BERKUNJUNG KE SARAWAK: Negeri Jiran yang Nyaman

Pada bulan Maret 2008 saya mendapat tugas dari Universitas Lampung untuk mengunjungi dan mempelajari sistem akademik Program Pascasarjana Universitas Malaysia (Unimas) di Sarawak, Malaysia Timur.

Ketika beberapa kolega menanyakan ihwal keberangkatan saya ke salah satu negara bagian Malaysia ini, secara bercanda saya mengatakan bahwa saya akan menjadi TKI di Kalimantan Utara.  Dalam pikiran awam saya, Sarawak yang terletak di bagian utara Pulau Borneo dan berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Barat ini kondisinya tidaklah jauh berbeda dengan provinsi-provinsi lain di Kalimantan.  Ternyata, kunjungan saya selama dua minggu di negeri kenyalang ini membuat saya kagum dengan kondisi kesejahteraan rakyat Sarawak, dengan keteraturan dan kerapian kota-kotanya, serta dengan kemegahan kampus dan gedung-gedung sekolahnya.  Tingkat kesejahteraan dan kondisi kampung-kampung yang saya kunjungi di wilayah-wilayah terpencilpun secara umum sangat baik untuk ukuran negara Asia.

Selama bertugas di Unimas Sarawak saya didampingi oleh Profesor Gabriel Tonga, seorang dosen dari Faculty of Resource Science & Technology, Unimas.  Dosen ahli lingkungan yang keturunan Dayak Bidayuh ini, selain menjadi counterpart saya dalam tugas akademik saya di Unimas juga memperkenalkan berbagai aspek kehidupan di Sarawak, mulai dari kehidupan kampus, sosial, hingga budaya dan lain-lainnya.  Saya berkesempatan menginap di rumah tradisional suku Dayak Iban yang panjangnya bisa mencapai 150-200 m dan dihuni oleh puluhan keluarga.  Saya juga diajak untuk mengunjungi pasar perbatasan perbatasan yang semua pedagangnya orang Indonesia.  Pengalaman inilah yang mendorong saya untuk berbagi cerita dengan pembaca Harian Lampung Post tercinta dengan harapan ada aspek-apek positif yang mungkin bisa bermanfaat.

Jejak Sejarah Serawak

Ketika saya tiba di Bandara Internasional Kuching, Ibukota Sarawak, saya memperhatikan bahwa sebagian besar penumpang yang berasal dari Kuala Lumpur harus melewati jalur penumpang “luar negeri”.  Ketentuan ini juga berlaku bagi warga negara Malaysia non-Sarawak atau penduduk Malaysia Barat.  Saya mulai bertanya-tanya di dalam hati, mengapa warga negara Malaysia ini diperlakukan seperti warga negara asing ketika memasuki Sarawak yang termasuk wilayah Malaysia.  Pertanyaan saya ini terjawab ketika saya mulai membaca sejarah Sarawak.  Sistem imigrasi yang diterapkan di negeri yang berada di Borneo ini ternyata berkaitan dengan sejarah proses bergabungnya Sarawak ke dalam negara federasi Malaysia.
Pada awal abad ke 19, Sarawak termasuk wilayah Kesultanan Brunei.  Dalam periode pemerintahan Sultan Brunei Omar Ali Saifudin II (1827-1852), terjadi berbagai kerusuhan dan pemberontakan di Sarawak yang tidak bisa diatasi oleh pihak kesultanan.  Akhirnya Pangeran Muda Hashim, Gubernur Sarawak pada masa itu, meminta bantuan James Brook, seorang utusan kerajaan Inggris, untuk memadamkan kerusuhan dan mengendalikan keadaan. Sebagai imbalannya, Kesultanan Brunei memberikan hadiah wilayah Kuching (sekarang Ibu Kota Sarawak) dan sekitarnya.  Dalam perkembangannya Kesultanan Brunei kemudian mengangkat James Brook sebagai Gubernur Sarawak.  James Brook akhirnya pada tahun 1842 mengukuhkan dirinya sebagai penguasa penuh Sarawak dan dikenal sebagai pendiri ”Dinasti Rajah Putih”.  Dinasti Brook terus memperluas wilayahnya hingga Kesultanan Brunei akhirnya hanya menguasai daerah sungai dan pesisir, yaitu lokasi Kesultanan Brunei Darussalam saat ini.
Dinasti Rajah Putih ini berlangsung hingga tiga generasi.  Salah satu aspek pemerintahan dinasti Brook yang dianggap positif oleh masyarakat Sarawak adalah komitmennya untuk melindungi eksploitasi terhadap penduduk asli, khususnya suku-suku dayak, yang pada era itu relatif lebih terbelakang dibandingkan dengan etnis Melayu atau Cina. Dinasti Brook juga mengundang orang-orang Cina untuk datang ke Serawak, tetapi melarang kaum pedagang ini untuk tinggal di luar wilayah kota agar tidak merusak tradisi suku dayak Iban dan Bidayuh.

Pada tahun 1941-1945 Jepang menduduki Sarawak dan Kalimantan.  Dengan kekalahan Jepang pada akhir PD II pada tahun 1945, Dinasti Rajah Putih Brook menyerahkan kekuasaan kepada Kerajaan Inggris pada tanggal 1 Juli 1946.  Pada masa-masa inilah, rakyat Sarawak menentang pemerintahan Inggris dan berakhir dengan pembunuhan terhadap Gubernur Inggris pertama di Sarawak pada tahun 1949.
Antara tahun 1962 hingga 1966, Sarawak merupakan medan utama dari Konfrontasi Indonesia-Malaysia, yang genderang perangnya ditabuh oleh Bung Karno, Presiden Pertama RI.  Sebagian kelompok masyarakat Sarawak menginginkan agar Sarawak menjadi bagian dari Indonesia.  Kelompok ini terutama dimotori oleh golongan komunis yang didukung oleh Indonesia.  Sementara itu, kelompok lain yang didukung oleh Pemerintah Inggris sebagai kolonis Sarawak menginginkan agar Sarawak bersama Sabah dan Brunei bergabung dengan Malaya untuk membentuk Negara Malaysia.  Sejarah akhirnya berpihak kepada Malaysia yang berhasil menggandeng Sarawak dan Sabah ke dalam negara federasi Malaysia.  Brunei memilih untuk berdiri sendiri hingga kini.

Dalam proses tarik-menarik Sarawak itulah terjadi tawar-menawar politik yang hasilnya menguntungkan rakyat Sarawak hingga kini.  Salah satu kesepakatan yang diperoleh dalam proses itu adalah kewenangan yang cukup besar bagi Sarawak dalam masalah kependudukan. Meskipun menjadi salah satu negara bagian dari Malaysia, setiap warga Malaysia non-Sarawak harus menggunakan paspor dan wajib lapor secara rutin jika mereka tinggal atau bekerja di Sarawak.  Dengan demikian rakyat Sarawak mempunyai wewenang dan otonomi yang baik terhadap wilayahnya.  Tidak mengherankan jika pada saat ini penduduk Sarawak hanya sekitar 2,2 juta jiwa.  Padahal luas wilayah Sarawak adalah 124.450 km2, atau kurang lebih 37.5% dari luas daratan Malaysia.  Dengan wilayah yang luas dan sumberdaya alam yang melimpah maka pada saat ini negeri jiran ini lebih makmur daripada wilayah Kalimantan pada umumnya.  Seluruh jalan raya terawat dengan baik dan nyaris tidak pernah terjadi kemacetan.  Taman-taman kota tertata rapi dan terpelihara dengan baik.  Demikian juga rerumputan yang tumbuh di kiri-kanan jalan, secara rutin dipangkas sehingga tampak rapi dan bersih.  Kerapian lingkungan jalan raya bukan hanya terlihat di wilayah kota tetapi juga terdapat di jalan-jalan desa yang jauh dari keramaian.
Sarawak tampaknya sudah beranjak dari negeri miskin menuju negeri yang berkecukupan.  Ini barangkali bisa dilihat dari program-program pembangunannya.  Seluruh anak usia sekolah di Sarawak mendapat kesempatan bersekolah dengan gratis hingga sekolah menengah atas.  Bagi lulusan sekolah menengah yang melanjutkan ke perguruan tinggi, pemerintah Sarawak menyediakan pinjaman lunak yang pengembaliannya dilakukan setelah mahasiswa memperoleh pekerjaan dan secara finansial mampu melunasinya (pada era 80-an Indonesia pernah mempunyai program serupa, tetapi tidak berlangsung lama).

Politik, Budaya, dan Ekonomi Sarawak

Ketika saya berada di Sarawak, Malaysia sedang menyelenggarakan pemilihan umum.  Saya mendapat kesempatan untuk memperhatikan bagaimana masyarakat Sarawak, khususnya para sivitas akademika Unimas yang berinteraksi dengan saya, dengan antusias menyikapi pemilihan umum di negerinya.  Beberapa kolega bahkan harus mudik ratusan kilometer demi untuk melaksanakan “undian”, (istilah Malaysia untuk “vote” atau “mencoblos”) di wilayahnya agar kandidat yang dijagokan tidak kehilangan suaranya.  Dengan menggunakan sistem parlementer berbasis distrik, seorang kandidat di Sarawak bisa terpilih menjadi anggota parlemen Malaysia cukup dengan meraih 12.000 suara atau bahkan kurang dari itu.  Di setiap daerah pemilihan hanya ada dua kandidat yang bersaing memperebutkan kursi parlemen.  Satu dari koalisi Barisan Nasional (BN) dan saingannya dari koalisi partai oposisi yang di Malaysia disebut ”koalisi partai pembangkang”.  Berbeda dengan di Semenanjung Malaysia di mana tulang-punggung BN adalah UMNO (United Malay National Organisastion), kekuatan utama Koalisi BN di Sarawak adalah Partai Pusaka Bumi Putera (di negara bagian Sarawak tidak ada UMNO).  Partai ini umumnya beranggotakan etnis melayu dan dayak.  Koalisi BN akan memasang kandidatnya yang paling berpeluang untuk menang.  Dengan kata lain, BN akan memasang calon dari etnis Melayu pada daerah-daerah kantong Melayu dan sebaliknya akan memasang calon dari etnis Dayak jika menurut perhitungan mereka itu lebih berpeluang untuk menang.  Tentu saja, sebagaimana umumnya yang terjadi di medan politik, ada pertimbangan-pertimbangan lain selain faktor etnis.

Dalam pandangan awam saya, tampaknya warna-warna etnis tampak lebih jelas di Sarawak dibandingkan di Indonesia.  Pada setiap kota yang merupakan kantong etnis Cina, semua toko dan papan nama selalu menggunakan huruf Cina disertai dengan huruf latin/Bahasa Malaysia di bawahnya.  Demikian juga ketika mereka berkampanye, calon-calon dari etnis Cina menggunakan tulisan Cina dan berpidato dalam Bahasa Cina.  Sebagian disertai dengan Bahasa Inggris.  Secara kebetulan, ketika saya makan malam bersama kolega saya di Kuching sedang berlangsung kampanye dari partai DAP (Democratic Action Party).  Partai yang merupakan salah satu tulang punggung kelompok oposisi di Sarawak ini didominasi oleh warga Sarawak etnis Cina.  Acara kampanye di gelar di pusat perbelanjaan yang juga merupakan tempat favorit untuk makan malam.  Pengunjung, yang umumnya merupakan keluarga, duduk menyantap makanan sesuai dengan pesanan masing-masing sambil sekali-sekali memperhatikan pidato kampanye yang ditayangkan melalui layar lebar.  Meskipun masyarakat Sarawak sangat serius ketika harus memberikan suara kepada kandidat yang didukungnya, saya mendapat kesan bahwa mereka menyikapi kampanye dengan biasa-biasa saja.  Agak berbeda dengan suasana kampanye terbuka di Indonesia yang lebih bersemangat dan bergemuruh.

Berdasarkan etnisnya, populasi 2,2 juta jiwa penduduk Sarawak terdiri atas sekitar 30% etnis Dayak Iban, 30% Cina, 21% Melayu, serta sisanya gabungan dari berbagai suku dayak.  Secara keseluruhan terdapat 27 etnis asli dan 45 bahasa di Sarawak.  Pada hampir semua tempat yang saya kunjungi, baik di kota maupun di desa, pada umumnya warga Sarawak bisa berbahasa Inggris cukup baik.  Namun demikian, dalam hal bahasa nasional tampaknya orang Sarawak tidak sebaik orang Indonesia.  Bahasanya bercampur-campur, dan tidak standar.  Dari tayangan TV yang sempat saya lihat di hotel tampak dengan jelas bahwa tidak semua orang berbicara dengan bahasa yang sama.  Sebuah acara film seringkali disertai dengan tiga jenis teks terjemahan: bahasa Cina, Malaysia, dan India.  Dapat dibayangkan bagaimana baris-baris teks tersebut memenuhi hampir seperempat layar TV yang kita tonton!

Dari berbagai diskusi saya dengan kolega saya di Unimas, saya mendapat kesan bahwa orang Sarawak menganggap orang Indonesia lebih maju dan lebih kreatif dalam berkesenian.  Orang Sarawak pada umumnya mengenal dengan baik artis-artis dan penyanyi Indonesia.  Banyak lagu-lagu indonesia masa kini juga sangat populer di Sarawak, dari lagunya Peterpan, Ungu, hingga Mulan Jameela.  Menurut orang Sarawak, rentak musik Indonesia lebih seronok!  Bahkan di salah satu acara festival menyanyi di kampus, salah satu lagu yang mengantarkan pemenangnya adalah ”Dealova” yang dipopulerkan oleh penyanyi Indonessia Once. Tayangan TV-TV Indonesia, yang bisa ditangkap melalui parabola ilegal, juga sangat disukai warga Sarawak.  Menurut pandangan saya, TV Malaysia lebih ”konservatif” dan agak ”membosankan”.  Ketika menonton acara TV programa Malaysia, saya sering membayangkan seperti ketika menonton TVRI di era 70-80 an!!

Transportasi dan Pedagang Makanan

 Pada hari pertama saya di Sarawak, saya dijemput dari hotel menuju Kampus Unimas Sarawak di Kota Samarahan yang berjarak sekitar 15 km dari Kuching.  Selama dalam perjalanan saya memperhatikan kondisi jalan raya dan mobil-mobil yang lalu lalang.  Jalan-jalan yang kami lalui tampak luas, rapi, dan teratur.  Seluruh trotoar berfungsi penuh untuk pejalan kaki, tidak satupun terlihat pedagang kaki lima berdagang di trotoar seperti layaknya di kota-kota besar di Indonesia.  Juga tidak pernah ada pengamen atau pengemis yang menyapa pengendara mobil di pemberhentian lampu jalan.  Hal ini tidaklah membuat saya heran karena Sarawak hanya berpenduduk 2,2 juta jiwa dan Kota Kuching dihuni oleh sekitar 580.000 jiwa.  Tekanan penduduk yang tidak terlalu kuat, didukung oleh perencanan dan disiplin yang baik mungkin bisa membuat Kota Kuching terasa nyaman dan tertib.

Yang menarik perhatian saya ketika saya berada di jalan raya Kuching adalah ukuran mobil-mobil berada di jalan.  Sebagian besar mobil di jalanan Sarawak berukuran mini dengan mesin 1000 cc atau bahkan 850 cc.  Selain itu, sebagian besar mobil di Sarawak adalah buatan Malaysia.  Mobil-mobil berukuran kecil seperti minibus ”Kenari” atau ”Kelisa” adalah produk lokal Malaysia yang banyak digemari oleh penduduk Sarawak.  Tampaknya memiliki mobil kecil ”made in Malaysia” tengah menjadi trend positif di Sarawak, mungkin juga di seluruh Malaysia.  Saya mendapat informasi bahwa kendaraan dinas pejabat negara di seluruh Malaysia adalah Mobil ”Perdana”, salah satu produk unggulan dari Proton, produsen mobil pertama di Malaysia.  Konon tidak ada lagi kendaraan dinas Mercedes, bahkan untuk seorang perdana menteri Malaysia!!  Kebijakann-kebijakan seperti inilah yang mungkin ikut mempercepat laju pertumbuhan ekonomi Malaysia!

Menurut perkiraan Prof. Gabriel Tonga, diperkirakan 75-80 % dari keluarga Sarawak memiliki mobil.  Inilah salah satu impian dari Dr. Mahatir Mohammad, mantan Perdana Menteri Malaysia yang kini telah digantikan oleh Datuk Abdulah Badawi.  Salah satu program dari Mahatir Mohammad adalah mewujudkan negara Malaysia yang penduduknya berkecukupan dan setiap keluarga bisa memiliki mobil.  Barangkali ini hanyalah salah satu indikator yang digunakan untuk mewujudkan Visi Malaysia 2020.  Menurut pengamatan saya, tingkat kepemilikan mobil 75-80% seperti yang dikatakan oleh Prof. Tonga tidaklah berlebihan.  Dari kunjungan-kunjungan saya ke pelosok Sarawak saya selalu kendaraan beroda empat terpakir di halaman atau garasi rumah penduduk.  Bahkan juga pada rumah-rumah tradisional yang mungkin masih tergolong ke dalam lingkungan hunian penduduk miskin di Sarawak!

Hal lain yang menarik perhatian saya ketika berada di Sarawak adalah situasi di kedai-kedai makan yang hampir selalu penuh dengan pelanggan, baik pada jam sarapan pagi hari, makan siang, ataupun pada jam makan malam.  Terkadang saya berpikir jangan-jangan penduduk Sarawak, kecuali yang punya restoran, tidak pernah memasak di rumah masing-masing.  Yang juga tidak kalah menarik adalah harga makanan yang relatif murah.  Meskipun standar gaji dan penghasilan penduduk Sarawak lebih tinggi daripada penduduk Indonesia, harga-harga makanan di sana relatif sama dengan di Indonesia.  Saya mendapat informasi bahwa pemerintah di sana menyubsidi harga-harga bahan pangan sehingga harga tetap murah.
Hampir semua kedai makan di Serawak diisi oleh lebih dari satu pedagang.  Pemilik kedai biasanya hanya menjual minuman, sementara di bagian lain ada satu atau dua penjual lain yang menyediakan makanan.  Biasanya di kedai yang sama terdapat satu makanan halal yang ditandai dengan tulisan arab ”Bismillahirrahmanirrahim” seta pelayannya yang berjilbab (meskipun sering kali hanya dengan pakaian berlengan pendek dan dengan celana jeans ketat). Setiap tamu yang datang dan duduk harus memesan minuman, apakah itu teh, kopi, tongkat ali (ginseng pasak bumi), jus, atau minuman lainnya.  Sistem berdagang seperti ini tampaknya sangat baik dalam hal membagi kesempatan kerja antara pemilik kedai yang menjual minuman -umumnya dari etnis Cina yang secara eknomi lebih kuat- dan penjual makanan.  Model ini tampaknya terjadi di semua kota di Sarawak dan mungkin saja bisa mengurangi konflik antaretnis yang memang cukup potensial untuk terjadi.

 Sumberdaya Alam dan Pertanian

Kondisi geografis Sarawak dapat dikelompokkan dalam tiga bagian atau wilayah.  Yang pertama adalah wilayah pesisir yang pada umumnya berdataran rendah, bertopografi rata, dan berawa-rawa. Wilayah kedua didominasi perbukitan.  Di wilayah inilah sebagian besar kota-kota di Sarawak dibangun.  Di wilayah ini pertanian juga relatif lebih berkembang.  Wilayah ketiga adalah daerah pegunungan yang berada di bagian perbatasan dengan Indonesia.

Negeri Sarawak dikaruniai hutan tropis yang sangat luas.  Namun demikian, seperti halnya yang terjadi di Kalimantan, dalam beberapa dekade terakhir telah terjadi penebangan besar-besaran terhadap hutan-hutan alam di Sarawak.  Laju kerusakan hutan di Sarawak yang diperkirakan mencapai 90% merupakan salah satu yang tertinggi didunia.  Laju kerusakan hutan yang tinggi ini antara lain dipicu oleh pesatnya pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (HTI).  Tampaknya, sistem kependudukan dan federasi yang diterapkan bisa menahan ekspansi penduduk dari Semenanjung Malaysia tetapi tidak mampu eksploitasi sumberdaya alamnya oleh pemerintah federal.  Beberapa akademisi yang saya ajak berdiskusi menyadari bahwa pemerintah federal telah mengeksploitasi sumberdaya alam Sarawak.  Namun demikian, mereka juga menyadari bahwa dari sumber itulah mungkin pembangunan gedung-gedung fasilitas umum dan jalan raya Sarawak memperoleh dananya.  Mungkin juga karena akibat inilah maka dewasa ini kita sering mendengar penyelendupan ke Malaysia atas kayu-kayu hasil pembalakan liar dari hutan Indonesia sangat marak.
Terlepas dari kondisi hutannya yang telah rusak, saya memperkirakan bahwa sumberdaya alam dan lahan yang tersisa masih cukup untuk mendukung perekonomian penduduk Sarawak yang hanya 2,2 juta jiwa.  Dari berbagai tempat yang saya kunjungi dari wilayah Kuching di bagian barat hingga Saratok di Sarawak tengah, masih banyak lahan hutan sekunder yang belum dimanfaatkan secara optimal.  Lahan-lahan ini pada umumnya merupakan tanah ulayat yang hanya bisa dimiliki oleh suku-suku lokal.

Sistem pertanahan di Sarawak telah dirancang untuk melindungi kepemilikan lahan oleh penduduk yang telah turun-temurun tinggal di Sarawak.  Kaum etnis Cina dan kaum pendatang, misalnya, hanya diperbolehkan membeli dan memiliki lahan yang berada di dalam zona campuran (mixed-zone).  Lahan yang berada di dalam zona ini memiliki dokumen-dokumen legal dan bisa diperjualbelikan.  Sementara itu, penduduk asli Sarawak memiliki zona yang disebut tanah adat bumi putera (atau NCL, Native Customary Land) yang tidak bisa diperjualbeilkan kepada etnis lain.  Kepemilikan lahan ini bisa berpindah tangan melalui transaksi tradisional dan biasanya hanya diperbolehkan di antara keluarga-keluarga yang masih berkerabat.  Pada tanah-tanah ulayat inilah, perkebunan kelapa sawit di Sarawak dewasa ini dikembangkan melalui lembaga SALCRA, Sarawak Land Consolidation and Rehabilitation Authority.  Lembaga milik pemerintah ini dibentuk dengan tujuan mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan milik rakyat karena tanpa bantuan pemerintah pada umumnya keluarga warga asli Sarawak tidak memiliki cukup modal untuk menggarap lahannya yang umumnya cukup luas.  Uniknya, perkebunan kelapa sawit yang dikelola SALCRA tidak selalu terbentang secara utuh.  Di beberapa kebun yang saya lewati, pada hamparan sawit yang luas terdapat beberapa bagian yang ditanami tanaman lain atau dibiarkan bera.  Saya mendapat informasi bahwa SALCRA tidak memaksa seluruh pemilik kebun dalam satu hamparan untuk mengkonversi lahannya menjadi kebun kelapa sawit.  Akibatnya, lahan kebun tidak bersambung, alias bolong-bolong.  Tentu saja kondisi ini menjadi kurang efisien dan menyulitkan pengelolaannya.  Namun demikian, inti dari penerapan sistem ini adalah bahwa pemerintah Sarawak melalui SALCRA menghargai kebebasan penduduk pribuminya untuk mengelola tanahnya sesuai dengan kebutuhannya.  Dari beberapa wawancara yang saya lakukan saya mengetahui bahwa SALCRA tidak memperoleh keuntungan banyak dari program pembangunan perkebunan sawit di Sarawak.  Lembaga ini tampaknya lebih bertujuan untuk membantu penduduk Sarawak memanfaatkan lahan tidurnya agar memberikan penghasilan yang lebih baik.  Diperkirakan, setiap hektar lahan penduduk yang dikonversi menjadi kebun kelapa sawit oleh SALCRA akan memberikan dividen sekitar RM 2.000 atau sekitar Rp 5.700.000 per tahunnya (dividen bervariasi bergantung kepada harga CPO).  Mengingat pemilik lahan sama sekali tidak memerlukan biaya tambahan maka pembagian keuntungan tersebut merupakan hasil bersih bagi pemilik lahan.

Pasar Tradisional dan Pos Bersama di Perbatasan

Salah satu berita penting yang selama beberapa hari menjadi headline di media masa Indonesia sebelum keberangkatan saya ke Sarawak adalah masalah perbatasan dan Askar Wathaniah, pasukan penjaga perbatasan Malaysia.  Hal ini saya tanyakan kepada kolega Unimas saya, Prof. Gabriel Tonga.  Saya mendapat jawaban bahwa hal tersebut sempat menjadi berita di Sarawak tetapi tidak seramai di Indonesia.  Kolega saya tersebut bahkan berjanji akan mengajak saya untuk mengunjungi beberapa titik perbatasan Sarawak- Kalimantan ketika tugas saya yang berkaitan dengan Unimas telah selesai.
Sehari menjelang saya kembali ke Indonesia, Prof. Gabriel Tonga menepati janjinya untuk mengajak saya ke Serikin, sebuah kota kecil yang terletak di dekat perbatasan dengan Kalimantan Barat.  Di kota kecil ini, Prof. Gabriel menunjukkan sebuah pasar tradisional yang tidak akan ditemukan di tempat lain di Sarawak.  Berbeda dengan pasar-pasar lain ada di Kuching atau kota-kota lain di Sarawak, pasar di Serikin ini benar-benar seperti pasar tumpah di Indonesia.  Para pedagang menggantung dan memajang dagangannya pada tenda-tenda darurat yang hampir menutup ruas jalan.  Barang dagangan yang dijual semuanya berasal dari Indonesia, mulai dari batik Jawa Tengah, peralatan dapur dan rumah tangga, sayur mayur, dan sebagainya.  Barang-barang dagangan ini diangkut dari wilayah Indonesia dengan melalui jalan gunung yang hanya bisa dilewati oleh ojek.  Tidak mengherankan jika sebagian besar motor yang ada di pasar perbatasan ini mempunyai plat nomor Indonesia.  Tampaknya motor-motor ojek ini bebas keluar-masuk wilayah Sarawak kapan saja.  Beberapa pengendara motor berplat Indonesia ini bahkan berboncengan tiga orang, suatu tindakan yang pasti akan ditangkap polisi jika terjadi di tempat lain di Sarawak.  Suasana di pasar Serikin ini tidak menunjukkan bahwa mereka sedang berada di negara lain.  Prof. Gabriel berkali-kali mengatakan kepada saya, ”mereka itu saudara kami”.  Memang, terdapat beberapa suku Dayak Kalimantan yang berkerabat dekat dengan suku-suku  Dayak di Serawak.  Mereka mempunyai bahasa dan tradisi yang sama!

Setelah dari Serikin, saya diajak mengunjungi Desa Biawak di Distrik Lundu yang berdekatan dengan Kabupaten Sambas di Kalbar, Indonesia. Di desa perbatasan ini saya berhenti di Pos Penjagaan Bersama RI-Malaysia.  Ternyata pos bersama ini tidak berada di garis perbatasan, tetapi jauh masuk di wilayah Sarawak.  Kami berhenti untuk minum kopi di sebuah kedai di depan pos penjagaan.  Kebetulan di kedai tersebut terdapat seorang tentara Indonesia yang sedang santai minum kopi di kedai yang sama.  Saya memperkenalkan diri, dan disambut dengan ramah.  Saya sempat menanyakan tentang kasus perbatasan dan Askar Wathaniah kepada tentara RI tersebut.  Dengan tersenyum dia menjawab, “Saya juga tidak tahu Pak, itu berita apa dasarnya.  Kami di sini tenang-tenang saja kok!”.  Akhirnya pembicaraan saya dengan tentara penjaga perbatasan yang berasal dari Jawa Timur ini beralih ke masalah-masalah lain.  Menjelang saya meninggalkan kedai, seorang anak berseragam SMPN VII Sijingan (mungkin salah satu SMP di Sambas) datang dengan membawa keranjang kosong.  Tampaknya dia baru saja menjual dagangan sayur-mayurnya di Kampung Biawak, Sarawak.

Wisata dan Keramahan Sarawak

Untuk ukuran sebuah ibukota negara bagian yang mungkin setara dengan ibukota provinsi di Indonesia, urusan kepariwisataan di Kuching sudah berkembang cukup baik.  Pada musim liburan sekolah, kota Kuching dipenuhi oleh turis yang kebanyakan dari semenanjung Malaysia.  Saya juga menjumpai banyak turis-turis asing berkulit putih di kota Kuching dan sekitarnya.  Paket-paket wisata mulai dari penjelajahan goa, wisata sungai, arung jeram, hingga kunjungan ke rumah adat dayak menjadi tujuan wisata yang banyak diminati oleh turis.  Brosur-brosur tentang paket-paket wisata tersebut dengan mudah dapat diperoleh di lobby hotel, biro travel, dan tempat-tempat umum di Kuching.

Kuching, Ibukota Sarawak, secara harfiah berarti hewan ”kucing”, kerabat harimau yang telah menjadi hewan peliharaan di sepanjang peradaban manusia.  Simbol dan patung hewan kucing dimanfaatkan secara ekspansif di ibukota negara bagian di Malaysia timur ini.  Di bandara internasional Kuching terdapat panorama elektronik berukuran besar yang menggambarkan sekawanan kucing.  Di pusat-pusat kota terdapat berbagai patung kucing dengan berbagai model dan ukuran.  Di toko-toko souvenir dijual berbagai patung dan pernik-pernik plakat kucing.  Bahkan di Kuching juga terdapat Museum Kucing.  Saya sempat dibuat penasaran apakah wilayah ibukota Sarawak ini memang merupakan habitat endemik kucing khusus ataukah di masa lalu pernah menjadi sentra kucing di Kalimantan.  Ternyata ihwal kucing ini hanyalah bersumber dari legenda yang tidak jelas.  Salah satu brosur wisata menceritakan bahwa nama ”kucing” berawal ketika serombongan orang Eropa menanyakan nama tempat sambil menunjuk ke suatu lokasi.  Secara kebetulan di arah yang sama melintas seekor kucing.  Si pemandu, mengira ia ditanya nama hewan yang sedang melintas, langsung menjawab: ”kucing”.

Terlepas dari fakta bahwa kota Kuching tidak ada kaitan historis dengan hewan kucing, pemerintah Sarawak tampaknya memanfaatkan dengan baik legenda yang ada.  Untuk kepentingan turisme, mereka mempopulerkan ibukota Sarawak dengan sebutan ”Kuching, the World Capital of Cats”.  Dampaknya cukup signifikans.  Para turis akan merasa belum berkunjung ke Sarawak kalau tidak membawa cendera mata berupa patung kucing, gelas berornamen kucing, atau gantungan kunci bergambar kucing.  Mereka secara sadar memanfaatkan ”kucing” sebagai salah satu identitas kota untuk lebih menarik wisatawan.

Salah satu tugas dalam kunjungan saya ke Sarawak mengharuskan saya mengikuti program magang mahasiswa Unimas di desa dan harus menginap di rumah tradisional suku Dayak Iban di Wilayah Saratok, kurang lebih 300 km di sebelah timur Kuching.  Setelah menempuh perjalanan sekitar lima jam, saya dan kolega saya dari Unimas tiba di Kota Saratok sekitar pukul enam sore.  Kami berputar-putar di kota mencari hotel untuk menginap.  Karena Saratok adalah kota kecil, tidak banyak pilihan hotel yang tersedia.  Akhirnya kami menemukan Hotel Hoover, sebuah hotel kecil yang berada di sebuah kompleks ruko.  Tetapi semua toko sudah tutup dan tidak ada tanda-tanda ada petugas hotel di tempat tersebut.  Akhirnya kami memutuskan menilpun via nomor yang tertulis pada papan nama hotel tersebut.  Sekitar 15 menit kemudian, pemilik hotel datang dan menanyakan kepada kami akan menginap berapa malam.  Kami bermaksud menginap tiga malam dan karena sudah cukup lelah, kami memutuskan menginap di hotel tersebut meskipun kondisinya sangat minimalis dan tidak ada satu petugaspun berada di hotel tersebut.  Yang membuat saya heran, pemilik langsung menyerahkan kunci kamar tanpa meminta identitas dan uang sewa dari kami.  Sepertinya pemilik hotel tidak khawatir kalau kami akan check-out tanpa membayar.  Kejadian ini membuat saya berpikir bahwa orang-orang Sarawak yang tinggal di pelosok atau kota-kota kecil merasa sangat aman.  Hal ini juga terbukti ketika kolega kami menyarankan agar saya meninggalkan tas saya yang berisi komputer di dalam mobil ketika kami harus memarkir mobil di pinggir hutan.  Padahal kami masuk satu kilometer ke dalam hutan untuk mengikuti survei mahasiswa selama kurang lebih 3-4 jam.  Ternyata barang kami aman-aman saja.  Demikian juga selama tiga malam mobil diparkir di komplek ruko-hotel tanpa ada penjaga.  Tidak satupun barang dan peralatan mahal yang ada di dalam mobil terganggu.
Saya semakin kagum dengan sistem kekerabatan yang berkembang di Sarawak ketika saya menginap di ”rumah panjang” suku dayak Iban di Desa Sessang, sekitar 20 km dari kota Saratok.  Suku ini dahulu sangat ditakuti oleh suku-suku lain karena tradisi peperangannya yang melegenda. Konon, dalam peperangan tersebut mereka memenggal kepala musuhnya dan dibawa pulang untuk bukti kemenangannya.  Inilah yang disebut tradisi ”head hunting”.  Karena alasan keamanan tulah, mereka tinggal secara berkelompok di dalam rumah panjang.  Rumah panggung tradisional ini bisa dihuni oleh belasan hingga puluhan keluarga.  Setiap keluarga menghuni satu bilik yang ukurannya sekitar 6 x 10 meter.  Pada awalnya rumah panjang dimulai dengan beberapa keluarga saja.  Kemudian ketika ada kerabat lain ingin bergabung maka mereka dipersilakan membangun di sebelah kanan atau kiri dari rumah yang sudah ada.  Pada bagian depan bangunan terdapat teras yang lebarnya sekitar 5 m dan panjangnya membentang dari ujung kiri hingga kanan.  Pada sore hari, teras ini menjadi media bermain anak-anak maupun tempat merumpi warga rumah panjang.

Aroma kekerabatan Sarawak dapat saya rasakan lagi ketika saya diajak menginap di desa tempat kelahiran kolega saya yang juga dosen Unimas.  Rumah kolega saya ini berada di pinggir hutan dan berjarak cukup jauh dari rumah-rumah yang lain.  Karena jaraknya cukup jauh dari kampus, rumah ini hanya dikunjungi pada setiap akhir pekan.  Rumah yang cukup mewah dengan perabotan dan peralatan elektronik lengkap ini setiap hari dalam keadaan kosong, dan belum pernah dibobol maling.  Pada halaman depan rumah, terdapat kolam ikan berukuran kurang lebih 15 x 15 m.  Yang unik dari kolam ini, pemilik kolam menyediakan pakan ikan dan buku catatan. Setiap hari, para tetangga yang melewati rumahnya memeriksa buku catatan tersebut untuk memastikan apakah sudah ada seseorang yang memberi makan ikan.  Jika ikan belum diberi makan, maka tetangga tersebut akan menebar pelet pakan ikan sesuai dengan takaran yang ada.  Dan kemudian menuliskan nama, tanggal, dan jam pemberian pakan yang ia lakukan.  Ketika kelak kolam dipanen maka pemilik ikan akan membagi hasilnya kepada para tetangganya yang namanya terekam di dalam buku catatan di pingir kolam tersebut.

Keamanan, keramahan, dan keguyuban bertetangga yang saya lihat di Sarawak membekas di dalam benak saya hingga saya kembali ke tanah air.  Mungkin saja, di suatu kota di pelosok Indonesia ini masih ada tempat yang kita bisa merasa aman untuk meninggalkan barang-barang berharga kita.  Mungkin saja masih ada pemilik restoran yang mau berbagi tempatnya untuk memberi kesempatan berdagang kepada tetangganya.  Mungkin saja masih ada komunitas yang dengan semangat kekeluargaan ikut memperhatikan kolam ikan milik tetangganya!  Semoga!!

 

 

 

About Hamim Sudarsono

Faculty Member, College of Agricultrure, University of Lampung
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.