Refleksi Hari Bumi (2003)

BUMI KITA MAKIN TEKOR
(Sebuah Ungkapan Fakta dan Renungan di Hari Bumi 22 April 2003) …

Tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi.  Pada tanggal ini para pecinta lingkungan hidup di seluruh dunia mengadakan berbagai jenis kegiatan dengan satu tujuan mulia, yaitu mengerem laju kerusakan planet bumi.   Berbagai bentuk program aksi diselenggarakan pada Hari Bumi, mulai dari kegiatan sesaat/sehari yang bersifat mengurangi emisi gas beracun (misalnya dengan mengurangi penggunaan alat-alat bermesin yang menghasilkan polusi) hingga bentuk-bentuk kegiatan yang lebih berkesinambungan.  Efek dan tanggapan masyarakat atas kegiatan-kegiatan ini bermacam-macam.  Kegiatan yang hanya berlangsung sesaat atau satu hari saja mungkin hanya bersifat simbolik untuk mengingatkan kita semua tentang perlunya pelestarian lingkungan hidup.  Sedangkan kegiatan yang berjangka lebih lama dan bersinambung akan berdampak lebih nyata dan mungkin akan bisa mengubah perilaku dan gaya hidup anggota masyarakat sehingga lebih ramah lingkungan. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengajak kita semua mencermati fakta penting tentang ekploitasi yang telah dilakukan oleh umat manusia atas bumi yang kita huni ini serta dampak apa saja yang mungkin akan terjadi.

Ecological Footprint: Indikator Keserakahan Manusia dan Kerusakan Bumi

Selama berabad-abad manusia telah menghuni bumi tanpa menyadari bahwa pada suatu saat sumberdaya yang dimiliki bumi ini tidak akan mampu lagi mendukung penghuninya.  Selama berabad-abad manusia menghuni dan menggunakan sumberdaya bumi yang melimpah ruah seolah tak terbatas.  Apa yang diambil oleh manusia dari bumi di masa-masa lalu jauh lebih sedikit dari yang dimiliki bumi.  Dan manusia hanya mengambil sumberdaya alam sesuai dengan keperluannya sehingga tidak mengganggu keberlanjutan dan regenerasi sumberdaya yang ada.

Keadaan mulai berubah ketika populasi manusia semakin bertambah dan teknologi eksploitasi sumberdaya alam semakin maju.  Penebangan pohon yang semula dilakukan dengan kapak dan tali diganti dengan  mesin chainsaw dan alat-alat berat.  Pengolahan lahan pertanian yang semula menggunakan hewan ternak dan cangkul diganti dengan traktor.  Sementara itu, seiring dengan semakin berkembangnya teknologi di berbagai bidang kehidupan maka tuntutan kenyamanan hidup semakin tinggi.  Akibatnya manusia harus mengambil lebih banyak lagi dari alam agar semua kemudahan dan kenyamanan hidup yang diinginkan dapat dipenuhi, dipertahankan, atau bahkan ditingkatkan.   Hal ini diperparah dengan semakin serakahnya manusia sehingga semakin memacu eksploitasi bumi dengan berbagai cara.  Konflik dalam berbagai skalapun muncul untuk memperebutkan bumi dan sumberdayanya, mulai dari konflik antaranggota keluarga, pertentangan antarwarga desa, hinga perang antarnegara.  Dunia telah mencatat timbulnya banyak peperangan di berbagai belahan dunia karena memperebutkan sumberdaya bumi.  Salah satunya adalah yang terjadi pada saat ini, yaitu agresi dari bangsa paling serakah di dunia atas bumi Irak yang kaya sumberdaya bumi yang sangat vital yaitu minyak.

Para pakar lingkungan hidup telah lama menyadari bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi yang dimiliki oleh suatu masyarakat atau negara mempunyai dampak terhadap kelestarian sumberdaya alam.  Berbagai metode telah dikembangkan untuk mengukur tingkat pemenuhan kebutuhan hidup manusia serta eksploitasi sumberdaya yang menyertainya.  Salah satu pengukuran yang sangat terpercaya adalah dengan menggunakan metode ecological footprint (tapak kaki ekologis)Metode ini pada prinsipnya mengukur seluruh kebutuhan hidup manusia, bisa secara invidual atau kelompok, dan mengkonversikannya dalam bentuk luasan hamparan bumi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.   Luasan hamparan bumi yang tereksploitasi inilah yang disebut dengan tapak kaki ekologis.  Dengan metode ini maka secara logis akan diperoleh bahwa seseorang yang bergaya hidup boros dan mewah akan memerlukan ecological footprint yang lebih besar daripada seseorang yang bergaya hidup hemat dan sederhana.   Demikian juga, negara-negara maju yang memiliki income per capita tinggi akan memerlukan tapak kaki ekologis yang lebih luas untuk menopang penduduknya yang ‘makmur’.   Keadaan ini akan sedikit berbeda apabila masyarakatnya telah sepenuhnya berwawasan lingkungan dan berhasil menciptakan inovasi teknologi-teknologi yang ramah lingkungan.

Dengan metode pengukuran tapak kaki ekologis di atas diketahui bahwa berdasarkan analisis data tahun 1999 secara rata-rata seorang warga Amerika Serikat memerlukan hamparan bumi seluas 9,6 ha untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidupnya.  Padahal, berdasarkan luasan hamparan yang dimilikinya kapasitas ecological footprint rata-rata warga Amerika Serikat seharusnya hanyalah 6,0 ha.  Dengan demikian sebenarnya telah terjadi defisit ecological footprint sebesar 3,6 ha per individu orang Amerika.  Dari manakah defisit ini harus dipenuhi?   Inilah yang harus diperoleh dengan mengeksploitasi negara lain atau dengan mengeksploitasi alam melebihi daya dukungnya!!   Tapak kaki ekologis rerata orang Amerika ini adalah yang tertinggi di antara bangsa-bangsa lain di dunia.  Sebagai perbandingan, tapak kaki ekologis per kapita bangsa-bangsa lain adalah sebagai berikut: India 0,8 ha (kapasitas: 0,7 ha), Indonesia 1,2 ha (kapasitas: 1,9 ha), Jepang 4,6 ha (kapasitas: 0,8 ha), Inggris Raya 5,5 ha (kapasitas 1,7 ha), dan Australia 6,9 ha (kapasitas 14,7 ha) (data lebih lengkap dapat dilihat pada tabel).

Bagaimana dengan ecological footprint per kapita penduduk dunia secara global?.  Dengan jumlah penduduk dunia sebanyak 6,2 milyar (tahun 1999) diperkirakan ecological footprint per kapita adalah 2.3 ha sementara kapasitas ecological footprint bumi kita sebenarnya adalah 1,9 ha per kapita.  Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bumi kita sebenarnya telah tekor dieksploitasi oleh penghuni utamanya, yaitu manusia.  Yang lebih memprihatinkan, laju eksploitasi berlebihan sumberdaya alam ini berlangsung semakin cepat setiap tahunnya.  Sebagai gambaran, analisis para ahli pada tahun 1961 menunjukkan bahwa manusia hanya mengeksploitasi sebesar 70% dari kapasitas daya dukung biosfer    Tingkat eksploitasi ini terus meroket hingga menjadi 120% dari kapasitas daya dukung alam pada tahun 1999 (Wackernagel et al., 2002).  Dengan kata lain, dengan laju eksploitasi seperti ini sebenarnya manusia telah mengambil jatah 1,2 tahun waktu regenerasi sumberdaya alam hanya untuk memenuhi kebutuhan selama satu tahun.  Atau dengan bahasa yang lain lagi, sebenarnya kita ini telah menggunakan 1,2 bumi pada tahun 1999.   Laju eksploitasi berlebihan ini dipastikan akan semakin parah setiap tahunnya.  Tanpa komitmen dan usaha nyata dapat dipastikan bahwa laju kerusakan sumberdaya alam akan semakin parah.

Tanda-tanda tekornya bumi kita sebenarnya sudah tampak jelas.  Jumlah kurban banjir di seluruh dunia telah meningkat dari tujuh jutaan pada tahun 1960-an menjadi 150 jutaan pada tahun 2001/2002.  Rerata suhu udara pada tahun 2002, 2001, dan 1998 telah tercatat sebagai yang terpanas dalam sejarah.  Keadaan ini diramalkan akan terus memburuk di masa-masa mendatang.  Dampak kenaikan suhu ini telah dirasakan di seluruh dunia.  Kerugian akibat dari suhu ekstrim yang terjadi pada tahun 2001 diperkirakan mencapai 55 milyar dolar Amerika.  Dengan laju seperti ini diperkirakan kerugian global bisa mencapai 150 milyar dollar Amerika dalam 10 tahun mendatang.  Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah dampak jangka panjang dari kerusakan biosfer kita!  Laporan terakhir dari Intergovernmental Panel on Climate Change menunjukkan bahwa pemanasan suhu global telah mencapai 6 derajat Celcius pada abad ini.   Dampak pemanasan suhu global ini sungguh mengerikan, terutama di negara-negara yang sedang berkembang.  Pemanasan suhu global ini dapat menyebabkan bencana banjir yang sangat dahsyat dan dapat mengubah sebagian negara-negara di Afrika menjadi padang pasir.

Kontemplasi di Hari Bumi

Pada peringatan Hari Bumi, seyogyanya setiap warga bumi walaupun hanya sejenak menyadari fakta-fakta di atas dan sedapat mungkin, sekecil apapun, ikut berperan dalam upaya pelestarian biosfer kita.   Di Hari Bumi, marilah kita berkontemplasi sejenak merenungkan betapa tidak bijaksananya umat manusia dalam memanfaatkan habitat tempat tumbuhnya.  Betapa serakahnya kita pada hari ini sehingga lupa diri bahwa generasi mendatang masih memerlukan bumi sebagai habitatnya.  Betapa serakahnya kita sehingga kita selalu mengambil lebih dari apa yang kita perlukan tanpa mengindahkan orang di sekeliling kita.  Sekaligus mari kita renungkan betapa mudahnya sebetulnya, bila Tuhan berkehendak untuk meruntuhkan dan membinasakan planet ini sekarang juga.   Dengan kontemplasi ini Insya Allah masing-masing kita akan menjadi manusia yang lebih bijak dan lebih akrab dengan bumi (HS).

Ecological Footprints Negara-negara di Dunia pada Tahun 1999
(Sumber: Redefining Progress, 2002)

Catatan: Artikel ini dimuat pada Lampung Post, 22 April 2003 dengan judul yang diubah dan pengeditan yang cukup mengganggu.