PEMBELAJARAN

PARADIGMA BARU PEMBELAJARAN KIMIA

Pada dasarnya belajar kimia, sesuai dengan karakteristiknya, harus dimulai dari mengerjakan masalah yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Melalui menyelesaikan masalah dalam kehidupan yang nyata dengan menerapkan pengtetahuan kimia, peserta didik diharapkan dapat membangun pengertian dan pemahaman konsep kimia lebih bermakna. Karena mereka membentuk sendiri struktur pengetahuan konsep kimia melalui bantuan atau bimbingan guru. Pembentukan pemahaman kimia melalui pengerjaan masalah yang nyata akan memberikan siswa beberapa keuntungan. Pertama, pelajar dapat lebih memahami adanya hubungan yang erat antara kimia dan situasi, kondisi, dan kejadian di lingkungan sekitarnya. Kedua, pelajar terampil menyelesaikan masalah secara mandiri dengan menggunakan kemampuan berpikir sains yang ada dalam dirinya (analisis, nalar, logika, dan ilmu). Dalam hal ini pengembangan “Learning for living” dan “Life skill” mendapat porsi yang sebenarnya. Ketiga, pelajar membangun pemahaman pengetahuan kimia secara mandiri sehingga menumbuh-kembangkan rasa percaya diri yang proporsional dalam berpikir kimia. Hal ini berimplikasi terhadap suasana pembelajaran kimia menjadi kondusif dan menyenangkan.

Fokus studi pengembangan pendekatan belajar dan mengajar kimia seharusnya lebih ditekankan pada tiga level representasi yaitu: makroskopik, submikroskopik dan simbolik. Dalam hal ini, pemahaman seseorang terhadap kimia ditentukan oleh kemampuannya mentransfer dan menghubungkan antara fenomena makroskopik, submiskroskopik, dan simbolik. Upaya Pemecahan masalah kimia sebagai salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi hanya dapat dilakukan melalui penggunaan kemampuan representasi secara ganda (multiple) atau kemampuan siswa ‘bergerak’ dari satu modus representasi ke modus representasi kimia yang lain. Dalam pemecahan masalah kimia, sebenarnya kunci pokoknya adalah pada kemampuan merepresentasikan fenomena kimia pada level submikroskopik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakmampuan pelajar dalam merepresentasikan fenomena kimia pada level submikroskopik ternyata dapat menghambat kemampuan dalam memecahkan masalah-masalah kimia yang berkaitan dengan fenomena baik makroskopik maupun simbolik (Kozma &Rusell, 2005; dan Chandrasegaran, Treagust & Mocerino, 2007). Namun kenyataannya, berbagai hasil penelitian juga menunjukkan bahwa umumnya pelajar bahkan pada pelajar yang performansnya bagus dalam ujian mengalami kesulitan dalam ilmu kimia akibat ketidak mampuan memvisualisasikan struktur dan proses pada level submikroskopik dan tidak mampu menghubungkannya dengan level representasi kimia yang lain (Treagust, 2008).
Oleh sebab itu, pengembangan model pembelajaran kimia dengan melibatkan ketiga level fenomena kimia yang dapat membangun model mental dan keterampilan berfikir tingkat tinggi siswa perlu dilakukan, terutama dalam menyambut kurikulum 2013. Model pembelajaran telah dikembangkan oleh Sunyono (2012) dengan melibatkan tahapan imajinasi untukmembelajarkan kimia, yang dinamakan model pembelajaran SiMaYang.

1. Model Pembelajaran Multipel Representasi Kimia (SiMaYang)
2. Kajian terhadap Draf Kurikulum 2013
3. Posisi Model Pembelajaran SiMaYang (Berbasis Multipel Representasi) terhadap Kurikulum 2013

2 Responses to “PEMBELAJARAN”

Leave a Reply

*