Metode Pembelajaran Musik Tradisional Dalam Perspektif Pedagogi

 

Tulisan ini berusahan meneruskan kegelisahan saya tentang topik metode pembelajaran musik tradisional yang Sebagian besar berlangsung di masyarakat. Saya tertarik untuk melihat fenomena pembelajaran dan pengajaran musik yang berbasis kelokalan itu dalam kacamata pedagogi. Selama ini pendidikan musik atau pembelajaran musik terus didiskusikan dan dikembangkan dalam berbagai perspektif. Tujuannya untuk mendapatkan gambaran besar tentang apa sesungguhnya pendidikan musik itu sendiri? Apakah pendidikan musik itu hanya berlaku untuk kalangan masyarakat akademik, atau bisa berlaku di berbagai latar sosial? Lalu, bagaimana menjelaskan struktur dan proses terjadinya pembelajaran musik di luar lingkungan lembaga formal? Jika kegelisahan itu dilanjutkan akan muncul ribuan pertanyaan tentang pendidikan musik. Dalam artikel ini saya ingin lebih fokus menyoroti tentang pendidikan musik berbasis kelokalan atau yang berlaku di masyarakat, atau dengan kata lain, pendidikan musik jenis ini terjadi secara informal di luar kebiasaan umum kalangan akademisi (music scholar).

Jika dikomparasi antara masyarakat “melek musik” atau terdidik secara akademik dengan mereka yang tidak, tentu jumlahnya lebih banyak golongan yang pertama. Karena musik miliki semua orang dan berlangsung di dalam kebudayaan apa saja. Di luar lingkungan akademik, lebih banyak orang menguasai musik secara otodidak atau melalui metode pengajaran musik tradisional yang berlangsung secara turun-temurun. Misalnya, di lingkungan keraton Yogyakarta maupun di Solo, pewarisan musik gamelan tentu lebih banyak dilakukan menggunakan metode lisan, demonstrasi, dan pengulangan. Dalam menyampaikan menggunakan Bahasa Jawa, serta menggunakan simbol-simbol lokal (jika itu dituliskan). Pembelajaran musik tradisional semacam ini jelas berbeda dengan konsep pembelajaran di lingkungan sekolah musik formal. Terlebih lagi, teori-teori musik yang banyak digunakan dilembaga musik formal saat ini lebih banyak mengadaptasi kultur musik Barat. Kenyataannya—meskipun masyarakat lokal mewariskan musik dengan metodenya sendiri, eksistensi musik tradisional atau musik lokal tetap bertahan hingga sekarang. Artinya, metode yang diterapkan selama ini cukup efektif karena didukung berbagai eviden di lapangan. Di sisi lain, muncul juga sebuah dikotomi klasik yang membedakan antara kelompok masyarakat belabel “musisi profesional” dan “musisi otodidak/ non-akademis.” Disadari atau tidak, cara pandang skolastik pendidikan musik di Indonesia selama ini memang masih berkiblat pada teori-teori musik Barat. Hal ini kemudian menyebabkan munculnya kompleksitas dan konsekuensi akademik, termasuk dalam memandang musik. Ada Sebagian kalangan musisi profesional-akademis menganggap bahwa cara merekalah yang lebih mapan dan pantas untuk dilegitimasi sebagai sebuah metodologi. Pada akhirnya ini menimbulkan efek buruk, salah satunya dalam memandang masyarakat musik non-akademis; mereka dianggap primitif, belum mapan, tertinggal, serta jauh dari peradaban modern. Pandangan inilah yang kemudian coba diluruskan oleh pakar-pakar pendidikan musik dunia. Tujuannya untuk menyejajarkan posisi pendidikan musik di wilayah formal, non-formal, dan informal.

Jika ingin ditarik sedikit ke belakang, sistem pendidikan yang berlaku umum sekarang masih mewariskan prinsip-prinsip skolatikisme, yakni sebuah sebutan umum filsafat idealis abad pertengahan. Filsafat ini membangun sistem filosofis bukan pada analisis realitas, tetapi pada dogma-dogma Gereja (Filsafat, Sejarah). Ini mengakibatkan pengetahuan terputus dari kehidupan dan praktik, yang didasarkan pada pertimbangan formal, tidak diverifikasi oleh pengalaman, berfilsafat, dogmatisme, ketepatan waktu. Filasaf ini kemudian berkembang menjadi sebuah metode; sifatnya tidak berhubungan dengan persepsi manusia dan didasarkan pada penghafalan informasi abstrak dan aturan teoretis tanpa berpikir. Akibatnya, hanya siswa yang paling berbakat menjadi mahir membaca dan menulis. Sekitar abad ke-16, temuan teoretis mulai menggunakan konfirmasi praktis. Inilah yang kemudian men-disrupsi lanskap pedagogi di abad-abad selanjutnya. Saat ini, di sebagian besar negara di dunia, kurikulum untuk pengajaran dapat dengan aman digunakan sebagai ilustrasi dalam buku teks pedagogi ilmiah. Pada tahun 1631 seorang pakar pedagogi Bernama John Amos Comenius ilmiah menciptakan buku berjudul  ‘The Gate of Tongues Unlocked.’ Ini merupakan buku teks pertama yang pertama yang menyertakan gambar dan digunakan untuk pembelajaran. Comenius menganggap pedagogi sebagai ilmu, daripada filsafat, karena individu adalah fondasinya, bukan argumentasi skolastik. Comenius adalah pedagog pertama dalam sejarah didaktik. Dia menekankan perlunya pembelajaran dipandu oleh prinsip-prinsip dalam mengajar, sekaligus memberikan wawasan tentang isi dari dasar-dasar metodologi pembelajaran. Singkatnya, Comenius menjadi salah satu pelopor penggunaan buku teks untuk pengajaran dalam konteks pedagogi ilmiah.

Dalam perspektif pedagogi, praktik pembelajaran dan pengajaran musik di masyarakat dapat diidentifikasi secara saintifik, bahkan dijelaskan began, bagian, hingga sintaks-nya. Misalnya, konsep pembelajaran musik secara lisan atau oral, yang umumnya banyak terjadi di dalam struktur masyarakat lokal. Dalam sebuah praktik pengajaran oral saja, banyak hal yang bisa diuraikan, mulai dari penggunaan istilah lokal, bagaimana proses pembelajaran itu berlangsung, bagaimana pemahaman pengetahuan musik dalam konteks lokal, teknik pembelajaran yang digunakan, media, bagaimana pengetahuan musik dibentuk melalui lingkungan, dan sebagainya. Pengalaman belajar dan pemaknaan pengetahuan musik masyarakat lokal juga menjadi pertimbangan logis dalam menguraikan aspek pedagogi. Dengan begitu, pembelajaran musik dalam konteks kearifan lokal juga memiliki substansi dan bisa dirasionalisasikan ke dalam bentuk kurikulum.

Praktik dan eksistensi musik tradisional tidak mungkin berkelanjutan tanpa adanya unsur pedagogi dalam sistem pewarisannya. Untuk mengungkap bagaimana praktik sosial-pedagogi itu berlangsung merupakan tugas para peneliti musik. Jika memang konsep pembelajaran musik tradisional itu dinilai lebih pragmatis dan memiliki kecepatan penyebaran yang lebih dominan, maka konsep-konsep pengajaran musik tradisional yang menggunakan strategi pengajaran informal itu sebetulnya bisa juga diterapkan dalam pendidikan formal. Persoalannya kemudian bagaimana Menyusun kurikulumnya secara khusus agar dapat dipahami dan digunakan dalam Bahasa akademis.

 

 

About riyanhidayat 106 Articles
Musician, Music Instructor, Art Researcher, Lecturer