Menilik Kembali Bahasa Sendiri

Gegap gempita perayaan tahun baru sudah usai, entah berapa budget dana yang dihabiskan untuk perayaan pergantian bilangan tahun tersebut. Seluruh manusia nampaknya sudah kembali normal, kembali mencurahkan perhatian ke dalam rutinitas yang biasanya menyibukkan. Pekerja kembali ke bangku kerjanya, pelajar kembali ke bangku sekolahnya, dan para ibu akan kembali sibuk di pagi hari, menyiapkan nutrisi dan keperluan bagi seluruh anggota keluarganya. Pergantian tahun depan nampaknya juga akan demikian, hiruk-pikuk dengan agenda yang sama, dan hilang kembali ditelan kesibukan.

Manusia memang diciptakan dengan begitu indah oleh Sang Mahakuasa, sehingga menjadi sifat alamiah jika manusia mencintai keindahan. Keindahan yang dicintai manusia bukan hanya keindahan yang bersifat fisik belaka, seperti pesta kembang api di perayaan tahun baru, namun juga keindahan psikis, termasuk budi pekerti, pola perilaku dan tutur kata. Oleh karenanya, kecintaan akan bahasa menjadi satu bentuk cinta yang luar biasa. Banyak di antara manusia yang mampu hidup ‘hanya’ dengan mengandalkan kemampuannya merangkai kata, bahkan tak jarang manusia akan dikenang zaman atas kemampuannya demikian.

Lahir sebagai orang Indonesia mengharuskan saya mengerti dan memahami bahasa Indonesia yang sejak 1928 dideklarasikan sebagai bahasa pemersatu bangsa. Adakah Kongres Pemuda yang akhirnya menelurkan sebuah sumpah gelora nasionalisme, Sumpah Pemuda. Sumpah yang dikenang tak hanya oleh anak-cucunya sendiri, namun oleh bangsa, mungkin oleh dunia. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang begitu dinamis, bahasa yang selalu tumbuh dan berkembang. Bagi sebagian pelajar, Bahasa Indonesia menjadi pelajaran yang lebih membuat pusing jika dibandingkan dengan bahasa asing seperti Bahasa Inggris. Bahkan, tak jarang ada siswa yang mengungkapkan bahwa mendapatkan nilai sempurna dalam UAN Bahasa Indonesia jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain.

Bahasa Indonesia memang terus berkembang. Dari segi makna kata saja, bisa kita lihat pola perkembangan menyempit (spesialisasi), meluas (generalisasi), meninggi (ameliorasi) atau menurun (peyorasi). Bukan hanya itu, Bahasa Indonesia juga bukan bahasa yang egois, banyak kata-kata baru yang diserap dari bahasa asing dan menjadi anggota baru dalam perbendaharaan kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Menilik kembali bahasa sendiri adalah sebuah upaya mencintai sebuah aset budaya yang begitu luhur. Kembali membuka kamus dan menambah kosa kata yang dimiliki, karena jika tidak, perbendaharaan kata kita akan dikuasai oleh istilah-istilah bahasa yang nge-hits belaka.

IMG_20151205_210545

Kulacino

IMG_20151205_210859

Petrikor

 

Jika kita tilik kembali, masih banyak kata serapan yang mungkin sudah ada di kamus besar bahasa Indonesia, namun terkadang juga belum tertera di sana. Kulacino misalnya, kata serapan dari Bahasa Italia yang berarti bekas air yang ditimbulkan oleh gelas yang basah. Atau bisa kita lihat kata lain, petrikor, sebuah istilah yang lahir pada tahun 1964 oleh saintis Australia, Isabel Joy Bear dan R. G. Thomas. Keduanya melakukan penelitian mengenai aroma hujan dan mempublikasikannnya di jurnal Nature, “Nature of Agrillaceous Odor.” Kedua saintis ini kemudian menciptakan sebuah istilah untuk mendeskripsikan aroma harum tanah yang terkena tetes hujan. Keduanya menggunakan istilah “petrichor”  (Yunani, petra: batu, ichor: darah para dewa).

Masih banyak kata-kata yang mungkin masih asing kita dengar dan sulit kita pahami. Hal tersebut juga berlaku pada bahasa Ibu saya, Jawa. Ada sebuah ungkapan bahwa belajar bahasa Jawa itu seakan belajar tiga bahasa yang berbeda. Bahasa Jawa mempunyai tingkatan, ngoko hingga krama inggil. Lebih jauh, misal ingin menelusuri, bahasa Jawa akan lebih sakral jika kita telisik dari Bahawa Jawa Kuno (Bahasa Kawi) bahkan hingga Bahasa Sansekerta.

12074911_10205482910377549_3729994718996815372_n

Agni = Dahana = Latu = Geni = Api

 

12122582_10205484915347672_7872875321272578924_n

Mahesa = Tuan Besar

 

 

Jika dalam bahasa Indonesia kita menyebut api, dalam bahasa Jawa ada tingkatan dalam menyebutkan benda pasa ini. Dalam kehidupan sehari-hari, orang Jawa menyebutnya dengan ‘geni’, namun jika orang Jawa bercakap dengan orang yang lebih tua, maka kata ‘geni’ akan diubah menjadi ‘latu’. Lebih jauh, jika Anda menikmati wayang, Anda akan mendengar bahwa ‘api’ akan diucapkan dengan kata ‘dahana’, jika ditelusur lebih jauh, ‘api’ dalam bahasa Sansekerta adalah ‘agni’.

Bahasa adalah senjata manusia untuk bisa berinteraksi dan mencari relasi. Alangkah indahnya jika setiap orang mampu menggunakan bahasa dengan indah dan santun. Mulutmu harimaumu!!! Mari belajar kembali menata bahasa kita untuk memberikan nilai tambah dalam tata komunikasi kita.

 

Terima kasih kepada:

1. @ivanlanin (twitter) atas gambar petrikor dan kulacino-nya.

2.  Niina Sy (facebook) atas gambar agni dan mahesa-nya.

 

 

 

 

You can leave a response, or trackback from your own site.