Curhat Siamang

Pada sebuah kegiatan survey populasi siamang (Hylobates syndactylus) di sebuah kawasan hutan Sumatera, dimana suatu ketika seorang peneliti bertemu dengan seekor siamang. Telah lama si-peneliti berjalan, baru kali ini berhasil bertemu langsung dengan siamang (itupun hanya seekor).

Sipeneliti menarik nafas dalam-dalam sembari menulis sesuatu pada buku catatannya. Lama diamatinya siamang yang seekor tersebut hingga timbul pertanyaan dibenaknya, “kemana perginya siamang lainnya??” tak ia sadari rasa penasarannya terlontar begitu saja hingga didengar oleh siamang yang sejak tadi juga mengawasinya dari atas pohon. Diluar dugaan siamang tersebut menyauti pertanyaan sipeneliti, bahkan bercerita panjang lebar tentang dirinya, keluarganya, teman-temannya dan tempat tinggalnya kini.

Wahai peneliti, aku tak sendiri disini, ada istriku yang sedang sembunyi. Banyak yang telah terjadi di hutan ini, dahulu kami hidup damai dihutan ini, aku tinggal bersama isteri dan kedua anakku. Tapi semenjak kejadian itu semua berubah. Anak kami yang pertama, kala itu berusia dua tahun dan baru mulai belajar mandiri ditangkap oleh pemburu. Belum lepas kesedihan kami, anak bungsu kami yang baru berusia kurang dari satu tahun meninggal karena terjatuh dari pohon saat sedang bermain.

Dahulu hampir tidak pernah ada anak siamang yang jatuh dari pohon, karena dahulu hutan tempat kami tinggal masih sangat rapat, tapi kini pohon-pohon besar suadh tidak ada, habis ditebang oleh bangsamu “manusia”. Dahulu teritori kami luas, satu kelompok siamang dapat menempati areal seluas 17 hingga 26 ha. Tapi sekarang hampir setengah dari rumah kami diambil oleh manusia, pohon ditebangi, dibakar dan tanahnya dijadikan kebun, antara tahun 1995 dan 2000, hampir 40% habitat kami rusak akibat kebakaran, penebangan dan perubahan hutan menjadi lahan pertanian serta perkebunan. Dalam  kurun waktu duapuluh tahun terakhir, perubahan tutupan hutan di Propinsi Lampung terjadi sangat cepat.  Pada tahun 1980-an, sekitar 20% dari total luas wilayah Propinsi Lampung merupakan kawasan hutan yang terus mengalami penurunan hingga tersisa 10% pada tahun 2000.

Kami sudah merasa tidak nyaman tinggal di kawasan ini, tapi kami juga tidak tau harus kemana atau mengadu pada siapa. Sudah lama kami menunggu ada manusia yang peduli pada nasib kami, jika bertemu dengan manusia yang salah maka nasib kami akan berakhir. Manusia itu makhluk paling kejam yang selalu mengancam kehidupan kami, padahal makhluk paling kejam yang hidup bersama kami tidak sampai sekejam manusia.

Sebagai khalifah di muka bumi yang diberi kepercayaan oleh sang pencipta untuk memelihara bumi ini seharusnya memperhatikan nasib kami. Apalah salah kami, padahal setiap harinya, mulai dari matahari terbit hingga terbenam kami selalu bekerja merawt hutan ini. Ratusan biji dari berbagai jenis tumbuhan kami tebar di hutan ini dengan jarak penyebaran dari pohon induk antara 47,6(3,68)-314,6(136,09) meter, agar hutan tetap lestari. Tapi apa balasannya??

Kami kira hal ini hanya terjadi dihutan ini, karena sempat terfikir untuk pindah mencari hutan lain yang masih baik, tapi ternyat semua sama bahkan lebih parah, ditambah sudah tidak ada lagi koridor yang dapat menghubungkan hutan satu dengan lainnya, semua sudah terfragmen.

Teman-teman kami tersebar disepanjang sumatera dan barat laut Malaysia. Tetapi dahulu kala di Pulau Jawa merupakan salah satu daerah sebaran dari Siamang juga, terbukti dari adanya fosil siamang di Pulau Jawa.

Menurut informasi yang kami terima di propinsi Lampung populasi kami tertinggi berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dengan jumlah mencapai 5646 kelompok dengan kepadatan populasi sebesar 2,23 km2. Tetapi kawasan taman nasional tersebut juga tidak lolos dari ancaman yang serupa dengan kawasan hutan lainnya.

Dua pekan yang lalu kala sedang mencar makan dan mengitari teritoriku, aku sempat melihat anakku yang ditangkap pemburu terikat pada tiang gubuk kayu. Malang sekali nasibnya, padahal kami diciptakan Yang Maha Kuasa untuk hidup diatas pohon, bukan berjalan ditanah. Sampai pada suatu ketika aku mendapat kabar bahwa anakku telah dibawa ke kota untuk diperjual belikan, anak-anak siamang tersebut hanya dihargai beberapa ratus ribu saja, padahal tanpa mereka kehidupan kami akan punah.

Ternyata  undang-undang No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999 pun tak mampu melakukan perlindungan terhadap kami. Wahai pembaca kami berharap engkau dapat menceritakan keluh kesah kami ini pada teman-temanmu sesama manusia.