Cara mencegah plagiarisme

MENCEGAH TERJADINYA PLAGIARISME PADA KARYA TULIS

Oleh:

Indriyanto

Dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Unila

Terus terang bahwa plagiarisme itu sulit dihilangkan sebagaimana sulitnya menghilangkan tindakan-tindakan negatif (amoral) lainnya dalam kehidupan sehari-hari.  Tindakan manusia dalam kehidupannya merupakan ekspresi dari penerapan pengetahuannya, ekspresi dari kepatuhannya terhadap norma, ekspresi dari keterpaksaan untuk berbuat, ekspresi dari ketidaktahuan terhadap aturan yang ada, dan ekspresi dari ketidakpatuhan terhadap norma.  Oleh karena itu, kendatipun seseorang tahu tentang apa yang disebut plagiarisme serta dampak negatifnya, bisa saja orang tersebut melakukan plagiarisme karena hal ini menyangkut kualitas moral seseorang.

Pendidikan mempunyai ruang lingkup yang luas dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.  Sasaran pendidikan tersebut tidak hanya meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni (IPTEKS) di suatu cabang ilmu tertentu saja, akan tetapi diharapkan menjangkau perubahan perilaku luhur dalam pengembangan dan penerapan IPTEKS.  Dalam hal ingin menjangkau perubahan perilaku luhur, diperlukan pendidik yang peduli terhadap perilaku anak didiknya.  Para pendidik juga berharap agar perilaku seseorang yang sudah baik akan menjadi lebih baik lagi ketika di bangku sekolah atau di bangku kuliah, kemudian bisa terekpresikan dalam dunia kerjanya.

Peraturan perundangan yang terkait dengan hak cipta sudah ada, dan ketentuan dalam penulisan karya ilmiahpun sudah banyak dipublikasi, bahkan mata kuliah Etika juga ada di kurikulum perguruan tinggi walaupun di kurikulum pendidikan menengah dan pendidikan dasar sudah mulai terkikis.  Ada juga mata kuliah metode ilmiah yang membekali siswa untuk berpikir ilmiah, bertindak ilmiah, dan agar siswa dapat melakukan kajian ilmiah untuk mencari kebenaran ilmiah yang semuanya itu tidak terlepas dari kaidah kebenaran ilmiah.  Perlu diketahui juga bahwa pedoman penulisan karya ilmiah telah diterbitkan oleh berbagai perguruan tinggi, aturan penulisan jurnal/buletin telah dibuat oleh dewan redaksi, bahkan di setiap perguruan tinggi memiliki peraturan akademik dan kode etik yang harus dipatuhi oleh semua warganya.  Namun, kepatuhan seseorang yang telah mengetahui aturan menjadi hal yang utama (nomor satu) untuk mendidik anak didiknya dan masyarakat pada umumnya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya plagiarisme pada karya tulis, antara lain sebagai berikut.

  1. Kejujuran pada diri seorang penulis.  Kejujuran merupakan dasar untuk menegakkan kebenaran, termasuk menegakkan dan membangun kebenaran ilmiah sangat diperlukan kejujuran.  Kejujuran merupakan nilai nurani (lubuk hati yang paling dalam) yang hakekatnya tidak bisa dibuat-buat, tetapi bisa ditempa melalui pendidikan moral atau mental, kemudian diperkaya dengan ilmu pengetahuan.  Suatu kejujuran yang hakiki hanya diketahui secara pasti oleh diri sendiri dan oleh Allah, sedangkan orang lain hanya bisa mengetahui ekspresi dari kejujurannya itu.  Hanya diri sendiri dan Allah yang benar-benar tahu bahwa materi yang dikemukakan dalam bentuk kalimat ataupun data pada karya tulisnya itu asli milik dirinya atau bersumber dari karya tulis orang lain.  Kadang-kadang seorang penulis ingin mengemukakan kalimat (konsep, teori, ataupun pernyataan) serta data (baik gambar maupun angka) yang bersumber dari tulisan orang lain, namun tidak tahu cara merujuk sumber secara benar.  Di sinilah diperlukan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tata tulis; membuat kalimat yang benar, mengutip kalimat baik kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung, mengutip gambar dan/atau angka, dan lain sebagainya.
  2. Pengakuan terhadap karya orang lain.  Pengakuan terhadap karya orang lain yang dijadikan bahan pustaka merupakan salah satu tindakan jujur seorang penulis karena hal ini merupakan salah satu faktor yang memengaruhi berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.  Pengakuan terhadap karya orang lain dapat terekspresikan pada cara pengutipan kalimat dan data yang dituangkan dalam isi tulisan, cara penulisan daftar pustaka, dan pada kata pengantar maupun sanwacana.
  3. Meningkatkan peran pendidik dalam mencegah plagiarisme.  Pendidik dalam segala tingkatan institusi pendidikan memiliki kewajiban membimbing anak didiknya dalam segala aspek pendidikan dan pengajaran sesuai dengan kurikulumnya.  Seorang pendidik yang diberi tugas pimpinan untuk membimbing anak didiknya dalam penulisan karya tulis ilmiah atau skripsi harus menjalankan peranannya secara baik dan penuh tanggungjawab.  Peranan seorang pembimbing sangat banyak, antara lain:
    1. memberi ide penelitian atau karya tulis ilmiah ketika siswa yang dibimbingnya tidak mempunyai ide yang sesuai dengan bidangnya,
    2. memberikan arahan tentang garis besar atau kerangka isi karya tulis ilmiah yang akan dibuat,
    3. membimbing tata cara penulisan dan metode penelitian yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai,
    4. membimbing cara pengolahan dan penyajian data yang akan dituliskan dalam karya tulis ilmiahnya,
    5. memberikan arahan tentang interpretasi serta pembahasan data yang telah diperoleh,
    6. membaca secara teliti semua yang dituliskan bimbingannya dalam karya tulis ilmiah,
    7. memberikan masukkan atau koreksi terhadap segala kekurangan yang dijumpai pada karya tulis bimbingannya mencakup kaidah penulisan kalimat, cara merujuk suatu sumber pustaka, dan kaidah keilmuan,
    8. memberikan teladan atau contoh yang baik dan benar berkaitan dengan pembuatan karya tulis ilmiah.

Jika peran pendidik dijalankan dengan baik, maka plagiarisme dapat berkurang.  Hal ini secara langsung dapat mendorong terciptanya kejujuran ilmiah untuk memperoleh kebenaran ilmiah.

Pendidik harus menjadi teladan atau contoh yang baik dan benar, jangan sampai pendidik sendiri yang justru menjadi plagiator (orang yang melakukan plagiarisme).  Masalah seperti ini sangat mungkin terjadi karena menyangkut moral individu seseorang.  Misalnya, pembimbing skripsi yang menulis karya tulis ilmiah persis isinya dengan isi sebuah skripsi mahasiswa bimbingannya mulai dari pendahuluan hingga kesimpulan tanpa mecantumkan nama penulis skripsi dalam jurnal ilmiah (publikasi resmi).  Ada ketentuan bagaimana cara merujuk data dari sebuah skripsi atau beberapa buah skripsi bimbingannya untuk ditulis kembali menjadi sebuah tulisan.  Pendidik harus lebih mengetahui tentang ketentuan yang dimaksud agar mahasiswa bimbingannya bisa terdidik dengan lebih baik lagi.

  1. Meningkatkan peran pemeriksa karya tulis ilmiah dalam mencegah plagiarisme.  Pemeriksa karya tulis ilmiah bertugas untuk memeriksa kelayakan karya tulis dalam berbagai aspek, misalnya: kelayakan bidang ilmu (baik relevansi bidang ilmu maupun mutu isinya), kelayakan format, dan kebahasaan termasuk kaidah pengutipan yang benar.  Pemeriksa karya tulis ilmiah harus benar-benar memeriksa/membaca karya tulis ilmiah yang ditugasi kepadanya, baik karya tulis ilmiah untuk kenaikan pangkat para guru, para dosen, para peneliti, maupun untuk dipublikasi.  Pemeriksaan yang dilakukan secara cermat namun tidak bermaksud menghambat karir seseorang sangat efektif dalam mencegah terjadinya plagiarisme pada karya tulis ilmiah.  Pada bagian ini, keteladanan juga sangat diperlukan terutama bagi para pemeriksa karya tulis ilmiah agar plagiarisme tidak terjadi pada paper, kertas kerja, makalah seminar (proseding seminar), makalah workshop, ataupun pada makalah jurnal/buletin.
  2. Menyebarkan informasi hasil penelitian dan karya tulis lainnya melalui publikasi dalam jurnal ataupun buletin ilmiah.  Publikasi tersebut dimaksudkan untuk menyebarluaskan informasi perkembangan IPTEKS melalui karya tulis ilmiah agar memperkaya kasanah ilmu pengetahuan bagi masyarakat, agar bisa dijadikan bahan pustaka bagi para peneliti dan akademisi, agar bisa dilakukan kajian/penelitian lebih lanjut oleh ilmuwan yang memiliki minat bidang ilmu yang sama.  Jika para pembaca mengerti maksud dan tujuan publikasi karya tulis ilmiah serta memanfaatkannya dengan benar sesuai dengan maksud dan tujuan tadi, maka plagiarisme dapat ditekan.  Keteladanan para penulis kelas kaliber justru sangat diperlukan agar plagiarisme tidak terjadi pada karya tulis ilmiah yang dipublikasi dalam jurnal/buletin.

Demikian uraian singkat tentang upaya mencegah terjadinya plagiarisme yang bisa

saya kemukakan, semoga bermanfaat bagi para pembaca khususnya bagi pembaca yang

antiplagiarisme.

——————–@@@@@———————