{"id":494,"date":"2025-04-26T22:33:58","date_gmt":"2025-04-26T15:33:58","guid":{"rendered":"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/?p=494"},"modified":"2025-04-26T22:33:58","modified_gmt":"2025-04-26T15:33:58","slug":"lunturnya-budaya-membaca-di-zaman-modern-apakah-membaca-buku-masih-relevan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/2025\/04\/26\/lunturnya-budaya-membaca-di-zaman-modern-apakah-membaca-buku-masih-relevan\/","title":{"rendered":"Lunturnya Budaya Membaca di Zaman Modern: Apakah Membaca Buku Masih Relevan?"},"content":{"rendered":"<p>Di era modern ini, budaya membaca perlahan mengalami pelunturan. Perkembangan teknologi, khususnya kemudaham akses informasi melalui gadget, telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan.<\/p>\n<p>Jika dahulu buku adalah jendela utama untuk memahami dunia, kini cukup dengan beberapa ketukan di layar, ribuan informasi tersedia dalam hitungan detik.<\/p>\n<p>Buku kini seakan kehilangan pesonanya. Eksistensinya mulai redup, dan itulah tantangan yang saya hadapi saat mengenalkan buku kepada anak-anak saya.<\/p>\n<p>Lalu, muncul pertanyaan penting: apakah membaca buku masih relevan di zaman serba digital ini?<\/p>\n<p>Menurut pandangan saya, membaca buku memiliki keunikan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Buku mengajarkan kita untuk bersabar dalam memahami alur, memperkaya kosakata, melatih fokus, dan membangun nalar kritis.<\/p>\n<figure id=\"attachment_495\" aria-describedby=\"caption-attachment-495\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-495 size-large\" src=\"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-content\/uploads\/sites\/24\/2025\/04\/Gambar-OKE-1-768x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"853\" srcset=\"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-content\/uploads\/sites\/24\/2025\/04\/Gambar-OKE-1-768x1024.jpg 768w, https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-content\/uploads\/sites\/24\/2025\/04\/Gambar-OKE-1-225x300.jpg 225w, https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-content\/uploads\/sites\/24\/2025\/04\/Gambar-OKE-1-1152x1536.jpg 1152w, https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-content\/uploads\/sites\/24\/2025\/04\/Gambar-OKE-1-1024x1365.jpg 1024w, https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-content\/uploads\/sites\/24\/2025\/04\/Gambar-OKE-1.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-495\" class=\"wp-caption-text\">Budaya membaca (foto: Erwanto)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Berbeda dengan konsumsi informasi instan di media digital, buku mengajarkan kita untuk mengolah informasi secara menyeluruh dan mendalam.<\/p>\n<p>Namun, kita tidak bisa menutup mata terhadap perubahan zaman. Generasi masa kini cenderung mencari informasi yang cepat dan praktis.<\/p>\n<p>Gadget menawarkan berbagai artikel singkat, video ringkasan, bahkan infografis yang mudah dicerna dalam hitungan menit. Dalam kondisi seperti ini, budaya membaca panjang yang membutuhkan ketekunan menjadi semakin tergerus.<\/p>\n<p>Meski demikian, membaca buku tetap sangat relevan. Buku bukan sekadar sumber informasi, melainkan juga sarana pembentukan karakter. Buku menjadi benteng untuk mempertahankan kualitas berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi singkat yang terkadang \u201c<em>informasinya mendekati nol<\/em>\u201d (kata Rocky Gerung).<\/p>\n<p>Oleh karena itu, tantangannya bukan sekadar mempertahankan budaya membaca, tetapi juga mengadaptasinya dengan zaman. Buku-buku digital (<em>e-book<\/em>), audiobook, dan platform literasi digital bisa menjadi jembatan agar budaya membaca tetap hidup. Yang terpenting, semangat membaca untuk memperkaya diri dan memperluas pandangan dunia harus terus dipupuk, tidak peduli dalam format apa pun.<\/p>\n<p>Menjaawab judul diatas, membaca buku tetap relevan bahkan mungkin lebih penting di tengah banjir informasi zaman modern ini. Ayok membaca buku.<\/p>\n<p>note: gambar hanya pemanis.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di era modern ini, budaya membaca perlahan mengalami pelunturan. Perkembangan teknologi, khususnya kemudaham akses informasi<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":495,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,2,4,1],"tags":[],"class_list":["post-494","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info-fakultas-teknik","category-info-kampus","category-nalar-kritis","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/494","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=494"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/494\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":496,"href":"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/494\/revisions\/496"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-json\/wp\/v2\/media\/495"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=494"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=494"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.unila.ac.id\/erwanto\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=494"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}