December 4, 2022

Guru musik adalah pusat pendidikan musik yang bertugas mengatur pembelajaran untuk mencapai tujuan musik tertentu. Walaupun terlihat sederhana, profesi guru musik masih bisa diklasifikasikan lagi menjadi beberapa jenis, diantaranya: guru musik umum ( di sekolah formal), guru spesialis instrumen (alat musik), dan instruktur atau dirijen paduan suara. Keberagaman profesi guru musik itu menyesuaikan dengan kondisi kebijakan ekonomi dan politik, konteks sosial, dan budaya di berbagai negara. Alumni sekolah musik atau guru musik yang terampil memainkan instrumen dan aransemen biasanya dipekerjakan di studio atau perusahaan musik. Sejauh perkembangan teknologi saat ini, beberapa diantaranya mampu membangun studio rekaman kecil di rumahnya masing-masing. Guru musik atau lebih tepatnya dikatakan sebagai musisi ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menciptakan lagu atau membuat komposisi. Di samping itu, keterampilan bermain instrumen musik selalu menjadi tuntutan utama. Profesi musik pada level ini tidak membutuhkan keterampilan pedagogi, alasannya sederhana, karena memang jarang digunakan.

Kondisi berbeda terdapat pada sekolah, setiap profesi guru musik dituntut memiliki ijazah pendidikan musik formal. Itu merupakan peraturan pemerintah yang mewajibkan setiap tenaga pendidik memiliki kualifikasi sebagai seorang guru. Tentu saja bukan hanya kemampuan bermain musik dan menguasai teori musik, tetapi kompetensi mengajar dan pengalaman mengelola kelas yang diutamakan. Di beberapa negara, aturan ini menyesuaikan level satuan pendidikan. Misalnya, guru SMA diwajibkan memiliki ijazah S1 pendidikan musik, sedangkan guru SD dan SMP cukup pada level D1-D3. Pengelompokan itu hanya sebagai analogi untuk menjelaskan kategori-kategorinya.

Di Afrika tidak semua perguruan tinggi menawarkan program S1 musik, umumnya hanya universita negeri yang menawarkan program pendidikan musik yang lengkap. Di Asia, progrma pendidikan musik disediakan oleh pemerintan melalui universitas dan institusi. Misalnya, di Malaysia dan Tiongkok para guru musik lulusan Sekolah Menengah diberikan program musik tanpa gelar selama tiga tahun. Lembaga yang memberikan diantaranya: Universitas Negeri, sekolah formal, dan konservatori. Di Jepang, Filipina, Korea, dan Singapura program pendidikan musik ditawarkan oleh universitas-universitas pendidikan dan universitas biasa. Program yang ditawarkan S1 selama empat tahun dan pascasarjana. Para mahasiswa yang berada di wilayah program tersebut diwajibkan untuk terjun ke lapangan dan mengajar musik. Di Malaysia dan Singapura para mahasiswa program pendidikan musik dipilih oleh pemerintah dan mendapat gaji selama menjalani pendidikan. Di Filipina, mahasiswa program pendidikan musik masih membutuhkan lisensi atau sertifikasi guru agar dapat mengajar.

Setelah reformasi pendidikan di Eropa, konservatori juga telah memberikan program pendidikan musik. Perubahan ini dimulai sekitar tahun 2000 hingga sekarang. Program pendidikan musik berkisar 3-6 tahun. Kurikulum di dalamnya memuat aspek pedagogi lebih besar. setiap mahasiswa diwajibkan untuk praktik mengajar di sekolah dan megikuti ujian sertifikasi selama 3-4 bulan. Di Kanada, sebelum memasuki perguruan tinggi pelatihan atau kursus diberikan sebagai pembekalan teori musik. Pelatihan untuk calon guru musik diberikan oleh universitas, pemerintah provinsi, asosiasi dan dewan sekolah. Seluruhnya mendukung dan memberi sponsor dalam berbagai bentuk. Sertifikasi juga ditawarkan sebagai bekal mengajar musik.

Di Australia, program pendidikan musik tersedia untuk jenjnag S1 dan Pascasarjana. Para mahasiswa atau calon guru musik ini harus melakukan praktik mengajar sekitar 40-80 hari di sekolah. Jika mereka lulus maka memenuhi syarat untuk mengikuti tes sebagai guru musik di sekolah. Selain oleh universitas yang bersangkutan, program pengembangan keahlian mengajar musik ditawarkan oleh lembaga-lembaga swasta. Selanjutnya di Selandia Baru, setelah meraih gelar sarjana musik selama empat tahun dan melakukan praktik mengajar di sekolah, maka mereka layak untuk menjadi tenaga pengajar musik di sekolah.

Kurikulum pendidikan musik masih dihadapkan pada dikotomi klasik. Mazhab pertama menganggap bahwa pengetahuan teori musik dan keterampilan bermain alat musik adalah faktor penentu keberhasilan pembelajaran musik. Mazhab kedua, adalah mereka yang percaya bahwa kemampuan pedagogis yang menentukan hasil belajar musik. Pandang lain berusaha menarik konklusi guru atau seorang instruktur musik sebaiknya juga melakukan penelitian. Selain itu mereka harus selalu berlatih keterampilan dasar mengajar agar teori yang disampaikan dapat ditangkap oleh setiap siswa-siswanya. Guru musik harus tetap menerapkan kaidah-kaidah ilmiah dalam mengembangkan ilmu pengajaran musik. Jika seorang guru musik gemar untuk membiasakan melakukan riset dan mengasah kompetensinya dalam mengajar, bisa dipastikan pendidikan musik di Indonesia akan maju dengan pesat.

Di Indonesia, istilah musik masih terbelenggu dengan kata “seni”, oleh karena itu muncul istilah “seni musik”. Maksudnya adalah musik sebagai bagian dari seni, pernyataan itu tidak sepenuhnya salah. Tetapi pada dimensi tertentu, seni tidak selalu berhubungan dengan musik, begitupun sebaliknya. Itulah sebabnya, dalam kurikulum musik Barat tidak ada istilah “art music = seni musik” tetapi cukup dengan penyebutan “music” (musik). Dalam konteks kurikulum, materi musik di sekolah juga digabungkan dengan tari, seni rupa, dan teater. Materi-materi tersebut diajarkan dan dipelajari dalam satu semester. Porsi materi musik dalam skema kurikulum sekolah terbilang masing sangat kurang.

Seorang guru musik perlu mempeluas pengetahuannya dalam konteks kesenian. Guru musik di sekolah—terkadang harus menghadapi persoalan yang dilematis, antara mengajarkan musik yang merupakan bidang keahliannya dan materi-materi seni lain, seperti seni rupa, teater, dan tari. Para guru ini seolah tidak punya pilihan dan belajar hal-hal baru di sekolah tempat mereka bertugas. Pada akhirnya mereka (guru) mengikuti alur atau kerangka materi yang terdapat dalam buku-buku paket di sekolah.

Materi musik yang dikaitkan dengan era disrupsi dan munculnya berbagai media baru. Porsi layanan pendidikan musik perlu ditambah agar terus berkembang. Kolaborasi dalam bekerja perlu dipromosikan agar kerangka kerja siswa dalam belajar musik terbentuk. Kurikulum musik lintas disiplin akan menjadi wacana musik pendidikan selanjutnya. Perubahan iklim pendidikan mulai memaksa pelaku musik untuk merubah cara-cara lama dalam belajar. Banyak hal yang akan ter-disrupsi, mulai dari cara pandang guru-siswa, media pembelajaran, metode, lingkungan belajar, dan masih banyak lagi. Semakin dilematis persoalan, maka semakin membuka celah untuk memunculkan wacana baru pendidikan musik.

Instruktur musik adalah seorang pengajar dengan kemampuan yang spesifik, sementara label guru musik kebalikannya. Keterbatasan kemampuan mengasai alat musik memaksa guru musik untuk dapat berkolaborasi dalam memberikan materi pelajaran. Misalnya ketika mereka diminta untuk mengajarkan kelas ansambel gitar, sementara sang guru hanya memiliki spesialisasi pada instrumen keyboard atau piano. Pengalaman kolaboratif ini berangkat dari sebuah kerangka pemikiran interdisiplin. Pengalaman belajar kolaboratif dalam mata pelajaran musik justru memberikan banyak keuntungan dalam memperluas jaringan, meingkatkan kerja sama, mempelajari satu sama lain, dan menghargai setiap kemampuan individu.

Pemahaman budaya dalam pendidikan musik juga salah satu hal yang tidak terpisahkan. Kita mungkin masih belum bisa keluar sepenuhnya dari pengaruh kolonialisme pada abad ke-19, yakni dominasi budaya musik Barat. Ironisnya, musik Barat telah masuk ke berbagai kurikulum sekolah di dunia. Sehingga ketika membicarakan istilah “teori musik”, pemikiran setiap orang selalu terkondisikan dengan gramatika musik Barat. Padahal, studi tentang “world music” juga membuka wacana berpikir yang orisinil dari setiap daerah. Disiplin etnomusikologi misalnya, memberikan peluang untuk mendudukan persoalan pedagogis dalam setiap masyarakat etnis.

Pengalaman belajar musik di sekolah seharusnya lebih menekankan pada aspek lokal. Melalui musik tradisional—pengalaman musikal, seperti mendengarkan, menganalisis, memahami musik secara teks dan konteks adalah hal yang sangat berharga. Guru musik juga akan menyesuaikan kemampuan yang mengarahkan pada pengetahuan, keterampilan, dan mengelola siswa dalam keberagaman budaya.