05/01/2026
Template Instagram (3)

Hari ini Jumat 27 Juni 2025, bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1447 Hijriah. Tak ada terompet, kembang api, jagung bakar, atau ikan bakar di lingkungan rumah saya.

Sangat kontras dengan suasana Tahun Baru Masehi yang penuh hingar-bingar. Terompet bersahutan, kembang api menghiasi langit, panggung hiburan disiapkan jauh hari sebelumnya.

Dalam hampir satu dekade terakhir, pemerintah dari tingkat daerah hingga pusat rutin menggelar agenda khusus untuk menyemarakkan malam pergantian tahun tersebut.

Apakah perlakuan serupa juga diberikan pada Tahun Baru Islam? Silakan jawab sendiri, dalam hati.

Selamat tahuh baru Islam 1 Muharam 1447 H

Alhamdulilah saya bersama anak memilih untuk menghadiri undangan/ acara di Masjid dekat komplek rumah semalam. Kami sangat senang, selain ilmu agama ada besek (nasi kotak/ takjil) yang bisa kami bawa pulang.

Saya tidak tau pasti, mengapa saya begitu antusias mengikuti acara peringatan tahun baru Islam malam tadi. Seperti menyambut dan menanti tahun kebangkitan umat muslim di seluruh dunia.

Saya kira energi ini berasal dari tempat yang jauh disana. Sesuatu yang baru saja terjadi dalam 15 hari terakhir ini. Sesuatu yang sebetulnya adalah musibah, tapi ntah mengapa selalu ada senyum kecil ketika melihat beritanya. Bravo Sijjil..

Kita bahas lain kali ya lanjutannya, kita kembali pada cerita saya diatas. Mengapa sebagian besar umat muslim di Indonesia, mungkin bahkan di dunia tidak seantusias menyambut tahun masehi.

Ada beberapa hal menurut saya….

Pertama, kita telah begitu lama terbiasa dengan budaya perayaan tahun baru Masehi yang meriah, hingga lupa bahwa kita memiliki tahun baru sendiri dalam kalender Hijriah.

Tradisi yang diwariskan, didukung media, bahkan dijadikan agenda nasional, menjadikan 1 Januari terasa lebih “resmi” dibanding 1 Muharam. Padahal sebagai umat Islam, tahun baru Hijriah sejatinya lebih bermakna dan penuh muhasabah.

Kedua, banyak dari kita tidak benar-benar memahami makna 1 Muharam. Padahal hari ini bukan sekadar pergantian angka tahun, melainkan momen hijrah berpindah dari keburukan menuju kebaikan.

Minimnya literasi keagamaan inilah yang membuat banyak dari kita tidak mengetahui makna tahun baru Islam. Momentum ini jauh lebih dalam daripada sekadar hitung mundur dan kembang api.

Ketiga, saya kira yang paling terasa adalah kurangnya dukungan sosial dan struktural. Perayaan tahun baru Islam seringkali diserahkan sepenuhnya kepada inisiatif masyarakat atau pengurus masjid. Tidak ada euforia di media, tidak ada panggung hiburan besar-besaran.

Saya bersyukur bisa merasakannya semalam. Duduk bersama anak, mendengarkan tausiyah, menyantap nasi kotak dengan wajah sumringah bukan karena mewahnya acara, tapi karena hati ini terasa lebih dekat dengan tujuan hidup ini.

Saya berharap suatu saat nanti, gema 1 Muharam akan terdengar nyaring di setiap sudut negeri. Anak-anak menyambutnya dengan ceria, para pemuda memaknai hijrah dengan semangat perubahan, dan para orang tua menuntun keluarganya lebih dekat dengan Sang Penciptanya.

Penutup tulisan saya, semoga malam tadi bukan hanya menjadi awal tahun baru di kalender, tapi juga menjadi awal dari kesadaran baru bahwa kita punya identitas, warisan nilai, dan momen pentaing yang layak kita rayakan dengan penuh makna.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharam 1447 Hijriah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

63 − 53 =