Ilmiah (metodologi, sistimatik, analitik dan objective)

Setiap kalimat harus dilihat dari sudut yang mengucapkan. ‘atos’ kalau orang sunda yang mengucapkan artinya ‘sudah’, tapi kalau orang jawa artinya ‘keras’. Karena AQ rancangan/konsep dari Allah sehingga pengertian juga harus menurut Allah. AQ ucapan Ku selanjutnya penjelasannya juga harus menurut Aku (innaha kalimatun huwa qaa ‘iluhaa) dan ditegaskan (stuma inaa ‘alaynaa bayaanahu). Sesungguhnya setiap kalimat itu harus dilihat siapa yang ngomongnya kemudian menurut yang ngomonglah penjelasannya. Ayat2 AQ adalah rangkaian keterangan2 ilmiah maka untuk memahami mencakup teori: {metodologi, sistimatik, analitik dan objective} tentu bahasa juga jangan dilupakan karena alat untuk menyampaikan makna. Exp. Mobil milik dekan lebih baik dari milik kaprodi ==> ini bagian analitika dan objektivitas, kalimat logika ‘lebih baik dari’ matematika menggunakan lambang ‘>’ lebih besar dari atau lebih dari, objek bendanya mobil (ingan jangan sampai terjadi mobil dekan dibandingkan dengan kambing kaprodi itu tidak objective atau kambing dekan dibanding mobil kaprodi). Jadi AQ adalah rancangan/konsep maka kalau mau dibandingkan ya dengan sejenisnya yakni karya rancangan/konsep yang selain AQ, biasanya para ahli pikir/ahli kitab/professor memiliki kemampuan membuat kitab/bukuteks/modul/jurnal. Maka ketika ayat “lailatul qadri khayrum min alfi syahrin” ini bagian analitik kalimat logikanya lebih baik dari dan objek yang dibandingkan adalah rancangan/konsep, maka agar objective lawan pembandingnya juga harus berupa rancangan/konsep yang dibuat oleh konseptor siapapun juga (ahli kitab/pengarang, prof, perancang uu). Tentu perlu bahasa sebagai alat untuk menyampaikan makna sehingga ayat tadi bermakna “malam perancangan/konsepsi (AQ yg diturunkn pada abad 7) lebih baik dari karya kitab/bukuteks/modul/jurnal/peraturan2uu hasil para konseptor/professor/ahli kitab yang telah bekerja menghabiskan waktu 83,4 tahun atau 1000 bulan. Kita masih prihatin dalam menanggapi makna ayat tersebut sehingga detik demi detik sekelompok masyarakat terjebak menunggu untuk mendapatkan 1000 bulan kebaikan untuk menghapus dosa bahkan marathon agar khatam berharap malaikat pembawa AQ turun kembali ke bumi); Jadi para pemirsa yang budiman AQ sudah turun komplit pada abad ke-7, permasalahan sekarang adalah mencoba memahami/memaknai AQ yg sudah di depan mata melalui studi/utlu/iqra secara pribadi, kalau mampu ajak keluarga. Sekecil apapun semua berbalik kepada diri kita atau sudut pandang akan berbalik pada diri anda pribadi, jangan menyalahkan orang lain, ketika anda berasumsi dengan ‘hanya cukup percaya AQ kitab suci’ maka anda dijegal tidak perlu setudi/utlu/iqra.

One thought on “Ilmiah (metodologi, sistimatik, analitik dan objective)

Comments are closed.