Archive for January, 2016

Nilai Biologi Kelas Agroteknologi B

Nilai Matakuliah Biologi

Kelas Agroteknologi B Fakultas Pertanian Universitas Lampung

 

Tim Dosen:

Drs. Tugiyono, MS, Ph.D.

Gina Dania Pratami, M.Si.

Priyambodo, M.Sc.

 

Silakan diunduh

Nilai Biologi Kelas Agroteknologi B FP Unila

NIDN, NIDK, NUP dan Usia Pensiun Dosen

15607_33512_KEMENRISTEKDIKTI

M. Nasir saat meluncurkan sistem registrasi NIDK di Jakarta (Sumber: Kendari Pos)

 

 

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak., kembali meluncurkan terobosan di dunia pendidikan Tinggi. Sebagaimana yang dilansir oleh Kendari Pos, bahwa Kemenristekdikti mengeluarkan peraturan baru terkait  Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) dan Nomor Urut Pendidik (NUP) dan usia pensiun dosen. Hal senada juga diberitakan oleh Jawa Pos.

Peraturan NIDK dan NUP sebenarnya telah diatur dalam Permenristekdikti No. 26 Tahun 2015 tentang Registrasi Pendidik pada Perguruan Tinggi. Peraturan ini juga menyebutkan tentang perbedaan NIDK dan NUP dengan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN). Permenristekdikti No. 26 Tahun 2015 dapat diunduh di sini >> permenristekdikti-26-2015.

Menurut peraturan tersebut NIDN didefinisakn sebagai nomor induk yang diterbitkan oleh Kementerian untuk dosen yang bekerja penuh waktu dan tidak sedang menjadi pegawai pada satuan administrasi pangkal/instansi lain, sedangkan NIDK adalah nomor induk yang diterbitkan oleh Kementerian untuk dosen yang diangkat perguruan tinggi berdasarkan perjanjian kerja. Selanjtnya NUP adalah nomor urut yang diterbitkan oleh Kementerian untuk Dosen, Instruktur, dan Tutor yang tidak memenuhi syarat diberikan NIDN atau NIDK. Definisi dosen, instruktur dan tutor juga diatur dalam Permenristekdikti No. 26 Tahun 2015 pasal 1.

Laman Kopertis III mencantumkan tatacara memperoleh NIDK dan NUP sebagai berikut,

3e8e8d42-5bb6-445d-af78-bfea75ffcea8

Tata Cara Memperoleh NIDK dan NUP (Sumber: Kopertis III)

 

Adanya kebijakan NUP dan NIDK ini diharapkan dapat digunakan untuk memperbaiki rasio dosen:mahasiswa yang kebanyakan belum ideal.

“Adapun jumlah program studi di lembaga lainnya yang juga kekurangan dosen adalah sebanyak 2.583 prodi. Jadi jika dijumlahkan dengan prodi yang ada di bawah kemenristek dikti, adalah terdapat 8.649 prodi yang kekurangan dosen,” ujar M. Nasir (Sumber: Pikiran Rakyat)

Selain mengatur tentang NIDN, NIDK dan NUP, Permenristekdikti No. 26 Tahun 2015 juga mengatur usia pensiun dosen. Bagi dosen yang sudah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) yang teregistraasi pada PUPNS mendapat batas waktu mengajar hingga 65 tahun untuk nonprofesor dan 70 tahun bagi yang bergelar profesor. Sementara untuk dosen yang teregistrasi pada NIDK, bisa diperpanjang hingga usia 70 tahun bagi nonprofesor, serta 79 tahun untuk profesor. Sedangkan bagi yang terdaftar pada NUP, tidak dibatasi umurnya.

 

Empat Guru Besar Dampingi Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P. Pimpin Unila

Kamis (14/01/16) Universitas Lampung (Unila) punya gawe besar untuk melengkapi pucuk pimpinan universitas, pasalnya pejabat lama telah usia masa baktinya. Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P. selaku Rektor terpilih telah dilantik secara resmi oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 25 November 2015 lalu. Dalam melakukan tugas, tentu Rektor dibantu Wakil Rektor dalam mengemban amanah hingga 2019 mendatang.

Menristekdikti-Lantik-Prof.-Hasriadi-sebagai-Rektor-Unila-04

Menristekdiki Melantik Rektor Unila 25 November 2015 di Jakarta (Sumber: unila.ac.id)

 

Empat Guru Besar akhirnya terpilih dan telah secara sah dilantik menjadi wakil rektor di lingkunan Unila. Prof. Dr. Bujang Rahman, M.Si. dilantik sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik setelah sebelumnya didapuk sebagai pemangku jabatan sementara, pasalnya sebelum menjadi Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P. merupakan Wakil Rektor Bidang Akademik. Prof. Dr. Bujang Rahman, M.Si. merupakan alumni Unila angkatan 1983 dan melanjutkan pendidikan S2 di UI serta memantapkan ilmu Administrasi Pendidikan di UPI Bandung.

Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan dijabat oleh Prof. Dr. Ir. Muhammad Kamal, M.Sc. menggantikan Dr. Ir. Dwi Haryono, M.S. Prof. Dr. Ir. Muhammad Kamal, M.Sc. merupakan jebolan Program Doktor dari University of Agriculture Tokyo, Jepang di bidang Ilmu Tanaman. Beliau merupakan Guru Besar di Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Unila.

Prof. Dr. Karomani, M.Si. menggantikan Prof. Dr. Sunarto, S.H., M.H. sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni. Prof. Dr. Karomani, M.Si. merupakan lulusan S2 dan S3 Universitas Padjajaran Bandung. Dalam kesehariannya beliau adalah dosen di Pend. Bahasa dan Sastra / Bahasa Indonesia FKIP Unila.

Selanjutnya, Prof. Dr. Mahatma Kufepaksi, M.Sc. akan mengemban amanah sebagai Wakil Rektor Bidang Perencanaan Kerja Sama dan Teknologi Informasi dan Telekomunikasi yang sebelumnya dijabat oleh Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A. Dalam kesehariannya, Prof. Dr. Mahatma Kufepaksi, M.Sc merupakan dosen yang tercatat sebagai Guru Besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unila.

Empat Wakil Rektor ini selanjutnya akan mendampingi Rektor untuk memimpin Unila mengemban visi sebagai 10 Universitas terbaik di Indonesia pada 2015. Semoga seluruh jajaran Rektor dan Wakil Rektor bisa merangkul seluruh sivitas akademika Unila untuk terus berbenah, terus berkarya menjadi apa yang telah dicita-citakan.

Semoga!

Laron Syndrome

Laron syndrome merupakan kelainan genetik yang diturunkan dengan pola autosomal resesif. Pola ini menunjukkan bahwa orang tua laki-laki dan perempuan memiliki kontribusi yang sama dalam munculnya kelainan ini. Laron syndrome tergolong kelainan langka yang muncul di dunia ini. Kelainan ini pertama kali dipublikasikan oleh ilmuwan Israel, Zvi Laron pada tahun 1966. Penelitian ini mulai digeluti Laron bersama dua koleganya  A. Pertzelan and S. Mannheimer sejak 1958 (Laron, 2004).

Laron syndrome merupakan kelainan yang jarang ditemukan. Saat ini ada 350 kasus yang telah terdiagnosis worldwide. Seratus kasus di antaranya ditemukan di Equador Tenggara (Genetics Home Reference, 2016). Taubes (2013) melaporkan bahwa penderita Laron syndrome terbebas dari resiko terkena kanker.

genes-1

Salah satu penderita Laron syndrome di Equador (Taubes, 2013)

 

Laron syndrome disebabkan karena adanya mutasi pada gen GHR (Growth Hormone Receptor) pada kromosom nomor 5 (Liu, et al., 2007). Mutasi ini menyebabkan penderita bertubuh pendek dan resisten terhadap diabetes melitus tipe 2 dan kanker. Laron syndrome ditandai dengan kadar growth hormone (GH) yang normal/tinggi dan serum insulin-like growth factor-1 (IGF-I) yang rendah. Selain itu, Laron syndrome juga ditandai dengan adanya dahi yang menonjol, perkembangan mandibula yang tidak normal dan micropenis pada penderita laki-laki. Pada penderita perempuan, payudar berukuran normal, atau bahkan cenderung besar jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya.

GHR-gene

Kromosom 5 Manusia (GeneCards)

 

Referensi

GeneCards. Growth Hormone Receptor Gene. http://www.genecards.org/cgi-bin/carddisp.pl?gene=GHR

Genetics Home Reference, 2016. Laron Syndrome. http://ghr.nlm.nih.gov/condition/laron-syndrome#definition

Laron, Z. 2004. Laron syndrome (primary growth hormone resistance or insensitivity): the personal experience 1958–2003. J. Clin. Endocrinol. Metab. 89 (3): 1031–44.

Liu, Hau; Bravata, Dena M.; Olkin, Ingram; Nayak, Smita; Roberts, Brian; Garber, Alan M.; Hoffman, Andrew R. 2007. “Systematic Review: The Safety and Efficacy of Growth Hormone in the Healthy Elderly”. Annals of Internal Medicine 146(2): 104–115.

Taubes, G. 2013. Rare Form of Dwarfism Protects Against Cancer. Discover Magazine. March 27, 2013

4 Anggota Baru Tabel Periodik Unsur

Kosuke Morita, Pimpinan Tim RIKEN dengan Tabel Periodik Unsur Terbarunya di Wako, Jepang, 31 Desember 2015 (Sumber: CNN)

Dunia dihiasi dengan perubahan demi perubahan. Sebuah perjalanan, sebuah kesuksesan dan sebuah keberhasilan merupakan rangkaian dari berbagai transformasi yang ada di dunia ini. Seperti transformasi ulat menjadi kupu-kupu, semuanya mempunyai tahapan dan akan menghasilkan sebuah kesempurnaan. Demikian pula dengan ilmu pengetahuan, selalu mengalami perubahan dengan satu tujuan untuk menciptakan whole new world yang diharapkan mampu membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.

Penghujung 2015 lalu, tepatnya tanggal 30 Desember 2015, International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC) menetapkan secara resmi empat unsur baru untuk dicantumkan di baris ketujuh Tabel Sistem Periodik Unsur. Keempat unsur tersebut adalah unsur nomor 113, 115, 117 dan 118 (Fischman, 2016).

Kimiawan mengelompokkan unsur berdasarkan Nomor Atom dari unsur tersebut yang mencerminkan jumlan dari proton per atom. Unsur dengan jumlah proton lebih dari 92 bersifat tidak stabil dan secara alami tidak dijumpai di alam (Rogers, 2016). Namun manusia (ilmuwan) selalu berupaya untuk menemukan sesuatu yang tidak ada di alam untuk dapat diterima dan nantinya diharapkan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Tiga dari empat unsur yang ada merupakan hasil kerja bareng antara tim Rusia dan Amerika, yaitu joint research antara  Institute for Nuclear Research Dubna, Oak Ridge National Laboratory Tennessee dan Lawrence Livermore National Laboratory California. Ketiga unsur tersebut sementara ini dinamai dengan ununpentium (Uup, 115), ununseptium (Uus, 117) dan ununoctium (Uuo, 118). Satu unsur terakhir merupakan unsur pertama yang dinamai di Asia, yaitu hasil kerja dari tim RIKEN Nishina Center for Accelerator-Based Science Wako, Jepang. Tim Jepang ini menemukan unsur ke-113 yang saat ini dinamai sementara dengan ununtrium (Uut, 113).

 

sn-PeriodicTable

Tabel Periodik Unsur terbaru (Sumber:ScienceMag)

Optimisme menjadi modal dasar manusia untuk terus menggali alam semesta. Optimisme menjadi senjata atas rasa lelah yang terkadang melanda manusia.

“Now that we have conclusively demonstrated the existence of element 113, we plan to look to the uncharted territory of element 119 and beyond.”, ujar Kosuke Morita, Ketua Tim RIKEN terkait project yang akan dilakukan.

Sesuai dengan aturan IUPAC, unsur-unsur baru dapat dinamai setelah dilakukan telaah atas konsep mitologi, mineral dan tempat penemuan. Tim penemu akan mengajukan proposal terkait nama yang diusulkan atas unsur baru tersebut, selanjutnya, akan ada public review sebelum nama unsur tersebut secara resmi ditetapkan oleh IUPAC.

2016, Tahun Baru! Tabel Periodik Unsur baru!!

 

Sumber

CNN, 2016. http://edition.cnn.com/2016/01/04/world/periodic-table-new-elements/

Fischman, J.. 2016. 4 New Superheavy Elements Verified. Scientific American. http://www.scientificamerican.com/article/4-new-superheavy-elements-verified/

Rogers, N.. 2016. Four New Element Complete the Seventh Row of Periodic Table. ScienceMag. http://news.sciencemag.org/chemistry/2016/01/four-new-elements-complete-seventh-row-periodic-table?utm_source=newsfromscience&utm_medium=facebook-text&utm_campaign=newelements-1725

 

Menilik Kembali Bahasa Sendiri

Gegap gempita perayaan tahun baru sudah usai, entah berapa budget dana yang dihabiskan untuk perayaan pergantian bilangan tahun tersebut. Seluruh manusia nampaknya sudah kembali normal, kembali mencurahkan perhatian ke dalam rutinitas yang biasanya menyibukkan. Pekerja kembali ke bangku kerjanya, pelajar kembali ke bangku sekolahnya, dan para ibu akan kembali sibuk di pagi hari, menyiapkan nutrisi dan keperluan bagi seluruh anggota keluarganya. Pergantian tahun depan nampaknya juga akan demikian, hiruk-pikuk dengan agenda yang sama, dan hilang kembali ditelan kesibukan.

Manusia memang diciptakan dengan begitu indah oleh Sang Mahakuasa, sehingga menjadi sifat alamiah jika manusia mencintai keindahan. Keindahan yang dicintai manusia bukan hanya keindahan yang bersifat fisik belaka, seperti pesta kembang api di perayaan tahun baru, namun juga keindahan psikis, termasuk budi pekerti, pola perilaku dan tutur kata. Oleh karenanya, kecintaan akan bahasa menjadi satu bentuk cinta yang luar biasa. Banyak di antara manusia yang mampu hidup ‘hanya’ dengan mengandalkan kemampuannya merangkai kata, bahkan tak jarang manusia akan dikenang zaman atas kemampuannya demikian.

Lahir sebagai orang Indonesia mengharuskan saya mengerti dan memahami bahasa Indonesia yang sejak 1928 dideklarasikan sebagai bahasa pemersatu bangsa. Adakah Kongres Pemuda yang akhirnya menelurkan sebuah sumpah gelora nasionalisme, Sumpah Pemuda. Sumpah yang dikenang tak hanya oleh anak-cucunya sendiri, namun oleh bangsa, mungkin oleh dunia. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang begitu dinamis, bahasa yang selalu tumbuh dan berkembang. Bagi sebagian pelajar, Bahasa Indonesia menjadi pelajaran yang lebih membuat pusing jika dibandingkan dengan bahasa asing seperti Bahasa Inggris. Bahkan, tak jarang ada siswa yang mengungkapkan bahwa mendapatkan nilai sempurna dalam UAN Bahasa Indonesia jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain.

Bahasa Indonesia memang terus berkembang. Dari segi makna kata saja, bisa kita lihat pola perkembangan menyempit (spesialisasi), meluas (generalisasi), meninggi (ameliorasi) atau menurun (peyorasi). Bukan hanya itu, Bahasa Indonesia juga bukan bahasa yang egois, banyak kata-kata baru yang diserap dari bahasa asing dan menjadi anggota baru dalam perbendaharaan kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Menilik kembali bahasa sendiri adalah sebuah upaya mencintai sebuah aset budaya yang begitu luhur. Kembali membuka kamus dan menambah kosa kata yang dimiliki, karena jika tidak, perbendaharaan kata kita akan dikuasai oleh istilah-istilah bahasa yang nge-hits belaka.

IMG_20151205_210545

Kulacino

IMG_20151205_210859

Petrikor

 

Jika kita tilik kembali, masih banyak kata serapan yang mungkin sudah ada di kamus besar bahasa Indonesia, namun terkadang juga belum tertera di sana. Kulacino misalnya, kata serapan dari Bahasa Italia yang berarti bekas air yang ditimbulkan oleh gelas yang basah. Atau bisa kita lihat kata lain, petrikor, sebuah istilah yang lahir pada tahun 1964 oleh saintis Australia, Isabel Joy Bear dan R. G. Thomas. Keduanya melakukan penelitian mengenai aroma hujan dan mempublikasikannnya di jurnal Nature, “Nature of Agrillaceous Odor.” Kedua saintis ini kemudian menciptakan sebuah istilah untuk mendeskripsikan aroma harum tanah yang terkena tetes hujan. Keduanya menggunakan istilah “petrichor”  (Yunani, petra: batu, ichor: darah para dewa).

Masih banyak kata-kata yang mungkin masih asing kita dengar dan sulit kita pahami. Hal tersebut juga berlaku pada bahasa Ibu saya, Jawa. Ada sebuah ungkapan bahwa belajar bahasa Jawa itu seakan belajar tiga bahasa yang berbeda. Bahasa Jawa mempunyai tingkatan, ngoko hingga krama inggil. Lebih jauh, misal ingin menelusuri, bahasa Jawa akan lebih sakral jika kita telisik dari Bahawa Jawa Kuno (Bahasa Kawi) bahkan hingga Bahasa Sansekerta.

12074911_10205482910377549_3729994718996815372_n

Agni = Dahana = Latu = Geni = Api

 

12122582_10205484915347672_7872875321272578924_n

Mahesa = Tuan Besar

 

 

Jika dalam bahasa Indonesia kita menyebut api, dalam bahasa Jawa ada tingkatan dalam menyebutkan benda pasa ini. Dalam kehidupan sehari-hari, orang Jawa menyebutnya dengan ‘geni’, namun jika orang Jawa bercakap dengan orang yang lebih tua, maka kata ‘geni’ akan diubah menjadi ‘latu’. Lebih jauh, jika Anda menikmati wayang, Anda akan mendengar bahwa ‘api’ akan diucapkan dengan kata ‘dahana’, jika ditelusur lebih jauh, ‘api’ dalam bahasa Sansekerta adalah ‘agni’.

Bahasa adalah senjata manusia untuk bisa berinteraksi dan mencari relasi. Alangkah indahnya jika setiap orang mampu menggunakan bahasa dengan indah dan santun. Mulutmu harimaumu!!! Mari belajar kembali menata bahasa kita untuk memberikan nilai tambah dalam tata komunikasi kita.

 

Terima kasih kepada:

1. @ivanlanin (twitter) atas gambar petrikor dan kulacino-nya.

2.  Niina Sy (facebook) atas gambar agni dan mahesa-nya.