Archive for the ‘Tentang Sesuatu’ Category

Materi Diskusi Karya Tulis Ilmiah: Ide Oke Karya Kece

Materi Diskusi Karya Ilmiah
SMA Negeri 1 Kotagajah Lampung Tengah

Ide Oke Karya Kece

Prinsip, Metode, dan Teknik Isolasi DNA

Gambar 1. Persiapan isolasi DNA (dokumentasi pribadi)

Molekul DNA dalam suatu sel dapat diekstraksi atau diisolasi untuk berbagai macam keperluan seperti amplifikasi dan analisis DNA melalui elektroforesis. Isolasi DNA dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan DNA dari bahan lain seperti protein, lemak, dan karbohidrat. Prisnsip utama dalam isolasi DNA ada tiga yakni penghancuran (lisis), ektraksi atau pemisahan DNA dari bahan padat seperti selulosa dan protein, serta pemurnian DNA (Corkill dan Rapley, 2008; Dolphin, 2008). Menurut Surzycki (2000), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses isolasi DNA antara lain harus menghasilkan DNA tanpa adanya kontaminan seperti protein dan RNA; metodenya harus efektif dan bisa dilakukan untuk semua spesies metode yang dilakukan tidak boleh mengubah struktur dan fungsi molekul DNA; dan metodenya harus sederhana dan cepat.

Isolasi DNA tanaman, isolasi DNA buah, isolasi DNA bakteri, dan isolasi DNA hewan pada dasarnya memiliki prinsip yang sama. Prisnsip isolasi DNA pada berbagai jenis sel atau jaringan pada berbagai organisme pada dasarnya sama namun memiliki modifikasi dalam hal teknik dan bahan yang digunakan. Bahkan beberapa teknik menjadi lebih mudah dengan menggunakan kit yang diproduksi oleh suatu perusahaan sebagai contoh kit yang digunakan untuk isolasi DNA pada tumbuhan seperti Kit Nucleon Phytopure sedangkan untuk isolasi DNA pada hewan digunakan GeneJETTM Genomic DNA Purification Kit. Namun tahapan-tahapan isolasi DNA dalam setiap langkahnya memiliki protokol sendiri yang disesuaikan dengan keperluan. Penggunaan teknik isolasi DNA dengan kit dan manual memiliki kelebihan dan kekurangan. Metode konvensional memiliki kelebihan harga lebih murah dan digunakan secara luas sementara kekurangannya membutuhkan waktu yang relatif lama dan hasil yang diperoleh tergantung jenis sampel.

Tahap pertama dalam isolasi DNA adalah proses perusakan atau penghancuran membran dan dinding sel. Pemecahan sel (lisis) merupakan tahapan dari awal isolasi DNA yang bertujuan untuk mengeluarkan isi sel (Holme dan Hazel, 1998). Tahap penghancuran sel atau jaringan memiliki beberapa cara yakni dengan cara fisik seperti menggerus sampel dengan menggunakan mortar dan pestle dalam nitrogen cair atau dengan menggunakan metode freezing-thawing dan iradiasi (Giacomazzi et al., 2005). Cara lain yakni dengan menggunakan kimiawi maupun enzimatik. Penghancuran dengan menggunakan kimiawi seperti penggunaan detergen yang dapat melarutkan lipid pada membran sel sehingga terjadi destabilisasi membran sel (Surzycki, 2000). Sementara cara enzimatik seperti menggunakan proteinase K seperti untuk melisiskan membran pada sel darah (Khosravinia et al., 2007) serta mendegradasi protein globular maupun rantai polipeptida dalam komponen sel (Brown, 2010; Surzycki (2000). 

Pada proses lisis dengan menggunakan detergen, sering digunakan sodium dodecyl sulphate (SDS) sebagai tahap pelisisan membran sel. Detergen tersebut selain berperan dalam melisiskan membran sel juga dapat berperan dalam mengurangi aktivitas enzim nuklease yang merupakan enzim pendegradasi DNA (Switzer, 1999). Selain digunakan SDS, detergen yang lain seperti cetyl trimethylammonium bromide (CTAB) juga sering dipakai untuk melisiskan membran sel pada isolasi DNA tumbuhan (Bettelheim dan Landesberg, 2007). Parameter keberhasilan dalam penggunaan CTAB bergantung pada beberapa hal. Pertama, Konsentrasi NaCl harus di atas 1.0 M untuk mencegah terbentuknya kompleks CTAB-DNA. Karena jumlah air dalam pelet sel sulit diprediksi, maka penggunaan CTAB sebagai pemecah larutan harus dengan NaCl dengan konsentrasi minimal 1.4 M. Kedua, ekstrak dan larutan sel yang mengandung CTAB harus disimpan pada suhu ruang karena kompleks CTAB-DNA bersifatinsolublepada suhu di bawah 15°C. Ketiga, penggunaan CTAB dengan kemurnian yang baik akan menentukan kemurnian DNA yang didapatkan dan dengan sedikit sekali kontaminasi polisakarida. Setelah ditambahkan CTAB, sampel diinkubasikan pada suhu kamar. Tujuan inkubasi ini adalah untuk mencegah pengendapan CTAB karena CTAB akan mengendap pada suhu 15°C. Karena efektivitasnya dalam menghilangkan polisakarida, CTAB banyak digunakan untuk purifikasi DNA pada sel yang mengandung banyak polisakarida seperti terdapat pada sel tanaman dan bakteri gram negatif seperti Pseudomonas, Agrobacterium, dan Rhizobium (Surzycki, 2000). 

Dalam penggunaan buffer CTAB seringkali ditambahkan reagen-reagen lain seperti NaCl, EDTA, Tris-HCl, dan 2-mercaptoethanol. NaCl berfungsi untuk menghilangkan polisakarida sementara 2-mercaptoethanol befungsi untuk menghilangkan kandungan senyawa polifenol dalam sel tumbuhan (Ranjan et al., 2010). 2-mercaptoethanol dapat menghilangkan polifenol dalam sel tanaman dengan cara membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa polifenol yang kemudian akan terpisah dengan DNA (Lodhi et al., 1994). Senyawa polifenol perlu dihilangkan agar diperoleh kualitas DNA yang baik (Moyo et al., 2008). Polifenol juga dapat menghambat reaksi dari enzim Taq polimerase pada saat dilakukan amplifikasi. Disamping itu polifenol akan mengurangi hasil ektraksi DNA serta mengurangi tingkat kemurnian DNA (Porebskiet al., 1997). Penggunaan 2-mercaptoethanol dengan pemanasan juga dapat mendenaturasi protein yang mengkontaminasi DNA (Walker dan Rapley, 2008). 

Konsentrasi dan pH dari bufer yang digunakan harus berada dalam rentang pH 5 sampai 12. Larutan buffer dengan pH rendah akan mengkibatkan depurifikasi dan mengakibatkan DNA terdistribusi ke fase fenol selama proses deproteinisasi. Sedangkan pH larutan yang tinggi di atas 12 akan mengakibatkan pemisahan untai ganda DNA. Fungsi larutan buffer adalah untuk menjaga struktur DNA selama proses penghancuran dan purifikasi sehingga memudahkan dalam menghilangkan protein dan RNA serta mencegah aktivitas enzim pendegradasi DNA dan mencegah perubahan pada molekul DNA. Untuk mengoptimalkan fungsi larutan buffer, dibutuhkan konsentrasi, pH, kekuatan ion, dan penambahan inhibitor DNAase dan detergen (Surzycki 2000). 

Pada tahapan ekstraksi DNA, seringkali digunakan chelating agent seperti ethylenediamine tetraacetic acid (EDTA) yang berperan menginaktivasi enzim DNase yang dapat mendenaturasi DNA yang diisolasi, EDTA menginaktivasi enzim nuklease dengan cara mengikat ion magnesium dan kalsium yang dibutuhkan sebagai kofaktor enzim DNAse (Corkill dan Rapley, 2008). DNA yang telah diekstraksi dari dalam sel selanjutnya perlu dipisahkan dari kontaminan komponen penyusun sel lainnya seperti polisakarida dan protein agar DNA yang didapatkan memiliki kemurnian yang tinggi. Fenol seringkali digunakan sebagai pendenaturasi protein, ekstraksi dengan menggunakan fenol menyebabkan protein kehilangan kelarutannya dan mengalami presipitasi yang selanjutnya dapat dipisahkan dari DNA melalui sentrifugasi (Karp, 2008). Bettelheim dan Landesberg (2007) menyebutkan bahwa setelah sentrifugasi akan terbentuk 2 fase yang terpisah yakni fase organik pada lapisan bawah dan fase aquoeus (air) pada lapisan atas sedangkan DNA dan RNA akan berada pada fase aquoeus setelah sentrifugasi sedangkan protein yang terdenaturasi akan berada pada interfase dan lipid akan berada pada fase organik (Gambar 1). Selain fenol, dapat pula digunakan campuran fenol dan kloroform atau campuran fenol, kloroform, dan isoamil alkohol untuk mendenaturasi protein. Ekstrak DNA yang didapat seringkali juga terkontaminasi oleh RNA sehingga RNA dapat dipisahkan dari DNA ekstrak dengan cara pemberian RNAse (Birren, et al., 1997; Clark, 2010). 

Gambar 2. Asam nukleat berada pada lapisan air setelah disentrifugasi 
pada tahapan ekstraksi (Clark, 2010). klik gambar untuk memperbesar. 

 

Asam nukleat adalah molekul hidrofilik dan bersifat larut dalam air. Disamping itu, protein juga mengandung residu hidrofobik yang mengakibatkan protein larut dalam pelarut organik. Berdasarkan sifat ini, terdapat beberapa metode deproteinisasi berdasarkan pemilihan pelarut organik. Biasanya pelarut organik yang digunakan adalah fenol atau kloroform yang mengandung 4% isoamil alkohol. Penggunaan kloroform isoamil alkohol (CIA) berdasarkan perbedaan sifat pelarut organik. Kloroform tidak dapat bercampur dengan air dan kemampuannya untuk mendeproteinisasi berdasarkan kemampuan rantai polipeptida yang terdenaturasi untuk masuk atau termobilisasi ke dalam fase antara kloroform – air. Konsentrasi protein yang tinggi pada fase antara tersebut dapat menyebabkan protein mengalami presipitasi. Sedangkan lipid dan senyawa organik lain akan terpisah pada lapisan kloroform (Clark, 2010). 
Proses deproteinisasi yang efektif bergantung pada besarnya fase antara kloroform-air. Proses ini dapat dilakukan dengan membentuk emulsi dari air dan kloroform. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan penggojogan atau sentrifugasi yang kuat karena kloroform tidak dapat bercampur dengan air. Isoamil alkohol berfungsi sebagai emulsifier dapat ditambahkan ke kloroform untuk membantu pembentukan emulsi dan meningkatkan luas permukaan kloroform-air yang mana protein akan mengalami presipitasi. Penggunaan kloroform isoamil alkohol ini memungkinkan untuk didapatkan DNA yang sangat murni, namun dengan ukuran yang terbatas (20.000–50.000 bp). Fungsi lain dari penambahan CIA ini adalah untuk menghilangkan kompleks CTAB dan meninggalkan DNA pada fase aquoeus. DNA kemudian diikat dari faseaquoeus dengan presipitasi etanol (Surzycki, 2000). 
Setelah proses ekstraksi, DNA yang didapat dapat dipekatkan melalui presipitasi.Pada umumnya digunakan etanol atau isopropanol dalam tahapan presipitasi. Kedua senyawa tersebut akan mempresipitasi DNA pada fase aquoeus sehingga DNA menggumpal membentuk struktur fiber dan terbentuk pellet setelah dilakukan sentrifugasi (Switzer, 1999).Hoelzel (1992) juga menambahkan bahwa presipitasi juga berfungsi untuk menghilangkan residu-residu kloroform yang berasal dari tahapan ekstraksi. 
 Menurut Surzycki (2000), prinsip-prinsip presipitasi antara lain pertama, menurunkan kelarutan asam nukleat dalam air. Hal ini dikarenakan molekul air yang polar mengelilingi molekul DNA di larutan aquoeus. Muatan dipole positif dari air berinteraksi dengan muatan negatif pada gugus fosfodiester DNA. Interaksi ini meningkatkan kelarutan DNA dalam air. Isopropanol dapat bercampur dengan air, namun kurang polar dibandingkan air. Molekul isopropanol tidak dapat berinteraksi dengan gugus polar dari asam nukleat sehingga isopropanol adalah pelarut yang lemah bagi asam nukleat; kedua, penambahan isopropanol akan menghilangkan molekul air dalam larutan DNA sehingga DNA akan terpresipitasi; ketiga, penggunaan isopropanol dingin akan menurunkan aktivitas molekul air sehingga memudahkan presipitasi DNA. 
Pada tahapan presipitasi ini, DNA yang terpresipitasi akan terpisah dari residu-residu RNA dan protein yang masih tersisa. Residu tersebut juga mengalami koagulasinamun tidak membentuk struktur fiber dan berada dalam bentuk presipitat granular.Pada saat etanol atau isopropanol dibuang dan pellet dikeringanginkan dalam tabung, maka pellet yang tersisa dalam tabung adalah DNA pekat.Proses presipitasikembali dengan etanol atau isopropanol sebelum pellet dikeringanginkan dapat meningkatkan derajat kemurnian DNA yang diisolasi (Bettelheim dan Landesberg, 2007). Keller dan Mark (1989) menerangkan bahwa pencucian kembali pellet yang dipresipitasi oleh isopropanol dengan menggunakan etanol bertujuan untuk menghilangkan residu-residu garam yang masih tersisa. Garam-garam yang terlibat dalam proses ekstraksi bersifat kurang larut dalam isopropanol sehingga dapat terpresipitasi bersama DNA, oleh sebab itu dibutuhkan presipitasi kembali dengan etanol setelah presipitasi dengan isopropanol untuk menghilangkan residu garam (Ausubel et al., 2003). 
Setelah dilakukan proses presipitasi dan dilakukan pencucian dengan etanol, maka etanol kemudian dibuang dan pellet dikeringanginkan, perlakuan tersebut bertujuan untuk menghilangkan residu etanol dari pelet DNA. Penghilangan residu etanol dilakukan dengan cara evaporasi karena etanol mudah menguap (Surzycki, 2000). Pada tahap pencucian biasanya etanol dicampur dengan ammonium asetat yang bertujuan untuk membantu memisahkan kontaminan yang tidak diinginkan seperti dNTP dan oligosakarida yang terikat pada asam nukleat (Sambrook et al., 2001). 
Setelah pellet DNA dikeringanginkan, tahap selanjutnya adalah penambahan buffer TE ke dalam tabung yang berisi pellet dan kemudian disimpan di dalam freezer dengan suhu sekitar -20ºC. Verkuil et al. (2008) menyatakan bahwa buffer TE dan penyimpanan suhu pada -20ºC bertujuan agar sampel DNA yang telah diekstraksi dapat disimpan hingga waktu berminggu-minggu. Keller dan Mark (1989) juga menjelaskan bahwa pelarutan kembali dengan buffer TE juga dapat memisahkan antara RNA yang mempunyai berat molekul lebih rendah dibandingkan DNA sehingga DNA yang didapatkan tidak terkontaminasi oleh RNA dan DNA sangat stabil ketika disimpan dalam keadaan terpresipitasi pada suhu -20ºC. 

Gambar 3. Proses pufrifikasi DNA dengan menggunakan metode silika dan kolom kromatografi (a) proses pengikatan DNA ke silika dengan bantuan perubahan konsentrasi garam, (b) DNA dielusi untuk memperoleh DNA (Brown, 2010).

Isolasi DNA juga dapat dilakukan dengan menggunakan kit yang sudah diproduksi oleh beberapa perusahan untuk mempermudah dan mempercepat proses isolasi DNA. Kit isolasi juga disesuaikan dengan kebutuhan oleh konsumen dan jenis sel yang akan digunakan. Berikut adalah bagan contoh isolasi DNA tanaman dengan menggunakan Kit Nucleon Phytopure yang disajikan pada Gambar 3. 

 

 

 
Gambar 4. Bagan isolasi DNA dengan menggunakan kit phytopure. 

UGM Teratas, Unila Peringkat 2 se-Sumatera

Kemenristekdikti telah melakukan pengelompokkan/klasterisasi PT tahun 2017 sebagai upaya memetakan mutu dan potensi Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia. Performa Perguruan Tinggi Indonesia telah dinilai dari 4 (empat) aspek utama. Menristekdikti, M. Nasir juga mengimbau daftar klasterisasi PT yang telah dikeluarkan Kemenristekdikti secara resmi untuk menjadi data yang dapat digunakan sebagai informasi valid bagi masyarakat.

Pada kategori Perguruan Tinggi non Politeknik, Universitas Gadjah Mada (UGM) menempati urutan teratas, disusul oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) di urutan kedua, dan Institut Pertanian Bogor (IPB) pada urutan ketiga.

Universitas Hasanudin menjadi universitas non-Jawa dengan peringkat teratas, yaitu di posisi ke-9. Di Pulau Sumatera, Universitas Andalas menjadi yang teratas (pada posisi ke-12), disusul Universitas Lampung di posisi kedua (peringkat 18 Nasional).

Inilah 100 Besar Perguruan Tinggi (PT) Non Politeknik:

Sumber: https://www.facebook.com/dikti/photos/pcb.10159181213065654/10159181211530654/?type=3

Nunik, Penduduk Baru Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas

Seekor anak gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) lahir di Pusat Konservasi Gajah (PLG), Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. Bayi gajah ini lahir dari induk Pleno pada hari Rabu, 31 Mei 2017 sekitar jam 06.30 WIB. Seperti diberitakan oleh Republika Online, Kepala Balai TNWK, Subakir, S.H., M.H., menyatakan bahwa bayi gajah tersebut berjenis kelamin betina dengan tingga badan 72 cm, lingkar dada 96 cm, dan berat badan 66,3 kg.

Dalam proses kelahirannya, gajah Pleno didampingi oleh dua dokter hewan yang bertugas di Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. Rubini Atmawidjaya, drh. Dedi Candra dan drh. Diah Esti Anggraini.

Layaknya manusia, gajah di PLG TNWK juga memiliki nama. Tanggal 4 Mei 2017, Bupati Kabupaten Lampung Timur, Hj. Chusnunia CHalim, M.Si. memberikan nama sesuai dengan nama panggilan beliau, Nunik.

gajah nunik

Bupati Lampung Timur dan gajah Nunik (Foto: Dedi Candra)

 

Selamat datang Nunik! Sehat selalu ya….

 

Spesies Baru: Dua Tarsius Baru Ditemukan di Semenanjung Sulawesi Utara

Tarsius atau disebut juga dengan Tangkasi adalah primata yang memilliki julukan “fosil hidup”. Mamalia ini muncul pertama kali pada zaman eosin denga karakter yang khas yakni kepalanya yang bundar mampu memutar hampir 360 serta dapat melihat ke belakang tanpa mengubah posisi tubuh.
Ciri-ciri umum Tangkasi yakni memiliki mata besar, telinga lebar, serta rambut tebal dan halus. Kaki adalah bagian terpenting dari genus Tarsius. Panjang kaki jauh lebih panjang bila dibandingkan dengan panjang tangan atau bahkan panjang tubuhnya.
Tangkasi merupakan monyet terkecil di dunia yang terdiri dari 11 spesies di dunia, hanya satu spesies saja yang tidak ada di Indonesia yang terdiri dari 9 genus Tarsius dan 1 genus Cephalophacus. Kesepuluh spesies tersebut adalah (1) Tarsius tarsier (=spectrum), (2) Tarsius fuscus, (3) Tarsius dentatus, (4) Tarsius pelengensis, (5) Tarsius sangirensis, (6) Tarsius tumpara, (7) Tarsius pumilus, (8) Tarsius lariang, (9) Tarsius wallacei, (10) Cephalophacus bancanus.
Taksonomi Tangkasi masih belum stabil sehingga potensi penemuan spesies baru masih memungkinkan. Penemuan spesies terbaru dari genus Tarsius telah dipublikasikan oleh Jurnal Primate Conservation pada Mei 2017. Dalam publikasi tersebut, terdapat dua temuan Tarsius baru dari semenanjung Sulawesi Utara, yakni Tarsius spectrumgurskyae dan Tarsius supriatnai yang merupakan Cryptic Species (Gambar 1).
tarsius
Gambar 1Tarsius spectrumgurskyae (kiri) dan Tarsius supriatnai (kanan).
Ilustrasi oleh Stephen D. Nash.
Cryptic Species adalah spesies yang tersembunyi diantara spesies lainnya. Pada kasus Tarsius ini, morfologi Tarsius jenis baru identik dengan jenis yang lain namun secara genetik berbeda jauh. Adanya penemuan Tarsius jenis baru tersebut didasarkan sejarah biogeografi dan tingkat endemisitas biota di Sulawesi. Penemuan spesies baru tersebut juga didukung dengan data genetik terbaru sehingga menghasikan taksonomi Tarsius yang lebih baik dengan tujuan untuk konservasi Tarsius yang mengalami krisis.
lokasi penemuan tarsius baru

Tarsius spectrumgurskyae

Nama Lokal: Tangkasi, Wusing
Distribusi: Berdasarkan data survei lapangan, spesies ini ditemukan di Tangkoko bagian utara hingga Suwawa di bagian barat Taman Nasional Bone (Gambar 2). Berdasarkan data rekaman suara akustiknya, spesies ini juga ditemukan di Ratatotok dan Molibagu serta ditemukan juga di Labanu dan Duasaudara.
Morfologi: T. spectrumgurskyae menyerupai T. supriatnai dan T. pelengensis, namun warna paha lebih terlihat kuning dan cerah. Ciri pembeda dengan genus Tarsius yang lain yakni memiliki ukuran kecil pada bagian tonjolan tanpa rambut di bagian dasar telinga serta kaki belakang relatif lebih pendek. Adapun morfometri berdasarkan data populasi liar menunjukkan bahwa berat tubuh serta panjang ekor memiliki rentang yakni berat badan (betina = 95−119 gram; jantan = 104−126 gram), panjang ekor (betina = 213−268 mm; jantan = 220−258). Adapun untuk morfometri lebih lengkap silahkan dilihat di Tabel 1.
Tarsius spectrumgurskyae
Gambar 3Tarsius spectrumgurskyae.

Tarsius supriatnai

Nama lokal: Mimito
Distribusi: Dijumpai di semenanjung utara mulai dari barat Gorontalo setidaknya sejauh Sejoli, dan mungkin sejauh Ogatemuku, tapi tidak sampai Tinombo.
Morfologi: Secara morfologi, Tarsius supriatnai memiliki kemiripan dengan T. spectrumgurskyae, namun perbedaanya terletak pada pangkal telinga di bagian tak berambut secara umum ukuranya lebih besar, kemudian kaki belakang lebih pendek, serta memiliki ekor panjang yang panjang, dan ukuran jari tengah lebih panjang. Adapun morfometri berdasarkan data populasi liar menunjukkan bahwa berat tubuh serta panjang ekor memiliki rentang yakni berat badan (betina = 104−114 gram; jantan = 135 gram), panjang ekor ( betina = 232−243 mm; jantan = 246 mm). Adapun untuk morfometri lebih lengkap silahkan dilihat di Tabel 1.
Tarsius supriatnai
Gambar 4Tarsius supriatnai.
Tabel 1. Morfometri Tarsius spectrumgurskyae dan Tarsius supriatnai
tengkorak tarsiusmorfometri tarsius

Genetik Tarsius spectrumgurskyae dan Tarsius supriatnai

Informasi genetik dari spesies baru ini berdasarkan penelitian Driller et al (2015) yang melakukan penelitian terhadap sejarah filogenetik tarsius di Sulawesi berdasarkan populasi Tarsius yang ada di pulau tersebut. Cakupan populasi yang berada di Semenanjung Sulawesi Utara yakni Ogatemuku (OGA), Labanu (LAB), dan Duasaudara (DUA) (Gambar 5.) Marka genetik yang digunakan yakni lima gen autosomal (ABCA1, ADORA3, AXIN1, RAG1, dan TTR) dan satu marka gen SRY yang diwariskan secara paternal.

filogeni tarsius
Gambar 5. Filogenetik dan estimasi waktu divergensi Tarsius di Sulawesi.
Hasil data yang konstruksi pohon filogenetik dengan menggunakan ML dan Bayesian menunjukkan bahwa pada “nodus g” (yang diberi bintik merah di gambar 5) mengalami divergensi dimana populasi DUA terpisah sedangkan populasi OGA dan LAB masih satu clade. Berdasarkan Tabel 2, nodus g memiliki waktu estimasi divergensi 0,3 mya (million years ago). Berdasarkan sejarah divergensi genetik inilah maka populasi Tarsius di Duasaudara (DUA) adalah Tarsius spectrumgurskyae, sedangkan populasi di Ogatemuku (OGA) dan Labanu (LAB) adalah Tarsius supriatnai.
 Tabel 2.  Waktu estimasi divergensi Tarsius
divergensi tarsius
Penulis: Mh. Badrut Tamam, M. Sc.
Email: mh.badruttamam@gmail.com
Referensi:
  1. Driller, C., S. Merker, D. Perwitasari-Farajallah, W. Sinaga, N. Anggraeni and H. Zischler. 2015. Stop and go–waves of tarsier dispersal mirror the genesis of Sulawesi Island. PLoS ONE 10 (11).
  2. Myron Shekelle, Colin P. Groves, Ibnu Maryanto, and Russell A. Mittermeier. 2017. Two New Tarsier Species (Tarsiidae, Primates) and the Biogeography of Sulawesi, Indonesia. Primate Conservation 31 (1):1-9.
  3. Jana Supriatna dan Rizki Ramadhan. 2016. Pariwisata Primata Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Sumber: http://www.generasibiologi.com/2017/06/tarsius-spectrumgurskyae-tarsius-supriatnai.html

Cyclops Syndrome di Gowa

r5c460i0xgoqfzoyatve
Hewan bermata satu (Foto: Instagram/@makassar_info)
Foto yang diunggah oleh akun Instagram @makassar_info menimbulkan kehebohan di dunia maya. Pada Senin (22/5) akun Instagram itu menunggah dua foto yang menampilkan gambar sesosok makhluk berwujud aneh.
Dalam foto tersebut disertakan tulisan, “Hewan apa ini kira-kira? Lokasi penemuan: Malino, Kabupaten Gowa.”
Sejumlah warganet yang melihat unggahan foto tersebut turut berkomentar. Ada yang mencela makhluk tersebut adalah hewan peliharaan dajjal, ada yang menyatakannya anjing atau kucing yang cacat, ada yang menyebutnya kembaran plankton, ada pula yang bercanda menyebutnya minion.
Tapi makhluk itu sebenarnya spesies apa?
Kepada Muh. Rizaldi, dosen biologi di Makassar, kumparan mencoba menanyakan identitas makhluk tersebut. Pada Senin (22/5), Rizaldi mengatakan melalui pesan singkat, “Saya sudah kirim ke LIPI. Kata Pak Anang Achmadi, peneliti mamalia di LIPI, sepertinya mirip bayi kucing tapi mengalami abnormalitas.”
Rizaldi menjelaskan di belahan dunia lain pernah terjadi kasus serupa. “Ini namanya cyclops syndrome. Jadi untuk mamalia bisa saja terjadi seperti ini,” katanya.
“Kejadian cyclops syndrome juga pernah ditemukan pada kambing di Indonesia. “Kemarin ada kejadian pada kambing, kata peneliti mamalia besar Pak Herjuno Ari,” tutur Rizaldi.
Anang Setiawan Achmadi, peneliti mamalia di LIPI, mengatakan hal yang senada pada ketika kumparan konfirmasi. “Itu sebenarnya abnormalitas,” jawab Anang pada Selasa (23/5) melalui sambungan telepon.
Anang menyebut abnormalitas itu lazim disebut sebagai cyclops syndrome. Kelainan tersebut pernah ditemukan pada beberapa hewan lainnya, namun kali ini ditemukan pada hewan yang diduga kucing di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. “Sementara kami diskusikan kemungkinannya kucing,” terang Anang.
Anang mengaku belum ada pihak LIPI yang mendatangi lokasi untuk memeriksa hewan tersebut secara langsung. Namun berdasarkan foto-foto yang ia lihat, peneliti LIPI ini berhipotesis makhluk itu adalah bayi kucing mengalami cyclops syndrome.
Cyclops syndrome adalah kelainan fisik yang terjadi pada bayi-bayi sejak dalam kandungan yang ditandai dengan ciri-ciri tidak normalnya organ-organ tubuh tertentu, salah satunya adalah memiliki mata hanya satu. Kelainan ini diambil dari nama makhluk mitos terkenal, yakni Cyclops. Makhluk mitos ini berciri khas memiliki satu mata di tengah kepala mereka.
(Sumber: https://kumparan.com/utomo-priyambodo/penjelasan-peneliti-lipi-soal-hewan-bermata-satu-di-gowa-sulsel?utm_medium=post&utm_campaign=int&utm_source=Twitter)

Materi PBB – IPDA Dedy Wijaya

Materi PBB silakan diunduh di tautan berikut: peraturan-baris-berbaris-dedy