Motivasi dan Silaturahmi dari Sebuah Konferensi

Pertemuan-pertemuan ilmiah seperti seminar, workshop dan konferensi merupakan salah satu kegiatan yang dapat memacu semangat untuk terus berkarya dan melakukan berbagai penelitian. Maka jangan lewatkan ketika ada kesempatan untuk mengikutinya, seperti kegiatan Konferensi Nasional Peneliti dan Pemerhati Burung Indonesia yang baru saja saya ikuti (13-14 Februari 2015 di IPB). Pada kegiatan ini banyak informasi yang dapat saya peroleh, terutama di bidang ornitologi (ilmu yang mempelajari tentang burung).

Selain menambah ilmu, kegiatan seperti ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi para peneliti dan pemerhati burung se-Indonesia (kurang lebih 200 peserta), bahkan hadir diantaranya Bapak Prof. Dr. Soekarja Somadikarta (Emeritus) yang kemudian dinobatkan sebagai Bapak ornitologi Indonesia pada acara tersebut. Beliau sungguh memberi motivasi kepada peserta yang didominasi oleh peneliti dan pemerhati burung yang usianya masih muda. Di usianya yang sudah 85 tahun pak Somadikarta masih mau berbagi ilmu dan pengalamannya. Salah satu nasehat beliau yaitu Pleasure in the job puts perfection in the work yang dikutip dari Aristoles (filosof Yunani).

Jani Master - Somadikarta

Penulis bersama Prof. Dr. Soekarja Somadikarta (Emeritus)

Jani Master - Bas Van Balen

Penulis bersama Bas van Balen

Ahli burung yang juga hadir pada acara tersbut adalah Ban van Balen, beliau merupakan peneliti berkebangsaan Belanda yang mendalami dunia perburungan di Indonesia. Sebastianus Van Balen yang akrab dipanggil Bas Van Balen merupakan salah satu mahasiswa pascasarjana yang pernah dibimbing oleh Prof. Dr. Soekarja Somadikarta. Salah satu masterpiece seorang Bas Van Balen adalah sebuah buku panduan lapangan (Field guide) burung-burung Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali versi bahasa Indonesia yang ia susun bersama dua rekannya, John MacKinnon dan Karen Phillips. Buku panduan ini menjadi referensi standar bagi para peneliti, profesional, kelompok dan individu pengamat burung. Buku ini menjadi buku yang paling populer untuk informasi avifauna Sunda Besar dalam Bahasa Indonesia. Pembuatan field guide ini merupakan salah satu bentuk dedikasinya di dunia ornithologi.

Bisa bertemu dengan orang-orang hebat seperti di atas merupakan sebuah motivasi tersendiri bagi saya, jika mereka bisa tentu saya juga harus bisa. Mari terus berkarya

LAJU PERTUMBUHAN MANTANGAN (Merremia peltata L. Merr.) YANG TUMBUH MELALUI REGENERASI VEGETATIF

Timor Pengembara1, Jani Master1, Yulianty1, Elly L. Rustiati1, Atok Subiakto2

ABSTRACT

Resaerch was conducted on July until December 2013 in the Bukit Barisan Selatan National Park to observe the growth rate of M. peltata by vegetative regeneration and its survival by stem cuttings. Growth rate was measured by shoots length, diameter accretion, and leaves accretion. The highest survival is 3 cm diameter stem (46.67%). The growth rate of M. peltata was relatively similar. Of three planting months, the highest survival was 20%.

Keywords : Merremia peltata, growth rate, survival, Bukit Barisan Selatan National Park.

download : PDF

Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup

Klasifikasi adalah pengelompokan aneka jenis hewan atau tumbuhan ke dalam kelompok tertentu. Pengelompokan ini disusun secara runut sesuai dengan tingkatannya (hierarkinya), yaitu mulai dari yang lebih kecil tingkatannya hingga ke tingkatan yang lebih besar. Ilmu yang mempelajari prinsip dan cara klasifikasi makhluk hidup disebut taksonomi atau sistematik.

Prinsip dan cara mengelompokkan makhluk hidup menurut ilmu taksonomi adalah dengan membentuk takson. Takson adalah kelompok makhluk hidup yang anggotanya memiliki banyak persamaan ciri. Takson dibentuk dengan jalan mencandra objek atau makhluk hidup yang diteliti dengan mencari persamaan ciri maupun perbedaan yang dapat diamati.

Sistem Klasifikasi makhluk hidup telah dikenal sejak zaman dahulu (Ancient Time, BC) . Ahli filosof Yunani, Aristotle (384-322 BC) mengelompokan makhluk hidup kedalam dua kelompok besar yaitu kelompok hewan dan kelompok tumbuhan, namun keberadaan organisme mikroskopis belum dikenal pada saat itu. Sistem klasifikasi makhluk hidup terus mengalami kemajuan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Sistem klasifikasi makhluk hidup dikelompokan dalam satu-satuan kelompok besar yang disebut kingdom.

Perkembangan Klasifikasi Continue reading

Faktor-Faktor Lingkungan Yang Berhubungan Dengan Pertumbuhan Tanaman

Pertumbuhan merupakan akibat adanya interaksi antara berbagai faktor internal perangsang pertumbuhan (yaitu dalam kendali genetik) dan unsur-unsur iklim, tanah dan biologis dari lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dikategorikan sebagai faktor eksternal (lingkungan) dan faktor insternal (genetik), dikelompokkan sebagai berikut:

a.       Faktor internal

Faktor internal meliputi ketahanan terhadap tekanan iklim, tanah dan biologis, laju fotosintetik, respirasi, pembagian hasil asimilasi dan nitrogen, klorofil,karoten dan kandungan pigmen lainnya, aktifitas enzim, pengaruh langsung gen (misalnya heterosis, epistasis) dan differensiasi.

b.      Faktor eksternal

> Edafik (tanah) yang meliputi tekstur, struktur, bahan organic, kapasitas pertukaran kation (chation exchange capasity, CEC), pH, kejenuhan basa dan ketersediaan nutrien (makronutrien maupun mikronutrien).

Menurut Ewusie (1990) bahwa tumbuhan mendapatkan sumber hidupnya dari larutan tanah bukan hanya air tetapi juga seluruh persediaan unsur nitrogen, belerang, fosfor, kalsium, kalium, besi, dan magnesium, bersama-sama dengan unsur runut sperti boron, seng, tembaga, dan mangan. Semua unsur ini termasuk dalam makronurien dan mikronutrien.

Makronutrien dan mikronutrien meliputi molibdenum, tembaga, seng, mangan, besi, boron, klor, belerang, fosfor, magnesium, kalsium, kalium, nitrogen, oksigen, karbon dan nitrogen. Untuk ketersediaan hara atau nutrien ini oleh Justus Von Liebig (1840) dengan hukum minimumnya yang menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman tidak saja dipengaruhi oleh unsur makro yang terdapat dalam jumlah banyak di alam tetapi oleh unsur mikro yang terdapat dalam jumlah minimum di dalam tanah, seperti boron (Dede setiadi, 1989).

Tanah merupakan faktor lingkungan yang mengandung komponen-komponen biotis maupun abiotis yang diperlukan oleh organisme. Tanah tidak hanya merupakan faktor lingkungan tetapi juga hasil dari aktifitas organik. Tanah penting bagi tanaman karena merupakan tempat bermukim, sumber-sumber air dan unsur-unsur hara. Continue reading

Fauna Tanah

Salah satu dekomposer yaitu fauna tanah. Fauna tanah adalah fauna yang hidup di tanah, baik yang hidup di permukaan tanah maupun yang terdapat di dalam tanah.  Beberapa fauna tanah, seperti herbivora, sebenarnya memakan tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas akarnya, tetapi juga hidup dari tumbuh-tumbuhan yang sudah mati. Jika telah mengalami kematian, fauna-fauna tersebut memberikan masukan bagi tumbuhan yang masih hidup, meskipun adapula sebagai kehidupan fauna yang lain. Fauna tanah merupakan salah satu kelompok heterotrof    yaitu  makhluk hidup di luar tumbuh-tumbuhan dan  bacteria, yang hidupnya tergantung dari tersedianya makhluk hidup produsen utama di dalam tanah.

Fauna tanah adalah organisme yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya dihabiskan di dalam tanah (Kimmins 1987). Suhardjono dan Adisoemarto (1997) menyatakan bahwa artropoda tanah adalah semua kelompok binatang yang sebagian atau seluruh daur hidupnya bergantung pada tanah karena sumber pakannya terdapat di tanah. Fauna tanah terdiri dari makrofauna, mesofauna dan mikrofauna (Kimmins 1987).  Keberadaan  fauna tanah dalam tanah sangat tergantung pada ketersediaan energi dan sumber makanan untuk melangsungkan hidupnya, seperti bahan organik dan biomassa hidup yang semuanya berkaitan dengan aliran siklus karbon dalam tanah.  Walaupun begitu, proses penguraian atau dekomposisi dalam tanah tidak akan mampu  berjalan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan makrofauna tanah.  Continue reading