Pendidikan Karakter

SEMBILAN PILAR PENDIDIKAN KARAKTER SERTA CIRI DAN WATAK KEWIRAUSAHAAN

R. Gunawan Sudarmanto

 

Kita perlu berbangga hati bahwa para petinggi-petinggi kita telah menyadari akan arti pentingnya karakter bagi bangsa kita.  Sehingga diambillah suatu kebijakan dengan memasukkan pendidikan karakter pada pendidikan formal dari yang terendah hingga perguruan tinggi.  Di sisi lain kita perlu prihatin dan sedih, hal ini karena yang mendasari dimasukkannya pendidikan karakter tersebut akibat terjadinya degradasi moral yang telah melanda bangsa kita.  Degradasi moral yang terjadi pada bangsa kita telah merambah dalam segala aspek kehidupan.

Lickona dalam Sutawi, (2010) menyatakan bahwa terdapat 10 aspek degradasi moral yang melanda suatu negara yang merupakan tanda-tanda kehancuran suatu bangsa. Kesepuluh tanda tersebut berupa:

  1. meningkatnya kekerasan pada remaja,
  2. penggunaan kata-kata yang memburuk,
  3. pengaruh peer group (rekan kelompok) yang kuat dalam tindak kekerasan,
  4. meningkatnya penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas,
  5. kaburnya batasan moral baik-buruk,
  6. menurunnya etos kerja,
  7. rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru,
  8. rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara,
  9. membudayanya ketidakjujuran, dan
  10. adanya saling curiga, saling tidak percaya, dan kebencian diantara sesama.

Proses pembelajaran akan memiliki efektivitas tinggi apabila menekankan pada pemberdayaan peserta didik, bukan sekedar memorisasi dan recall, bukan sekedar penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan (logos), akan tetapi menenkankan pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati (ethos) serta dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik (pathos).  Pembelajaran yang efektif juga lebih menekankan pada belajar mengetahui (learning to know), belajar bekerja (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar hidup bersama (learning live together) (Depdiknas, 2001).

Apabila dilihat dari empat pilar pendidikan tersebut, maka pilar-pilar pembentuk karakter berada pada learning to be dan learning to live together.  Dengan kedua pilar tersebut dan bersama dengan pengaruh lingkungan akan membentuk karakter peserta didik yang pada gilirannya akan membantu peserta didik dalam dua pilar lainnya yang berupa learning to know dan learning to do.

Apabila kita sandingkan antara pendidikan karakter dengan jiwa dan watak kewirausahaan, maka kita perlu memperhatikan sembilan pilar penting untuk pendidikan karakter.  Kesembilan pilar pendidikan karakter tersebut berupa:

  1. tanggung jawab (responsibility),
  2. rasa hormat (respect),
  3. keadilan (fairness),
  4. keberanian (coiurage),
  5. kejujuran (honesty),
  6. kewarganegaraan (citizenship),
  7. disiplin diri (self-dicipline),
  8. peduli (caring), dan
  9. ketekunan (perseverance) (Santoso, 2010).

Dengan memperhatikan sembilan pilar pendidikan karakter tersebut terlihat bahwa apa yang seharusnya dilakukan dalam pendidikan karakter sangat se jalan dengan ciri dan watak kewirausahaan.  Oleh karena itu, dengan melaksanakan pendekatan secara komprehensif tentang pendidikan karakter sebagaimana yang dikemukakan oleh Davidson, Lickona, dan Khmelkov akan mampu mendukung tumbuh dan berkembangnya ciri dan watak kewirausahaan.  Apabila pendidikan karakter dilaksanakan secara terus menerus baik melalui pendidikan formal, informal, dan nonformal maka akan mampu menumbuhkembangkan semangat dan jiwa kewirausahaan.  Suksesnya dalam pembentukan karakter peserta didik akan sangat berperan dalam pembentukan jiwa kewirausahaan.

Berbagai upaya yang dilakukan oleh bangsa tentu saja untuk meningkatkan daya saing bangsa.  Daya saing bangsa merupakan produktivitas yang didefinisikan sebagai output yang dihasilkan oleh tenaga manusia.  Oleh karena itu, Porter (1990) menyatakan ada 4 (empat) faktor yang mempengaruhi daya saing suatu bangsa:

Pertama, strategi, struktur, dan tingkat persaingan perusahaan, yaitu berkaitan dengan bagaimana unit-unit usaha dalam suatu negara terbentuk, diorganisasikan, dikelola, dan bagaimana tingkat persaingan dalam negeri;  Kedua, sumber daya yang tersedia pada suatu negara, yaitu sumber daya manusia, bahan baku, pengetahuan, modal, dan infrastruktur;  Ketiga, permintaan domestik, yaitu bagaimana kondisi permintaan dalam negeri terhadap produk atau layanan industri di negara tersebut; dan Keempat, keberadaan industri terkait dan pendukung, yaitu bagaimana keberadaan industri pemasok (industri pendukung) dan kemampuannya bersaing secara internasional.  Ketika perusahaan memiliki keunggulan kompetitif, maka industri-industri pendukungnya juga akan memiliki keunggulan kompetitif.

Berbicara tentang daya saing tentu saja yang diharapkan adalah daya saing yang memiliki keunggulan kompetitif.  Keunggulan kompetitif dapat memiliki dua makna, pertama kemampuan memenuhi kebutuhan diri sendiri (tidak tergantung kepada negara lain) yang disebut dengan istilah KEMANDIRIAN dan kedua kamampuan berkompetisi dalam memenuhi kebutuhan negara dan bangsa lain, yang disebut dengan istilah KEMANDRAGUNAAN.  KEMANDIRIAN membutuhkan pembangunan karakter anak bangsa dan KEMANDRAGUNAAN membutuhkan pengembangan sistem pendidikan (selain sistem kesehatan dan distribusi pendapatan nasional) yang mampu menghasilkan anak bangsa berkualitas tinggi (Suprobo, 2010).  Adanya tantangan global dan internal mengharuskan kita semua untuk lebih memperkuat jati diri, identitas dan karakter sebagai bangsa Indonesia.  Untuk dapat memperkuat jati diri bangsa Indonesia maka pendidikan berbasis karakter dengan segala dimensi dan variasinya menjadi penting dan mutlak. Karakter yang ingin kita bangun bukan hanya karakter berbasis kemuliaan diri semata, akan tetapi secara bersamaan membangun karakter kemuliaan sebagai bangsa. Karakter yang ingin kita bangun bukan hanya kesantunan, tetapi secara bersamaan kita bangun karakter yang mampu menumbuhkan kepenasaranan intelektual sebagai modal untuk membangun kreativitas dan daya inovasi.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa keunggulan bangsa akan menjadi puncak dari segala usaha dalam mencapai tujuan.  Suatu bangsa dalam mencapai tujuannya selalu mendayagunakan kompetensi orang-orangnya dan nilai unggul suatu bangsa yang dibentuk melalui keunikan dalam budaya sebagai jiwa dan watak kewirausahaan.  Daya saing bangsa atau keunggulan kompetitif bangsa dapat terujud apabila mayoritas penduduk telah memiliki dan mengaplikasikan jiwa dan watak kewirausahaan.  Untuk menumbuhkembangkan jiwa dan watak kewirausahaan dapat dilakukan melalui sembilan pilar pendidikan karakter.  Pembentukan karakter bangsa akan lebih efektif dengan menerapkan semboyan Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.

Sebagai akhir dari orasi ini perkenankanlah saya menyampaikan beberapaungkapan:

  1. Apabila kamu menghendaki orang-orang berbuat sesuatu kepadamu, maka berbuatlah seperti yang kamu kehendaki kepada mereka.
  2. Kita tidak pernah mengetahui seberapa besar cinta guru/dosen kepada kita sampai kita sendiri menjadi guru/dosen.
  3. Guru/dosen yang belum pernah dimusuhi oleh murid/mahasiswanya, menunjukkan dirinya belum pernah menjadi guru/dosen yang sesungguhnya.
  4. Janganlah mencoba membuat murid/mahasiswa Anda menjadi seperti Anda, cukuplah Anda satu saja (Degeng).

Selain orasi ini Anda dapat membuka makalah lain yang berkaitan dengan pendidikan karakter dan daya saing bangsa pada bagian Pendidikan Karakter, Kewirausahaan, dan Daya Saing ini.

3 thoughts on “Pendidikan Karakter

  1. Dalam materi akuntansi itu sendiri nilai kejujuran sangat tinggi sehingga tidak perlu mencari-cari nilai karakter yang harus dimasukkan. Materi akuntansi telah memberikan teladan dan nilai-nilai karakter yang sangat tinggi sehingga tidak perlu repot-repot lagi

    • mestinya tidak boleh dikosongkan, jadi harus diisi semua kolom yang ada. Untuk mengisi pada kolom nilai karakter bpk bisa menyalin dari kolom nilai karakter yang terdapat pada tabel analisis pemetaan sk dan kd. Sebenarnya cukup mudah. Saya lagi nulis kaitan antara tabel pemetaan dan tabel silabus dan klo udah akan saya upload di website.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>