Musikalitas Anak

Kemampuan Musik Anak (Musikalitas)

Pada dasarnya, setiap anak yang  lahir memiliki musikalitas yang beragam. Dalam bahasa yang lebih halus, musikalitas sering dipersepsikan sebagai bakat, kemampuan seseorang dalam bermusik atau kepekaan musikal. Banyak diantara kita sering mengklaim bahwa kita tidak memiliki bakat atau musikalitas. Pendapat ini sebetulnya tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Karena, bakat sesungguhnya adalah hasil dari kerja keras. Jadi, seseorang yang terlahir dengan pengetahuan musik, kepekaan yang kecil, bukan berarti ia tidak dapat menjadi seorang pemain musik profesional. Hal yang dibutuhkan untuk mendobrak tembok pemikiran tersbeut adalah dengan cara kerja keras, latihan dan konsisten.

 Hal-Hal Penting Dalam Belajar Musik

 Mengenali Potensi Anak

Hal ini merupakan hal pertama yang sering luput dari perhatian para orang tua. Berdasarkan kasus-kasus yang bayak ditemui, banyak alasan yang mendasari oarang tua memasukkan anaknya untuk kursus musik. Beberapa alasan tersebut diantaranya:

  1. Mengikuti jejak Ayah/Ibu; hal ini banyak ditemukan dikalangan musisiatau orang tua yang gagal menjadi seorang musisi. Keinginan tersebut biasanya ditumpahkan pada anak-anak sebagai obat penawar masa lalu mereka.
  2. Ingin sekedar bisa memainkan alat musik; beberapa orang tua tidak ingin anaknya menjadi seorang musisiatau serius di bidang musik, tetapi mereka ingin jika anak-anaknya minimal memiliki kemampuan bermusik.
  3. Sebagai pengisi waktu luang; beberapa orang tua khawatir anak-anak mereka menghabiskan waktu dan energi dengan hal-hal atau lingkungan negatif, oleh karena itu memasukkan anak-anak ke sekoalh musik(kursus) menjadi salah satu cara untuk mengalihkan perhatian mereka ke arah yang positif.
  4. Ingin anaknya berprestasi di bidang musik; kemampuan bermusik menjadi salah satu keterampilan yang cukup bergengsi di kalangan orang tua dan lingkungan sekolah. Dengan memasukkan anak-anak mereka ke sekolah musik, harapannya sang anak akan mendapatkan prestasi yang bisa dibanggakan.
  5. Tempat penitipan anak; terdengar menyeramkan, tetapi tanpa disadari beberapa orang tua yang memiliki kesibukan tingkat tinggi secara tidak langsung telah menjadikan tempat kursusmenjadi lembaga penitipan anak. Beberapa fakta yang banyak ditemui, hampir sebagian besar anak-anak yang berasal dari keluarga berkecukupan diantar oleh supir atau pengasuhnya.

Banyak orang tua yang mendaftarkan anak-anak mereka untuk sekolah musik memiliki latarbelakang yang hampir serupa dengan fakta-fakta yang disebutkan di atas. Padahal, dengan mengenali potensi anak terlebih dahulu, orang tua dapat mempersiapkan keahlian apa yang ingin digali oleh anak, apakah bermain musik atau justru menari atau bakat-bakat lain.

Memilih Guru Yang Tepat

Guru adalah orang yang paling berpengaruh dalam membentuk seorang anak dalam belajar musik, sayangnya, banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa selektif dalam memilih guru yang tepat menjadi salah satu faktor penentu kemajuan seorang anak dalam belajar musik. Guru yang baik adalah guru yang dapat mengenali potensi anak, memilih metode yang sesuai, memiliki pendekatan yang baik, memiliki banyak cara jitu dalam mengajarkan musik dengan cara yang benar dan nyaman. Guru musik yang baik juga harus bisa memainkan alat musik dengan baik, berbicara yang baik (tidak menyakitkan/kasar), mampu memotivasi dan menjadi pendamping yang setia dalam mengajarkan musik pada anak-anak. Di Australia, guru musik sesialis dengan guru musik umum dipisahkan (Bartle, 1968; Pascoe et al., 2005). Guru yang baik adalah guru yang menguasai spesialisasi alat dan musik tertentu (de Vries, 2011; Hash, 2010; Saunders & Baker, 1991).

Memiliki Alat Musik

Berdasarkan fakta yang ditemui, masih ada beberapa orang tua yang memilih untuk mendaftarkan anaknya terlebih dahulu ke sekolah musik tanpa memiliki alat musik terlebih dahulu di rumahnya. Alasan yang sering ditemukan adalah mereka (orang tua) ingin melihat terlebih dahulu bakat anaknya, sejauh mana perkembangan anaknya selama 1-2 bulan, kemudian mereka (orang tua) mau membelikan anak-anak mereka alat musik. Pendapat seperti ini sangat keliru, karena, pertama: belajar musik memerlukan waktu khusus untuk berlatih di rumah untuk mempelajari kembali, meperlancar dan memantapkan materi yang telah diberikan di tempat kursus. Karena, waktu yang mereka (anak) dapatkan saat di tempat kursus sangat terbatas. Tidaklah mungkin dengan waktu yang sangat terbatas tersebut, anak dapat menguasai materi, apalagi jika proses latihan hanya dilakukan seminggu sekali. Kedua: prinsip utama belajar musik adalah berlatih melalui “pengulangan”. Tanpa alat musik di rumah, sulit untuk melakukan latihan pengulangan. Jadi, mengharapkan anak anda mahir dan berkembang memainkan alat musik dalam 1 bulan tanpa memiliki alat musik adalah sesuatu yang mustahil tanpa memiliki alat musik.

Sebelum memutuskan untuk membeli sebuah alat musik, ada beberapa hal yang sebaiknya anda pertimbangkan sebagai berikut.

  1. Memilih toko/agen/distributor alat musikyang terpercaya; sebaiknya hindari pembelian alat musik secara daring (online)
  2. Memeriksa presisi dan detail alat musik(jika anda mengunjungi showroom/toko)
  3. Pastikan alat musikmemiliki garansi
  4. Sesuaikan harga alat musikdengan kemampuan anak; jangan membeli alat musik yang terlalu murah (murahan) karena berhubungan dengan kenyamanan anak saat digunakan
  5. Pastikan sparepart alat musiktidak sulit ditemukan
  6. Sesuaikan ukuran alat musikdengan postur tubuh anak anda; biasanya beberapa alat musik dibuat khusus untuk ukuran tubuh anak-anak, misalnya: drum, gitar, violin, cello, bas dan lain-lain.

Motivasi Anak

Motivasi anak merupakan hal yang cukup penting dimiliki oleh seorang anak dalam mempelajari sebuah alat musik. Karena banyak diantara anak-anak yang saat ini bersekolah di lembaga kursus hanya menghabiskan waktu mereka untuk datang ke lokasi tanpa mengalami kemajuan yang berarti. Motivasi dapat dilakukan dalam beberapa cara, misalnya jika anda memiliki lebih dari dua orang anak, anda dapat mendaftarkan anak-anak anda dalam satu waktu, dengan melakukan kegiatan belajar bersama-sama, terkadang akan menimbulkan semangat belajar bagi anak-anak. Contoh lain misalnya dengan mengajak anak-anak anda menyaksikan konser musik  (baik secara “live” atau hanya lewat “youtube”) yang diperagakan oleh anak-anak juga. Dengan melihat anak-anak seumurannya mahir bermain alat musik, dapat juga membangkitkan keinginan untuk belajar musik sejak dini.

Pendampingan Orang Tua

Beberapa orang tua berpikir jika dengan memasukkan anak-anak mereka ke tempat kursus maka tugas mereka selesai. Pandangan seperti ini tidaklah tepat, karena saat di tempat kursus sang gurulah yang mendampingi anak-anak belajar, sementara di rumah sang guru tidak mungkin sepenuhnya mengawasi. Maka peran orang  tua cukup besar dalam mendapingi dan mengawasi anak-anak belajar dan berlatih musik di rumah. Karena tidak setiap anak memiliki motivasi yang kuat dan semangat belajar yang tinggi. Untuk beberapa kasus, sedikit memaksakan latihan bagi anak-anak cukup efektif, tetapi tidak selamanya cara ini bisa dipakai.

Menyediakan Waktu Khusus Berlatih

Belajar musik membutuhkan komitmen. Komitmen yang dimaksud adalah dalam berlatih setiap hari. Jika proses latihan hanya dilakukan saat berada di tempat kursus yang terjadi hanya seminggu sekali, maka bisa dipastikan akan sangat sulit untuk dapat mengembangkan kemampuan musik. Menyediakan waktu di sela-sela kesibukan anak-anak yang saat ini begitu menyita waktu adalah cara terbaik yang mungkin bisa dilakukan. Full day school, kursus karate, balet, bimbel dan kesibukan-kesibukan semacam ini mengisi hari-hari anak-anak anda saat ini. Sehingga, menyisihkan waktu untuk belajar musik merupakan langkah yang wajib dilakukan agar pembelajaran musik anak-anak dapat membuahkan hasil maksimal.

Memiliki Target

Dalam melakukan hal apapun perlu memiliki target, tidak terkecuali belajar musik. Tanpa memiliki target yang jelas, sulit untuk memotivasi diri untuk terus berlatih. Jika anda andalah orang tua dari anak-anak anda, maka anda perlu menargetkan pencapaian kemampuan anak-anak anda dalam satu kurun waktu, misalnya anak harus bisa memainkan sebuah lagu sederhana menggunakan piano dalam waktu 5 bulan. Setelah memiliki target, tentu akan mudah menentukan berapa porsi latihan yang dibutuhkan untuk mencapai target tersebut.

Memberikan Semangat

Semangat merupakan hal-hal yang mampu membangkitkan keinginan anak untuk berlatih dan terus berkembang untuk mencapai target. Beberapa orang tua kerap melupakan hal ini. Kesibukan yang tinggi dan komunikasi yang kurang menyebabkan anak-anak kurang bersemangat dalam belajar musik.

Berikan Pilihan

Terkadang, saat para orang tua mendaftarkan anak-anak mereka ke sebuah lembaga kursus, anak-anak tidak diberikan ruang untuk memilih alat musik apa yang ia sukai. Apakah anak tertarik belajar drum? Atau sebenarnya ia lebih tertarik belajar piano? Sebaiknya memulai belajar dari apa yang anak-anak sukai, sehingga mereka (anak) lebih termotivasi untuk mempelajari alat musik tersebut.

 

Sumber:

Hidayatullah, R. (2019). Pendidikan musik: Pendekatan musik untuk anak di era 4.0. Padang: Penerbit Erka.

About riyanhidayat 106 Articles
Musician, Music Instructor, Art Researcher, Lecturer