tersebut dalam rangka bersyukur (kepada Allah). Maka kami pun bershaum pada hari tersebut” Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bershaum pada hari tersebut dan memerintahkan (para shahabat) untuk bershaum pada hari tersebut. (HR. Al-Bukhari 2004, 3397, 3943, 4680, 4737. Muslim 1130)

Walaupun ada kesamaan dalam berpuasa, tetapi Rasulullah memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura.

Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah saw memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura,para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).

Wallahu’alam bishawab.

-ESH-