PEMBELAJARAN INOVATIF BERBASIS VCT (VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE/TEKNIK PENGUNGKAPAN NILAI) UNTUK MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn)

Oleh

**Hermi Yanzi

Melalui pembelajaran PKn minimal terdapat tiga hal yang akan dan harus dikembangkan oleh guru, yaitu kecerdasan warganegara (civic intelligence), tanggungjawab warganegara (civic responsibility) dan partisifasi warganegara (civic Partisipation). Untuk mengembangkan ketiga hal tersebut, tentu anda harus mahir menggunakan berbagai metode, media dan evaluasi pembelajaran (khususnya PKn).

Kemampuan anda dalam menggunakan berbagai metode pembelajaran akan berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa baik keberhasilan aspek kognitif, maupun keberhasilan aspek afektif dan aspek psikomotor. Ketidaktepatan memilih dan menggunakan metode pembelajaran akan mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Misalnya untuk mengembangkan sikap disiplin, anda tidak cukup hanya menggunakan metode ceramah murni, tetapi perlu divariasikan dengan metode yang dapat mengungkapkan nilai, seperti analisis nilai, simulasi, permainan dan percontohan.

Perlu diketahui bahwa salah satu ciri paradigma baru pembelajaran PKn adalah tidak lagi  menekankan  pada mengajar tentang PKn, tetapi lebih berorientasi pada membelajarkan PKn atau upaya-upaya guru untuk ber-PKn. Oleh karena itu dalam pembelajaran PKn, siswa dibina untuk membiasakan atau melakoni isi pesan materi PKn. Agar tujuan dapat berjalan dengan baik maka anda sebagai guru PKn hendaknya menjadi teladan dalam ber-PKn dengan menunjukkan contoh prilaku yang diharapkan ditiru dan dilaksanakan siswa dalam kehidupan disekolah dan kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran PKn penggunaan berbagai macam model pembelajaran yang tersedia, tentu saja harus disesuaikan dengan karakteristik tujuan pembelajaran, karakteristik materi, situasi dan lingkungan belajar siswa, tingkat perkembangan dan kemampuan belajar siswa, waktu dan kebutuhan belajar bagi siswa itu sendiri. Dalam PKn dikenal suatu model pembelajaran yaitu, VCT. Menurut A. Kosasih Djahiri (1985) model pembelajaran VCT meliputi; metode percontohan; analisis nilai; daftar/matriks; kartu keyakinan; wawancara, yurisprudensi dan teknik inkuiri nilai. Selain itu dikenal juga dengan metode bermain peran. Metode dan model di atas dianggap sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran PKn, karena mata pelajaran PKn mengemban misi untuk membina nilai, moral, sikap dan prilaku siswa, disamping membina kecerdasan (knowledge) siswa.

Mengapa perlu pembelajaran VCT
Pola pembelajaran VCT menurut A. Kosasih Djahiri (1992), dianggap unggul untuk pembelajaran afektif karena; pertama, mampu membina dan mempribadikan nilai dan moral;  kedua, mampu mengklarifikasi dan mengungkapkan isi pesan materi yang disampaikan; ketiga mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai moral diri siswa dan nilai moral dalam kehidupan nyata; keempat, mampu mengundang, melibatkan, membina dan mengembangkan potensi diri siswa terutama potensi afektualnya; kelima, mampu memberikan pengalaman belajar dalam berbagai kehidupan; keenam, mampu menangkal, meniadakan mengintervensi dan  menyubversi berbagai nilai moral naif yang ada dalam sistem nilai dan moral yang ada dalam diri seseorang; ketujuh, menuntun dan memotivasi untuk hidup layak dan bermoral tinggi.

Langkah-langkah pembelajaran
1.Membuat/mencari media stimulus. Berupa contoh keadaan/perbuatan yang memuat  nilai-nilai kontras yang disesuaikan dengan topik atau tema target pembelajaran. Dengan persyaratan hendaknya mampu merangsang, melibatkan dan mengembangkan potensi afektual siswa, terjangkau dengan tingkat berpikir siswa. Misalnya contoh peristiwa “Tabrak Lari”
2.Kegiatan pembelajaran. Pertama, guru melontarkan stimulus dengan cara membaca/menampilkan cerita atau menampilkan gambar, kegiatan ini dapat dilakukan oleh guru sendiri atau meminta bantuan kepada siswa lain. Kedua, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdialog sendiri atau sesama teman sehubungan dengan stimulus tadi. Ketiga, melaksanakan dialog terpimpin melalui pertanyaan yang telah disusun oleh guru yang berhubungan dengan stimulus tadi, baik secara individual maupun berkelompok. Keempat, menentukan argumen atau pendirian melalui pertanyaan guru baik secara individual maupun berkelompok. Kelima, pembahasan atau pembuktian argumen. Keenam penyimpulan

A.Persiapan
Pertama, menyusun RPP sesuai dengan pokok bahasan. Dalam kesempatan ini diambil contoh materi kedisiplinan. Kedua, menetapkan bagian mana dari materi kedisiplinan yang akan disajikan melalui analisis nilai, materi dapat dipilah seperti; kedisiplinan dirumah, sekolah maupun di jalan raya. Ketiga, menyusun skenario pembelajaran sehingga jelas langkah-langkah pembelajarannya. Keempat, menyiapkan media stimulus untuk ber-VCT seperti cerita, guntingan koran atau memutar video. Kelima, menyiapkan lembar kerja yang berisi panduan terperinci bagi siswa dalam ber-VCT.

B.Pelaksanaan
Pertama, setelah membuka pelajaran, dijelaskan kepada siswa bahwa mereka akan ber-VCT. Kedua, pelontaran stimulus oleh guru atau siswa yang telah di rancang sedemikian rupa. Ketiga, guru memperhatikan aksi dan reaksi spontan siswa terhadap stimulus yang diberikan. Keempat, melaksankan dialog terpimpin melalui perntanyaan guru baik secara individual, kelompok maupun secara klasikal. Kelima, menentukan argumen  dan klarifikasi pendirian. Keenam, pembahasan/pembuktian argumen. Pada tahap ini sudah mulai ditanamkan target nilai dan konsep yang sesuai dengan materi. Ketujuh, penyimpulan yang dapat berupa bagan intisari metari.
Kesimpulan

Dengan model pembelajaran VCT, akan mudah mengungkap sikap, nilai dan moral siswa terhadap suatu kasus yang disajikan oleh guru. Tentu saja harus dibekali dengan kemampuan guru dalam menguasai keterampilan dan teknik dasar mengajar dengan baik. Sikap demokratis, ramah, hangat dan nuansa kekeluargaan yang akrab diperlukan, sehingga siswa berani berpendapat dan beda pendapat dengan guru maupun dengan siswa lain. Sedangkan untuk evaluasi anda dapat melakukan evalusi proses dan evaluasi hasil belajar. Pada evaluasi proses dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan jalannya diskusi, sikap dan aktivitas siswa maupun proses pembelajaran secara menyeluruh dan evaluasi hasil dapat dilihat dari hasil tes. Jangan lupa memberikan pujian kepada siswa yang mampu berpendapat sekalipun kepada siswa yang berpendapat belum lengkap secara variatif.

Referensi
A. Kosasih Djahiri (1987). Pengajaran Studi Sosial/IPS, Dasar-dasar metodologi model belajar mengajar ilmu pengetahuan sosial. Bandung: LPPP-Ips IKIP Bandung
A. Kosasih Djahiri (1985). Strategi Pengajaran Afektif-Nilai-Moral VCT dan Games dalam VCT. Bandung: PMPKN FPIPS IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra, dkk. 2006. Materi dan Pembelajaran PKn SD. Universitas Terbuka. Jakarta.

This entry was posted in Kumpulan Artikel, Uncategorized. Bookmark the permalink.

17 Responses to PEMBELAJARAN INOVATIF BERBASIS VCT (VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE/TEKNIK PENGUNGKAPAN NILAI) UNTUK MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn)

  1. vika says:

    kelebihan dan kekurangan model VCT itu ap?
    terima kasih

  2. tian says:

    selamat siang..maaf saya Tian mahasiswa FIP UNY..

    mau tanya untuk referensi metode VCT itu ada d pasaran tidak ya???
    jika tidak apakah saya bisa minta tolong untuk pinjam referensinya…terimakasih

  3. asti says:

    mohon bantuan metode yang tepat untuk meningkatkan civic intellegnce giman? materi yang banyak dan harus banyak dihapal agk membingungkan saya.
    terimakasih

    • hermiyanzi says:

      Menurut saya, yang menjadi fokus dalam belajar maupun kita sebagai pendidik adalah berfokus pada bagaimana membelajarkan diri dan orang lain. karena proses pendidikan tidak lain hanya proses pembelajaran tentang kehidupan, nah dengan demikian materi semestinya kita kemas dalam bagaimana kehidupan yang sesungguhnya.

  4. asti says:

    judul blog’s nya mengingatkan pada J. Novak dan Gowin

    • hermiyanzi says:

      trims. dan saya juga pengagumnya

      • Kukuh Andri Aka says:

        saya sangat tertarik dg artikel bapak mengenai VCT ini. bolehkah saya meminta alamat facebook atau email bapak Hermi Yanzi untuk diskusi lebih lanjut?

  5. taty setiaty says:

    mohon bantuan pemikirannya, kalau mengembangkan moral anak usia dini melalui VTC cocok tidak ya pak?

    • hermiyanzi says:

      Sangat di mungkinkan, karena pembelajaran tentang nilai sedini mungkin harus di belajarkan. Perlu diperhatikan bahwa tingkatan kematangan psikologis anak dan perkembangan belajar anak.

  6. puji astuti says:

    maaf Pak, saya ingin menerapkan pembelajaran berbasis nilai untuk mapel biologi bab reproduksi manusia. saya pingin andil untuk mencegah anak melakukan seks bebas lewat pembelajaran. bisa diskusi lewat email dengan bapak? karena contoh tehnik untuk pembelajaran biologi belum ada. ini email saya: pas_tuti@yahoo.com . makasih

  7. Agustinus Tampubolon says:

    Selamat pagi pak hermi..Saya Agustinus Tampubolon. Terimakasih untuk artikelnya, saya akan mencoba menggunakan model ini di SMAK Santo Paulus Jember.

  8. najihah says:

    Assalamualaikum saya najihah dari UHAMKA ps.rebo FKIP
    Saya mau nanya apa VCT itu termaksud model pembelajaran berbasis nilai ? Terimakasi :)

    • hermiyanzi says:

      Hallo, salam kenal ya..
      Saya berpandangan termasuk pembelajaran berbasis nilai, karena dalam setiap langkah kegiatan pembelajarannya membelajarkan nilai, karakter dan skill. Yang pada akhirnya peserta belajar akan mampu mengklarifikasikan nilai dan mendapatkan pembelajaran hidup dan tentang kehidupan (dengan pendampingan pengajarnya)

  9. wika says:

    saya mau tny kakak,,,
    apa peranan VTC jika diterapkan pada pelajaran IPS SD? trimakasih sebelumnya