Alhamdulillah, Akhirnya RSBI Dihapuskan oleh MK

Akhirnya berita gembira itu datang juga, Program RSBI/SBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional/Sekolah Bertaraf Internasional) harus ditutup pada sekolah-sekolah negeri.  Saya bergembira akhirnya RSBI dibubarkan meskipun saat ini anak bungsu saya sedang menempuh program pendidikan RSBI di SMA.  Saya bersyukur RSBI dihapus karena salah satu esensi pembubaran RSBI adalah mengerem laju komersialisasi pendidikan yang pada saat ini sudah merajalela di Indonesia.  Komersialisasi pendidikan telah menggurita di semua tingkatan, mulai dari TK hingga perguruan tinggi.

Hingga saat ini sudah ada dua program  Kemendiknas yang dibatalkan oleh MK, yaitu Program BHP/BHMN dan RSBI.  Dua program ini bertujuan baik, tetapi di dalam pelaksanaannya berubah menjadi liar dan menyebabkan biaya pendidikan yang “bermutu” menjadi sangat mahal dan tidak terjangkau lagi oleh kalangan rakyat kebanyakan.  Masyarakat kelas ini seolah-olah tidak boleh bermimpi kelak anaknya bisa mengecam  program pendidikan yang bergengsi walaupun anaknya mempunyai potensi yang luar biasa.   Lihatlah, misalnya, betapa mahalnya bagi calon mahasiswa kebanyakan untuk masuk ke sebuah fakultas kedokteran.  Jika untuk diterima saja calon mahasiswa harus membayar puluhan juta -bahkan ratusan rupiah, apakah setelah lulus nanti akan bisa diharapkan menjadi seorang dokter yang berempati kepada masyarakat miskin yang memerlukan jasanya?  Memang selalu dikatakan bahwa dari dana  mahasiswa itu ada untuk porsi subsidi silang bagi mahasiswa yang kurang mampu.  Tetapi berapa persenkah yang untuk subsidi silang?  Ada berapakah jumlah mahasiswa kedokteran yang berasal dari pelosok desa?

Kondisi komersialisasi pendidikan saat ini juga diperparah dengan penerapan otonomi yang kurang bijak.  Salah satu contohnya,  atas nama otonomi Kemendiknas semakin memberikan kebebasan kepada perguruan tinggi untuk melaksanakan seleksi mandiri dalam penerimaan mahasiswa baru.  Jika porsi jalur seleksi mandiri ini semakin besar, dapat dipastikan bahwa persaingan bukan lagi berdasarkan kualitas akademik calon mahasiswa tetapi berdasarkan kemampuan finansialnya.  Belum lagi peluang terjadinya penyelewengan oleh oknum-oknum perguruan tinggi yang memanfaatkan ketidakberdayaan para orang tua calon mahasiswa.

Ok, RSBI akan dihapuskan.  Bagaimana dengan rencana penerimaan mahasiswa baru melalui jalur undangan yang porsinya akan ditambah hingga 50% mulai tahun 2013?  Menurut Ketua Umum Panitia Pelaksana SNMPTN 2013, Akhmaloka, tahun depan akreditasi sekolah tidak menentukan jumlah siswa yang boleh mendaftar SNMPTN. Hasil ujian nasional juga digunakan sebagai evaluasi akhir terhadap kelulusan untuk semua jalur seleksi.  ”Semua siswa dari sekolah apa pun boleh mendaftar karena tidak akan ada kuota berdasarkan akreditasi sekolah. Kami memperkirakan akan ada 1,5 juta pendaftar untuk SNMPTN ini,” kata Akhmaloka.

Saya yakin Kemendiknas sudah mempertimbangkan masak-masak langkah di atas dan mempersiapkannya sebaik mungkin.  Tetapi tetap saja saya khawatir bagaimana  mekanisme kelulusan calon mahasiswa akan ditetapkan jika hanya berdasarkan nilai rapor yang kualitasnya sangat beragam antarsekolah.   Saya yakin pada saat ini Kemendiknas belum mempunyai indeks kualitas SMA di seluruh Indonesia.  Kalau seorang calon mahasiswa mendapat nilai rata-rata 8,5 di suatu SMA, apakah pasti lebih baik daripada calon lain yang nilainya 8,1 di sekolah lain?  Saya sudah dapat membayangkan, kebijakan ini akan menimbulkan keresahan baru di dunia pendidikan kita.

Menurut saya, Kemendiknas terlalu sering mengganti kebijakan dan bahkan terlalu mudah melakukan eksperimen dalam dunia pendidikan kita yang dampaknya bisa luar biasa!  Dalam kasus seleksi penerimaan mahasiswa baru, misalnya, kita bisa membandingkan dengan sistem di Amerika Serikat yang menggunakan SAT sebagai standar untuk seleksi  masuk perguruan tinggi.  SAT (semula singkatan dari Scholastic Aptitude Test, kemudian menjadi Scholastic Assessment Test) mulai ada sejak tahun 1926 dan tetap digunakan hingga sekarang (lihat:http://en.wikipedia.org/wiki/SAT).  SAT telah mengalami berbagai perubahan dan modifikasi, tetapi tetap digunakan sebagai acuan penting untuk menguji kesiapan calon mahasiswa sebelum memasuki dunia pendidikan tinggi!   Kalau kemudian kita hanya akan mengandalkan nilai rapor yang diperoleh dari masing-masing SMA untuk seleksi masuk, apakah kita akan bermain-main dengan relativitas yang tidak berdasar?

PS: Baca juga:

RSBI Dihapus, Dunia Pendidikan Jangan Jadi Kelinci Percobaan Lagi

Tahun Depan, 90 Persen Seleksi Masuk PTN Lewat Jalur Undangan

SNMPTN 2013 Hanya untuk Jalur Undangan

 

 

About Hamim Sudarsono

Faculty Member, College of Agricultrure, University of Lampung
This entry was posted in General Articles. Bookmark the permalink.