Archive for August, 2016

Merayakan Global Tiger Day

PicsArt_08-30-06.00.22

Global Tiger Day merupakan perayaan Hari Harimau se-jagad raya. Perayaannya jatuh pada tanggal 29 Juli setiap tahunnya. Di Indonesia, peringatan Hari Harimau ini menjadi satu rangkaian peringatan hari konservasi sumber daya alam. Universitas Lampung bergandengan tangan dengan Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP) merayakannya dengan membuat sebuah diskusi interaktif dengan tajuk “Hariamau Sumatera, Harimau Indonesia, Harimau Kita” di Aula Perpustakaan Universitas Lampung.
Acara ini merupakan ajang dialog dari berbagai komponen terkait konservasi, khususnya harimau. Tujuannya jelas, agar harimau sumatera tidak bernasib sama dengan harimau jawa dan harimau bali yang saat ini hanya menjadi cerita belaka. Dalam acara ini, hadir tokoh-tokoh penting dalam bidang konservasi, termasuk Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kepala Seksi III Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, kepolisian,akademisi, pemerintah daerah, non goverment organization (NGO) bidang konservasi, mahasiswa dan wartawan.

Seluruh Peserta Forum Group Discussion
Lampung, merupakan sebuah provinsi yang dikarunia dengan keanekaragaman hayati dan sumber daya alam yang luar biasa. Paling tidak, ada tiga lokasi istimewa di Lapung, yaitu, TNWK, TNBBS dan Cagar Alam-Cagar Alam Laut Krakatau. Ketiga area konservasi ini mempunya karakter dan keunikan masing-masing.
TNBSS merupakan bagian dari bukan barisan yang menjadi benteng pertahanan pulau sumatera dari tekanan tektonik. Satwa penting di TNBBS adalah harimau, gajah dan badak. Badak mempunyai daya jelajah rendah, namun gajah dan harimau mempunyai daya jelajah yang tinggi. TNBBS ditetapkan sebagai tropical rainforest heritage of sumatera oleh UNESCO karena memiliki outstanding universal value yang tidak hanya didukung oleh keindahan alamnya, namun juga karena keanekaragaman hayatinya yang tinggi.

Panitia FGD dari Unila dan WCS-IP

TNWK memiliki nilai penting bagi upaya konservasi di Indonesia karena mempunyai satwa kunci gajah, badak, harimau, beruang madu, dan tapir. TNWK yang baru saja mendapatkan predikat sebagai ASEAN Heritage Park menjadi salah satu kantung terakhir dari pelestarian in situ harimau sumatera. Dalam upaya konservasinya, TNWK juga menggandeng mitra konservasi, baik dari NGO maupun masyarakat di daerah penyangga TNWK.

Perkembangan konservasi harimau didukung oleh berbagai pihak, termasuk BKSDA dan kepolisian terkait perburuan dan perdagangan harimau (dan satwa liar pada umumnya). Forum Harimau Kita juga menambahkan latest update kondisi harimau sumatera dari Aceh hingga Lampung.

Dalam diskusi interaktif ini juga dilakukan deklarasi sebagai bentuk dukungan berbagai komponen terkait terhadap upaya konservasi harimau. Beberapa simpulan acara menunggu follow up dan sinergi berbagai pihak agar pemikiran yang berhasil dirumuskan tidak hanya menjadi sebuah wacana.

Semoga harimau sumatera bukan hanya sebagai legenda!

Aku dan harimau

Singgah di “Rumah” Gajah

Panitia, peserta dan Tim PLG TNWK berfoto di depan RS Gajah Prof. Rubini Atmawidjaja

Gajah merupakan satu dari beberapa mamalia terbesar yang masih menjadi bagian dari alam hingga saat ini. Indonesia menjadi salah satu negara yang dianugerahi kenikmatan Tuhan untuk hidup bersama gajah. Gajah sumatera yang dalam bahasa ilmiah dikenal dengan nama Elephas maximus sumatranus adalah hewan endemik sumatera, tersebar dari ujung Aceh hingga Lampung. Gajah sumatera mempunyai kekerabatan dekat dengan gajah asia lainnya, misalnya gajah thailand dan gajah india. Sebagai bagian dari alam Indonesia, tentunya manusia harus mampu hidup berdampingan bersama alam di gajah.
Dunia menaruh perhatian besar bagi kelestarian gajah, termasuk gajah sumatera yang ada di Indonesia. Hal ini dikarenakan jumlah populasinya terus menurun dari waktu ke waktu, sehingga perlu diperhatikan secara serius agar dapat meningkatkan angka kelulushidupan satu dari spesies eksotis di dunia. Salah satu upayanya adalah dengan menggaungkan Hari Gajah Sedunia (International Elephat Day/Global Elephant Day) yang diperingati setiap tanggal 12 Agustus setiap tahunnya. International Elephant Day menjadi salah satu ajang untuk mengkampanyekan harmonisasi kehidupan bersama gajah, seperti gerakan #JanganBunuhGajah oleh Tulus.
Tahun 2016 ini, saya berkesempatan mengikuti dua kali peringatan hari gajah sedunia, sebuah kesempatan yang belum saya dapatkan di tahun sebelumnya. Pada 11 Agustus 2016, saya menjadi satu di antara sekitar 60-an undangan WWF Indonesia untuk berkumpul dengan di Lembaga Eijkman Jakarta dalam Simposium Gajah. Dalam simposium yang menghadirkan tiga panelis, Prof. Dr. Herawati Soedoyo; Sunarto, Ph.D.; dan drh. Dedi Chandra, M.Si., ini dibahas gajah dari berbagai segi, bergantung dari kepakaran dari ketiga panelis. Namun, saat diramu, ketiga panelis menyuarakan hal yang saling mendukung satu sama lain.
Prof. Dr. Herawati Soedoyo mengungkapkan potensi bidang molekuler dalam upaya konservasi, termasuk gajah. Sedangkan Sunarto, Ph.D. menggemakan terkait peta populasi gajah sumatera yang masih tersisa di Indonesia. drh. Dedi Chandra, M.Si. lebih menyuarakan tentang pengelolaan salah satu “rumah” gajah di Indonesia, yaitu Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung.

Peringatan Global Elephant Day di Lembaga Eijkman Jakarta

Peringatan Global Elephant Day di Lembaga Eijkman Jakarta

Kesempatan kedua saya dapatkan saat rekan-rekan Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP) menggandeng tempat saya bekerja, Universitas Lampung (Unila), untuk bekerja sama memperingati international Elephant Day di salah satu “rumah” gajah di Indonesia, TNWK. Acara dikemas dalam sebuah journalist trip dengan mengusung tema “Bersama Gajah: Berbagi Ruang Merawat Kehidupan”. Acara dihelat dengan menghadirkan rekan-rekan media, baik cetak maupun elektronik; baik lokal, maupun nasional dan internasional. WCS-IP dan Unila menggelar acara pada 25-26 Agustus 2016 dengan start di Gedung Rektorat Unila dan berlanjut di TNWK dan sekitarnya.
Hari pertama, peserta trip diajak untuk mengunjungi Balai TNWK untuk coffee morning bersama Kepala Balai TNWK, Subakir, S.H., M.H. dan jajaran dari Pemerintah Daerah Lampung Timur. Perjalanan dilanjutkan ke dermaga Faulana Pratama, Kuala Penet, yang berada di salah satu desa penyangga TNWK, desa Braja Harjosari. Braja Harjosari merupakan desa yang didampingi tim Biologi FMIPA Unila untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatif sebagai salah satu sarana mitigasi konflik satwa-manusia. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa sarana fisik mitigasi konflik di desa penyangga TNWK lainnya, yaitu desa Labuhan Ratu 6 dan Labuhan Ratu 7. Peserta trip diajak untuk melihat bronjong, kanal, kolam dan sarana mitigasi konflik satwa-manusia yang lain. Selanjutnya, peserta digiring menuju Rumah Konservasi, yang merupakan inisiasi dari Biologi FMIPA Unila, untuk audiensi bersama masyarakat dan Bupati Lampung Timur, Hj. Chusnulia Chalim, M.Si. Acara hari pertama ditutup dengan menikmati alunan gamelan dari tim karawitan desa Labuhan Ratu 6 sekaligus santap malam.
Hari kedua, peserta trip diajak mengunjungi PLG TNWK dan Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. H. Rubini Atmawidjaja. Di PLG TNWK, peserta diajak untuk melihat lebih dekat sekitar 60-an ekor captive elephant yang menghuni PLG TNWK. Peserta juga berbincang dengan mohout (pawang gajah) terkait keseharian gajah. Peserta kemudian digiring ke gedung visitor center untuk berbincang dengan tim PLG TNWK, drh. Diah Esti Anggraini, dan drh. Dedi Chandra, M.Si. Peserta disuguhi obrolan yang hiduup terkait pengelolaan PLG dan RS Gajah Prof. Dr. Ir. H. Rubini Atmawidjaja. Setelah sholat Jumat, peserta meninggalkan lokasi PLG TNWK untuk kembali ke Universitas Lampung.
Peserta pulang tidak dengan tangan dan pikiran hampa. Peserta trip pulang dengan berbagai kenangan, wacana dan tantangan ke depan terkait gajah sebagai bagian dari kehidupan bersama. Peserta pulang dengan membawa sebuah pertanyaan, “akahkah kebersaman dengan gajah terus bertahan?”

PicsArt_08-26-02.22.06

Kiri-Kanan Catur (TNWK), Priyambodo (Unila), Sugiyo (WCS-IP), Esti (PLG), Elly (Unila), Dedi (PLG), Nofri (TNWK), Suharto (WWF)

Belajar dari Guru Besar Universiti Kebangsaan Malaysia

IMG_20160822_135648aaaaaa

Senin, 22 Agustus 2016, digelar sebuah workshop di Gedung Rektorat Lantai 2 Universitas Lampung tentang penulisan artikel agar bisa menembus jurnal internasional. Panitia mendatangkan seorang guru besar dari Universiti Kebangsaan Malaysia (National University of Malaysia) bidang genetika tumbuhan dan bioteknologi, Prof. Dr. Wickneswari Ratnam.

Prof. Dr. Wickneswari Ratnam membagi penjelasan beliau dalam tiga hal, yaitu (1) bagaimana memulai menulis, (2) bagaimana memilih jurnal yang tepat, dan (3) bagaimana menulis sesuai strukturjurnal yang dituju. Ketiga hal ini dianggap beliau menjadi poin-poin terpenting dalam menembus jurnal internasional.

Dalam poin pertama, bagaimana memulai, beliau mengungkapkan satu hal terpenting dalam memulali menulis manuskrip, bahwa tulisan yang baik harus dimulai dari riset yang baik. Langkah kedua, bagaimana memilih jurnal yang tepat, sangat penting terkait confilict of interest. Bukan hanya terkait ketepatan bidang, namun juga terkait ketepata audiens dan ruang lingkup manuskrip yang akan diajukan.

Di bagian ketiga, dijelaskan tentang struktur jurnal yang dituju, bahwa sangat penting memperhatikan struktur penulisan jurnal yang akan dituju, karena setiap jurnal memiliki keunikan struktur tertentu, meskipun hampir seluruh jurnal menganut universalitas aturan penulisan.

Yok meneliti! Yok menulis!

Tulus dan Gajah (Hari Gajah Sedunia: Bag. 1)

Tulus Gajah

Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku

Demikianlah sepenggal lirik lagu Gajah yang ditulis dan dipopulerkan Tulus, seorang penyanyi terkenal itu. Tak banyak yang tahu tentang bagaimana cerita di balik lagu dan cerita lain di balik proses pembuatan video klip gajah yang ternyata berlokasi di Provinsi Lampung tersebut.
Kamis, 11 Agustus 2016, saya berkesempatan berada dalam satu ruangan bersama Tulus, bersama sekitar 60 undangan lain dari berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi, peneliti, penggiat konservasi, elemen pemerintah, dan media. Adalah WWF Indonesia yang menyelenggarakan sebuah acara bertajuk Simposium Gajah di Eijkman Institute, Jakarta. Tulus diundang dalam acara tersebut, bukan untuk bernyanyi, namun lebih dalam, untuk bercerita lebih dalam tentang salah satu karya lagunya: Gajah!
“Sebenarnya, saat menulis lagu gajah, saya belum pernah bertemu langsung dengan gajah.”, demikian kalimat pembuka mengalir dari penjelasan Tulus. Dia pun melanjutkan ceritanya dengan antusias saat sampai pada proses pembuatan video klip. Tulus bercerita tentang pertemuannya dengan Yongki, salah satu gajah di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Lampung. Cerita mengalir hingga bagaimana Tulus berhasil menyentuh, “berbicara”, dan naik si Yongki, hingga akhirnya Tulus berhasil mengeksplorasi beberapa sudut eksotis dari TNBBS Lampung.
Cerita mengalir dan mencapai klimaks saat Tulus menuturkan keberhsilannya menyabet lima piala di salah satu ajang penghargaan bagi insan musik di Indonesia. Bukan bahagia, bukan berbagga, namun Tulus saat itu berduka. Yongki yang menjadi bagian dari lagunya mati terbunuh dan gadingnya dicuri. #RIPYongki
Upaya pelacakan pelaku dilakukan dan masih terus dilakukan, termasuk melibatkan ahli dari Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas, Rumah Sakit Gajah Lampung, dan Tim Forensik Eijman Jakarta. Namun, pembunuh Yongki masih berkeliaran bebas hingga detik ini. #RIPYongki
Kematian Yongki melahirkan ide sebuah gerakan bertajuk #JanganBunuhGajah oleh Tulus dan Teman Tulus. Melalui gerakan ini, Tulus berkampanye untuk mencintai makhluk Tuhan yang terus menyusut populasinya ini. Melali gerakan ini, Tulus mendonasikan seluruh keuntungan #JanganBunuhGajah untuk kepentingan konservasi gajah melalui WWF Indonesia.
12 Agustus
Hari Gajah Sedunia memang telah lewat, namun gerakan pelestarian gajah tidak boleh terlewat!
Happy Global Elephant Day
Happy International Elephant Day
Happy World Elephant Day

Webometrics Update: Unila Peringkat 13 Universitas se-Indonesia


Akhir pekan kedua Agustus 2016 Cybermetrics Lab. melakukan update terhadap peringkat universitas se-dunia versi webometrics. Sebelumnya, Cybermetrics Lab. menyeluarkan peringkat universitas pada akhir Juli lalu. Website resmi webometrics sempat tidak bisa diakses, dan akhir pekan lalu, Webometrics memberikan update terhadap peringkat yang telah dikeluarkan sebelumnya. Tak banyak perubahan,UGM masih memuncaki peringkat universitas terbaik di Indonesia. Peningkatan peringkat diperlihatkan oleh Universitas Lampung (Unila) yang sebelunya ditempatkan di peringkat 15, kini Unila naik dua strip ke peringkat 13. Berikut 20 universitas terbaik di Indonesia versi webometrics:
Read more »

Webometrics: Unila Tembus Top 15

Logo Unila

Universitas Lampung (Unila) kembali menunjukkan tren positif dalam peringkat perguruan tinggi berdasarkan website resmi kampus. Sebelumnya, Unila bertengger di urutan 16 menurut International Colleges & Universitie (4ICU). Saat ini, Unila naik satu strip untuk menembus Top 15 perguruan tinggi di Indonesia versi webometrics.

Webometrics memberikan penilaian terhadap sekitar 22.000 perguruan tinggi di seluruh dunia berdasarkan website kampus masing-masing. Webometrics sendiri dikelola oleh lembaga penilaian terbesar di Spanyol, yaitu Cybermetrics Lab dengan mempublikasikan hasil penilaiannya dua kali dalam setahun, pada Januari dan Juli.

Webometrics menggunakan empat indikator penilaian, yaitu presence, impact, openness, dan excellence. Indikator presence merujuk pada jumlah halaman website yang terekam oleh Google, indikator ini mempunyai bobot 20% dari total penilaian. Kedua, indikator impact yang merupakan indikator dengan bobot tertinggi, mencapai 50%. Indikator impact dinilai dari jumlah link eksternal yang diterima oleh website resmi perguruan tinggi yang terekam oleh Google. Openness merupakan indikator ketiga dengan bobot penilaian 20%. Indikator ketiga ini dinilai dari jumlah file dokumen dalam Adobe Acrobat, Adobe PostScript, Microsoft Word, dan Microsoft Powerpoint yang dapat diakses serta terhubung dengan website resmi perguruan tinggi dan terekam oleh Google Scholar. Indikator keempat adalahh excellence yang mempunyai bobot 10% dari total nilai. Indikator exellence mengukur jumlah artikel publikasi ilmiah karya seluruh sivitas akademika yang terindeks Google Scholar.

Berikut peringkat perguruan tinggi di Indonesia versi webometrics per Juli 2016.

  1. Universitas Gadjah Mada
  2. Universitas Indonesia
  3. Institut Teknologi Bandung
  4. Institut Pertanian Bogor
  5. Universitas Riau
  6. Universitas Brawijaya
  7. Universitas Padjadjaran
  8. Universitas Diponegoro
  9. Universitas Sebelas Maret
  10. Universitas Airlangga
  11. Universitas Udayana
  12. Universitas Syiah Kuala
  13. Universitas Hasanuddin
  14. Institut Teknologi Sepuluh Nopember
  15. Univeritas Lampung
  16. Universitas Gunadarma
  17. Universitas Kristen Petra
'Peringkat Web Juli2016

Sumber: http://www.webometrics.info/en/Asia/indonesia%20