Saya tidak tahu persis sejak kapan ayah mulai mengabaikan rasa lelahnya. Mungkin sejak anak pertamanya lahir. Atau mungkin jauh sebelum itu, sejak ia tahu bahwa hidupnya kelak bukan lagi hanya tentang dirinya.
Ayah saya bukan orang yang banyak bicara. Ia tidak pandai menunjukkan kasih sayang lewat pelukan atau ucapan manis. Tapi, ia menunjukkan cintanya dalam bentuk paling kokoh yaitu tanggung jawab.
Baginya keluarga adalah segalanya. Ia rela menukar semua keinginan pribadi demi masa depan anak-anaknya. Ia mungkin tidak mengerti teknologi, tapi ia tahu satu hal bahwa menjadi seorang ayah berarti menjadi pelindung, menjadi penopang, dan menjadi contoh.
Lamunannya di tengah kepulan asap rokok yang ia hembuskan begitu dalam. Ada semacam kekhawatiran yang Ia sembunyikan.
Mertua yang sekaligus menjadi ayah, juga tak henti memberikan bimbingan, mengisi kekurangan yang ada dengan ketulusan. Ia meluangkan waktunya, mendekat dan hadir untuk cucunya pada usia senjanya.
Sikapnya yang tenang dan penuh perhatian, Ia memancarkan energi positif yang menjadi sumber semangat. Tak jarang terlihat kekhawatiran terhadap anak-anaknya yang tak mampu Ia sembunyikan, meskipun anak-anaknya telah mandiri dengan keluarga barunya.

Saat ini ketika saya sendiri akhirnya menjadi ayah, barulah saya mengerti seluruh beban yang dulu tak pernah ia ceritakan. Barulah saya sadar, betapa banyak hal yang ia korbankan dalam diam. Betapa besar cinta yang ia tanamkan melalui tindakannya sehari-hari.
Saya mulai menyadari bahwa di balik setiap laki-laki yang diam dan bekerja keras, ada lautan kasih sayang yang tak banyak diceritakan. Kini, saya berada di posisi itu menjadi seseorang yang akan melakukan apa pun untuk keluarga saya.
Kepada para pembaca blog saya terutama para ayah di luar sana, izinkan saya berkata perjuangan kalian mungkin tak selalu terlihat, tapi percayalah, cinta itu akan dikenang selamanya.
Terus melangkah, bahkan dalam diam. Karena menjadi ayah bukan tentang seberapa keras suara kita, tapi seberapa dalam tanggung jawab yang kita bawa.
Untuk anakku, yang kelak juga akan menjadi seorang ayah. Teruslah mencari ilmu, teruslah belajar di mana pun dan kapan pun. Suatu hari nanti, kamu akan mengerti mengapa ayah tak pernah lelah mengajakmu belajar.
Penutup tulisan saya, sosok yang pantas ditulis pertama kali pada rubrik biografi saya adalah Anda seorang Ayah. Kita semua, seorang laki-laki yang kelak akan menjadi ayah pengayom dan pelindung bagi keluarganya. Semoga Allah jadikan setiap tetes keringat yang mengalir, menjadi penggugur khilafnya.