ETIKA DALAM PENELITIAN

Oleh: Hamim Sudarsono (Universitas Lampung)

Catatan:

Artikel ini adalah salah satu bagian dari materi kuliah Filsafat Ilmu yang saya asuh untuk PD Doktor Ilmu Pertanian Unila… Juga ada dalam buku teks kuliah yang saya tulis. Semoga bermanfaat. HS.

Pengantar

Para ilmuwan dan peneliti pada umumnya berkerja secara mandiri tanpa mendapat pengawasan rutin dari pihak lain. Kalaupun ada pengawasan, sifatnya lebih berupa supervisi, evaluasi, atau monitoring dari penyandang dana atau pembimbing (jika penelitinya mahasiswa) untuk memantau sejauh mana kemajuan penelitian yang dikerjakan telah dicapai. Selebihnya, para peneliti umumnya bertanggungjawab penuh atas hasil penelitian yang dikerjakan. Praktik seperti ini menuntut para peneliti memiliki sikap jujur dan cermat, meskipun tidak dalam pengawasan secara rutin.

Penelitian yang dihasilkan dengan data yang salah atau dipalsukan, selain tidak mempunyai makna terhadap hakikat penemuannya, juga mempunyai dampak buruk terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Apalagi kalau hasil penelitian dengan data palsu tersebut kemudian dirujuk oleh peneliti lain dan digunakan sebagai acuan! Niscaya rangkaian kepalsuan akan menjadi semakin panjang dan berdampak semakin buruk. Oleh karena itu, para ilmuwan dan peneliti harus memegang teguh etika penelitian yang umumnya berlaku secara universal. Pada berbagai himpunan profesi atau lembaga-lembaga riset, etika penelitian biasanya diformalkan dalam bentuk kode etik (codes of conduct) yang mempunyai konsekuensi langsung apabila dilanggar oleh anggotanya. Dengan beragamnya organisasi profesi dan bidang riset yang ada, redaksi kode etik peneliti antarlembaga mungkin juga beragam. Namun demikian, terdapat kesamaan dalam etika umum yang berlaku pada masyarakat ilmiah. Penjelasan pada sub-bab ini berisi bahasan tentang etika ilmuwan secara substansial yang disintesis dari berbagai sumber, antara lain dari: Stern & Elliot (1997), Velasquez et al. (2010), Resnik (2013), dan  LIPI (2013).

Takrif Etika dan Moral

Sebelum membahas etika penelitian lebih jauh, kita perlu memiliki persepsi yang sama tentang hakikat etika. Hal ini diperlukan mengingat masyarakat umum memiliki pemahaman yang beragam tentang etika, dan sering juga istilah ini digunakan secara bergantian atau bersamaan dengan “moral” atau “moralitas”. Apakah sesungguhnya “etika” identik dengan “moral” atau “moralitas”? Apakah “etika” sama dengan “perbuatan yang baik dan benar?”

Dalam bahasa sehari-hari, perbedaan antara istilah “etika” dan “moral” atau “moralitas” tidak selalu jelas. Bahkan di beberapa nas filsafat keduanya digunakan sebagai sinonim, sementara pada nas yang lain tampak jelas perbedaan antara keduanya. Secara historis, istilah ‘etika’ berasal dari kata dalam bahasa Yunani “ethos” yang berarti kebiasaan atau adat-istiadat masyarakat. Sedangkan istilah ‘moralitas’ berasal dari bahasa Latin “mos” (jamak= “mores”) yang artinya kurang lebih sama dengan ethos. Istilah “moralitas” diperkenalkan oleh Cicero yang maknanya setara dengan “ethos” dalam bahasa Yunani (Gammel, 2015). Dengan demikian, secara etimologis kata “etika” mempunyai makna yang sama dengan “moral”.

Untuk lebih memperjelas pemahaman tentang etika dan moral, kita asumsikan takrif baku dari moralitas adalah nilai (value), kebiasaan atau adat-istiadat masyarakat berupa apa yang harus dilakukan (kewajiban) dan tidak boleh dikerjakan (larangan), yang diterima secara luas sebagai acuan dalam pergaulan masyarakat dan tidak dipertanyakan lagi rasionalitasnya. Di sisi lain, etika adalah refleksi filosofis atas aturan-aturan tersebut dalam bermasyarakat. Dengan kata lain, etika merupakan refleksi dari moralitas masyarakat sehingga dalam konteks filsafat maka “etika” disebut juga sebagai “filsafat moral”. Sebagai bidang kajian, etika merupakan salah satu disiplin dalam filsafat, termasuk dalam sub-disiplin ‘filsafat moral’. Inilah kira-kira yang dimaksud dengan “etika” sebagaimana dalam konsepsi Aristoteles (Gammel, 2015).

Dalam pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa “moral” sesungguhnya merupakan nilai dasar dari “etika”, bukan sebaliknya. Dalam tataran operasional, etika sering digunakan dalam bentuk kode etik yang berisi aturan formal yang menjadi acuan anggota sebuah organisasi. Sementara itu, istilah “moralitas” lebih sering digunakan dalam konteks perilaku, gaya hidup, keyakinan, nilai, atau kepribadian individual dalam tata pergaulan masyarakat.

Secara praktis etika berkaitan dengan dua hal. Pertama, etika mengacu pada standar benar dan salah yang universal yang biasanya berisi apa yang harus dilakukan berkaitan dengan hak, kewajiban, manfaat bagi masyarakat, keadilan, atau kebajikan tertentu. Etika, misalnya, mengacu pada standar yang mewajibkan kita untuk tidak melakukan pencurian, pembunuhan, penyerangan, penipuan, dan tindakan-tindakan tercela lainnya. Standar etika juga memerintahkan kita untuk menerapkan kebajikan, kejujuran, kasih sayang, dan kesetiaan. Standar etika juga berkaitan dengan hak azasi manusia, seperti hak untuk hidup, hak untuk bebas dari cedera, dan hak untuk privasi, dsb. Standar-standar tersebut merupakan standar etika karena mereka didukung oleh alasan-alasan yang konsisten. Kedua, etika mengacu pada studi dan pengembangan standar etika seseorang karena perasaan, hukum, dan norma-norma sosial dapat menyimpang dari apa yang etis. Masyarakat perlu terus memeriksa standar yang dianut anggotanya untuk memastikan bahwa standar tersebut masuk akal. Dengan demikian etika juga berarti upaya terus-menerus dalam mempelajari keyakinan dan perilaku moral kita, dan upaya untuk memastikan bahwa lembaga kita memiliki standar yang wajar dan berbasis kuat (Velasquez et al., 2010)

Penjelasan oleh Velasquez et al. (2010) berikut ini juga perlu disimak agar kita memperoleh orientasi yang lebih luas dalam memahami makna etika yang sering diartikan berbeda-beda. Pertama, banyak orang cenderung menyamakan etika dengan perasaan mereka. Sesungguhnya, etika tidak selalu sesuai dengan perasaan seseorang karena perasaan sering juga menyimpang dari apa yang etis. Kedua, etika tidak selalu dapat diidentikkan dengan nilai-nilai yang ada pada suatu agama. Kebanyakan agama, tentu saja, mempunyai standar etika yang tinggi. Namun jika etika identik dengan nilai-nilai yang ada pada suatu agama maka etika hanya akan berlaku untuk orang-orang religius. Faktanya, etika berlaku untuk semua kalangan, baik yang ateis maupun yang taat beragama. Agama dapat menetapkan standar etika yang tinggi dan dapat memberikan motivasi kuat bagi penganutnya untuk berperilaku etis. Etika tidak terbatas pada agama dan juga tidak sama dengan agama. Ketiga, menjadi etis tidak selalu sama dengan menaati hukum meskipun hukum sering menggabungkan beberapa standar etika yang dipatuhi sebagian besar warga. Namun demikian, seperti halnya perasaan, hukum juga dapat menyimpang dari apa yang etis. Hukum pada era perbudakan (misalnya di Amerika Serikat) dan hukum apartheid di Afrika Selatan di masa lalu adalah contoh dari hukum yang menyimpang dari nilai-nilai etika. Keempat, menjadi etis tidak selalu sama dengan melakukan yang diterima oleh masyarakat. Dalam setiap masyarakat, kebanyakan orang menerima standar yang, pada kenyataannya, etis. Tapi standar perilaku dalam masyarakat dapat menyimpang dari etika. Sebagian besar masyarakat dapat menjadi korup. Masyarakat Nazi Jerman adalah contoh masyarakat yang secara moral korup. Selain itu, jika menjadi etika disamakan dengan “apa yang diterima oleh masyarakat” maka untuk mencari tahu apa yang etis, seseorang harus mencari tahu apa yang diterima masyarakat menerima. Faktanya, tidak ada atau jarang ada anggota masyarakat yang mencoba untuk memutuskan masalah etika dengan melakukan survei.

Etika dalam Konteks Penelitian

 Serangka dengan sifatnya yang mandiri, beberapa praktik dalam penelitian menunjang terjadinya etika yang baik, misalnya: pencatatan data yang jujur dan akurat, keterbukaan, dan penghargaan kepada pemilik ide asli sebuah publikasi. Praktik-praktik ini juga ditopang oleh budaya tinjauan kritis karya seorang ilmuwan oleh rekan-rekan peergroup-nya yang menjaga sebagian besar ilmuwan agar tetap berada dalam batas-batas perilaku etis profesional. Namun demikian, akibat dari tekanan untuk mendapatkan kredit sebagai yang pertama untuk menerbitkan ide atau pengamatan, kadang-kadang menyebabkan beberapa ilmuwan untuk menahan informasi atau bahkan untuk memalsukan temuan mereka. Pelanggaran seperti ini sangat bertentangan dengan etika ilmiah dan dapat menghambat perkembangan ilmu. Ketika perilaku seperti ini ditemukan dan diketahui maka si pelaku akan dikutuk keras oleh komunitas ilmiah dan lembaga-lembaga yang mendanai penelitian.

Ranah lain dari etika ilmiah berkaitan dengan kemungkinan timbulnya bahaya akibat hasil dari eksperimen ilmiah, terutama apabila subjek percobaannya berupa makhluk hidup. Etika ilmiah modern mengharuskan para peneliti untuk memperhatikan kesehatan, kenyamanan, dan kondisi hewan yang menjadi subyek percobaannya. Terlebih-lebih lagi kalau subyek penelitian adalah manusia.

Penelitian yang melibatkan subyek manusia hanya dapat dilakukan dengan persetujuan dari subyek, meskipun kendala ini dapat membatasi beberapa jenis penelitian yang sangat penting atau berpengaruh besar terhadap kesejahteraan manusia. Relawan subyek penelitian harus mendapat informasi sepenuhnya dan terbuka tentang berbagai risiko dan manfaat penelitian. Dalam hal ini relawan mempunyai hak penuh untuk menolak berpartisipasi. Selain itu, ilmuwan juga harus mencegah terjadinya resiko bahaya kesehatan atau bahaya lainnya terhadap rekan kerja, siswa, lingkungan, atau masyarakat. Ilmuwan juga wajib merahasiakan identitas relawan subyek penelitian apabila pemberitaan terhadap data penelitiannya dapat merugikan subyek penelitiannya, baik kerugian material maupun moral. Dalam ranah inilah maka para dokter tidak diperbolehkan untuk mengungkapkan rahasia penyakit pasiennya tanpa persetujuan dari pasien (Anonim, 1990).

Etika ilmu juga berhubungan dengan efek berbahaya yang mungkin timbul dari hasil suatu penelitian. Efek jangka panjang dari hasil ilmu mungkin tak terduga, tetapi hasil apa yang diharapkan dari suatu karya ilmiah dapat diperkirakan dengan mengetahui siapa yang menjadi sponsor penelitian itu. Jika, misalnya, sebuah lembaga militer menawarkan kontrak kepada ilmuwan untuk bekerja pada bidang matematika teoritis, matematikawan itu dapat menyimpulkan bahwa ia akan mengembangkan aplikasi baru untuk teknologi militer dan karena itu kemungkinan akan dikenakan tindakan kerahasiaan. Kerahasiaan militer atau industri dapat diterima untuk beberapa ilmuwan tetapi mungkin tidak untuk orang lain. Apakah seorang ilmuwan memilih untuk bekerja pada penelitian yang berpotensi berisiko besar bagi kemanusiaan, seperti senjata nuklir atau perang kuman, dianggap oleh banyak ilmuwan menjadi soal etika pribadi, bukan salah satu dari etika profesional (Anonim, 1990). Tentu saja, hal ini dapat menjadi bahan perdebatan yang panjang.

Contoh Kasus

Ilustrasi yang disajikan oleh Stern dan Elliot (1997) berikut ini memberikan gambaran salah satu dinamika dari etika penelitian dalam komunitas akademik di kampus. Seorang mahasiswa sekolah kedokteran di Inggris mendapat tugas dari dosen pembimbingnya, Dr. Z, untuk menulis literature review atau tinjauan pustaka. Rencananya, hasil tugas ini akan digunakan oleh sang dosen untuk pokok dari manuskrip makalah yang akan ditulis bersama mahasiswa. Dan mahasiswa akan memperoleh kredit sebagai penulis pertama makalah sementara Dr. Z telah membuat protokol penelitian, mengumpulkan data, dan mengkompilasi hasilnya. Ternyata hal ini menjadi perhatian kolega seniornya karena beberapa hal. Pertama, Dr. Z. dianggap terlalu naif karena memberikan “hadiah” berupa first authorship kepada mahasiswa yang ditugasi menulis tinjauan pustaka. Hal ini tidak dibenarkan dalam komunitas ilmiah karena hanya dengan menulis tinjauan pustaka sesungguhnya mahasiswa tidak layak memperoleh hak sebagai penulis pertama mengingat protokol, pengumpulan data, dan analisis data dilakukan oleh Dr. Z.

Kasus berikutnya mempunyai nuansa yang sama dengan permasalahan yang agak berbeda. Dalam salah satu seminar di Dartmouth College (Inggris) seorang peneliti senior (Profesor R.) mengalami situasi yang mirip dengan yang Dr. Z. Dalam kasusnya, Profesor R mengetahui bahwa “hadiah” kepenulisan tanpa kontribusi penelitian yang signifikan adalah praktik yang tidak dapat diterima. Namun demikian, ia merasa memiliki alasan untuk memberikan kepenulisan kepada mahasiswanya yang telah bekerja selama beberapa tahun di dalam proyeknya tetapi tidak menghasilkan data yang layak diterbitkan. Percaya bahwa ia memiliki kewajiban agar mahasiswa bisa mempunyai publikasi, Profesor R telah memberikan mahasiswanya beberapa data yang ia miliki dari proyek lain untuk bahan karya ilmiahnya. Profesor R menilai bahwa mahasiswanya telah bekerja keras, meskipun untuk proyek yang lain, sehingga ia beralasan bahwa kepenulisan itu bukan “hadiah” (Stern & Elliot, 1997).

Kedua ilustrasi di atas menunjukkan bahwa niat baik tidak selalu menghasilkan keputusan etis. Kedua dosen dalam ilustrasi di atas adalah orang “baik”. Dalam kedua kasus, kedua dosen tersebut benar-benar percaya bahwa apa yang mereka lakukan adalah moral dapat diterima. Dalam kasus pertama, kesalahan Dr. Z adalah ia tidak paham dengan etika ilmiah yang seharusnya. Dalam kasus kedua, Profesor R melakukan apa yang dia pikir terbaik bagi mahasiswanya tanpa mempertimbangkan bahwa moralitas adalah sebuah sistem publik. Tindakannya yang berkaitan dengan mahasiswa tersebut meskipun bersifat individual memiliki konsekuensi publik sebagai ilmuwan profesional (Stern & Elliot, 1997).

PUSTAKA

Anonim. 1990. The Nature of Science.

Gammel S. 2015. ETHICS AND MORALITY.

LIPI. 2013. Konsep Pedoman Penilaian Etika Penelitian dan Publikasi.

Muslim. 2007. Etika dan Pendekatan Penelitian dalam Filsafat Ilmu Komunikasi (Sebuah Tinjauan Konseptual dan Praktikal). Jurnal Komunikasi, 4(2):82–81.

Resnik DB. 2013. What is Ethics in Research and Why is it important.

Stern JE & Elliot D. 1997. The Ethics of Scientific Research. University Press of New England, Hanover & London. 75p.

Velasquez M, Andre C, Shanks TSJ & Meyer MJ. 2010. What is Ethics?

 

About Hamim Sudarsono

Faculty Member, College of Agricultrure, University of Lampung
This entry was posted in General Articles and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.