04/30/2026
MENEMBUS BATAS

Suatu waktu, saya tengah menghadiri undangan makan siang bersama rekan-rekan kantor. Awalnya, saya mengira akan selesai tepat waktu, sehingga bisa menjemput anak saya sepulang sekolah. Tapi rencana itu meleset, acara molor hampir dua jam lebih lama dari yang saya perkirakan.

Anak saya yang baru duduk di kelas 1 SD, usia baru kurang lebih 7 tahun, sudah pasti sedang menunggu untuk dijemput. Jarak antara sekolah ke kantor saya sekitar 800 hingga 1000 meter,  jarak yang tidak dekat untuk ukuran seorang anak kecil, apalagi melewati jalanan yang rasanya belum begitu dikenalnya. Dengan lalu lalang kendaraan yang cukup padat (area kampus Universitas Lampung).

M Shakeel Erssa Al Faiz (foto: Erwanto)

Saya buru-buru menuju ke sekolah. Saya mencari-cari ke berbagai tempat, kantin, lorong, perpustakaan, namun tidak menemukan jejaknya. Panik mulai merayap. Saya menghubungi istri saya, berharap mungkin saja sudah dijemput olehnya. Tapi jawaban yang saya terima membuat hati saya semakin sesak “Belum.”

Masih teringat jelas, betapa perasaan saya campur aduk, takut, cemas, bingung pada waktu itu. Pikiran-pikiran buruk berkelebatan. Dengan pikirsan yang berkecamuk, saya memutuskan kembali ke kantor. Dan di sanalah, di atas meja kerja saya, sosok kecil itu duduk menunggu.  Anak saya M Shakeel Erssa Al Faiz.

Tidak pernah saya membayangkan sebelumnya, anak saya memilih untuk tidak sekedar menunggu. Ia membulatkan tekadnya, mengumpulkan keberaniannya, dan mengambil inisiatif untuk menyusul saya ke kantor.

Mengenal bendera (foto: Erwanto)

Saya terpaku sejenak, sulit percaya dengan mata kepala sendiri. Perasaan khawatir seketika berubah menjadi rasa haru yang dalam. Tanpa banyak kata, saya memeluknya erat. Tak sadar, mata saya mulai berkaca-kaca.

“Tadi Udo sempat nyasar dan bingung Pi, tapi untung ingat jalan,” katanya polos. Hati saya makin campur aduk.
“Tadi Udo jalan sambil baca sholawat,” lanjutnya. Ya Allah, anakku… Maafkan Papi nak, batin saya sambil memeluknya erat.

Saya tidak cukup bisa untuk menggambarkan betapa emosionalnya suasana siang itu. Walaupun setelahnya berubah menjadi drama panjang dari Emaknya hehe…

Anak kecil itu, dengan segala keterbatasannya, telah berani menembus batas ketakutan, menembus batas yang bahkan saya sendiri ragu untuk ia lewati. Di usianya yang masih sangat belia, ia telah menunjukkan keberanian, kemandirian, serta kegigihannya.

Sebagai pesan sekaligus penutup tulisan saya. Hari itu, saya belajar sesuatu yang tak akan pernah saya lupakan. Kadang-kadang, keberanian terbesar datang dari hati yang paling kecil.