MANFAAT PENINGKATAN MUTU PRODUK KOPI DALAM PERSPEKTIF PERDAGANGAN KOPI DUNIA

Oleh: Hamim Sudarsono (Jurusan Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung)
PENDAHULUAN

Kopi adalah komoditas bernilai ekonomi tinggi dan sekaligus merupakan salah satu bahan minuman paling populer di dunia.  Diperkirakan sebanyak lebih dari 2,25 milyar gelas minuman kopi dikonsumsi oleh masyarakat dunia setiap harinya (Ponte, 2002).   Dengan demikian kopi merupakan komoditas global dan sekaligus menjadi penyumbang devisa besar pada banyak negara berkembang, termasuk Indonesia yang merupakan negara penghasil kopi peringkat keempat terbesar dunia setelah Brazil, Kolombia, dan Vietnam.  Komoditas kopi memiliki sejarah panjang dan berperanan penting pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan, dan devisa negara.  Perkebunan kopi mampu menyediakan lapangan kerja dan pendapatan kepada lebih dari dua juta kepala keluarga dan menghasilkan devisa negara lebih dari US$ 500 juta/tahun pada periode 2006-2010 (Anonim, 2010).

Dalam dekade terakhir ini rantai perdagangan kopi dunia dilaporkan mengalami perubahan yang sangat nyata.  Perubahan ini  terutama disebabkan oleh deregulasi sistem perdangan dunia, perubahan pola konsumsi kopi masyarakat dunia, serta berkembangnya strategi koporasi internasional yang semakin dominan dalam sistem perdagangan kopi (Ponte, 2002).   Sistem perdagangan kopi yang semakin liberal dewasa ini memungkinkan konsumer kopi dapat memilih berbagai jenis dan ramuan kopi yang berasal dari berbagai negara dengan beragam teknik pengolahan, packing, serta proses penyiapan (brewing),  yang berbeda-beda.   Pada umumnya dewasa ini semakin banyak konsumen kopi yang bersedia membayar lebih mahal untuk menikmati kualitas rasa yang prima dengan penyajian dan packing yang menarik.   Fenomena ini antara lain dapat dilihat dengan semakin berkembangnya beberapa restauran franchise kopi internasional, seperti misalnya “Starbuck Coffee” yang kini juga telah tumbuh menjamur di kota-kota besar di Indonesia.  Contoh lokal tentang fenomena perubahan pola konsumsi kopi juga dapat dilihat pada berkembangnya bisnis “kopi luwak” yang harganya sangat mahal di Lampung.

MUTU KOPI DAN MANFAAT PENINGKATANNYA BAGI PETANI KOPI LAMPUNG

Dalam sistem perdagangan kopi dunia diterapkan sistem penilaian mutu kopi atau coffee grading system.  Semakin tinggi grade kopi maka akan semakin mahal harganya.  Secara umum, kualitas biji kopi yang diperdagangkan diklasifikasikan berdasarkan jumlah biji cacat, ukuran, dan kualitas biji.  Terdapat dua metode klasifikasi kopi yang umum diterapkan, yaitu SCAA Green Coffee Classification Method dan Brazilian/New York Green Coffee Classification Method .  Dalam makalah ini disajikan metode pertama,  yang secara ringkas mengikuti prosedur sebagai berikut (Anonim, 2011):

Sebanyak 300 gram biji kopi diuji dengan saringan penyortir berukuran 14, 15, 16, 17, dan 18 mesh.   Kopi yang tersisa pada masing-masing ayakan selanjutnya ditimbang dan persentasenya dicatat.  Berhubung menyortir sebanyak 300 gram biji kopi memerlukan waktu lama, dapat ukuran 100 gram jika diterapkan pada kopi berkualitas rendah.    Untuk kopi berkualitas tinggi dengan tingkat biji cacat rendah tetap digunakan 300 gram kopi.  Setelah proses penyortiran selanjutnya biji kopi diolah dengan cara digrongseng (roasted) dan dilanjutkan dengan penilaian rasa (coffee cupping).  Hasil pengujian mutu ini akan menghasilkan lima kelas mutu atau grade kopi, yaitu:

Specialty Grade Green Coffee (1):  Tidak lebih dari 5 biji kopi dalam kondisi cacat penuh per 300 gram, tanpa kerusakan awal.  Memiliki paling tidak satu atribut khas dalam bentuk, rasa, aroma, atau keasaman.  Tidak ada kopi yang salah warna serta tidak ada quaker (kopi yang bantat dan tidak bisa masak setelah diolah).  Kelembaban antara 9-13%.

Premium Coffee Grade (2): Sama seperti grade 1 tetapi tidak lebih dari 8 biji cacat penuh per 300 gram dan boleh ada kerusakan awal.  Jumlah quaker maksimum = 3.

Exchange Coffee Grade (3): Tidak lebih dari  9-23 cacat penuh per 300 gram biji; harus 50% di atas ayakan 15 dan tidak lebih dari 5% lolos dari saringan 14.  Tidak boleh ada yang gagal dalam uji rasa dan jumlah quaker maksimum = 5.  Kelembaban biji 9-13%.

Below Standard Coffee Grade (4): 24-86 biji cacat per 300 gram.

Off Grade Coffee (5): Lebih dari 86 biji cacat per 300 gram.

Meskipun Provinsi Lampung dikenal sebagai wilayah penghasil kopi utama di Indonesia, pada umumnya perkebunan kopi di provinsi ini merupakan perkebunan rakyat yang dikelola secara tradisional.  Para petani kopi di Lampung pada umumnya tidak melakukan tindakan pengendalian hama dan penyakit tanaman kopi secara khusus sehingga kualitas kopi yang dihasilkan sangat ditentukan oleh kondisi alam dan iklim pada umumnya.  Pada saat kondisi alam bersahabat dan populasi hama dan penyakit rendah, produksi kopi petani Lampung berkualitas bagus.  Sebaliknya ketika iklim tidak mendukung serta serangan hama dan penyakit kopi meningkat maka kualitas kopi sangat rendah.   Kondisi ini menyebabkan petani kopi di Lampung tidak memperoleh keuntungan yang maksimal, terutama karena biji kopi yang dihasilkan berada dalam grade rendah.  Yang lebih memprihatinkan, pada umumnya petani kopi di Lampung tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang sistem grading kopi sehingga menyerahkan harga jual kopi sepenuhnya kepada pedagang pengumpul.

Dengan berubahnya pola konsumsi kopi masyarakat dunia yang semakin mengedepankan kualitas maka petani kopi Lampung sebaiknya juga menyesuaikan diri sehingga bisa memperoleh keuntungan yang lebih baik dari lahan kopi yang dimilikinya.  Salah satu upaya dasar untuk memproduksi kopi berkualitas ini adalah dengan memperbaiki kualitas lapangan biji kopi, terutama dengan mengurangi atau meminimalkan serangan hama penggerek buah kopi.  Sebaik apapun upaya yang ditempuh untuk meningkatkan grade kopi, akan sulit memperoleh hasil grade tinggi apabila biji kopi yang diproduksi telah mengalami kerusakan akibat serangan hama dan penyakit tanaman.

PENUTUP 

Kualitas biji kopi sangat dipengaruhi oleh teknik budidaya kopi yang diterapkan oleh petani.   Tidak mungkin dihasilkan kopi berkualitas tinggi dari praktik budidaya kopi yang tidak memperhatikan serangan hama dan penyakit kopi.  Hama dan penyakit kopi tidak hanya menurunkan kuantitas atau produktivitas tetapi juga secara langsung menurunkan mutu biji kopi yang selanjutnya juga menurunkan harga jual.  Secara konvensional, pengendalian hama dan penyakit tanaman kopi dapat dilakukan dengan aplikasi pestisida.  Namun demikian, berubahnya sistem perdagangan dan pola konsumi kopi dunia mengharuskan petani kopi untuk menerapkan cara-cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang lebih ramah lingkungan.  Cara pengendalian ini juga semakin dituntut dengan berkembangnya sistem sertifikasi komoditas perkebunan secara internasional.  Beberapa importir kopi internasional dewasa ini telah mensyaratkan bahwa biji kopi yang diperdagangkan merupakan produk dari pertanian ramah lingkungan dan telah disertifikasi oleh badan sertifikasi komoditas perkebunan internasional (seperti misalnya Rainforest Alliance).  Di masa mendatang, produk perkebunan kopi yang tidak memperoleh sertifikasi dikhawatirkan hanya bisa dipasarkan secara lokal dengan harga yang sangat rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.  2011.  Coffee Grading and Green Coffee Beans Classification. http://www. coffeeresearch.org/coffee/classification.htm.  Diakses 4 Maret 2011.

Anonim. 2010. Ketersediaan area kopi di Lampung. Tersedia di  http://www.lampungprov. go.id/?link=dtl&id=1405. Diakses tanggal 22 Desember 2010.

Ponte, S.  2002. “The ‘Latte Revolution’? Regulation, Markets and Consumption in the Global Coffee Chain”. World Development (Elsevier Science Ltd.). Retrieved 2010-10-18.

 

About Hamim Sudarsono

Faculty Member, College of Agricultrure, University of Lampung
This entry was posted in Riset & Publikasi Ilmiah. Bookmark the permalink.