Diskusi Singkat Tentang “Teori Konflik” dalam Sebuah Lembaga

Teori konflik merupakan rekasi atas teori fungsional struktural. Teori yang perkenalkan oleh Ralf Dahrendorf ini memandang bahwa kehidupan sosial dalam sebuah masyarakat selalu berubah dan terjadi sebuah pertentangan.  Teori ini dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx dan menganggap kehidupan sosial masyarakat selalu diikuti oleh pertikaian sosial. Masyarakat juga memiliki peran dalam menciptakan disintegrasi dalam sebuah struktur sosial. Otoritas yang menggunakan wewenang dan kekuasaan juga menjadi faktor utama yang memicu sebuah konflik. Otoritas tidak melekat dalam diri seseorang, tetapi dalam sebuah posisi. Seseorang yang menduduki sebuah jabatan, misalnya, akan cenderung menggunakan wewenangnya untuk memaksa masyarakat yang dipimpin untuk memenuhi kemauannya. Keteraturan yang diciptakan oleh wewenang dan kekuasaan bersifat semu bagi sebagian masyarakat yang menentang posisi kekuasaan.

Kekuasaan mengandung dua unsur, yakni penguasa dan orang yang dikuasai. Dalam konteks kelembagan ada atasan dan bawahan. Kelompok-kelompok ini lahir dari bebagai latar belakang. Ada kelompok yang memiliki kepentingan yang sama, umumnya adalah penguasa. Kelompok ini dinamakan kelompok semu (quasi group). Ada kelompok yang memiliki penetingan tetapi tidak menyadari keberadaannya (manifes). Interaksi yang terjadi antar dua kelompok ini akan melahirkan kelompok konflik. Inilah yang memicu lahirnya dua kelompok besar (atasan dan bawahan). Kedua kelompok memiliki kepentingan berbeda tetapi juga memiliki kepentingan yang sama (Dahrendorf, 1959). Kelompok yang berkuasa berusaha untuk mempertahankan “status quo”, sedangkan kelompok yang dikuasai menginginkan adanya perubahan untuk kehidupan yang lebih baik.

Dalam artikel yang ditulis Kompasiana (2016) terdapat konflik antara perusahaan dan buruh yang bekerja di PT. Gudang Garam. Perusahaan adalah kelompok penguasa yang memiliki wewenang, sedangkan buruh adalah kaum yang dikuasai. Buruh bekerja sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh perusahaan. Mereka tidak diberikan kesempatan untuk ikut membuat kebijakan perusahaan. Konflik dipicu oleh keinginan para buruh untuk dilakukan perubahan dalam beberapa kebijaka perusahaan, sementara perusahaan tetap mempertahankan status dankebijakannya. Para buruh terjebak dalam relasi dominatif dan berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak, ini adalah fakta sosialnya. Selanjutnya, artikel yang ditulis oleh Sandi (2020) dalam CNBC Indonesia menyebutkan bahwa PHK atau merumahkan karyawan merupakan langkah yang perlu diambil pada masa pandemi korona. Hal ini dipicu oleh biaya operasional yang perlu dipertahankan, sementara pendapatan perusahaan menurun. Jika tidak terjadi efisiensi maka perusahaan akan mengalami kebangkrutan. Fakta sosialnya perusahaan dan buruh sama-sama ingin mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Atasan dirasa perlu melakukan tindakan-tindakan yang mungkin dapat merugikan bawahan karena satu kepentingan, yakni bertahan.

Dari kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa konflik terjadi karena dua faktor, yakni: (1) komunikasi yang kurang baik antar dua pihak, atasan dan bawahan; (2) struktur atau kebijakan kelembagaan yang bermasalah. “Kekuasaan selalu memisahkan dengan tegas antara yang menguasai dan yang dikuasai, oleh karena itu dalam masyarakat selalu terdapat dua golongan yang saling bertentangan” (Wadiyo, 2006). Buruh sebagai masyarakat kelas bawah tidak memiliki pilihan atas kondisi yang terjadi, karena keputusan yang dikeluarkan merupakan keputusan sepihak dan bawahan dipaksa untuk mematuhi.

Referensi

Dahrendorf, R. (1959). Class and class conflict in industrial society. Stanford University Press.

Kompasiana. (2016, December 18). Regulasi Pemerintah Tak Bersahabat, PT Gudang Garam Lakukan PHK Besar-Besaran—Kompasiana.com [News Portal]. https://www.kompasiana.com/margaretta30/585686f0a2afbd5d0b7ceb80/regulasi-pemerintah-tak-bersahabat-pt-gudang-garam-lakukan-phk-besarbesaran

Sandi, F. (2020, April 9). Buru-Buru rumahkan atau PHK karyawan, Ini alasan pengusaha [News Portal]. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20200409173802-4-150975/buru-buru-rumahkan-atau-phk-karyawan-ini-alasan-pengusaha

Wadiyo. (2006). Seni sebagai Sarana Interaksi Sosial (Art as a Tool of Social Interactions). Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 7(2), 58–66. https://doi.org/10.15294/harmonia.v7i2.771

About riyanhidayat 106 Articles
Musician, Music Instructor, Art Researcher, Lecturer