Falsifikasi dalam Sains

Oleh: Hamim Sudarsono

Falsifikasi (falsification), artinya “pembuktian atau pembeberan bahwa suatu pandangan atau teori itu salah”. Dalam perkembangan metode keilmuan, prinsip falsifikasi berperanan penting dalam memperkuat teori ilmiah. Gagasan pentingnya falsifikasi sebagai salah satu ciri terpenting dari ilmu pertama kali dikemukakan oleh Karl Popper dalam buku Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (Popper, 1962). Dalam karya ini Popper membahas demarkasi dalam sains, yaitu batas atau ciri apa yang membedakan antara science (ilmu) dan pseudo-science (ilmu semu, pseudo-sains).

Pendapat populer menyatakan bahwa dalam ilmu (science), verifikasi atau konfirmasi dilakukan melalui pembuktian induktif; sedangkan dalam ilmu semu (pseudoscience), konfirmasi tidak melalui pembuktian-pembuktian induktif. Popper tidak bersetuju dengan pendapat ini. Perbedaan utama antara ilmu dan ilmu semu, menurut Popper (1962), bukanlah karena ilmu harus diverifikasi melalui pembuktian melainkan oleh adanya prediksi atau hipotesis yang berisiko. Dengan demikian maka hipotesis dalam ilmu dapat disangkal. Dalam bentuknya yang baku, falsifikasi atau falsiabilitas merupakan keyakinan bahwa sebelum sebuah hipotesis dianggap sah maka hipotesis tersebut harus dapat disangkal. Dengan demikian, jika seorang ilmuwan bertanya “Apakah Tuhan itu ada” maka jawaban dari pertanyaan ini bukanlah sains karena tidak akan pernah bisa disangkal atau dibuktikan kesalahannya.

Ide Popper sebenarnya dilandasi oleh keyakinan bahwa tidak ada teori yang sepenuhnya benar, tetapi apabila tidak berhasil difalsifikasi (dibuktikan kesalahannya) maka teori tersebut diterima sebagai sebuah kebenaran. Sebagai contoh, teori gravitasi Newton diterima sebagai kebenaran selama berabad-abad karena faktanya benda tidak bergerak mengambang secara random dari bumi. Teori gravitasi tersebut sesuai dengan hasil percobaan dan penelitian, tetapi terus menjadi sasaran pembuktian para ilmuwan. Kemudian Einstein membuat hipotesis atau prediksi yang dapat difalsifikasi. Teori ini berbeda dengan teori Newton, misalnya dalam teorinya tentang terjadinya pembelokan cahaya akibat tarikan gravitasi.

Dalam kondisi tidak ekstrim, teori Einstein dan teori Newton mempunyai prediksi yang sama dan keduanya benar. Kondisi tidak ekstrim atau normal ini terjadi pada kondisi medan gravitasi lemah, yaitu kondisi yang biasa kita alami sehari-hari. Teori Einstein memprediksi bahwa arah pancaran cahaya berubah di dalam medan garvitasi. Teori umum relativitas Einstein juga menyatakan bahwa cahaya yang berasal dari medan gravitasi yang kuat mengalami perubahan panjang gelombang. Pertambahan panjang gelombang ini dalam astronomi disebut “red shift”.  Berbagai pengujian oleh para ilmuwan membuktikan bahwa teori prediksi Einstein benar, baik yang berkaitan dengan perubahan arah cahaya maupun perubahan panjang gelombang dalam kondisi ekstrim (Anonim, 2016). Atas dasar keunggulan terori Einstein tersebut maka dengan menggunakan prinsip Occam’s Razor dinyatakan bahwa teori Einstein lebih baik daripada teori Newton. Namun demikian, perhitungan dalam rumus-rumus teori Newton lebih sederhana sehingga teori ini tetap banyak digunakan dalam bidang rekayasa.

Ide falsifikasi sains oleh Popper sesungguhnya bermula dari pengalaman masa mudanya selama kuliah di Wina (Austria), ketika teori Einstein, teori sejarah Marx, teori psiko-analisis Freud, dan teori psikologi individual Adler sedang populer dan menjadi pembicaraan di kalangan ilmuwan.

Popper mencatat bahwa teori Marx, teori Freud, dan teori Adler memiliki banyak bukti yang mendukung. Verifikasi untuk teori-teori tersebut sangat mudah diperoleh. Begitu kita mengadopsi perpekstif Marx dan Freud, misalnya, maka akan mudah menemukan bukti pendukungnya di mana-mana. Namun, Popper beranggapan bahwa hal ini merupakan kesalahan, cacat teori, dan tidak bermanfaat. Yang membuat teori gravitasi Einstein lebih baik daripada ketiga teori lainnya bukanlah bahwa teori Einstein lebih mudah untuk dibuktikan, melainkan bahwa teori tersebut lebih mudah difalsifikasi atau lebih mudah dibuktikan jika salah. Teori Einstein bisa dengan mudah dibantah. Jika cahaya sebuah bintang ternyata tidak membelok mendekat ke arah matahari sebagaimana diprediksi oleh Einstein, maka teori tersebut secara otomatis telah dibantah.

Popper berpendapat bahwa fitur inilah yang membedakan science dari pseudo-science, yaitu bahwa sains dapat difalsifikasi atau dapat dibuktikan kesalahannya. Bahwa teorinya dapat disangkal melalui sebuah pembuktian. Ini juga bermakna bahwa sebuah teori dalam sains harus memberi prediksi yang tegas. Sebaliknya pseudo-science tidak dapat difalsifikasi, tidak dapat dibuktikan kesalahannya. Pseudo-science hanya menunjukkan bukti-bukti yang mendukungnya dan tidak perlu membuat prediksi yang beresiko, yang dapat dengan mudah disangkal jika teori itu ternyata salah.

Tetapi harus diperhatikan bahwa inferensi dalam sains harus sah secara deduktif. Jika sebuah hipotesis mensyaratkan bahwa kita akan mengamati bagian tertentu dari bukti, dan kita tidak melihat bukti itu maka berkonsekuensi bahwa hipotesis tersebut adalah palsu. Jika sebuah teori telah berhasil bertahan dari penyanggahan berulang-ulang, maka menurut Popper teori tersebut “didukung” atau “diperkuat” (the theory is corroborated). Namun, Popper tidak berpendapat bahwa teori-teori yang sangat dikuatkan menjadi kebenaran hakiki dalam proses pembuktian yang berulang-ulang (yang merupakan proses inferensi induktif). Popper berkeyakinan bahwa permasalahan induksi tidak ada dalam metode ilmiah, karena menurut Popper ilmu tidak menggunakan induksi sama sekali. Popper tidak memerlukan pembuktian inferensi induktif dalam ilmu (Popper, 2002).

Pustaka

Anonim. Albert Einstein and the Theory of Relativity. Available at:http://csep10.phys.utk.edu/astr161/lect/history/einstein.html). Acessed: 25/junho/2016.

Popper K. 1962. Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge. Basic Books Publisher. New York & London.

Popper KR. 2002. Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge. Routledge classics, 2nd:417.

About Hamim Sudarsono

Faculty Member, College of Agricultrure, University of Lampung
This entry was posted in General Articles, Metode Ilmiah, Uncategorized. Bookmark the permalink.