Kemarau Panjang dan Penyediaan Air Bagi satwa di Taman Nasional Way Kambas

Air merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup tanpa terkecuali. Kemarau panjang telah mengakibatkan kekeringan dimana-mana. tidak hanya bagi manusi, kekeringan juga berakibat buruk bagi satwa liar di hutan. Untuk mengatasi hal tersebut, Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimua Sumatera (PKHS) membantu penyediaan kebutuhan air bagi satwa liar di Taman Nasional Way Kambas dengan membuat bak-bak berisi air sebagai sumber minum satwa. Dari hasil pemantauan menggunakan camera trap, usaha ini cukup efektif membantu satwa untuk memperoleh air disaat kondisi hutan sedang kering.

 

Pelajaran dari Seekor “Pycnonotus baradus”

Publish di burung-nusantara.org dalam kegiatan lomba Menulis BuNu 2012

Saya mulai berkenalan dengan kegiatan pengamatan burung (birdwatching) sekitar tujuh tahun yang lalu.Bermula dari kegiatan magang di stasiun penelitian di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Awalnya sangat susah sekali. Jangankan untuk mengetahui jenisnya, melihat dengan teropong saja sulit karena belum punya pengalaman menggunakannya. Untungnya salah satu pengamat disana mau mengajari menggunakan teropong hingga mengidentifikasi burung.

Kendala yang biasanya dihadapi oleh orang yang pertama kali menggunakan teropong adalah objek yang dilihat menjadi dua, sehingga penggunanya memicingkan matanya sebelah seperti sedang mengintip.Hal tersebut dapat diatasi dengan menggerak-gerakkan engsel teropong sehingga diperoleh jarak yang pas antara mata kiri dan kanan.

Kendala berikutnya adalah adanya bayangan bulu mata di dalam lensa sehingga pandangan menjadigelap, hal ini terjadi karena mata pengamat terlalu dekat dengan lensa okuler (lensa yang berada dekat dengan mata).Teropong biasanya memiliki pengatur jarak dari mata ke lensa, sehingga mata pengamat tidak menempel di lensa dan menimbulkan bayangan bulu mata. Continue reading