Ketimpangan rasa keadilan di republik ini

Pagi ini membaca media cetak Nasional dengan kutipan beritanya adalah sebagai berikut,

JAKARTA, KOMPAS.com – Seorang siswa sekolah menengah pertama, Deli Suhandi (14), kini meringkuk di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Dia dituduh mencuri sebuah voucher perdana telepon selular senilai Rp 10.000. Deli dikenakan Pasal 363 KUHP dengan ancaman TUJUH TAHUN PENJARA. http://megapolitan.kompas.com/read/2011/04/04/11515977/Karena.Voucher.Rp.10.000.Anak.SMP.Dibui

MIRIS.. kata ini langsung muncul dibenak saya membayangkan semakin tidak “karu-karuan”-nya proses peradilan dinegeri kita yang tercinta ini. Bisa dibayangkan bahwa HUKUM hanya runcing untuk kalangan bawah sedangkan untuk kalangan elit/atas/borju seakan tumpul dan tidak berdaya.

Masih ingat kasus Gayus Tambunan kan ?? si DOI terdakwa kasus penggelapan pajak sebesar sekitar 80 Milyar atau = 80.000.000.000 (delapan puluh ribu juta), ternyata setelah masuk “dapur” pengadilan Vonis final pun dijatuhkan hanya selama 7 tahun penjara.

Coba kita bandingkan dengan dakwaan anak kecil diatas, karena uang 10 ribu didakwa hukuman 7 tahun penjara.  Tanpa perlu analisis konsep INTEGRAL,DIFERENSIAL,LIMIT,STATISTIK dan sebagainya, efek hukumannya sama namun diakibatkan oleh kejadian yang sangat jauh berbeda.

  • Kejadian 1 : Si anak kecil  10.000 -> 7 tahun penjara.
  • Kejadian 2 : Gayus Tambunan 80.000.000.000 -> juga 7 tahun penjara.

Jika memang mau dibuat berkeadilan, seharusnya OM Gayus Tambunan di hukum

800.000 X 7 tahun = 5.600.000 tahun penjara. itu baru hitung-hitungan saya loh… mungkin hitung hitungan Alloh lain, sesungguhnya Alloh yang maha adil, Wallohuallam bisshowaf.

Saya berharap semoga dunia peradilan Indonesia semakin berbenah.

Just my one cent.

Comments are closed.